"Kalau mencintaimu adalah sebuah kesalahan, maka aku tak mau menjadi benar. Toh, kebenaran hanya milik Sang Pencipta, tempat aku kembali ke sana."
Valedivo Reyes, Mei 2022.
Hari yang menyenangkan bagiku karena selepas bekerja di kantor, aku dan teman bandku berencana untuk reuni latihan setelah dua puluh dua tahun tidak masuk ke studio musik. Ada aku pada gitar, Ariyo pada gitar bass, Redi pada drum, dan Cemong pada vokal.
Kami sebenarnya punya dua vokalis. Yang satu Cemong dan yang satu lagi —sangat kuhindari untuk bertemu lagi— Lolita. Waktu itu, band kami ada skandal yang tak mungkin aku lupakan hingga kini. Aku dulu pernah pacaran dengan Lolita, hingga akhirnya kami harus putus karena orang tuanya tidak setuju dengan hubungan kami. Lolita mengamuk, menghancurkan banyak peralatan studio band hingga akhirnya kami patungan untuk mengganti semua peralatan itu. Mengerikan.
Pentolan band masih dipegang oleh Ariyo yang juga berperan sebagai manajer band kami. Dia pula yang mengatur acara reuni ini, mencari materi hingga menghubungi kami semua.
"To," sapa Ariyo di telepon.
"Yooo, Brooo," jawabku girang.
"Nanti di Studio Legendos jam 7 malem yahh."
"Siap, boss. Oh ya si ..."
"Udah gue undang sih, cuma tadi katanya nggak bisa dateng. Ada acara kopdar sama komunitas nulisnya."
"Aman berarti ya."
Aku memutus panggilan itu lalu kembali bekerja. Aku bekerja di sebuah perusahaan travel milik omku. Perusahaan ini besar, ideal bagiku yang juga menyukai traveling. Tapi bukan hanya itu saja yang membuatku betah di kantor.
Dea, seorang wanita feminim yang membuatku tetap betah di kantor. Sudah sembilan bulan lamanya aku memadu kasih dengannya, secara diam-diam. Tak ada yang tahu kalau kami berpacaran selama itu karena kami selalu bermain rapi.
Aku mengakui kalau aku brengsek, begitu pula dengan Dea. Kami berdua sudah punya pasangan masing-masing, namun manusia tetap saja tak pernah puas dengan keadaan dirinya. Lebih tepatnya tak pernah bersyukur.
Titin, istriku, badannya sudah tak elok lagi. Aku tak kuasa bila melihat penampilannya. Rasanya, setelah capek pulang kantor, aku langsung mandi dan pergi tidur, tanpa menyentuh sedikitpun tubuh gemuknya.
Beda dengan Dea, ia masih ramping dan terlihat masih muda ketimbang umurnya sendiri. Ia sering mengeluhkan suaminya tak pernah bisa membuat dirinya puas, di ranjang tentunya. Baru sebentar, sudah kelar. Jelas saja Dea lebih sering kumpul denganku ketimbang suaminya sendiri. Mereka bahkan belum dikaruniai keturunan. Kalau aku, sudah punya anak tiga dengan Titin. Semuanya anak cewek, sudah jelas siapa yang brengsek di sini.
"Siapa yang tadi telpon, Mas?" tanya Dea. "Mas terlihat seneng banget." Dea tampak cemburu, dia memang sering cemburu bila aku bercanda dengan anak-anakku.
"Ariyo."
"Ariyo siapa?"
"Temen band mas, dulu. Mereka ngajak reunian."
"Kapan?"
"Malem ini."
Dea terlihat murung, sepertinya ia hendak mengutarakan sesuatu. Ia bergumam lalu berkata, "Aku sebenernya mau ngajak Mas ke—”
"Mas Santo, malem ini divisi penjualan tiket mau pada karokean. Ikut nggak, ada beer-nya loh." Dea mengehentikan bicaranya, karena diinterupsi oleh Abraham, teman satu divisi kami.
