Cerita ini di awali dengan Li An, seorang gadis yang hidup di suatu desa terpencil yang tenang dan damai. Kehidupan sehari-harinya ia lakukan selalu di hiasi dengan senyuman dan wajah berseri-seri. Walaupun ia hidup sebatang kara dengan beberapa petak sawah yang merupakan warisan dari orang tua angkatnya, ia sangat menyukainya. Terlebih lagi kehidupan seperti itulah yang selalu ia inginkan sejak sebelum bertukar jiwa dengan antagonis dalam novel yang ia baca.
Nama asli bukan, Li An, sebenarnya, itu adalah nama antagonis yang ada di dalam novel yang ia sukai. Gayatri, itulah namanya, seorang gadis yang masuk ke dalam dunia novel.
Ia hidup bersama adik perempuannya yang bernama Li Me yang selalu ia panggil Me’er seorang gadis cantik yang mungkin akan menyaingi kecantikannya di masa mendatang.
tokoh Li An tokoh antagonis, yang biasanya tampil jahat dan selalu berakhir mengenaskan, penuh derita. Li An adalah salah satu Putri dari keluarga bangsawan yang pernah menguasai sebagian wilayah di dataran cina ini yang berakhir dengan kesedihan dan penderita setelah kalah berperang dengan dinasti di sana. Hal itu mungkin tidak akan terjadi, jika ayahnya tidak terlalu tamak dan ambisius ingin menguasai tanah yang seluas-luasnya.
Sebelum menyerang, ayahnya memang sudah menargetkan dinasti tersebut dan mencari bantuan. Namun rencananya di endus, sehingga dinasti itu melakukan penyerangan, al hasil dengan serangan mendadak dan tanpa persiapan, ia akhirnya kalah telat
Li An sebelumnya merupakan putri bangsawan yang memiliki sikap yang sama, ia jahat, keras, egois, dan licik. Sebelum jiwa gayatri bertukar, ia menjadi putri yang angkuh dan kejam, oleh karena itu ia pantas untuk di hukum. Namun ada keajaiban sehingga ia berhasil kabur dan menetap di rumah sekarang ia tinggali bersama adinya yang ternyata masih hidup.
Saat jiwa gayatri berpindah, secara otomatis sikap dan kebiasaan Li An berubah total. Yang sebelumnya jahat dan kasar, kini menjadi lebih baik.
Tentu saja perubahan itu, membuat Li Mei, selaku adiknya heran. Ia mendapat kakaknya melompat-lompat di kasur dengan gembira. Sesuatu yang tidak pernah ia lakukan selama hidup. Selain itu Li An juga memeluknya dan memberikan makan yang cukup Kepada Li Mei.
Hari-hari aneh pun di mulai. Li An mulai terlihat sangat berbeda, dan mulai lembut dengan Li Mei, adiknya. Setiap hari, Li An akan selalu mengajari adiknya dan memberi segudang kehangatan, kasih sayang yang tidak pernah ia terima dari kakaknya yang kejam dulu.
Walaupun itu baik, bagi Li Mei itu sangat tidak normal. Tentu saja, bagaimana bisa seseorang bisa berubah sebesar itu hanya beberapa tahun dengannya di desa. Bahkan sebelum-sebelumnya kakaknya itu tidak pernah belajar ataupun akrab dengan seseorang.
Hal pertama yang jiwa gayatri lakukan adalah menulis sebuah dongeng, sebagai antisipasinya menangi keadaan keuangan keluarganya yang tidak berkecukupan. Ia memulainya dengan asal-asalan, itu pun untuk pertama kalinya, ia menulis. Namun sesuatu yang mengejutkan terjadi.
Hasil karya tulis yang pertama kali di terbangkan oleh angin, melayang-layang entah ke mana. Perasaan sedih menghiasi Li An itu. Namun seperti angin membantunya, perlahan-lahan, tapi pasti karya Li An menjadi terkenal, dan di jadikan petunjuk drama oleh para penduduk. Hari-hari pencarian penulis itu pun di lakukan, sehingga akhirnya penulisnya pun di temukan, yang tidak lain adalah Li An
Meski awal-awal sulit membuktikannya, Li An akhirnya bisa melewatinya, hingga ia dapat upah menulis yang tinggi dan tidak kekurangan uang lagi.
