Afghan berjalan dengan langkah yang amat lebar. di belakang ada seorang pria yang usia nya tidak beda jauh dari Afghan.
Karran pria yang menjadi orang kepercayaan Afghan ikut melangkah dengan langkah yang sedikit tertinggal.
"kau harus segera Carikan aku sekertaris baru Ran, kau taukan jika aku tidak bisa berdiri sendiri tanpa orang lain?"
"siap bos, saya akan segera membuat papan iklan lowongan kerja." jawabnya
"Carilah orang yang kompeten. ingat .. lihat secara detail pengalaman kerjanya." ucap Afghan lagi.
Sekertaris Afghan yang lama sudah mengundurkan diri karena harus pindah tempat tinggal mengikuti suaminya. jadinya Afghan yang mendapat surat pengunduran diri secara mendadak pun jadi kelabakan. pasalnya selama 3 hari kedepan dirinya banyak sekali agenda meeting dan peresmian pembukaan Mall yang baru selesei di garap.
Afghan segera masuk keruangan ya. dan segera melihat tumpukan berkas yang sudah mengantri untuk di pegang.
Di sofa ruangan Karran mulai membuka link untuk lowongan pekerjaan.
Setelah membuat Link, Karran segera menghampiri bosnya, dan membantu untuk mengoreksi berkas berkas yang menumpuk.
"Ran, coba kau hubungi pak Sofyan. tanyakan sejauh mana kesiapannya acara pembukaan mall yang baru." titah Afghan
Tanpa mengulang lagi perintahnya. Karran segera menelpo pak Sofyan. jika bosnya butuh laporan terbaru.
Karran kembali pada laptopnya setelah terdengar pesan masuk lewat email.
Sedangkan Afghan masih sibuk bersama berkas berkas nya.
tak berapa lama pak Sofyan datang. dan Afghan mulai mengalihkan kesibukannya pada pak Sofyan.
Sedangkan Karran tengah memeriksa setiap peserta yang masuk. sudah ada 15 peserta yang mengajukan berkas lamaran pekerjaan.
Karran mulai meneliti satu persatu peserta. Mata Karran jatuh pada wanita yang di kuncir dengan memakai kacamata.
kalo dilihat dari facenya, wanita itu sangat berkompeten dan sepertinya keberuntungan ada di pihaknya.
Karran segera ngecek kembali berkasnya satu persatu. lalu melakukan tanya jawab lewat email.
"Bos, bagaimana dengan wanita ini. kalo di lihat dari peserta yang masuk. hanya wanita ini yang memiliki kemampuan untuk mendampingi Anda." ucap Karran
Afghan segera mendekat pada tempat duduk Karran. pak Sofyan sudah keluar setelah melaporkan kesiapanya acara untuk besok lusa
Afghan mulai meneliti satu persatu berkas dari peserta yang masuk. ternyata selera Afghan juga Karran itu memang sama. mereka berdua lebih memilih Wanita yang berkaca mata.
"Jadwalkan untuk bisa mewawancarainya Ran," titah Afghan
"siap bos. bagaimana kalo malam ini?" tanya Karran
Afghan sedikit menimbang. lalu segera mengangguk. "sepertinya lebih cepat lebih baik."
••••••
"yess... aku bakal di terima di PT Saloma Group." teriaknya di depan keluarganya.
"yang benar saja Rania, wanita cupu sepertimu bisa di terima di perusahaan itu." ejek Cisilia kakak tiri Rania
"lihatlah, aku akan wawancara malam nanti." ucapnya sambil memperlihatkan balasan dari perusahaan yang ia tuju
Kuncoro tersenyum melihat kebinaran di wajah putrinya. sedangkan Monika ibu tirinya sama seperti Cisilia yang tidak suka mendengar kabar itu.
dari dulu memang Rania memilki nasib yang baik. lulus dengan beasiswa dan waktu itu dirinya langsung di promosikan di perusahaan besar di luar kota.
namun Rania hanya bertahan beberapa bulan saja. karena ternyata sangat tidak enak berpisah dengan keluarganya . walaupun ibu tirinya tidak begitu menyukai nya. namun ada ayah kandung Rania yang sangat ia sukai dan ingin selalu Rania jaga
•••••
malam pun tiba.
Rania berangkat ke kantor PT Saloma group dengan di antar Zaky sepupunya
malam ini Rania berpenampilan rok span selutut dan kemeja putih yang sedikit mengetat. seperti biasa, Rania akan menguncir rambunya dan kacamata yang selalu menempel di hidung. namun memang dasar Rania sangat menarik
mau berpenampilan seperti apapun Rania tetap terlihat mempesona.
