Sebuah mobil membelah jalan aspal hitam yang mulai memudar warnanya. Melindas dedaunan kering yang di laluinya. Hutan malam. Begitulah orang-orang menyebutnya. Sebab ketika melewati area tersebut, keadaan benar-benar terasa gelap seperti malam hari yang di sebabkan oleh hanya adanya pohon-pohon tinggi yang tumbuh disana.
Didalam mobil yang di kemudikan oleh Ronald, sepupu Gabriel, gadis yang duduk di sebelahnya. Sementara di belakang ada Daniel, adik Gabriel dan Monica kekasih Ronald.
"Apakah masih jauh?" Tanya Monica.
"Aku tidak tahu, di surat yang tertulis katanya hanya perlu menyusuri hutan ini dan nantinya kita akan menemukan bangunan di sisi kiri jalan." Jawab Gabriel.
"Apa mau mereka sebenarnya sampai harus menahan tante Rossa disana?" Kali ini Ronald ikut menimpali. Ia nampak geram.
"Bukankah sebelumnya mereka juga mengimingi kakak dengan harta dan kekuasaan? Mereka bilang mereka adalah saudara kandung kakak."
"Benarkah?" Ronald dan Monica terkejut dan mengatakannya hampir bersamaan.
Daniel hanya mengangguk sebagai jawaban. Sementara Gabriel nampak tidak senang.
"Dan...-"
Semua orang mulai memusatkan fokus pada apa yang akan Gabriel ucapkan.
"Sudah kubilang, hanya kamu saudaraku."
"I-iya kak." Daniel merasa bersalah karena sudah mengungkit isi surat itu.
"Percayalah, mereka hanya sekumpulan orang gila."
***
Setelah berjam-jam perjalanan, akhirnya mereka menemukan sebuah bangunan megah di tengah hutan belantara. Mobil mereka menepi ke sisi jalan. Keempat orang itu pun keluar dari mobil.
"Sekarang sudah pukul 5 sore, itu artinya kita menghabiskan 4 jam dalam perjalanan tadi." Ujar Gabriel.
"Pinggangku sampai sakit." Ronald mengeluh sembari memegang pinggangnya.
"Nanti aku akan memijatmu." Monica mengerling pada kekasihnya, membuat Ronald tersenyum.
Daniel yang melihat itu hanya menampilkan pandangan jijik.
"Jangan bermain-main. Kita masih belum tahu apa yang akan kita hadapi disana." Gabriel memperingatkan. Gadis itu berjalan kearah bagasi mobil dan mengambil tas serta pistol yang kemudian ia sembunyikan di balik rok gaun selututnya, diikuti oleh ketiga lainnya.
Mereka pun bersiap memasuki mansion mewah itu dengan was-was, takut-takut ada jebakan atau semacamnya. Namun ketika baru menginjakkan kaki di teras depan, mendadak pintu kembar dengan ornamen itu di buka dari dalam oleh seorang wanita paruh baya dengan pakaian pelayan.
Keempat orang itu cukup terkejut, memandang curiga pada wanita itu dan beberapa pelayan lagi di belakang tubuhnya. Sebelum akhirnya para pelayan itu membungkuk dengan hormat seraya berkata
"Selamat datang nona Gabriel Robert Pattinson."
Keempat orang itu saling bertatapan satu sama lain dengan bingung.
"Sepertinya ada kesalah pahaman disini. Namaku adalah Gabriel Anastasya Darwin."
"Kami tahu nona." Mendadak ada seorang pria tampan dengan balutan pakaian formal yang mengenakan dasi kupu-kupu ke hadapan mereka. Monica hingga dibuat terpana.
"Ah, perkenalkan. Saya alex. Orang kepercayaan kedua kakak Anda." Ucap pria itu memperkenalkan diri.
"Saya tidak ingat jika saya pernah punya dua orang kakak." Gabriel mengernyit.