Mulai hari itu, ia memiliki aktivitas ganda. Setengah hari di gunakannya menulis dan sisanya untuk menanam di sawah.
Kehidupannya dan adiknya sekarang berubah 100 derajat, sehingga Li mei adiknya untuk tidak pernah lagi pergi ke sawah, hanya diam duduk manis di rumah.
Sebagai seorang adik yang sangat mengenal kakaknya, Li mei bingung, heran. Ada beberapa pertanyaan yang harus ia tanyakan kepada kaknya.
Oleh karena itu suatu hari Li mei bertanya kepada kaknya, mengapa ia terlihat sangat berbeda, seperti orang lain.
Saat di tanya seperti itu, Li An terdiam, memikirkan jawaban yang terbaik dari yang terbaik. Tidak beberapa setelah berpikir, akhirnya ia menjawab. “kakak mu ini sudah seperti daun yang berguguran; seberapa tinggi dia sebelum dan seberapa hijau, ia tetap saja akan jatuh menyentuh tanah. Intinya kak harus bersiap baik, dan menjaga adik kakak yang cantik ini, sebelum akhirnya melebur dengan tanah.”
Mendengar jawaban itu, Li mei tidak mengerti. Jelas sekali gadis umur 13 tahun itu tidak mengerti. Oleh karena itu ia bertanya dan terus bertanya, dan membuat Li An marah dan meninggalkannya sendiri.
Maka di mulailah fase Li mei mengisi jawaban di hatinya, hingga terpenuhi, dan sebelum itu, ia tidak akan menyarah.
Hal itu membuat Li An kesal dan akhirnya memarahinya dengan berkata, “kau sudah beruntung kakak mu ini bersikap baik kepadamu! Kakak mu ini juga sudah memenuhi jawaban yang kau inginkan. Jawaban apa yang kau inginkan lagi! Hah? Aku sudah menyesal memberikan kasih sayangku Kepada gadis yang tidak tahu diri seperti dirimu!” setelah itu, Li An pergi meninggalkan Li mei yang berlinang air mata.
“Apa aku salah?” Tanya Li mei di dalam hatinya sembari menangis.
Sementara itu, Li An menyesal telah berkata seperti itu kepada adiknya, yang merupakan anggota keluarga satu-satunya. Ia memutuskan untuk mencari bunga tulip di pasar, lalu di sore hari pulang membawa seikat bunga tulip yang akan di serahkan kepada adiknya itu.
Namun bukannya, adiknya yang sepertinya biasa; bergembira menghampirinya. Kini adiknya terikat di tiang rumah dengan darah mengalir deras dari pedang yang tepat membelah jantung gadis kecil itu.
Sakit, ya itulah yang ia rasakan saat pertama kali melihat adik kesayangannya bermandikan darah segar.
Li An menangis tersedu-sedu. Dari sore hingga malam tiba, suara tangisnya tidak pernah reda. Jantungnya seperti di tusuk oleh ribuan jarum yang sangat kecil.
Tidak hanya itu saja yang menimpanya, beberapa pria kekar menghampiri, mereka tidak lain adalah mata-mata yang di kirim untuk mengawasi pergerakan Li An dan adiknya.
Mereka membawa Li An ke istana kerajaan dan menyiksanya seperti binatang.
Ia sudah menyerah dengan semua perlakuan keji yang di lakukan prajurit itu, dan ingin menyuruh mereka untuk membunuhnya saja.
“itulah yang kami rasakan saat ayahmu menghianati kami!” ujar pria itu.
Siksaan demi siksaan berlanjut, tetapi para prajurit itu, masih memiliki hati nurani, sehingga mereka memutuskan untuk mengirim Li An ke kediaman salah satu pangeran yang telah memerintah mereka untuk menyiksanya, agar di lanjutkan oleh pangeran itu.
Pangeran yang kejam, keras, terhadap musuhnya, dan sangat lembut kepada anggota keluarganya. Namun pangeran itu merupakan pangeran mahkota yang akan mewarisi tahtah kerajaan
Ini adalah kesempatan yang baik bagi An Li untuk membalaskan dendamnya. Ia mengetahuinya dari seseorang berjubah.