"Wah, nggak bisa Bram. Gue udah ada acara malem ini."
"Yaah, nggaak seru ah kalo nggak ada Mas Santo. Mas 'kan peminum terbaik di kantor ini. Liat tuh perutnya Mas yang paling buncit di sini."
"Sialan. Udah sana kerja lagi, gue aduin lo sama om gue."
Dea menatapku dengan aneh. Abraham kembali ke mejanya lalu Dea berkata, "Tumben, emang penting banget gitu acara reuniannya? Mas 'kan suka minum."
"Aku ini pemusik, Dea. Aku nggak mungkin melewatkan acara macam gini."
"Yah, padahal aku minta tolong Mas anterin aku ke ..."
"Maaf ya. Acara ini penting banget buat aku," jawabku. Dea menghela napasnya, ia mencoba untuk bersabar lalu melanjutkan pekerjaannya.
Sepertinya Dea mengajakku pergi ke suatu tempat yang penting baginya, kurasa. Namun, aku tidak bisa membatalkan acaraku. Sudah dua puluh dua tahun aku tidak masuk studio band.
"Aku mau ngomong." Dea berbisik, karena ada banyak telinga yang mungkin mendengar. Rasanya itu penting.
"Apa harus sekarang, Dea?"
"Kalo gitu nanti aku ikut Mas ke studio."
"Hah?"
"Di tempat itu aman 'kan?" bisik Dea.
"Iya, sih. Cuma masalahnya mereka taunya aku udah punya istri."
"Ya bilang aja aku ini temen Mas."
Aku berpikir, apakah dengan memperkenalkan Dea sebagai temanku, apakah mereka akan percaya begitu saja kalau Dea benar-benar temanku? Anak band memang identik dengan main perempuan, tapi, memang itulah yang sedang terjadi, "kan?
Ah, mereka juga sama aja. Oke, mungkin aku bisa ngajak dia hari ini. Toh mereka juga nggak ada hubungannya sama orang kantor. Kecuali Lolita, yang kenal dekat dengan Titin.
Aku memberanikan diriku mengajak Dea ke Studio Legendos yang letaknya di daerah Kembangan, Jakarta Barat. Seperti biasa, Dea naik taksi ke daerah yang agak jauh dari kantor kami, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Barulah setelah itu, kami berangkat ke studio.
Dea masuk ke mobil, ia duduk dengan anggun, tapi, tetap saja wajahnya agak tegang. Ada apa yang terjadi saat ini, sebenarnya dia mau mengajak aku ke mana, sih?
Perjalanan menuju ke Kembangan memakan waktu kurang dari dua jam karena rush hour yang membuat kami stuck di jalan tol. Aku memutar materi (lagu) di audio mobil. Musik band kami metal, tapi sama sekali Dea tidak terganggu dengan musik kami, yang malah enjoy di setiap kebisingan distorsinya. Bahkan Titin, selalu mengamuk kalau aku memutar musik kami di rumah.
Selama di perjalanan, aku memegang tangan Dea yang posisinya di atas perseneling gigi manual mobilku. Ia tampak menikmati tiap menit bersamaku, hingga pada saat mau sampai ke studio yang letaknya di daerah perumahan ini, Dea menyuruhku untuk memarkir sebentar mobilku di pinggir jalan. Ada apa ya?
"Mas, aku mau ngomong." Dea membuka pembicaraan.
"A—aku bingung." Dia melanjutkan kalimatnya setelah jeda beberapa detik.
"Ada apa, Sayang?"
"Aku telat, dan pasti suamiku marah besar dan mungkin aku akan diusir dari rumah.
"Tadinya aku mau ngajak Mas ke dokter kandungan. Mas tau 'kan, dia mandul."
"Sial." umpatku pelan. "Gimana dong. Mas nggak mungkin menceraikan Titin. Di agama kami nggak ada namanya cerai hidup."
