Pertanyaan yang sering didengar bagi kaum wanita yang sudah cukup berumur untuk ukuran menikah.
Seorang gadis berumur 35 Tahun bernama Anna Karina, hidup hanya dengan ibunya yang seorang janda. Mereka berdua hidup dalam kondisi sederhana, Anna berkerja disebuah café sebagai kasir. Penghasilannya cukup untuk memenuhi kehidupan mereka berdua. Ibu anna juga membantu dengan berjualan gorengan didepan rumah mereka.
Hidup dilingkungan perkampungan pasti tidak bisa menutup mulut-mulut para tetangga yang usil dengan kehidupan orang lain.
“Teh Titi, kapan si Anna kawin?” tanya salah seorang tetangga kepada ibu Anna. Ibu Anna memang Asli orang sunda, pindah ke Jakarta karena menikah dengan suaminya. Namun suaminya meninggal lebih dulu sejak Anna masih duduk dibangku SMP.
“Aduuh.. tanya yang lain atuh, masa itu terus yang ditanya,” Jawab Ibu Anna seraya bercanda.
“Ya gimana teh, itu anaknya atun aja udah punya anak dua. Si Anna masih jomblo sampe sekarang,” dengan sedikit tertawa para tetangga bercerita.
Pertanyaan ini hampir setiap hari didengar oleh ibu Anna. Sebenarnya ibu mana yang tidak khawatir dengan anaknya yang hingga saat ini belum juga menemukan jodohnya. Tapi sepertinya Anna tidak memperdulikan itu.
Anna bekerja dari jam 9 pagi hingga jam 10 malam.
Jadi dia jarang bertemu sapa dengan tetangga sekitar, jika ada hari libur pun dia hanya diam dirumah dengan menulis Novel, yang merupakan hobi nya.
Pagi hari ibu Anna sedang bersiap untuk pergi kepasar.
“Anna, ibu mau kepasar. Ada yang dititip gak?” tanya Ibu.
“Enggak bu.” Anna yang sedang merapihkan kamarnya menjawab dengan singkat.
Ibu Anna melihat nya langsung membuka perbicaraan tiba-tiba. “Nak, sampai kapan mau sendiri terus?”
Anna langsung berhenti mendengar perkataan itu dan melihat ibunya.
“Pasti ibu ditanyain tetangga lagi ya? Udah lah bu biarin aja mereka, jangan dipikirin,” jawab santai Anna.
“Tapi sampai kapan Anna? Kamu udah 35 Tahun lho, nanti kalau sampai tua sendiri terus gimana?” ucap Ibu dengan nada sedikit meninggi.
“Bu, kok malah bahas itu lagi sih? Emang kenapa kalau Anna belum nikah? Ibu malu? Kalau malu Anna pergi dari rumah gak apa-apa.” Jawab Anan dengan marah dan mengambil jaketnya keluar.
Ibunya hanya mengelus dada, melihat anaknya pergi dengan sepeda motor matic miliknya.
Pertanyaan Kapan Kawin itu terus menghantui Anna sejak lulus SMA. Dan terus menerus, apalagi teman-temannya sudah banyak yang menikah dan mempunyai anak.
Anna mengendarai motor sambil menangis dijalan. Kesal dengan tetangga, dengan ibunya dan dirinya sendiri.
“Memangnya siapa yang gak mau nikah? Memangnya nikah itu gampang? Memang nya nyari pendamping hidup kayak nyari cabe dipasar?” teriak Anna diatas motor.
Jam sudah menunjukan pukul 9 pagi, Anna kembali kerumah. Ibunya sedang membereskan dagangan didepan rumahnya.
“Anna,” panggil sang Ibu.
Anna hanya diam dan membantu ibunya beberes.
Setelah itu dia langsung kekamar untuk bersiap berangkat kerja dan pamit kepada ibunya.
Ibunya hanya melihat Anna yang diam tanpa kata.
“Ya Allah, lancarkan rezeki anakku, naikkan derajatnya dan pertemukan dengan jodoh yang terbaik,” Do’a sang ibu yang melihat kepergian anaknya.
Anna sampai ditempat kerja. Dia termasuk gadis yang ceria. Tetapi hari ini Anna diam tanpa kata dan langsung keposisi kasir tanpa menyapa karyawan yang lain.
“Napa lo, udah asem pagi-pagi.” Celoteh Rika sahabatnya.
