Tentang kisah yang tak pernah usai, tentang cinta yang tak pernah terbalas.
Sepenggal kisah yang belum selesai. Menangis di malam sunyi, masih saja tak menemukan jalan yang diinginkan.
Aku cinta... Aku sayang... Tapi aku juga terbuang.
Cinta... Bolehkah aku mati rasa? Tak ingin lagi mengenalmu sampai sisa hidupku nanti.
Selamat tinggal Sepenggal kisah tentang cinta.
Selamat tinggal cinta yang menoreh luka.
Meskipun tak seindah yang aku inginkan, tapi kau tetap meninggalkan kenangan yang tak terlupakan.
*****
Deandra menutup buku yang bersampul hitam itu dengan senyuman dan juga tetesan air mata.
Cinta memang kejam, dan dirinya salah satu korban yang merasakan patah hati terhebat.
Tapi apa dia benci cinta?
Tidak... Dia hanya benci dengan orang yang tak bisa setia.
Lalu kenapa dia menangis? Itu karena sesuatu kenangan yang tak bisa ia lupa.
Deandra mengusap air matanya yang masih saja mengalir, padahal luka ini sudah berlalu dari dua tahun lalu. Kehilangan yang teramat menyakitkan, bahkan torehan nya begitu dalam di setiap hati dan nadinya.
Ketukan pintu membuat gadis manis itu memaksakan senyum di bibir tipisnya.
“Ayah... Kenapa mencari ku?”
“Ayah hanya kawatir. Kenapa dari pagi kamu gak pernah keluar kamar, bahkan tak ikut sarapan. Ada apa?”
Deandra tersenyum tipis. Ayahnya sangat lembut pada anak-anaknya, bahkan bisa dikatakan tak bisa marah. Dulu ia pernah bermimpi mendapatkan sosok suami seperti ayahnya ini, tapi sayang takdir tak sama dengan harapan.
“Aku tidak apa-apa, Yah.”
“Syukurlah. Kalau begitu keluar lah, Dean. Didepan seseorang sedang mencari mu,”
Deandra mengangguk mengerti. Ia segera mengambil satu hijab untuk menutup kepalanya. Ia keluar dengan langkah pasti, terlihat ia tak peduli dengan siapa yang ingin bertemu dengannya, ia bahkan tak repot-repot bertanya pada ayahnya.
Saat di depan pintu rumah ia tersenyum angun pada pria tampan yang sedang menunggu dirinya. Dia adalah Dahlan, pria yang selalu ada untuknya, tapi tak pernah dicintai oleh Deandra.
“Hay... Apa sore ini mau menemaniku ke luar?” Dahlan tersenyum canggung pada gadis manis didepanya.
“Kamu mau mengajakku kemana, Dahlan?”
“Keluar mencari angin, dan berkeliling kompleks sebentar. Seperti olahraga sore,” Dahlan menunggu jawaban Deandra. Dan saat gadis itu tersenyum mengangguk, ia langsung bersorak senang.
.....
Seperti yang Dahlan kata, mereka hanya berjalan santai di sekitar kompleks. Saling bercerita dan bercanda di sepanjang langkah ringan mereka.
Haya seperti ini, Dan mereka akan bisa saling melupa banyak hal dalam hidup mereka.
Deanra yang selalu menyimpan rahasia. Sedangkan Dahlan... Pria tampan yang dengan besar hati penyimpanan rasa. Bukankah mereka sangat serasi?
Jawabannya tidak!
Karena mati rasa yang dirasakannya sudah membuat hati seseorang menghitam sejak lama.
“Ra... Sebaiknya kita istirahat dulu di taman ini,” Dahlan berlari pada satu bangku di bawah pohon rindang itu, yang di belakangnya diikuti oleh Deandra yang masih diam.
“Apa kamu lelah?”
“Sedikit,”
Dahlan tersenyum simpul. Ia membuka tutup botol Aqua yang sempat ia beli tadi. Setelah ini ia menyadarinya pada Deandra yang terlihat kehausan dengan perjalanan mereka.
“Masih sering nangis?” tiba-tiba pertanyaannya itu membuat gadis manis itu tersentak.
“Maksudmu?”
Dahlan terkekeh, “saat baru keluar dari rumah tadi matamu sembab Deandra. Apa kamu masih menunggu Dia?”
Deandra bergeming. Ia tak bisa menjawab ini, dan ia merasa ini pertama kali Dahlan langsung bertanya tentang perasaannya. Dan ia tak suka!
“Bukankah kamu bisa melihat, Ian. Apa yang aku lakukan selama ini apakah kurang jelas?”
Pria itu tersenyum perih. Dia sangat mengerti, bahkan selalu dibuat mengerti dengan sikap dingin Deandra jika mereka telah membahas hubungan.
“Sampai kapan?”
“Sampai dia kembali...,” Tapi sayangnya Deandra sendiri tak tahu kapan dia kembali. Bukankah ini kisah cinta yang menyedihkan?
“Bagaimana jika dia tidak pernah kembali?”
“Maka aku akan menunggu sampai nafas penghabisan,” pada titik ini tak ada kata lagi yang mampu Dahlan ucapan.
Sebesar itu cinta Gadis ini untuk dia yang telah pergi. Lalu kenapa dia yang selalu ada disini tak pernah di inginkan.