Dea menghela napasnya, mengira dunia ini akan terbelah dua setelah keluarganya mengetahui kalau dirinya sudah hamil di luar nikah. Dea memang sudah berencana untuk mengadopsi anak, tapi keluarga suaminya menentang keras keputusan Dea karena menurut mereka, anaknya tidak mandul, hanya belum ada waktunya saja.
"Aku bingung, Mas. Aku harus apa?" ucapnya dengan pesimis.
"Kamu nekad Mas, waktu itu. Aku udah bilang, pergi dulu sana beli kondom, tapi kamu nggak sabar dan main hajar aja. Biasanya 'kan kamu sabar, kenapa—"
"Ssshh." Hanya itu yang bisa keluar dari mulutku.
"Kamu harus tanggung jawab, Mas. Aku nggak mau menggugurkan kandungan ini. Ini bayi pertamaku, Mas."
Aku menunduk dan tetap menggenggam tangan Dea. Hembusan napas ini berat, lebih berat dari yang kukira. Bagaimana mencari solusinya? Aku tidak mungkin kawin lari sama Dea walaupun aku mencintai dia. Pekerjaanku sudah bagus di kantor dengan gaji yang bisa membuat aku membeli mobil dan rumah sendiri. Tentu saja karena aku keponakan bosnya.
"Liat aku, Mas."
"Iyaa, Dea. Aku lagi mikir." Sudah jelas pikiranku buntu, mana ada cara lain selain menggugurkan kandungannya? Tapi rasanya tidaklah mungkin, aborsi termasuk dosa berat karena membunuh nyawa. Aku bisa dipenjara, dan semuanya hancur dalam sekejap. Apa yang sudah kubangun selama ini, akan runtuh hanya karena aku tidak sabar. Aku memang egois, hanya menuruti nafsu setan tanpa berpikir dengan jernih.
"Aku akan pikirkan nanti, karena kita ada acara malam ini dan sebentar lagi mau mulai."
Dea menyandarkan kepalanya sambil memundurkan jok mobil ke posisi agak berbaring. Ia mengelus perutnya, itu membuat aku tambah frustasi. Dalam beberapa bulan perutnya akan makin membesar dan aku harus gerak cepat. Tapi, bagaimana caranya?
Aku melajukan mobilku lagi menuju ke studio. Jaraknya hanya lima menit pakai mobil.
"Dosa, aku, dosa, aku." Aku memukul stir mobil saking frustasinya. Pacarku hamil, apa kata Titin nanti? "Mampuslah," batinku. Dea menatapku dengan pilu, dia tahu kalau aku pasti frustasi dengan keadaan ini.
"Dasar brengsek, lelaki biadab." Itulah yang kupikirkan saat Titin tahu kalau aku punya anak di luar pernikahan kami. Sudah pasti dia akan bilang seperti itu. Atau aku malah langsung diperkarakan di meja hijau. Yang parahnya, aku tetap tidak bisa cerai dari Titin. Mauku, kita bercerai dan aku menikahi Dea.
"Ah, sialan!" teriakku di dalam mobil sebelum aku keluar dari mobil dan masuk ke studio.
Gengku sudah menunggu di sofa sambil melihatku dengan aneh karena mukaku kacau. Padahal mereka sedang bersenda gurau.
"Napa lo?" sapa Redi si penggebuk drum.
"Kenalin, ini ... sepupu gue."
Mereka terlihat kaget, buat apa mengajak seorang sepupu ke studio latihan?
"Ayo masuk, cuy."
Kami masuk, aku menyuruh Dea untuk menunggu di luar. Tapi kasihan juga dia, masa menunggu di luar? Udah kayak pembantu dong.
Kami menyetel peralatan band dan langsung memulai latihan kami. Dea duduk di depan, di dekat pintu sedangkan kami mengarah ke depan. Sudah pasti menjadi pemandangan yang menyenangkan bagi mereka karena Dea terbilang cantik dan rupawan dengan senyumannya. Sayangnya, bukan saat yang tepat bagi Dea untuk mengumbar senyuman.