Dengan perasaan sedih, kacau dan berantakan Li An pergi ke kediaman Pangeran. Kehidupannya tidak membaik, ia lagi-lagi di siksa. Rambutnya di tarik, di telanjangi, di paksa mandi dengan air panas yang tinggi, tidur Tidak lebih 2 jam.
Setelah semua penderitanya yang telah ia alami, ia ingin sekali bunuh diri dan kembali ke kehidupan sebelumnya. Namun takdir tidak memberikannya. Suatu hari saat ia pergi ke kota, bermaksud ingin bunuh diri, ia bertemu seorang Pria yang menyedihkan, Memiliki tangan. Bahkan ia buta.
Pria itu membawa buku dan Menulis . Hal itu membuat Li An tertarik, ia mendekati pria itu dan membaca apa yang ia tulis.
“Orang yang mati karena bunuh diri adalah pecundang, sedangkan orang yang mati karena ia kalah adalah pahlawan.” Itulah yang ia baca, dan mulai saat itu ia bersumpah akan membunuh pangeran keji itu.
Li bertanya bagaimana bisa ia menulis sedangkan kedua matanya buta dan juga untuk apa ia menulis kata-kata itu.
Pria itu menjawab, ingin hidup lebih lama. Karena ia ingin sekali bunuh diri, maka untuk mencegahnya ia akan menulis kata-kata itu, setiap kali ia ingin bunuh diri.
Mendengar itu, membuat Li An bersemangat dan melanjutkan perjalanan antagonis untuk mencapai good ending
Mulai sejak itu, ia belajar mengatur tenaga bagaimana cara tetap terlihat bugar, meski tidur hanya dua jam.
Sekarang kisah An Li berlanjut. Setelah berlatih cukup keras akhirnya, ia bisa menggunakannya. Maka hari-hari pembalasan telah di mulai.
Hari itu, Li An seperti biasa akan pergi ke kamar pangeran guna melaksanakan tugas-tugasnya. Selain bisa bela diri, Li An juga sudah mempersiapkan belati yang mungkin akan ia gunakan jika pangeran itu menyiksa lagi. Ia tidak marah ataupun membenci pangeran itu. Apa yang ia lakukan ada benarnya. Sebelumnya, Li An yang asli adalah putri yang kejam dan licik, ia pernah menggoda ayah pangeran. Walaupun gagal, Hal itulah yang menjadikan pangeran itu membencinya.
Selain itu, saat pangeran itu berkunjung ke rumah Li An, ia dengan sengaja menyiramnya dengan air panas, dan membuat tubuhnya melepuh.
Maka semakin menjadi-jadi lah kebenciannya.
Li An melihat sang pangeran duduk sembari membaca buku, ia mendekatinya, dan menjaga jarak.
Seperti biasa Li An melayani Pangeran dengan baik. Hari itu juga pangeran tidak mempedulikannya, usut punya usut ternyata pangeran sudah di Lantik menjadikan pangeran mahkota.
Li An Kemudian menyusun rencana untuk membunuh pangeran. Pertama-tama, ia mendekati saudaranya yang lain, yang iri dengannya. Seperti keajaiban menyertainya, pangeran itu langsung menerimanya tanpa syarat.
Li An juga Mendekati dayang kerajaan yang selalu melayani pangeran mahkota. Dengan sedikit usaha akhirnya ia berhasil di taklukan juga.
Rencana pun di susun untuk membunuh pangeran. Pangeran ke dua akan membunuh pangeran mahkota saat Li An membawanya ke luar istana, dan untuk dayang kerajaan akan berjaga-jaga jika ada orang yang melihatnya.
Rencana pun di lakukan, dengan sedikit usaha akhirnya pangeran mahkota mau.
Saat pangeran lengah, pangeran kedua dengan cepat berusaha menusuk pangeran mahkota, namun bukannya tertusuk, malahan pangeran kedua terpental oleh sesuatu.
Rencana pertama gagal total alias sia-sia.
Li An mulai merencanakan pembunuhan yang kedua kalinya. Pertama yang ia lakukan adalah mencari penyebab apa yang membuat rencana pertama gagal, dan apa yang melindungi pangeran mahkota.
Li An akhirnya mencari dukun untuk mengetahuinya, dan ternyata cincin di jari manisnya penyebabnya.
