“MAS hiks” Aku menangis tersedu-sedu, menatap sedih suamiku mengemasi barang-barang serta bajuku ke dalam koper. Aku sangat kecewa padanya, selama ini rumah tangga kami sangat baik dan bahagia. Namun, tiba-tiba dia mengatakan ingin memulangkanku ke rumah orang tuaku. Aku bersujud memohon “Mas, jangan gini mas, aku sayang sama kamu mas. Kalo aku salah aku minta maaf mas, jangan gini mas hiks... hiks”.
Aku berdiri dan mengeluarkan semua barang-barangku dari dalam koper dan menghempaskannya ke segala arah. Rumah tangga yang aku jalani saat ini hancur tanpa sebab, rumah tangga yang kami jalani selama 7 tahun ini runtuh begitu saja.
Aku terjatuh terduduk, membenamkan wajahku dengan kedua tangan. Aku masih tidak mengerti apa yang terjadi atau mungkin karena kami tidak di karuniai anak hingga dia memulangkanku ke rumah orang tuaku.
Aku merangkak menuju suamiku yang masih mengemasi barang-barangku, aku memeluk kakinya dan memohon padanya “Mas hiks, aku mi..nta ma..ada kalau aku gak bi..sa kasih ka..mu anak mas. Tapi jangan gini mas hiks hiks, aku sayang dan cinta sa..ma kamu mas hiks. Tolong mas hiks, aku mohon hiks hiks”.
Mas Abi, suamiku, dia diam seribu bahasa, dia seperti tidak mendengar rintih dan rengekku. Dulu dia adalah suami yang baik, perhatian, sayang dan cinta padaku, bahkan dia juga sering membuntu membersihkan rumah. Dia mengatakan aku tidak boleh lelah dan cape, dia selalu memastikanku baik-baik saja. Namun kini semuanya berbalik, dia membuatku menangis, terluka dan kecewa.
“Ayo” Mas Abi menarik kasar tanganku supaya bangun, dia membawaku ke dalam taksi yang sudah dia pesan.
Aku menggeleng dan terus memberontak “Gak mas, aku gak mau, aku mau di sini sama aku mas, aku mohon hiks hiks”.
Dia tetap tidak mendengar jeritku, dia membawa paksa aku ke dalam taksi. Mas Abi, suami yang aku cintai, dulu dia yang membawaku ke rumah ini dengan perasaan senang dan bahagia. Dan dia pula yang memulangkanku dengan kasar dan sedih, dia membuat hati ini sangat terluka.
“Mas aku mohon mas, aku mohon hiks” Mohonku yang ke sekian kalinya dan ke sekian kalinya juga dia tidak mendengarkanku. Aku berlutut padanya kala mencapai mobil taksi, tangisku mencerminkan betapa perihnya hati ini “Mas hiks, aku minta maaf mass, aku mohon mas hiks”.
Mas Abi menarik paksa lenganku hingga aku berdiri, dia membuka pintu taksi dengan kasar. “Masuk!” Dia menarikku masuk ke dalam, aku sudah tidak punya kekuatan lagi untuk menanggapinya.
Kini aku hanya bisa memandangnya dengan penuh permohonan, berharap dia berubah pikiran. Namun pintu tertutup rapat dengan aku di dalamnya dan mas Abi di luar sana, aku mengetuk-ngetuk kaca jendela “Mas Abi hiks hiks”.
Beberapa bulan kemudian……
“Mbak Tina jangan bengong, liat tuh kuenya jadi jelek” Suara Nisa mengejutkanku, dia mendorongku dan mengambil ahli krim dan kue yang sedang aku dekorasi. Nisa adalah sahabatku, dia teman kala aku di bangku SMA.
“Maaf” Aku duduk di kursi dekatku, sudah 5 bulan setelah aku pulang ke rumah orang tuaku, masih saja aku memikirkan Mas Abi. Rasa sesak dada ini masih rasakan hingga sekarang, terkadang juga nafasku terhenti kala aku mengingat Mas Abi.
Aku ingat kala mas Abi memberikanku sebuah buket bunga setiap tahunnya untuk memperingati hari pernikahan kami. Aku juga ingat kala mas Abi selalu memberikanku hadiah-hadiah setiap bulannya, dia bilang ingin selalu melihatku bahagia dan tersenyum. Padahal bahagia dan senyumku cukup dengan keberadaannya saja.
“Udah Tina, jangan sedih mulu” Nisa mengelus bahuku, dia selalu mengerti apa yang aku rasakan. Dia sahabat yang baik, bahkan bulan pertama aku tinggal kembali di rumah orang tuaku, dia selalu datang dan menyemangatiku.
Aku tersenyum dan mengaguk, aku kembali mendekorasi kue-kue ini. Setidaknya ada Nisa semua beban hidupku sedikit ringan, dia selalu bisa membuatku tertawa dan tersenyum kembali. Walau itu hanya sebentar, hati ini selalu menangis sebab lukanya tak pernah kering. Aku selalu merindukannya, sampai di suatu sore ketika toko kue ramai pengunjung, aku mendapatkan kabar yang paling buruk selama aku hidup.
“Terima kasih, nanti pesen di sini lagi ya” Aku tersenyum pada pelangganku yang cantik ini, dia sudah menjadi langganan sejak lama, bahkan sebelum aku menikah.