Semuanya bersemangat, begitu pula denganku. I wished. Aku terlihat lesu dengan senyuman yang palsu saat menyanyikan lagu pertama. Lagu pertama pun selesai. Semua menatap ke pintu karena pintu terbuka.
"Haah, Lolita? Kenapa ada dia di sini?" batinku berteriak, ingin copot rasanya jantung ini.
Aku menatap Ariyo, kenapa juga sih lo harus nelpon dia?" batinku berdebar dengan kencang.
"Hai semua!" teriak Lolita.
"Eh, Lol." sapaku canggung. Lolita masih belum melihat Dea karena Lolita masih membelakangi pintu. Itulah yang kutakutkan.
"Langsung yukk. Lagu apa?" tanya Lolita.
"Power Metal, Lagu Kebebasan," jawab Cemong.
Kami langsung memulai lagunya, namun saat Lolita berbalik, ia dikejutkan dengan sesosok wanita yang sedang membuang pandangan nya ke arah poster band Bee Gees. Matanya menyipit, karena merasa tidak mengenal wanita yang sedang berpakaian formal. Buat apa dia di sini, mungkin begitu pikirmya. Belum masuk ke bagiannya, Lolita masih memperhatikan Dea dengan seksama, "Cewek siapa nih yang dibawa? Ah palingan ceweknya Ariyo."
Dea masih terlihat cuek, ia masih tak memperdulikan kalau Lolita memperhatikan dia dari tadi. Ada masalah yang lebih besar yang harus ia pikirkan ketimbang memikirkan kenapa Lolita memperhatikan dia terus?
Lagu kedua pun selesai, dan Lolita menghampiri Dea lalu memberikan tangannya untuk bersalaman.
"Halo, aku Lolita. Kamu siapa? Pacarnya Ariyo, 'kan, pasti?" ucap Lolita.
"Enak aja lo, gue udah tobat dong. Tapi kalo cantik, sih, mau-mau aja."
"Enak aja lo, sepupu gue ini udah punya suami, taukk."
Dea berdeham serak, dan agak sumbang. Sepertinya ia sedang menyindir aku.
"Ahh, paling-paling juga pacar lo, Nyet." ucap Redi ngegass.
”Sepupu, kamu anaknya om yang mana? Om Yanto, om Welly, apa om Dono?"
Kepalaku mendadak pusing. Lolita memang kenal semua keluargaku. Maklum, mantan pacar. Dea hanya terdiam, jelas saja ia bingung karena belum kenal dengan keluarga besarku.
"Om Welly," jawab Dea asal.
"Om Welly? Om Welly sama keluarga bukannya tinggal di Manado? Namanya Wiliam, tapi sejak pindah dan nikah sama tante—"
Aku berdeham keras, menghentikan pembicaraan yang berbahaya ini dan memulai lagu ke tiga. Wajah Lolita nampak tak puas, ia mengerutkan dahinya karena masih belum dapat jawaban. Memangnya, dia mau sampai ke mana sih pertanyaannya? Apa mungkin ia mengira aku membawa selingkuhan? Bahaya!
Selesai lagu ke tiga, aku menarik tangan Lolita lalu berjalan keluar studio. Aku ingin berbicara dengannya langsung, tanpa campur tangan Dea. Bisa kacau semuanya.
"Aduh, sakit taukk, Santot." Santot, begitulah panggilan sayangku, dulu saat masih pacaran."
"Denger ya, Lol. Nggak usah nanya-nanya sama sepupu gue sampe kayak gitu. Nggak penting. Dia emang sepupu, tapi dia istrinya Ronal." Aku asal bicara karena om Welly hanya punya Ronal dan kami sudah lama sekali tidak berkomunikasi.
"Ronal?" Ia kaget dan mengerut dahinya.
"Dan jangan bawa-bawa hubungan kita dulu sama Dea. Dia nggak akan peduli juga."
Aku masuk kembali ke studio, pikiranku tambah kacau, apa nanti kata Dea? Dia sedang hamil, dan Lolita terlihat seperti orang yang dekat sekali denganku. Apakah ia akan berpikir yang tidak-tidak tentang Lolita. Dea memang belum kenal dengan Lolita.