Saat pulang, Li An Tidak sengaja bertemu dengan pangeran mahkota. An Li ingin pulang, tetapi pangeran mahkota mengajaknya ke suatu tempat.
Mereka mengobrol untuk Waktu yang lama, sosok pangeran mahkota yang kejam mulai lebih lembut. Ia mengatakan ingin sekali merasakan cinta, dan ingin memiliki sesuatu yang ingin di jaga layaknya seorang ibu yang sedang harus ia jaga.
Tentu saja ini adalah kesempatan Li An untuk membuat rencananya. Li An akan membantunya untuk mencari seorang wanita untuk hal itu, dan akan membatu pangeran mahkota untuk mendekatinya, tapi dengan syarat pangeran harus memberikan Cincinnya.
Pangeran mahkota menolaknya, karena cincin ini adalah peninggalan ibunya yang berharga. Ia mengatakan apa pun yang terjadi ia tidak akan memberikannya.
Dengan terpaksa Li An pun tanpa di berikan cincin itu mau membantunya.
Li An pun pergi ke rumah bordil, yang bisanya tempat para wanita berpengalaman berada. Beberapa saat, akhirnya ia menemukan wanita yang cocok dan sangat berpengalaman.
Tapi sulit sekali membujuknya. Beberapa lama adu mulut dengan menyatakan pangeran mahkota ingin bertemu dengannya, akhirnya ia luluh juga.
Di sore hari di jembatan,Li An membawa wanita itu, dan tidak lupa juga, ia mendandaninya dengan sangat cantik.
Li An juga sudah dengan sengaja mendandaninya dengan wangi yang membuat siapa saja pingsan saat terlalu lama menghirupnya.
Ia juga sudah mempersiapkan belati yang akan di gunakan untuk membunuh pangeran.
.Rencananya pun di laksanakan tidak beberapa lama pangeran mahkota pingsan, wanita yang bersamaannya ketakutan. Dengan cepat Li An berpura- pura ingin menolongnya, dan menyuruh wanita itu memanggil tabib.
Setelah wanita itu pergi, Li An langsung melepaskan cincin itu. Saat di lepas cincin itu bercahaya putih terang. Setelah itu, Li An melihat perlakuan kejam Kaisar kepada pangeran mahkota, ia tidak segan-segan memukulnya saat melakukan kesalahan, meski itu kecil ataupun besar.
Ibunya saja yang menolongnya, dan memberikan segenap kasih saya. Maka dapat di ketahui dari mana asal kekejaman pangeran. Setelah Melihat itu, Li An langsung tidak sadarkan diri.
Ia mendapat dirinya sedangkan tertidur dia atas ranjang, dan ingin pergi, namun wanita bordil itu segera datang dan memerintahkannya untuk menjaga pangeran mahkota, tentu saja ia tidak mau, tetapi wanita itu mendesaknya, katanya, “ aku tidak bisa mempercayai seorang pun di istana ini selain dirimu.”
Li An menolak, tapi wanita itu terus mendesaknya, sehingga Li An mau mengikutinya.
Di ruangan pangeran mahkota yang sepi, Li An mengeluarkan belatinya dan ingin membunuhnya saja. Seperti biasa diisi ada adegan dramanya sedikit.
Perasaan sedih bercampur aduk di dalam dirinya saat mengetahui pangeran mahkota adalah orang yang memerintahkan untuk membunuh adiknya yang tidak bersalah.
Dengan tangan gemetaran dan penuh kebencian ia menusuk dada pangeran, tepat di jantungnya, tetapi bukannya tertusuk, malahan Li An terhempas ke lantai. Ia lupa kalau cincin itu masih ada. Gak jadi deh membunuhnya.
Ia bangkit dan melepaskan cincin itu, dan berhasil. Sekali lagi Li An menusuknya, tapi lagi-lagi terhempas di lantai. Saat melihatnya ternyata masih ada cincin di jarinya. Itu aneh bukan.
Usut punya usut ternyata cincinnya ada dua, yang satunya ada di jari pangeran, dan yang satunya ada di jari Li An.
Nahh pertanyaannya, bagaimana bisa cincin itu bisa ada dua, dan bagaimana bisa terpasang di jari Li An, kita akan mengetahuinya di alur selanjutnya.