“Aku pulang dulu ya mbak” Dia pergi melewati pintu, aku tersenyum dan melambai ke arahnya. Hari ini banyak sekali pengunjung dan memesan banyak kue dan Nisa, dia sedang pergi berbelanja bahan-bahan kue.
Aku mulai merapikan kembali roti-roti yang berantakan di etalase yang sedikit berantakan karena beberapa pengunjung. Sempat aku mengingat kala aku sedang membuat kue untuk Mas Abi di hari pernikahan kita, tiba-tiba saja mas Abi memeluk dari belakang dan kami memasak kue bersama seraya tertawa bahagia.
Brak
Pintu terbuka kasar, di sana terlihat Nisa sedang terengah-engah dengan wajah yang syok. Nisa menghampiriku dan langsung menarik keluar dengan cepat, sempat aku menolak, aku masih bingung apa yang terjadi. Nisa terus menarikku “Ayo Tina, sebelum semuanya terlambat”.
“Apanya yang terlambat?” Tanyaku dengan bingung, namun Nisa malah mengiringiku menaik motor bersamanya. Dia tidak berbicara apa pun, dia hanya dia dan melanjutkan motor ini dengan kecepatan tinggi. Aku tidak tahu apa yang merasukinya saat ini, tapi dia terlihat mengerikan.
Sampai motor ini berhenti melaju tetap di rumah yang sangat aku kenal, rumah yang penuh kebahagiaan, tapi itu dulu. Aku menatap Nisa dengan bingung, mengapa dia membawaku ke sini. Aku memang merindukan Mas Abi, tapi bukan berarti aku ingin bertemu lagi dengannya, hatiku sudah sangat hancur untuk melihatnya lagi.
Aku menahan tangan Nisa kala dia menarik tanganku, aku menggeleng padanya. Nisa tetap menarik tanganku ke dalam rumah itu dan aku hanya bisa pasrah. Dari luar rumah aku bisa melihat banyak sekali mobil dan motor bertengger di halaman rumah, perasaanku mulai gelisah saat aku memikirkan kalau mas Abi menikah lagi.
Saat aku memasuki rumah, aku melihat saudara-saudara dari mas Abi, bahkan ibunya. Aku menyalaminya, dia menangis tersedu-sedu saat memelukku. Dari matanya yang sembab aku bisa tahu kalau dia menangis lama sekali, wanita tua inilah yang menjadi mertuaku semalam 7 tahun lamanya. Dia selalu baik padaku, dia selalu menganggapku anak perempuannya.
Lalu aku di tuntun ke dalam kamar, di sana sudah ada kakak iparku dulu. Dia menangis di samping seseorang yang berbaring lemah di atas kasur dan betapa terkejutnya aku melihat mas Abi yang kurus, lemah dan sangat memperihatinkan. Dia memanggil-memanggil namaku dengan tubuhnya yang menggigil.
“Mas Abi” Aku jatuh terduduk di samping kasurnya, aku memegang tangannya yang dingin, kau menangis keras. Aku memanggil-memanggil mas Abi, saat dia mendengarku, dia menoleh ke arahku dan tersenyum. Dia mengelus-elus pipiku dengan tangan yang bergetar, dia terus memanggil-memanggil namaku.
“Abi sakit tin” Ucap kakak iparku, dia menjelaskan semuanya dengan rasa sesak di dadanya. Dia mengatakan mas Abi memulangkanku sebab dia tidak mau aku kesusahan mengurusnya yang sakit tumor, mas Abi tidak mau membuatku sedih melihatnya sakit dan Mas Abi takut aku hancur melihat keadaannya. Tapi inilah yang membuatku hancur.
Saat itu juga tangan mas Abi jatuh begitu saja dari tanganku, matanya tertutup sempurna dan deru nafasnya terhenti. Badannya tidak lagi menggigil dan tidak lagi memanggil namaku. Mas Abi sudah tiada, kini mas Abi benar-benar meninggalkan aku. “MASS ABIII”.
5 tahun kemudian……
“Tina, ini buket bunga lagi” Ucap Nisa seraya meletakkan buket bunga di atas meja, bunga yang cantik dan harum itu kini aku pegang. Setiap bulan buket bunga selalu datang, buket bunga yang di kirim oleh mas Abi. Mas Abi telah memesan buket bunga selama 20 tahun untuk sebelum dia pergi.
Aku meletakkan bunga ini di vas bunga yang sudah aku siapkan, aku mengelus bunga cantik ini. Aku tersenyum bahagia, aku sangat merindukan Mas Abi. Dari mas Abi aku tahu ketakutan yang tak pernah terucap dari seorang lelaki.
Mas Abi tidak pernah mengeluh atau menceritakan ketakutannya padaku. Sepanjang hidupnya dia tidak pernah mengatakan ketakutannya, ketika menjelang ajalnya, badannya menggigil dan terus memanggil namaku. Dia lemah tapi dia tidak mau membuatku sedih, dia takut menyusahkan aku kala dia sakit, padahal di kondisi apa pun dirinya, aku akan selalu di sampingnya.
Seorang lelaki yang tidak pernah menangis bukan berarti dia tidak sedih dan terluka.
Seorang lelaki yang tegar dan kuat bukan berarti mereka tidak bisa lemah.
Mereka hanya takut, takut membuat orang lain kesusahan, takut melihat orang lain sedih karenanya. Merekalah lelaki yang sesungguhnya, walau mereka tak pernah mengucapkan ketakutan sepanjang hidupnya.
Cerita ini aku terinspirasi oleh Sujiwetejo.