"Cie-cie, mau CLBK lagi nih yee. Awas alat-alat studio entar ancur lagi sama doski. Mantan terindah, prikitiw." Redi bercanda, memang sih, lucu, tapi—"
"Oh, jadi dia pacar kamu, Mas?" bentak Dea yang membuat semua orang di studio terdiam. Dea dari tadi memang diam saja, namun, kenapa tiba-tiba mengamuk? Benar kata orang, jangan berurusan dengan wanita yang sedang hamil.
Lolita masuk ke studio, mungkin dia habis kencing, jadi tidak langsung masuk ke dalam. Lolita bingung, sepertinya ada sesuatu yang tidak beres.
"Awas lo, gue nggak mau lagi ganti rugi alat-alat," ucap Redi. Sepertinya dia sudah paham kalau Dea itu selingkuhanku. Sepertinya semua sudah paham.
Untungnya Lolita tak menggubris lawakan Redi karena dia belum paham apa yang sedang terjadi di sini.
Setelah menyelesaikan beberapa lagu, Dea tiba-tiba keluar studio. Ada apa dengannya? Nampaknya, ia sedang kesal dan memutuskan untuk keluar. Aku reflek mengikuti Dea, mungkin pikirannya tambah kacau setelah mengenal Lolita. Sambil menyanyi, dia memang sering mendekatiku.
Dea duduk di sofa, lalu aku duduk di sebelahnya. "Kenapa, Sayang?"
"Cerita, dia siapa?"
"Oke, dia mantanku," jawabku.
"Mantan terindah? Dia mepetin kamu terus."
"Enggak, tapi dia kenal banget sama Titin, jadi berhati-hatilah. Dia lebih berbahaya dari yang kamu kira."
Dea meneteskan air matanya. "Kamu sengaja, 'kan, pergi ke sini buat ketemu dia?" ucapnya sambil gemetar.
"Enggaaak, Sayang—"
Bruuug.
Lolita menjatuhkan kue yang ia pegang. "Bener 'kan, dia selingkuhan lo, bangsat!
"Gue emang udah curiga sama lo. Ronal itu homo, dia nikah diem-diem sama cowok pujaan hatinya. Gue tau itu. Dia emang ganteng makanya gue kadang stalking FB dia.
"Mampus lo, Santot, bakal gue aduin perselingkuhan lo sama Titin," bentak Lolita.
"Tunggu!" Aku ketakutan.
"Kenapa lo selingkuh sama dia? Lo bisa, 'kan, selingkuh sama gue. Gue rela, Tot, jadi yang kedua. Kenapa lo selingkuh sama dia?" bentak Lolita, ia jelas marah, karena cintanya padaku belum selesai, ia bahkan belum menikah hingga sekarang.
"Ceraiin, Titin. Lo nikah sama gue." Lolita mengancam.
"Nggak mungkin, Lol," jawabku.
"Iya, dia nggak mungkin nikah sama lo, dia bakal nikah sama gue," ucap Dea angkat bicara.
"Berani bicara, lo! Jijik gue liat muka lo, cantik-cantik ternyata pelakor juga."
"Apa bedanya sama lo!"
"Udah-udah, jangan berantem di sini, kasian sama si om yang punya studio. Alatnya rusak lagi."
"Gue nggak terima diginiin, Tot!" teriak Lolita. "Gue beliin kue itu buat istri lo, eh eloo, malah selingkuh sama cewek lain! Gimana perasaan gue, Tot!
"Gue udah cukup sabar yaa, lo malah nikah sama temen gue. Baek-baek gue mau beliin kue, eh eh. Gini ternyata, lo brengsek, Tot!"
Dea mengelus perutnya mendengar kata "brengsek" dari mulut Lolita.
Lolita menangis, ia berlari keluar seperti babi lepas dan tak melihat kiri kanan.
Bruaaak!