Li An lagi-lagi berusaha melepaskan cincin itu, tapi keburu wanita bordil itu datang, maka enggak jadi deh membunuhnya lagi
Di sisi lain, pangeran kedua tidak sabar untuk membunuh pangeran mahkota, maka ia merencanakan sesuatu kepadanya. Ia menemui kaisar dan merencanakan kakaknya, pangeran mahkota pergi ke hutan untuk berburu. Selain untuk bersenang-senang itu juga akan menambah pengalaman bertempurnya. kaisar yang memang kejam, keras, dan ingin anaknya kelak menjadi kaisar yang kuat, dengan mudah menerimanya.
Maka disusunlah perencanaan untuk berburu untuk sang pangeran. Pangeran mahkota akan berburu di hutan selama satu bula dengan satu pelayan yang memiliki kemampuan medis. Namun tidak mudah untuk mendapatkannya, apalagi sang pangeran terkenal kejam. Hanya Li An saja yang mau, itu pun untuk membunuh sang pangeran bersama pangeran kedua.
Sehari sebelum kepergiannya ke hutan, pangeran ke dua memberikan rancun Kepada Li An untuk membunuh pangeran mahkota. Meski Li An tahu ada cincin yang melindungi pangeran mahkota, ia tetap saja mencobanya, siapa tahu kan racunnya bekerja.
Dengan di antar beberapa prajurit, akhirnya pangeran mahkota pergi berburu dengan busur dan panahnya.
Di pihak lain, pangeran kedua selain memiliki rencana pertama, ia juga memiliki rencana ke dua sebagai cadangan untuk membunuh pangeran mahkota. Ia mengirim beberapa ahli bela diri untuk mengawasinya, dan memerintahkan membunuh pangeran jika ada kesempatan.
Di dalam hutan Li An mengikuti pangeran mahkota untuk mencari tempat istirahat sebelum malam tiba.
Saat mencarinya, ada ular berbisa yang menggigit Li An, sehingga mau tidak mau pangeran mahkota ingin mengendongnya. Tapi, Li An tidak mau di gendong oleh pangeran yang mesum, dan keji sepertinya. Apalagi ia yang menjadi dalang dalam pembunuh adiknya.
Maka Li An berjalan dengan pelan-pelan. Karena tubuhnya sangat Lemah, ia akhirnya jatuh, namun sebelum itu, pangeran mahkota berhasil menangkap dan membopongnya.
Li An memberontak, tetapi tubuhnya sangat lemah, hasilnya itu hanya bagaikan gigitan semut oleh pangeran mahkota.
Karena rancun ular cepat menyebar, pangeran mahkota, langsung membaringkan tubuh Li An dan menghisap racun itu sebisa mungkin. Ia juga mengikat pergelangan kaki Li An di bagian atas lukanya, supaya Rancun tidak cepat menyebar.
Setelah itu, mereka akhirnya tiba di tempat yang bagus untuk beristirahat. Mereka kemudian mencari kayu bakar beberapa menit.
Selama itu, Mereka bercakap-cakap. Walaupun masih canggung dan Li An sangat tidak mempedulikannya.
Tiba di malam hari, mereka melakukan ritual yang tidak lain makan dan tidur.
Di tengah malam Li An terbangun dan memutuskan untuk membuang air kecil.
Namun tidak di sangka ia sudah di incar oleh seseorang yang tidak jelas wujudnya.
Selama melakukannya semuanya berjalan dengan baik, tetapi siapa sangka keanehan pun terjadi, saat Li An kembali ke tempat semula.
Di dalam kegelapan malam, ia melihat siluet yang berkeliaran. Sesekali ia memekik, tetapi tidak ada respon. Akhirnya ia memilih berlari, tetapi ia tidak bisa selamat.
Di pagi hari, pangeran mahkota bangun dan menyadari Li An tidak ada, maka dengan khawatir ia mencarinya.
Baru beberapa meter berjalan ia berpikir, kenapa ia harus mencari Li An yang sudah jelas anak penghianat.
Di sore hari, karena tidak tahan, putra mahkota memutuskan untuk mencarinya, tanpa memperdulikan entah itu anak penghianat atau bukan.