"Itu sebabnya, hari ini anda akan dipertemukan dengan kedua tuan saya. Mari ikut dengan saya, mereka sudah menunggu di ruang makan." Alex hendak berbalik saat tiba-tiba Gabriel sudah menarik pistol dan menodongkan kearahnya.
"Tidak perlu basa-basi, katakan dimana ibuku?!!"
Alex mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.
'Seperti yang di harapkan dari nona keluarga Pattinson. Dia kuat dan tangguh.'
"Tidak perlu menggunakan kekerasan nona, nyonya Rossabell juga ada diruang makan bersama kedua kakak anda."
Gabriel tentu tak mempercayainya begitu saja. Namun ia mencoba menahan diri untuk tidak menarik pelatuk dan menembak pria di hadapannya itu dan lebih memilih untuk mengikutinya sembari terus waspada.
"Bukankah dia terlalu tampan untuk di bunuh?" Monica masih sempat bercanda disaat seperti itu dan membuat Gabriel jengah dengan tingkah genit sahabatnya itu yang sepertinya lupa bahwa ia sudah memiliki kekasih.
Beruntung Ronald tak mengetahui kelakuan kekasihnya ini sebab sedari tadi pria itu dan adiknya sibuk mengagumi kemewahan arsitektur dan segala macam barang-barang antik yang tentunya memiliki harga jual yang tinggi.
"Salam nyonya, salam tuan muda. Nona Gabriel sudah sampai." Alex segera memberi salam ketika baru memasuki ruang makan yang sudah diisi ketiga orang paling berpengaruh disana.
Sementara Gabriel terperangah. Ibunya ada disana dan nampak baik-baik saja. Sontak ia segera berjalan ke arah wanita yang masih nampak begitu muda itu dan mengabaikan tatapan kedua pria di seberang meja.
"Ibu, apa kau baik-baik saja?"
"Tentu saja, memangnya Ibu kenapa?"
"Kupikir Ibu diculik."
Mendadak tawa pecah dari kedua pria kembar disana.
"Bagaimana bisa kamu berpikir seperti itu adik manis?" Ujar si pria dengan tingkah arogan sebelumnya.
"Dia juga adalah Ibu kami, wajar untuk saling mengunjungi bukan?" Pria yang terlihat dingin itu ikut menimpali.
Gabriel hanya memandang dingin. Namun jika di lihat-lihat lagi, ternyata ia dan kedua pria itu memiliki banyak kemiripan.
Sementara ketiga temannya baru saja sampai setelah sebelumnya sibuk memandangi barang-barang kuno di ruang tengah. Monica hampir menjatuhkan bola matanya mendapati kedua pria tampan kembar disana yang berkali-kali lipat lebih tampan dari pria bernama Alex tadi.
Lalu Daniel segera menyusul kearah kakak dan ibunya berada.
"Ibu, siapa mereka?" Gabriel bertanya.
"Owh, perkenalkan. Mereka adalah kedua kakak kandungmu. Samuel Robert Pattinson dan Raphael Robert Pattinson." Jelas sang ibu yang di balas senyum aneh oleh Samuel dan wajah datar Raphael.
"Apa Ibu pernah menikah dengan orang lain sebelumnya?"
"Iya, itu sudah lama. Mari kita lupakan saja dan bergabunglah untuk makan malam bersama. Ajak juga teman-temanmu."
Tentu saja ketiga orang itu merasa senang, namun tidak demikian dengan Gabriel yang semakin merasa ada kejanggalan disana.
Hingga saat mereka hampir selesai, Gabriel melihat kedua orang disana menyeringai aneh.
Bruk
Ketiga temannya mendadak sudah tertelungkup diatas meja. Kepalanya pun ikut berat. Ia beralih ke sisi kanan untuk memastikan keadaan ibunya, namun wanita itu pun menunjukkan ekspresi yang tidak jauh berbeda dengan kedua orang yang disebut-sebut sebagai kakaknya itu.
'Gawat.'