Rika sebenarnya rekan kerja Anna. Umurnya pun jauh dibawah Anna, dia baru 25 tahun. Tapi dari awal Anna yang tidak suka dipanggil mbak atau kakak karena terkesan tua. Maka dari itu panggilan mereka seperti teman sebaya.
“Biasa, nyokab pagi-pagi dah nanyain kapan kawin, bikin mood w rusak,” jawab Anna ketus.
“hehehe… wajar kali Orang Tua khawatir sama anak gadisnya, apalagi emak lo janda. Dia takut kalo lo sendirian ampe Tua.” Celoteh Rika.
“Tua bahasa lo,” ledek Anna.
“yee... Lo aja dah Tua tapi pemikiran ABG, apa-apa dipusingin, ck.” Sambil berlalu Rika pergi meninggalkan Anna.
Anna hanya diam. Dan memikirkan kata-kata Rika. Memang setiap ibunya membahas pernikahan Anna selalu marah dan kesal. Karena menurut dia untuk apa mempertanyakan pernikahan sedangkan jodohnya saja entah siapa.
Selama Anna bekerja dia ingin cepat-cepat pulang dan mengobrol dengan ibunya. Saat sudah sampai dirumah dia melihat ibunya sedang menonton TV.
“Udah jam segini kok masih nonton TV bu,” tanya Anna tiba-tiba.
“Astaghfirullah… ya kalo masuk rumah salam atuh neng,” Jawab sang ibu.
“hehe..” Anna senyum-senyum dan mencium tangan Ibunya.
“Anna salin dulu ya bu,” ucapnya.
Setelah selesai Anna kedapur membuat dua gelas teh hangat, karena sebelum pulang tadi dia membeli martabak untuk cemilan.
“Ngeteh yuk bu,” Ajak Anna yang langsung duduk disamping Ibunya.
“Ada apa ini, tiba-tiba kok buat minuman?” tanya Ibunya seraya meledek.
Anna hanya tersenyum dan menyeruput teh yang dibuat. Tiba-tiba Anna merangkul dan memeluk ibunya.
“Eh, kenapa?”
“Bu, Maaf ya tadi pagi Anna marah-marah sama Ibu.” Lirih Anna.
“Maafin Ibu juga ya nak, Ibu Cuma sedikit khawatir. Ibu gak perduli tetangga mau ngomong apa tentang kamu karena yang tahu kamu ya ibu,” ucap Sang Ibu dengan mengelus pucuk kepala Anna.
“Bu, Doain Anna terus ya. Kalau memang Anna ada Jodohnya pasti Anna akan menikah dengan orang yang tepat. Anna gak mau asal sembarang menikah. Anna mau menikah sekali seumur hidup bu.” Jelasnya.
“Iya nak, selalu ibu mendoakan kamu. Sukses juga ya nak, biar kamu bisa ke Eropa seperti yang kamu mau.” Jawab Ibu Anna sembari menangis.
“Amin ya Allah,” Jawab Anna. “Bu, Anna lagi berjuang dengan cita-cita Anna jadi penulis. Semoga Anna bisa Sukses ya bu. Anna mau berangkatin ibu Haji.” Lanjut nya.
“Pasti nak, pasti. Asal kamu terus berjuang sama mimpi kamu. Berangkat bareng ya nak.” Jawab Ibu dan mereka berpelukan.
Setelah pembicaraan malam itu. Anna dan ibu nya tidak pernah membahas tentang pernikahan lagi.
Para tetangga yang bertanya pun hanya dibalas senyum saja oleh ibunya.
Beberapa tahun berselang, Anna sudah sukses sebagai penulis. Bisa berpergian ke Eropa seperti yang dia inginkan. Bisa pergi Haji bersama ibunya. Dan mereka pindah rumah supaya hati dan pikiran mereka Sehat.
Kita tidak bisa menutup mulut orang-orang yang berkomentar tentang diri kita. Karena dimata mereka kita selalu kurang. Kita hanya bisa menutup telinga untuk omongan yang tidak baik. Membuka telinga untuk nasehat yang baik.
Orang Tua kita juga akan mengerti jika kita bisa memberikan pengertian yang baik kepada mereka. Karena Jodoh, Maut dan rezeki hanya Allah yang tahu. Bukan manusia.
Terima kasih.