“Lalu bagaimana dengan diriku, Dean? Cintaku yang begitu dalam untukmu, tiadakah kau pertimbangkan?”
“Aku rasa kamu lebih mengerti tentang diriku, Dahlan. Sekeras apapun kamu meminta aku tak bisa...” Deandra menatap kosong taman yang berisi bunga-bunga, “Saat dia memilih pergi dan berjanji, dia telah membawa serta hatiku bersamanya. Cintaku hanya satu, Dahlan, dan dia sudah merenggutnya... Sejak itu cintaku telah mati... Aku mati rasa.”
Ya, dia telah mati rasa dengan kata cinta. Dulu pria itu berjanji padanya akan Kembali, tapi lama ia tunggu tak pernah sampai pada pelukannya. Saat Ia tahu pria itu pergi dan tak akan pernah kembali, Deandra sangat kecewa... Mungkin dia telah menemukan gadis lain di belahan benua lain disana.
Tapi disini ia akan selalu menunggu. Hanya ingin dia... Jika tidak ia tak pernah memiliki rasa. Dia mati rasa... Dia bahkan melupakan akan takdirnya.
Dahlan tersenyum sinis. Ia semakin sakit hati melihat Deandra yang matanya berkaca-kaca dengan pandangan kosong.
Dalam hati Dahlan ingin menjerit... Dia tidak akan pernah kembali, Dean! Tidak akan pernah!
Dahlan mengambil sesuatu yang ia simpan dari saku celananya.
“Dean....”
“Ya...”
“Jangan tunggu dia lagi, De. Dia tak akan pernah kembali....”
Deandra tersenyum tipis, “dia pasti akan kembali, Ian. Dia pasti kembali,” Hanya ingin menguatkan hatinya saja. Padahal ia sendiri tak pernah tahu.
Dahlan mengambil tangan kecil itu untuk digenggamnya. Kali ini Deandra tak menolak, tapi hanya menatap pria didepanya dengan bingung.
Dahlan menarik nafas panjang, lalu ia mencoba menguatkan dirinya sendiri.
“Kali ini dengarkan aku, De.” Dahlan mengusap lembut kulit putih itu. “Ada satu hal yang tak kamu ketahui tentang Dia, De. Dan hari ini akan aku beri tahu... Tapi sebelum itu tolong maafkan aku. Bukan niat hati ingin merahasiakan ini, tapi dia yang berpesan sebelum pergi.”
Deandra mulai terlihat cemas. Ia menanti Dahlan berbicara lagi. Tapi sepertinya pria itu terlihat sangat ragu untuk meneruskannya.
“Apa Ian? Apa yang tidak aku ketahui?”
Dahlan memejam matanya sesaat, setelah itu ia mulai berbicara dengan menatap lurus pada manik mata hitam gadis rapuh didepanya.
“De... Sam tidak pernah pergi meninggalkanmu, dia tidak pernah membuangmu dengan sengaja, De.” Deandra terkejut, tapi ia juga tak memotong ucapan Dahlan.
“Dia tidak pergi keluar negeri dan tak pernah kembali karena menemukan gadis lain, Dia setia padamu. Haya saja takdirnya yang malang.”
Deandra sedikit emosi dengan ucapan Dahlan yang berbelit-belit.
“Sebenarnya kamu ingin mengatakan apa? Aku tidak mengerti, Ian!”
“Dia tidak pernah pergi meninggalkanmu... Tapi dia pergi karena tuhan lebih sayang padanya! Sam sudah meninggal, De! Dia telah pergi untuk selamanya!”
Deandra tak suap mendengarnya, ia terlihat begitu syok dan menjatuhkan botol aqua yang ia pegang. Tumbuhnya mati rasa. Lagi!
Dia tak harus mempercayai kenyataan ini bukan?
“Kamu pasti berbohong! Dia pergi! Dia tak mungkin meninggal!” Deandra berteriak histeris.
Melihat Deandra yang begitu menyedihkan, Dahlan merasa menyesal telah mengatakan kebenaran ini. Andaikan ia tak mengatakan kebenaran ini, mungkin Dean tak akan histeris seperti ini.
Dahlan memeluknya, mencoba menenangkan gadis cantik yang terisak pilu dalam pelukan hangatnya. Separah ini... Ia tak menyangka Deandra akan sesakit ini menerima kenyataan.
Pantas saja sebelum meninggal Sam berpesan untuk jangan pernah mengatakannya kepergiannya pada sang kekasih. Ia hanya tak ingin Deandra bersedih, menangis akan kepergiannya yang mendadak karena kecelakaan saat ingin pulang dari luar negeri.
“Maafkan aku, Sam. Aku tak bisa menuruti keinginan mu... Aku ingin dia juga tahu bahwa kau tak pernah Meninggalkannya.” Dahlan membatin.
Tak lama Deandra jatuh pingsan. Seolah tak siap menerima rahasia yang mengguncang jiwanya. Dahlan terpaksa mengendong tubuh mungil itu pulang.
Selesai....
......
Biarlah seperti ini... Kenyataan yang aku terima semakin membuat aku bertekad hanya memcintaimu dalam kehidupan ini.
Tentang cinta yang tak pernah usai, aku tinggalkan sepenggal kisah ini dalam ingatan.
Cintamu ya suci... Kisah kita tak pernah selesai... Aku menunggu mu di kehidupan selanjutnya.