Sementara itu, di istana pangeran kedua mulai memikirkan untuk melakukan kudeta terhadap ayahnya sendiri, maka di malam hari, ia bertemu dengan beberapa orang pejabat Penting yang salah satunya pejabat penting kepercayaan kaisar.
Dengan sedikit usaha dan janji, akhirnya para penjabat itu setuju, akan membunuh kaisar secara diam-diam, agar tidak ketahuan.
Singkatnya, rencana pun di laksanakan dan kaisar mati keracunan. Namun bukan hal itu yang di katakan tabib kerajaan, ia mengatakan kaisar kelelahan dan akhirnya mati. Tentu saja tabib itu sudah disuap.
Kembali ke pangeran mahkota yang sudah memasuki area dalam yang penuh dengan tulang belulang dan gas beracun. Ia berjalan tanpa ada kesulitan karena ia sudah kebal terhadap racun apa pun.
Tidak beberapa lama, ia mendengar suara teriak Wanita. Dengan sedikit terkejut, ia pun bergegas mencari sumber suara dan masuk ke dalam gua yang ia percaya dari sanalah sumber suara.
Akhirnya ia menemukan Li An di sana yang sudah terikat tidak berdaya.
Si pangeran dengan cepat melepaskan. Saat di lepaskan, Li An berkata, “pergilah.”
Pangeran tidak mendengarnya.
Li An mengulanginya lagi.
Akhirnya pangeran mahkota mendengarnya, tapi ia sudah terlambat, dari belakangnya ada seseorang yang menusuknya.
Kembali ke pangeran kedua yang harus kekuasaan. Ia akhirnya berhasil naik tahtah sementara untuk menggantikan posisi kakaknya.
Walaupun ia tidak suka, ia mau tidak mau harus menerimanya.
Selain tidak suka, ia juga sadar saudara-saudaranya yang lain pasti ingin menggulingkannya, karena mereka tahu sekali siapa sebenarnya pangeran kedua.
Maka di susulan perencanaan untuk membunuh saudara-saudara tirinya itu.
Mula-mula ia membunuh para selir yang tidak bukan ibu dari saudara tirinya.
Para pembunuh berhasil di tangkap. Tentu saja Para pembunuh itu adalah orang yang di suruh pangeran kedua.
Seolah tidak tahu, ia memerintahkan untuk memenjarakan semuanya sebelum di eksekusi.
Salah satu pangeran dengan tegas menyatakan itu semua ulah pangeran kedua.
Namun, karena tidak ada bukti, akhirnya ia di hukum penjara selama setahun karena melakukan tuduhan palsu terhadap kaisar.
Di malam hari kaisar datang dan berbincang-bincang sebentar ke sel tahanan saudara tirinya. Ia mengatakan kepada saudara akan mengirimnya menemui ibunya sekarang.
Tanpa amput pangeran kedua membunuh saudara tirinya sendiri tanpa ampun.
Hari-hari pun berlalu, para pangeran satu persatu di bunuh oleh pangeran kedua. Tidak ada berita apa pun yang tersebar ke rakyat karena siapa pun yang menyebarkannya akan di hukum mati.
Pangeran keduanya sudah memperlihatkan taringnya.
Kembali ke pangeran mahkota, ia mendapat dirinya berada di ruangan serba putih. Ia melihat ibunya kembali.
Mereka bercakap-cakap beberapa menit sebelum akhirnya pangeran tersadar dari pingsannya dan mendapati dirinya terluka.
Akhirnya pangeran mahkota memutuskan untuk menyembuhkan lukanya sebelum melanjutkan perjalanan.
Kita ke Li An yang di ikat dengan tali. Dia terlihat kelelahan dan di siksaan tanpa ampun.
Tidak beberapa lama dia sadar, lalu berusaha membebaskan dirinya, tetapi dia tidak bisa melakukannya.
Hinggap malam tiba, roh dari seseorang wanita paru baya menghampirinya. roh itu berkata, dia adalah ibu dari pangeran mahkota dan mengatakan ingin menikahinya dengan Li An.
Tetapi Li An menolak dengan alasan putra mahkota telah membunuh Adiknya.
Roh itu mengatakan hal itu sudah takdir.
Li An menolak hal itu.
