Kisah ini terjadi cukup lama dan baru kali ini aku ingin menulisnya. Dia sebuah desa kecil .Aku bertemu dengan gadis kecil yang bernama Mentari (bukan nama asli. Pertemuan ini terjadi disaat aku melakukan kunjungan kedesa dengan teamku. Ya sebuah tim yang bekerjasama dengan PNPM waktu itu untuk melakukan asesment didesa tersebut.
"Siapa namamu?"
"Mentari" jawabnya sambil tertunduk malu
"Kenapa kamu harus malu? ayo lihat ibu" ujarku
Mentari lalu mengangkat kepalanya dan menatapku.
Akupun tersenyum kepadanya, dan diapun tersenyum kepadaku.
"Coba kerjakan tugas ini" ujarku
"Baik bu" jawab Mentari
Aku lalu memberikan tugas yang harus dikerjakan oleh Mentari. Kemudian aku membuka lembar asesment yang harus aku isi untuk tahu seberapa jauh tingkat kemampuan anak dan untuk menentukan anak termasuk pada kelompok apa. Aku mengamati Mentari dengan seksama.
"Wajah anak ini manis" ujarku dalam hati.
Tiba tiba mataku tertuju pada salah satu lengan tangan Mentari.
Lengan tangan Mentari tidak utuh,terpotong tepat dibagian siku. Jadi Mentari hanya memiliki satu tangan.
"Mentari apa yang terjadi dengan lenganmu itu?" tanyaku
"Tidak apa apa bu" ujar Mentari lalu berusaha menyembunyikan lengannya dengan menutupi dengan tangannya.
"Apa anak ini termasuk tunagrahita?" tanya seorang rekan kerjaku.
Akupun menggelengkan kepalaku.
"Lalu apa?"
"Dia sepertinya masuk kedalam kelompok slow leaner (lambat belajar)" ujarku
"Lihat hasil tes ini" ujarku (sambil menunjukkan lembar tugas yang telah dikerjakan oleh anak itu)
Mentari termasuk dalam kelompok slow learner. Aku yakin dengan bimbingan belajar secara individul dan dilakukan secara kontinue dan konsisten. Mentari akan mengalami kemajuan dalam akademiknya.
"Dimana rumahmu?"
"Disana"
"Disana dimana?" tanyaku
Tiba tiba ruangan menjadi ramai...
"Hahahaha...." terdengar suara gelak tawa
Seorang anak sedang bersembunyi di bawah kolong meja.
"moh....moh...gak....gak..." teriaknya menolak untuk menjalani asesment
"Ayo dik keluar,tidak apa apa kok" ujar rekanku mencoba untuk membujuknya
"Moh....moh " ujar anak laki laki itu, lalu segera keluar dari kolong meja lalu melompat ke atas kursi
"Kita main dik, tidak usah takut. Ayo sini" ujar beberapa rekanku berusaha membujuk
Tetapi anak itu segera berlari ingin keluar dari ruangan.
Beberapa orang berusaha menghentikannya .
Dan anak itu berteriak. Akupun segera bangkit dari kursiku dan menghampiri anak itu, aku memegang lengan tangan anak itu. Entah kenapa anak itu hanya terdiam, matanya menatapku dan aku menggandengnya untuk duduk dikursi . Anak itupun terdiam dan mau mengikuti.
"Kita hanya bermain dik, jadi tidak usah takut" ujarku dengan lembut, lalu meletakkan puzzle diatas meja.
" Main dulu dengan kakak itu ya" ujarku sambil menunjuk salah satu rekanku yang bertugas untuk melakukan asesment saat itu.
Suasanapun kembali tenang dan akupun melakukan tugasku kembali.
Tidak serasa waktu telah berakhir . Satu persatu siswa disekolah itu yang mengalami kendala atau gangguan telah selesai untuk mengikuti asesment .
Beberapa bulan kemudian...
Aku menandatangi kontrak untuk menjadi tutor dan membimbing anak anak dengan kendala dalam belajarnya.
Selama 3 hari dalam seminggu aku dan beberapa rekanku membimbing anak anak itu.
Kami memberikan latihan latihan untuk meningkatkan kemampuan anak dalam memahami soal, diharapkan anak akan memperoleh kemajuan dalam akademiknya.
Pukul 15.00 WIB aku dan rekanku telah berada di tempat itu. Anak anak berlarian menyambutku. Dengan wajah berseri-seri anak anak itu menyalimi kami.
"Selamat datang ibu guru cantik" sapa anak anak dengan polosnya
"Selamat sore anak anak" ujarku
"Ayo kita belajar bersama" ujarku
" Hei...teman teman , sudah berhenti main bolanya . Ibu guru sudah datang, ayo semua kumpul" ujar seorang anak
"Iya...iya " ujar mereka ,lalu segera menghentikan permainannya dan berlari ke arahku. Lalu mencium tanganku.