Bruk
***
Gabriel terbangun dengan kepalanya yang masih terasa pening. Namun kini ia sudah tak berada di meja makan, melainkan sebuah kamar yang luas dan mewah.
Ia segera bangun setelah berhasil mengingat segala hal yang terjadi padanya. Matanya beralih pada pergelangan tangannya. Jam 23:37 malam. Ia sudah pingsan berjam-jam.
Pikirannya kalut saat ia hanya sendirian disana. Tidak ada adik, sepupu maupun sahabatnya. Gabriel segera bangkit dan mencari keberadaan tas juga pistolnya. Namun ia tak menemukan satupun. Sepertinya orang-orang itu sudah mengambilnya.
"Bodoh!" Serunya frustasi.
Seharusnya sedari awal ia tak menunjukkan benda itu pada Alex. Jika ia tetap tenang maka- tidak! Ibunya bahkan berada di pihak kedua orang itu.
'Sial! Sial! Sial!'
Gabriel sangat menyesal.
Ia hendak keluar dari ruangan tersebut kala matanya menangkap adanya CCTV di setiap sudut ruangan tersebut seolah-olah tengah mengintainya.
Namun saat ia hendak membuka pintu untuk bisa melarikan diri, ternyata pintunya terkunci. Kembali ia memandang sekitar. Jendelanya berteralis, ia tak mungkin bisa pergi lewat sana.
Dengan debaran jantung yang hebat ia berlari kesana kemari, mencari sesuatu untuk di jadikan alat yang bisa dipakai untuk membuka pintu tersebut. Namun tidak ada apa pun. Ia hampir putus asa. Hanya ada sebuah buku didalam laci meja. Buku yang aneh, terlihat begitu kuno dan usang, terlebih sampulnya memiliki gambar sebuah pentagram dan kepala kambing.
Saat ia membukanya, betapa mengejutkannya bahwa buku itu berisi ajaran-ajaran menyesatkan. Segera ia melempar buku tersebut. Tangannya gemetaran. Ia semakin frustasi. Kepalanya hampir pecah. Kedua tangan mungilnya meremat rambutnya sendiri untuk menyalurkan rasa frustasinya tersebut.
Dan beruntungnya, ia ingat sedang memakai jepit rambut lidi. Tanpa pikir panjang ia segera memakai benda itu sebagai alat untuk aksesnya keluar dari sana.
Setelah berhasil membuka pintu, ia segera berlari dari sana. Namun tiba-tiba dari belakang ada yang mencekal tangannya. Gabriel terkejut, itu adalah Daniel adiknya namun remaja itu dalam kondisi yang berdarah-darah dan kaki kanannya pincang.
"Ka-kakak." Suara pria itu terdengar serak dengan isak tangis dan raut wajah ketakutan.
"Dan, Daniel, apa yang terjadi? Di-dimana yang lain?"
"Tidak, tidak kak. Mereka, mereka sudah mati."
Gabriel tersentak kaget. "A-apa?"
"Mo-monica, sudah di mutilasi, jasadnya berada dalam freezer. Dan Ronald juga tertangkap, ia sedang di kuliti Alex!"
Mendadak kaki gadis itu terasa lemas, cepat-cepat ia menguasai diri. Mereka harus segera pergi dari sana.
"Daniel, kita harus pergi. Ayo pergi dari sini!"
Daniel segera menganggukkan kepalanya. Dengan di bantu sang kakak mereka hendak pergi dari sana. Namun mendadak Rossabell muncul di hadapan mereka.
"Bu." Daniel melepaskan rangkulan kakaknya dan berjalan kearah ibunya.
"Ibu tidak apa-apa? Ayo kita pergi dari sini."
Gabriel termangu, ia baru akan memberi tahu Daniel bahwa ibunya berada di pihak para psikopat itu, namun terlambat. Rossa sudah lebih dulu menikam perut putranya sendiri.
"I-ibu?" Tubuh Daniel limbung yang kemudian di tangkap oleh Gabriel.
