HEART BREAK
"Aku ingin putus."
Satu kalimat yang tak pernah Rey harapkan untuk ia dengar.
Bohong jika ia juga tak berpikir dan mengharapkan apa yang ia dengar hanyalah sebuah mimpi.
Ray masih percaya pada fakta bahwa mereka telah melalui banyak hal bersama dan ini tidak seharusnya menjadi masalah besar. Masalah kali ini bisa dikategorikan pertengkaran kecil antara sepasang kekasih pada umumnya.
"Apa kau serius dengan ucapanmu?" Sangat sulit untuk menyembunyikan getaran dalam suaranya. Menahan segala kemungkinan air mata yang akan segera keluar dari pelupuknya. Ray berusaha keras untuk setenang mungkin menghadapi gadis yang masih dicintainya itu.
"Ya." Jawaban dingin, singkat dan jelas dilontarkan. Helena mencoba mengalihkan sorot matanya agar tak bertemu pandang dengan Ray.
Hening. Keduanya diam dalam suasana suram yang menyelimuti.
Ray terus menggigit bibir bawahnya serta tangan yang berulang kali mengepal dan meregangkan bogemnya, berusaha meredam pikirannya yang kian membuncah. Sesungguhnya ia belum siap untuk ini dan tidak akan pernah.
"Sebaiknya kita membahasnya nanti." Ray berusaha menelan gumpalan besar di tenggorokannya yang sepertinya tidak akan hilang dalam waktu dekat.
"Kita? maksudku." Rahang Helena menegang, dia meremas kuat ujung bajunya sebelum melanjutkan ucapannya dan sorot matanya memandang sosok Ray. "Bukankah sekarang kita sedang berbicara?"
Ray tidak bisa mengungkapkan bagaimana perasaannya sekarang yang seakan kehilangan kata-kata. Rasa kecewa? Marah? Syok? Sakit? Semuanya menyatu dan satu hal yang pasti, rasa sakit di dadanya yang terus saja muncul. Sorot matanya yang tajam, wajah dingin tak berekspresi menambah beban yang dirasakan Ray.
Ray tertawa hambar, untuk saat ini hanya hal itu yang bisa ia lakukan. "Aku tidak percaya kau akan semudah itu mengatakannya."
Namun, Ray tak bisa menahan ekspresi marah dan kebingungannya,
"Baik. Ayo lakukan sesuai keinginanmu. "
Helena termangu. Sekarang dialah yang terdiam mendengar respon tak terduga dari Ray. Ia berpikir, jika Ray setidaknya akan bertanya 'mengapa' atau setidaknya marah atau sesuatu yang lain. Namun. Ray hanya diam dan bersikap tenang lebih dari apa yang ia bayangkan.
"Hebat, kau bahkan tak menanyakan alasanku atau setidaknya kau tidak menginginkan hal ini terjadi, kau seharunya mengatakannya," ketus Helena tak habis pikir.
Raut wajah Ray merengut, cairan di matanya juga menghilang, "Seharusnya itu kalimatku? Kita sudah bersama lebih dari empat tahun dan sangat muda bagimu untuk mengakhiri hubungan ini?"
Ray meninggikan suaranya.
Pria itu sudah tidak peduli dengan sikapnya yang tidak seharusnya ia lakukan di hadapan wanita yang masih sangat ia cintai. Napasnya tercekat, debaran jantungnya juga ikut berpacu maraton.
"Aku mencintaimu, semua orang tahu itu! Dan hal terakhir yang kulakukan adalah menghilang. Tetapi jika kau tak lagi mengharapkan kehadiranku di sisimu, maka kesungguhanku akan sirna seiring semangatku yang ingin selalu bersamamu."
Helena terdiam. Dia tidak yakin harus berkata apa. Dan selalu seperti ini. Setiap kali mereka dirundung masalah, dia akan selalu berakhir kehilangan kata-kata. Sedangkan Ray lebih suka meluapkan isi hati dan perasaannya.
"Jika kau tak bahagia bersamaku, maka aku tidak punya pilihan lain selain melepasmu. Aku menyayangimu lebih dari yang kau tahu dan aku ingin kau bahagia. Tapi jika semua yang kuberikan padamu hanyalah rasa sakit dan kau ingin aku pergi dari hidupmu, akan lebih baik kau tanpa diriku."
Karena tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat, Helena hanya mengetahui jika dirinya sudah melukai hati seorang Raynan Daulyn saat dirinya baru ingin mencoba memberi pembelaan. 'Apakah ia benar-benar ingin putus?' itu adalah pertanyaan yang takut ia temukan dan tak bisa menemukan jawaban yang konkret.
"Jadi. inikah akhirnya?." Sudut bibirnya bergetar, Ray menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan sesak di dadanya. Bagaimana pun ia tak menginginkan hal seperti ini terjadi. Jikapun harus, ia tidak ingin berakhir seperti ini. Setidaknya ia harus berakhir dengan baik-baik, bukan?
Hanya anggukan yang diberikan oleh Helena sebagai jawaban, karena Helena tak bisa bahkan tak sanggup melihat seperti apa wajah Ray saat ia baru saja memberi pukulan terakhir yang sangat menyakitkan.
"Baiklah." Ray menarik napasnya dalam-dalam sembari mengangkat wajahnya untuk melihat Helena Clarissa. Pria itu berusaha untuk tersenyum, hanya beberapa detik berselang senyuman itu perlahan menghilang berganti dengan tatapan dingin. "Kalau begitu ... terima kasih untuk semua kenangan dan kasih sayang yang telah kau berikan padaku selama ini."
'Berhenti.' Helena hanya mampu memekik dalam hati. Dia tak ingin menangis namun niatnya itu seakan melebur karena matanya yang kian memanas.
"Aku ... " Suara bergetar Ray yang terdengar parau, pria itu tak mampu melanjutkan kalimatnya tapi masih berusaha untuk melanjutkan. "Maafkan aku." Ray menundukkan kepalanya berusaha meredam sesuatu yang sedari tadi mengganggunya.
"Aku juga. Terima kasih dan aku minta maaf atas segalanya."
'untuk menyakitimu ... Lagi.'
Namun kata-kata itu tetap tak bisa terucap, Helena memutuskan untuk berbalik setelah berdiam beberapa saat sebelum memantapkan tekad melangkah pergi meninggalkan Ray. Dia tak bisa menahan diri dan berlama-lama di dekat pria itu.
Ray hanya mampu menatap langkah kaki Helena yang mulai menjauh darinya, kakinya pun ikut menyerah. Keheningan mulai melanda sejalan dengan hentakan langkah kaki Helena yang semakin lama semakin tak terdengar. Perasaan kehilangan sosok wanita yang dicintainya sangat sulit untuk ia redam.
Ray merasa seperti sebagian besar dirinya baru saja direnggut, efeknya yang membuatnya terluka cukup dalam.
"Sakit. .... Ini sangat menyakitkan," ucapnya ditengah isakannya.
Ketakutan dan mimpi terburuk baru saja terealisasi menjadi sebuah kenyataan pahit yang sulit untuk diterima Raynan.
The and*