"Hei...Bim...mana sendalmu? " tanyaku
"Hehehe...ibu aku tidak suka memakai sendal " ujarnya
"Lain kali pakai alas kaki ya" ujarku
Lalu kamipun masuk kedalam kelas.
Didalam kelas Mentari sudah duduk dikursi belakang, dia cenderung kelihatan lebih pendiam dari temannya .
"Anak anak ini, sepertinya dari keluarga tidak mampu" ujar rekanku
"Iya, mereka bukan anak orang kaya" ujarku.
Untunglah waktu itu ada program dari pemerintah yang peduli dengan ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) sehingga bisa membantu perkembangan mereka yang ada didaerah atau desa kecil seperti ini.
Pembelajaran dimulai. Kamipun membagikan tugas pada setiap anak dan membimbing mereka secara individual. Meskipun mereka berada didalam satu ruangan. Kamipun membimbing mereka secara individual.
"Bu, tugasnya kok tidak sama. Aku dan dia duduk dikelas yang sama" ujar seorang anak.
Aku mendekati anak tersebut dan melihat tugas yang aku berikan kepada mereka.
"Iya, memang tugas sengaja ibu buat tidak sama, karena kemampuan kalian berbeda" ujarku
"Ayo coba kerjakan " ujarku
"Oiya kalau ada yang bingung dan kesulitan dalam mengerjakannya , segera tanya ibu" ujarku
Merekapun tersenyum dan mulai mengerjakan tugasnya.
Aku memang sengaja memberikan tugas yang berbeda,karena dari hasil asesemnt bulan lalu aku menjadi patokanku untuk mengetahui tingkat perkembangan anak,sejauh apa materi yang dipahaminya dan dikuasainya serta materi apa yang tidak mampu dia kuasai sehingga aku bisa melatih dan memperbaiki apa yang belum dikuasai anak agar dia bisa mengerti sehingga akan bisa menguasai materi itu.
Lalu aku berjalan melihat satu persatu siswa disana, hingga langkahku berhenti disamping meja Mentari.
"Kenapa kamu hanya diam" ujarku sambil melihat lembar kerja yang masih kosong.
Mentari hanya terdiam
"Goblok...ngono wae ora iso" (Bodoh begitu saja tidak bisa) ujar seorang anak.
Lalu aku menunjukan kode untuk diam ,dengan meletakkan jari telunjukku didepan bibirku yang tertutup rapat.
"La pancen goblok lo bu, ngono wae gak iso (La memang bodoh bu, begitu saja tidak bisa) ujar anak itu kembali
Aku mendekat kearah anak itu
" Jangan bicara begitu, Mentari adalah temanmu. Disini kita belajar bersama, agar kalian semua bisa menjadi pintar, Mentari hanya bingung karena dia tidak paham" ujarku
"Inggih bu (iya bu)" ujar anak itu. Lalu mengerjakan tugasnya kembali
Mentari hanya tertunduk.
Aku segera mendekatinya.
"Kamu tidak bisa mengerjakan tugas ini, ibu akan bantu"
Aku lalu duduk disamping Mentari.
"Aku tidak bisa bu, tugas ini sulit" ujar Mentari
"Tugas ini mudah kok, kamu hanya membutuhkan latihan saja" ujarku memberi motivasi
"Saya tidak bisa bu" ujar Mentari
"Lihat ibu, ibu akan mengajarimu" ujarku
Lalu aku mengambil lembar kerja milik Mentari, aku mengajarinya satu persatu bagaimana cara mengerjakan operasi hitung itu.
Dengan seksama Mentari melihat teknik berhitung yang aku ajarkan.
" Mentari, perlu diingat kalau mengerjakan penjumlahan atau pengurangan angka ,kamu harus mulai dari yang paling belakang (nilai satuan dulu) apa kamu mengerti?" ujarku
Mentari hanya mengangguk. Lalu aku memberi tugas Mentari untuk mengerjakan tugas itu secara mandiri, diawal dia melakukan kesalahan. Dan aku perlu untuk mengingatkannya kembali.
Tidak beberapa lama, Mentari mulai mampu mengerjakan tugasnya dengan baik dan benar.
"Kamu pintar Mentari, ternyata kamu bisa" pujiku kepadanya
"Iya ,terima kasih bu" ujar Mentari dengan gembira
Lalu aku meninggalkan anak itu untuk melanjutkan mengerjakan tugasnya dan aku berjalan menghampiri anak anak yang lain apakah mereka ada kesulitan dalam memahami soal atau tidak.