Rania memasuki gedung dengan di sambut oleh karran dan Rania segera di arahkan pada ruang meeting.
sesi wawancara segera di mulai. Rania dengan gugup menjawab setiap pertanyaa yang lemparkan padanya.
berbeda dengan Afghan. Afghan yang sejak Rania masuk hingga melakukan wawancara. Afghan tidak bisa mengedipkan matanya. entahlah apakah sarafnya sarafnya itu lupa bagaima caranya berkedip atau karena mata Afghan yang tidak mau berkedip.
hingga 30 menit sudah berlalu. dan wawancara pun sudah selesei. Rania segera undur diri karena sudah sangat malam.
"Selamat Rania Afriani, anda di terima bergabung di perusahaan Saloma group dengan posisi sebagai sekertaris pak Afghan."
Rania seperti lupa bagaana caranya menelan salivanya sendiri. saat mendengar ucapan selamat untuk dirinya
lalu air mata itu tiba tiba saja merembes tanpa malu. sangking bahagianya.
"Anda menangis?" tanya Karran. sedangkan Afghan masih menatap pada satu objek. wajah Rania yang sangat mempesona dengan kacamata
"Saya,,, saya bahagia pak. terimakasih sudah menerima saya bergabung disini."
••••
Hari pertama kerja
Rania sudah duduk di ruang pak Afghan karena pak Afghan yang meminta. dengan ditemani Karran Afghan mulai menjelaskan pekerjaany. biasanya untuk menerangkan hal seperti ini adalah Karran. namun entah kenapa Afghan ingin sekali memberi keterangan sendiri.
"Rania, hari ini kau ikut saya meeting. dan jangan lupa review dulu berkasnya." ucap Afghan
"siap pak." jawabnya
Afghan kembali menelan salifanya sendiri saat melihat kancing kemeja Rania bagian atas terlepas. entah Rania sadar atau tidak tentang itu
Afghan segera masuk keruangan.
"bodoh wanita itu.. bagaimana bisa ia tidak menyadari kancing kemeja nyam bagaimana jika Karran melihat dan matanya itu menikmati nya" rancau Afghan
Rania segera berdiri setelah menyelesaikan pekerjaannya. lalu menatap dirinya di depan cermin. Rania baru menyadari jika kancing kemeja bagian atas terlepas. tiba tiba wajah Rania berubah jadi memerah.
"apakah pak Afghan melihatnya? apa yang ia pikirkan jika melihatnya.? duuhhhh... aku seperti wanita penggoda saja." gumamnya.
Rania segera mencari sesuatu dalam tasnya. siapa tau ada yang bisa ia gunakan untuk menutup belahan dadanya.
Rania menemukan jarum pentul dalam tasnya. lalu segera menangkan pada kemejanya. dengan sedikit di hias sehingga tidak akan terlihat jika kemajanya itu di kancing deng jarum
Rania segera mengetuk pintu bosnya. dan tak berapa lama sambutan dari dalam terdengar begitu berat.
Rania segera masuk setelah divoersilahkan masuk. "pak bos, pak kenapa?" tanya Rania yang melihat bosnya seperti menahan sesuatu
Afghan segera membuka matanya. dan melihat kemeja Rania yang sudah di tutup. Afghan bersyukur otaknya tidak kembali ngeres.
Rania yang menyadari perubahan bosnya saat menatap dadanya pun jadi gugup. Rania segera menunduk menahan malu
"Mari kita berangkat sekarang." ajak Afghan agar tidak ada udara panas di dalam ruangan.
Rania berjalan di belakang bosnya. mereka berjalan tanpa ada suara. hanya suara sepatu mereka yang mendominasi ruangan ini.
entah kenapa tiba-tiba Afghan berhenti dan berbalik. Rania yang masih berjalan tanpa melihat kedepan ahirnya mereka bertabrakan.
Dan Naasnya jarum yang yang ada pada dada Rania itu mengenai dada Afghan.
ouhh..pekik Afghan
"bap...pak." gumam Rania lirih. jantung mereka beregu tak beraturan mereka saling mendengar detak jantung mereka.
"kau menusukku Ran." ucap Afghan
Rania yang belum paham pun hanya menatap cengo bosnya. "Mak...sud pak Bos?" tanya Rania
Afghan segera mengangkat tangannya dan mulai mengarah pada dada kenyal milik Rania. Rania hanya memejamkan mata nya pasrah.
"Jarum penthul kamu menusuk dadaku." ucapnya lirih
Rania segera membuka matanya. dan bisa di bayangkan keadaan warna pipi Rania saat ini. Rania langsung mendorong Afghan dan segera berlari meninggalkan bosnya.
Tamat