Hai, namaku Venus..
nama pendek yang sangat mudah untuk di ingat. Aku murid kelas 2 SMA di salah satu sekolah suasta dengan taraf International super mahal di Jakarta. Kenapa aku sekolah disana? Jawabnya sangat mudah.. Harta melimpah kedua orang tuaku yang rasanya tak habis tujuh turunan membuat aku dengan mudah masuk kesana.
Aku Venus,
Gadis cantik, modis, dan tajir, dengan segudang prestasi di bidang akademik maupun non akademik yang sangat mumpuni. Bagiku, dengan talentaku yang luar biasa, sangat mudah untuk menjadi pusat perhatian. Bahkah tak jarang aku menyandang predikat yang mengharumkan nama sekolah dan bangsaku saat beberapa kali menjuarai olimpiade sains international.
Aku Venus,
Tak bosan-bosan nya namaku selalu jadi trending topik di kalangan siswa-siswa di sekolahku. Layaknya artis, semua yang berhubungan dengan kehidupanku selalu update tanpa ada keterlambatan. Paparazi selalu mengikutiku bahkan hingga aku memejamkan mata.
Ya aku Venus,
Layaknya planet yang memantulkan cahaya dari kejauhan.. bersinar bagai nyala api yang membara dan paling terang di antara lainya. Bahkan aku di nobatkan sebagai icon ratu kecantikan dan kejeniusan mengalahkan para kandidat yang lain. Kau lihat? Begitu sempurnanya aku di mata mereka..
Ini aku Venus,
Terlahir dari keluarga yang seolah di kutuk menjadi kaya raya dari jaman nenek moyangku.. hanya menjentikkan jari maka aku bisa memilih pelayan mana yang ku inginkan untuk melayaniku. Segalanya mungkin bagiku jika di bandingkan mereka.. namun satu hal yang tak pernah aku dapatkan seperti mereka... kasih sayang kedua orang tuaku.
Huff... aku Venus,
Ternyata kekayaan tak selalu membuat segalanya jadi menyenangkan. Ini tentang kedua orang tuaku.. Aku tak tak pernah melihat papa duduk bersama di meja makan, tak pernah bercengkrama saat tie time, tak pernah ada saat aku di rumah, bahkan nyaris tak pernah bicara selama aku tinggal atau bahkan mungkin lahir ke dunia ini. Sedangkan mama, seorang ibu yang seharusnya tau persis perkembangan buah hatinya namun nyatanya tidak sama sekali.. kesibukanya hanya shooting, mengikuti lelang barang antik atau pun perhiasan, berkumpul dengan geng sosialitanya dan sejenisnya...
Bolehkah aku menangis? Aku Venus..
Mereka bilang aku sombong...
benarkah? Ok,Mungkin itu benar...
Apakah kalian pernah bertanya dari mana aku mendapatkan sikap itu?
Aku berasumsi bahwa pendidikan di bawah bimbingan para pembantu membuat aku tumbuh seperti sekarang..
Tak ada kasih sayang orang tua, tak ada didikan heart to heart dari seorang ibu yang hangat. Segala kebutuhanku selalu di siapkan mereka para pembantuku yang setia tanpa ptotes.
Hai, aku Venus...
selalu jadi pusat perhatian para pria-pria tampan di sekolahku. Aku tak faham bagaimana mereka saling berlomba mendapatkan perhatianku, meski hasilnya ‘nihil’ aku tak pernah sekalipun menanggapi jutaan kata ‘i love you’ yang tiap hari berseliweran di mataku. Bagiku itu hanya omong kosong. Dan satu hal lagi, mereka tak bukan level yang sepadan untuk ku.
Pagi..! Aku Venus,
Hari ini begitu silau, bukan karena cahaya matahari yang terlalu bersemangat... tapi Dhika..! Murid baru yang membuat jantungku berdetak kencang.. tak ku sangka, ternyata pesona Dhika akhirnya dapat meruntuhkan kesombonganku. Satu kata yang pasti ku yakini... aku “tergila-gila” olehnya. Bagiku dia maha karya yang dapat menandingiku, hanya dia yang pantas berdiri sejajar denganku.. hanya Dhika!
Venus, itu namaku!
Ku beranikan diriku untuk mengenalnya lebih dekat, betapa terkejutnya aku, dia tak terlalu menanggapi keberadaanku.. aku marah, aku terpukul, aku kecewa... namun aku tak menyerah. Ku lakukan segala cara agar dapat sekedar berkenalan dengannya..