Roh menghilang dan di gantikan seseorang bertopeng datang, dia tidak lain seseorang yang menculiknya.
Pria bertopeng itu mengatakan akan membunuh Li An jika tidak menuruti permintaannya.
Li An tentu saja tidak menerimanya.
Tamparan pun di arahkan ke pipinya. Bukan sekali saja, itu dilakukan beberapa kali, hingga muncul roh ibu pangeran mahkota yang menghentikannya.
Pria bertopeng itu ternyata tidak bisa melihat roh dari ibu pangeran, al hasil ia kebingungan dengan tangannya yang tidak mau bergerak.
Pria itu berusaha melawan, tetapi roh ibu pangeran mahkota langsung merasukinya dan melepaskan ikatan Li An.
Dengan terpaksa Li An berterima kasih kepada roh wanita itu.
Tanpa ada percakapan lagi, Li An kemudian pergi dari sana dengan luka di sekujur tubuhnya.
Ia berjalan tertatih-tatih karena masih terluka dan di tambah tidak makan seharian.
Beberapa hari, ia berjalan mencari pertolongan, namun tidak pernah satu pun orang yang ia lihat.
Beberapa hari pun berlalu, karena sangat kelelahan dan tidak tahu apa yang harus ia lakukan, ia akhirnya beristrikan dan tidak sadarkan diri.
Sementara itu, pangeran mahkota kembali bertempur dengan batinnya. Di satu sisi, ia ingin mencari Li An dan di sisi lain, ia juga tidak mau mencarinya, karena Li An merupakan putri dari penghianat.
1 jam berpikir, ia akhirnya memutuskan untuk tidak mencari-carinya, tetapi lagi-lagi ia kembali berpikir untuk menyelamatkan atau tidak, sapai akhirnya ia membulatkan keputusannya untuk mencari Li An.
Ia mencari beberapa hari, sapai menemukan binatang buas, dan mau tidak mau ia harus melawannya.
Tidak jauh dari pangeran mahkota berada beberapa ahli bela diri yang sebelumnya ingin membunuh pangeran justru bergabung dengannya untuk menyelamatkannya dari hutan. Walaupun ada perdebatan sengit di antara mereka, akhirnya mereka semua setuju
Si lain sisi, li An akhirnya di selamatkan oleh seorang pemuda yang kebetulan sedang mencari kayu bakar.
Mereka bercakap-cakap sebentar, sebelum akhirnya Li An memutuskan untuk pergi, tetapi pemuda itu menghentikannya sebab Li An belum pulih dan masih terluka.
Li An dengan tidak nyaman menerimanya.
Di malam hari saat Li An tertidur, pemuda itu memandang li An dengan teliti dan mengidamkan andaikan ia bisa memilikinya.
Pemuda itu tanpa sadar ingin menyentuh pipi Li An, Tetapi ia mengurungkannya kembali karena sadar itu tindakan yang salah.
Beberapa hari berlalu, akhirnya Li An kembali sembuh, ia memutuskan untuk mencari pangeran mahkota. Meski pangeran mahkota merupakan orang yang kejam terhadapnya, ia tidak mempedulikannya.
Apalagi saat terakhir, pangeran mahkota mengisapkan rancun dari kakinya, itu membuatnya senang bukan kepala.
Li An menyampaikan niatnya untuk pergi, tetapi pemuda itu tidak membiarkannya dan ingin Li An tetap bersamanya.
Meski begitu, Li An tetap pada keputusannya.
Walaupun Li An ingin pergi, pemuda itu dengan Kasar memegang pergelangan tangan Li An dan tidak ingin melepaskannya.
Pemuda itu membawa Li An ke sebuah gua, ia berniat ingin mempermalukannya.
Dengan kasar pemuda itu mulai melepaskan baju Li An.
Baru ingin melakukannya, pangeran mahkota muncul dan menghajar pemuda itu bak hero yang muncul dalam novel atau film.
Setelah kejadian itu, Li An akhirnya kembali bersama pangeran mahkota.
Tanpa persetujuan apa pun, pangeran mahkota merobek pakaian li An.
Li berteriak, tetapi bukannya pangeran mahkota merasa malu. Dengan cepat ia membopong tubuh Li an dan membawa ke dekat sungai dan membersihkan luka-luka yang kotor.