Sebuah mobil MPV mewah yang sedang melintas agak kencang di jalan perumahan menabrak Lolita. Ia terpental lalu badannya menabrak pohon besar yang berdiri di depan studio Legendos.
"Lool!" teriakku histeris. Mata Dea terperanjat, melihat darah yang keluar dari kepala Lolita. Apakah dia mati? Aku berlari sekuatnya dan menghampiri Lolita yang sedang terkapar di pinggir jalan. Badannya bergetar, sepertinya sedang menanti saat-saat nyawanya dicabut oleh malaikat maut.
Aku mengangkat kepalanya untuk bersandar di pahaku. Aku tak memperdulikan mobil mewah yang nyatanya kabur itu.
"Bawa ke rumah sakit, Mas. Kenapa masih di sini?"
Aku mengiyakan perintah Dea. Semoga saja dia masih hidup. Walau ada dalam benak jahatku kalau ada baiknya dia mati saja, agar rahasia ini aman selamanya.
Aku melajukan mobilku dengan kecepatan tinggi sambil menyalakan lampu hazzard. Jalanan agak macet, tapi aku secara tak sadar terus mengklakson dan meminta jalan. Akhirnya kami pun sampai di IGD rumah sakit terdekat. Lolita langsung bawa di IGD, namun ia masih tak sadarkan diri karena darahnya keluar banyak sekali. Aku menunggu dia sampai ia sadar.
"Tot," sapa Lolita saat ia sadar. Aku hanya terdiam, ternyata dia selamat.
"Sebelum gue mati, nikahin gue. Toh abis itu lo bebas ngapain aja setelah gue mati."
Aku meneteskan air mata sambil menggenggam tangannya. Dea tidak ikut ke rumah sakit karena sedang hamil. Melihat banyak darah membuatnya tambah frustasi dan ada baiknya bila ia tidak ikut.
"Putuskan, gue udah nggak kuat lagi ... gue mulai mati rasa, Tot." Aku sempat berpikir kalau ini akal-akalan Lolita saja.
"Nggak usah pakai penghulu, lo cium gue aja. Gue resmi jadi istri lo." Aku terdiam.
"Rahasia perselingkuhan lo bakal gue bawa mati, Tot."
"Lo masih bisa hidup."
"Buat apa gue hidup, kalo lo lebih milih selingkuh sama dia ketimbang gue. Ya, 'kan? Buruan cium gue."
"Farewell, istri gue, cinta pertama gue." Aku mencium bibir Lolita.
Niiiiit.
Suara panjang itu, suara yang memilukan buatku. Lolita akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya, sebagai istriku.
"Innalillahi wa inna ilaihi rojiun."
Mataku membelalak, membuka dengan lebarnya, ternyata ada yang melihat kejadian ini. Bibirku masih menempel lalu dengan cepat menoleh ke belakang. Di ruang IGD memang tidak punya pintu dan hanya di sekat oleh kain, jadi siapa saja bisa melihat.
Dea menutup mulutnya dengan telapak tangannya, kurasa ia mendengar semua percakapan aku dengan Lolita. Ia menangis, melihat aku yang tertangkap basah sudah mencium Lolita, dan sudah menjadi suami Lolita.
"A—aku bisa jelaskan semua ini, Dea." Dea pergi sambil menangis, sekencang yang ia bisa.
"Kenapa nggak ngomong kalo mau dateng?"
"Hape lo, 'kan di Dea, bloon," jawab Cemong seadanya. Ia juga kesal, mungkin Lolita mati karena aku.
Aku berlari mengejar Dea yang sudah tidak terlihat di semua koridor rumah sakit. Ke mana dia? Di luar parkiran aku berlutut, aku baru saja kehilangan Lolita, dan lagi Dea. Mengapa semua ini terjadi padaku? Semua ini salahku.
Benar saja, Dea tak terlihat lagi di kantor. Aku berkunjung ke rumahnya, suaminya mengatakan kalau Dea sudah seminggu tidak pulang ke rumah. Mati aku.
Selesai.