Berhari-hari lamanya akhirnya usahaku berhasil, lambat laun Dhika pun tersenyum padaku. Aku bahagia, rasanya seperti terbang... hanya melihat senyumnya aku merasa jiwaku melayang... fix... aku klaim bahwa sekarang aku sedang ‘jatuh cinta’. Ini pencapaian yang luar biasa..!
Yah.... Venus masih disini,
Dua bulan, kurasa dua bulan waktu yang cukup untuk meyakinkan perasaanku padanya. Kedekatan kami semakin hari semakin membuatku merasa dia akan jadi milik ku dan aku miliknya. Hari ini, biarlah aku yang mengalah... aku kunutarakan perasaanku terlebih dahulu, apapun hasilnya aku pasrah. Ahh.... aku lebih yakin 100% berhasil dari pada tidaknya.
Hai, aku Venus yang begitu bersemangat!
Di taman itu, sepulang sekolah.. aku menunggunya disana, dia baru keluar kelas saat ku lihat dia melambaikan tangannya dengan senyum tampan menghias wajahnya.
Jantungku berdetak kencang seolah menanti hadiah undian. Aku tersenyum, ralat... membalas senyuman itu dengan perasaan campur aduk... namun aku salah... ternyata senyum tampanya bukan untuk ku, lambaianya bukan pula untuk ku... suzy, gadis manis itu berdiri tersenyum padanya tepat di belakangku..
Bisakah aku teriak? Aku Venus,
Sebuah kejutan nyatanya sudah menantiku... di perkenalkanya suzy padaku yang notabene nya adalah adik kelasku. Hal paling menyakitkanku adalah ‘Suzy’ resmi menjadi pacar dika dua hari yang lalu..
Bisakah kau melihat kilatan itu?
Bisakah kau mendengar suara guntur itu?
Mereka (kilat dan guntur) sedang bergejolak di hatiku. Betapa terpukulnya aku. Yah... aku yang mereka sebut-sebut sebagai ratu kecantikan telah kalah dari seorang pendatang baru. 2 hari lalu?? Andai aku lebih cepat menyatakan perasaanku apakah hasilnya akan berbeda? Tidak... kenyataanya adalah... aku telah kalah.
Aku lelah menjadi Venus,
Air mataku tak henti mengalir meski waktu sudah semakin laju berputar. Aku marah pada Suzy, aku marah pada Dhika, aku bahkan marah pada diriku sendiri. Aku benci menjadi Venus.. benarkah seorang Venus yang selalu bersinar justru tak pernah mendapatkan cinta??
Mana cinta kedua orang tuaku?
Mana cinta Dhika untukku?
Kedua kalinya dalam hidupku... aku benci menjadi Venus.
Akhir dari Venus,
Mungkin dengan kepergian diriku mereka akan menyadari betapa berharganya seorang anak.
Mungkin dengan kepergianku akan Dhika sadari bahwa akulah cinta dalam hidupnya..
Aku lelah,,, aku frustasi,,, aku bilang.. aku berhenti!
Air mataku mulai menetes kembali saat ku teguk cairan berwarna kuning dari botol seukuran jari itu. Seketika nafasku tersendat, pandanganku kabur, aku merasakan aliran darahku berbalik sehingga cairan merah kental itu keluar dari mulut dan lubang hidungku. Ku rebahkan tubuhku di atas kasur saat oksigen tak lagi berhasil ku hirup. Mataku terpejam... semua menjadi gelap. Dan inilah akhir dari Venus..
Surat dari Venus
Anadaikan kau tau Pa,Ma.... betapa inginnya aku memiliki orang tua seperti teman temanku yang lain. Menyuapi saat kecil, menggendong saat menangis, membacakan cerita di kala tidur, mengambilkan rapot dengan nilai yang selalu mengesankan, menyaksikan pertunjukan drama saat aku sekolah dasar. Betapa innginnya aku kehadiran seorang Ayah yang akan mengajariku bersepeda, berkemah, membarikan rasa aman dan mengajari arti tanggung jawab. Namun sayang, aku tak seberuntung itu.
Dan taukah kau Dhika, kau adalah cinta pertama sekaligus terakhir dalam hidupku. Meski akhirnya rasa sesak ini menjerumuskanku.. aku akan tetap katakan bahwa, aku masih mencintaimu..
Selamat tinggal semua orang yang mengenalku.
Aku pamit.
Tak kan pernah ada cerita tentang Venus lagi..
Aku menyerah..!
“VENUS”