"Dan! Daniel!! Tetap sadar, tetap sadar kumohon."
"Ke-kenapkhh- uhuk uhuk." Daniel memuntahkan darah dari mulutnya, perlahan kesadarannya menghilang dan akhirnya ia menghembuskan nafas terakhirnya.
"Tidak, Daniel tidak!!! Jangan pergi kumohon buka matamu!!" Gabriel berteriak histeris.
Setelahnya ia menatap nyalang pada ibunya. Dengan tangan gemetar, ia mencabut pisau dari perut Daniel.
"Kenapa kau melakukan ini? Bagaimana bisa kau membunuh anakmu sendiri brengsek?!!!" Serunya di depan Rossabell yang masih nampak tenang.
"Karena dia tidak memiliki darah murni keluarga ini."
"A-apa? Omong kosong macam apa yang sedang kau bicarakan?"
"Dengarkan aku, Gabriel Robert Pattinson, kamu adalah anak ketiga ku bersama Robert, kakak kandungku."
Gabriel terbelalak kaget, fakta bahwa dirinya lahir dari hubungan sedarah membuat perutnya mual. Bagaimana mungkin?
Tetapi ia ingat tentang buku aneh itu. Akhirnya ia paham, tetapi kepahaman yang ia dapat justru membuatnya nyaris gila.
"Kalian menyembah iblis dan melakukan hal gila itu? Menjijikkan!"
Plak
Satu tamparan telak mendarat di pipi kanannya hingga ia tertoleh kekiri. Kekuatan wanita itu tak main-main. Jika saja tubuh Gabriel selemah itu, mungkin rahangnya sudah patah.
"Beraninya kau menghina tradisi keluarga ini!"
Tradisi?
Gabriel nyaris tertawa mendengar hal itu.
Kini terjawab sudah kejanggalan kejanggalan yang selama ini ia rasakan. Mengenai jati diri ia dan ibunya yang memiliki kekuatan fisik melebihi manusia pada umumnya. Hal yang selama ini ia dan ibunya tutupi. Tentu saja, bukankah ia akan di anggap aneh jika orang-orang tahu tentang kekuatannya?
"Asal kau tahu, aku juga tidak mencintai Robert, kami melakukan semua ini untuk menjaga tradisi yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu."
"Itu sebabnya kau lari dan menikah dengan ayah?! Lalu kenapa kau kembali kemari? Untuk meneruskan tradisi huh? Kau ingin menikahi kedua putramu juga?!!! Kalian sudah sinting!!"
Rossabell terdiam beberapa saat, namun kemudian wanita itu tergelak seolah-olah tengah mendengar sebuah lelucon yang menggelikan. Tak lama di susul kedua putranya yang muncul dari belakang tubuh Gabriel.
"Oh putriku, kamu masih belum paham rupanya." Rossabell menghentikan tawanya dan menatap lurus pada Gabriel.
"Bukan aku yang akan melanjutkan tradisi ini, tetapi kamu."
Sontak Gabriel terbelalak. Pisau di tangannya yang gemetaran jatuh ke lantai dan menimbulkan suara yang nyaring. Di waktu yang bersamaan, Samuel dan Raphael datang mendekat padanya.
"Kau tahu? Kata-katamu tadi cukup membuat kami tersinggung sayang." Ujar Samuel.
"Bukankah kamu harus diberi hukuman atas penghinaan ini? Dengan melayani kami sekaligus." Kata Raphael ikut menimpali.
Gabriel melirik pada kedua pria di sisi kanan dan kirinya dengan wajah pucat pasi, sebelum akhirnya ia di seret pergi dari sana menuju sebuah kamar dengan interior serba gelap dan penuh dengan lambang-lambang satanik.
Gadis itu menggelengkan kepalanya kuat-kuat, "Tidak! Aku tidak mau!"
"Welcome in the hell darling," ujar si kembar berbarengan. Menyambut adiknya kedalam dunia hitam yang selama ini mereka naungi.
***