Hari ke 2
Seperti hari pertama, pertemuan dihari kedua anak anak mulai lebih terbuka dan lebih suka bercerita apa adanya. Bagiku mereka anak anak yang lucu dan juga polos.
Seperti hari sebelumnya, kedatanganku ketempat itu untuk memberikan pelajaran. Untuk hari ini sebelum kami mulai belajar . Aku memberi tugas anak anak untuk bernyanyi lagu kebangsaan bersama sama . Memberi mereka pertanyaan sederhana dan untuk yang mampu menjawab akan mendapatkan hadiah.
Mereka begitu nampak bersemangat.
Setelah itu aku dan rekanku membagikan tugas . Setelah selesai aku segera duduk disamping Mentari.
"Ibu, hari ini tadi aku mampu mengerjakan tugas matematika dari ibu guru dikelas" ujarnya dengan begitu bersemangat
"Benarkah, berapa nilaimu? " tanyaku
"Aku mendapat nilai 75" ujarnya dengan senang
"Biasanya kamu medapat nilai berapa? tanyaku
Mentari hanya tersenyum, lalu tertunduk malu.
" Nilaiku 20 bu, kadang 30" ujar Mentari
"Wah, berarti sekarang Mentari sudah bertambah pintar. Mentari harus rajin belajar ya" ujarku
Mentari hanya tersenyum, dan ini adalah kesempatanku bertanya
"Apa yang terjadi lenganmu ?" tanyaku kepada Mentari
"Ini sudah sejak aku bayi bu" ujarnya lirih.
Aku lalu mengelus rambut anak itu, dia hanya tersenyum kepadaku.
"Mentari tidak boleh malu dengan keadaan Mentari. Mentari harus selalu bersemangat dan tidak pernah menyerah , ibu yakin Mentari pasti bisa" ujarku. Mencoba memberi motivasi kepada Mentari, bahwa keterbatasan fisik bukanlah sebuah halangan untuk meraih impian.
Dan aku melihat Mentari lebih bersemangat dan lebih ceria, aku senang ketika aku bisa membuat Mentari tersenyum.
"Ibu Mentari itu tidak punya tangan...hi...hi..." ujar seorang anak
Aku lalu menoleh kearah anak itu, dan akupun berjalan kearah anak tersebut.
"Kenapa kamu berkata begitu?"
" Ya memang begitu kenyataannya"
"Mentari adalah temanmu, kita disini adalah teman, tidak perlu saling menghina ,kalian harus saling peduli bukan mengejek teman kalian. Bagaimana kalau kamu tidak memiliki tangan seperti Mentari? Dan temanmu bersikap seperti itu kepadamu? Bagaimana rasanya? Kalian harus saling menyayangi dan saling tolong menolong" ujarku menasehati.
"Baik bu"
"Anak anak dengan teman harus saling rukun ya" ujarku
"Baik bu" ujar anak anak dengan serentak.
Lalu aku, melanjutkan tugasku. Hingga waktu pulang telah tiba.
Kabar Gembira
Waktu terus berjalan, tidak terasa aku dan tim ku sudah cukup lama mengajar anak anak disana. Suka dan duka kami lalui bersama . Hari yang menyenangkan bersama mereka . Aku benar benar suka dengan kelucuan ,kepolosan anak anak itu. Mereka mengatakan segala sesuatu dengan jujur, semuanya . Bahkan seiring perjalanan waktu, kini Mentari menjadi pribadi yang ceria.
"Ibu .."
"Apa?" tanyaku
"Ibu, aku senang sekali"
"Senang? Kenapa? " tanyaku
"Ibu, saya akan mengikuti lomba lari ditingkat Kabupaten" ujar Mentari lalu memelukku dengan gembira
"Benarkah?" aku bertanya kembali
"Selamat ya nak, kamu hebat . Apapun hasilnya nanti kamu harus bersemangat , menang atau kalah itu hanyalah sebuah pertandingan. Lakukan semua dengan sungguh sungguh , semoga kamu sukses nak" ujarku
Mentari tersenyum padaku, dan dengan bahagia dia memelukku.
Pada suatu hari , dijam pelajaran Mentari mendatangiku
"Ibu, aku menjadi juara. Dan aku akan mewakili ditingkat Propinsi" ujar Melati dengan bahagia.
Akupun sangat bahagia mendengar berita itu, dan aku memberi ucapan selamat untuk keberhasilan Mentari.
Aku menyadari bahwa dibalik kekurangan seseorang pasti Tuhan juga memberikan kelebihan pada dirinya, hanya kita perlu menggali dan mengoptimalkan potensi yang terpendam itu. Dan aku senang Mentari yang dulu pendiam, kini lebih percaya diri dan lebih ceria .
@@@@Terima kasih telah membaca ceritaku@@@