Di samping itu, pangeran kedua berhasil membunuh semua musuh-musuhnya dan mulai merencanakan membunuh pangeran mahkota
Singkatnya, rencana pun selesai, pangeran kedua memutuskan untuk pergi ke hutan dengan alasan untuk menjemput pangeran mahkota, tapi sebenarnya ia ingin membunuhnya.
Gambaran kembali ke Li An yang sudah selesai membersihkan lukanya. Walaupun di luar ia marah, tapi di dalam hatinya ia gembira karena telah di sembuhkan.
Setelah itu mereka kembali ke tempat mereka beristirahat.
1 hari pun berlalu. Karena Li An kelelahan dan tidak baik untuk melanjutkan perjalanan, mereka memutuskan untuk beristirahat.
Li an tertidur lelap, meski di luar, ia tidak mempermasalahkannya, sementara pangeran mahkota mulai melirik kecantikan yang di miliki Li An dan menggelengkan kepalanya beberapa kali, karena tidak ingin menyukai wanita di depannya.
Ia memutuskan untuk duduk di pinggir tebing. Tidak lama muncul roh Ibunya. Pangeran mahkota terkejut, tapi setelah itu ia terbiasa.
Roh Ibunya mengatakanya untuk tidak meninggalkan Li An sendirian.
Dengan takut, pangeran mahkota kembali dan bisa menghela nafas lega, karena li An masih di sana dan tertidur.
Tubuh Li an bergetar karena dingin.
Tidak tahan melihatnya, pangeran mahkota langsung melepaskan jubah dan menutupi sebagian tubuhnya.
Keesokan harinya. Di pagi-pagi sekali roh ibunya muncul dan mengatakan pangeran kedua sudah berkhianat dan sekarang sudah mencari pangeran mahkota dan li An.
Dengan begitu, pangeran mahkota cepat-cepat pergi, namun ia bertemu dengan pemuda bertopeng yang ingin menyerahkan Li An kepadanya.
Tentu saja baik itu Li An dan pangeran mahkota tidak mau.
Maka pertarungan pun terjadi antara pangeran mahkota dengan pemuda bertopeng itu.
Sementara Li An yang di desak pangeran mahkota untuk kabur, mau tidak mau harus melakukannya.
Dengan sekuat tenaga yang ia bisa, Li An berlari.
Namun secepat apa pun ia berlari, Li An Akhirnya bertemu dengan pangeran kedua cs dengan antek-antek.
Dan tanpa ampun pangeran ke dua menyerang dengan brutal dan membunuh secara perlahan-lahan.
Li An yang sudah putus asa tidak bisa melakukan apa pun.
Namun keajaiban terjadi beberapa orang ahli bela diri muncul dan melindunginya. Meski mereka kalah jumlah, setidaknya mereka bisa menahan pergerakan pangeran kedua.
Li An dengan cepat berlari. Entah ke mana berlari ia tidak mempedulikannya.
Untuk pangeran mahkota, ia kalah telat oleh pemuda bertopeng dan ingin menghabisinya, tetapi hal itu tidak terjadi, karena beberapa ahli bela diri muncul dan melindunginya. Mereka berpesan untuk lari. Pangeran mahkota mau tidak mau harus mengikutinya.
Li An berlari sejauh-jauhnya, hingga duduk di sebuah pohon besar, ia beristirahat sebentar dan menulis di tanah.
Di sisi lainnya, pangeran mahkota juga ternyata duduk di pohon itu sembari menyembuhkan tubuhnya.
Tidak beberapa lama akhirnya mereka memutuskan pergi ke jalan yang berlainan.
Hingga beberapa hari akhir mereka bertemu. Tanpa ijin pangeran mahkota langsung memeluk Li An dengan erat.
Ok, kejadian romantis pun terjadi.
Namun tidak lama kemudian muncul Pria bertopeng dan pangeran kedua dan antek-anteknya.
Pangeran mahkota dan Li An pun bertarung, tetapi mereka mudah di kalahkan.
Sampai akhirnya, tanpa sadar mereka menyatukan kedua tangannya. Cincin mereka berkedip lalu cahaya putih terang yang membutakan mata bersinar.
Tamat
Sekian terima kasih