Selalu berteman sepi dalam kesendirian. Hanya ditemani oleh kue-kue cantik bikinannya sendiri. Adalah Nenek Ippo, panggilannya. Ia punya delapan anak, namun tak satupun dari mereka pernah berkunjung, bahkan di hari besar seperti Lebaran, Natal dan Tahun Baru.
Menjelang Lebaran, Nenek Ippo selalu membuat empat kue cantik, semampu ia mengadon kue. Umurnya sudah 92 tahun, dahulu saat masih berumur 60 tahunan, Nenek Ippo masih kuat membuat delapan varian kue. Kini hanya empat : nastar selai nanas, nastar isi keju, lidah kucing, dan putri salju.
Sudah dua puluh tahun Nenek Ippo kesepian, ditinggal suami meninggal, Kakek Dapo, dan akhirnya ditinggal pergi oleh anak dan cucunya. Mengenaskan, Nenek Ippo hanya tinggal di sebuah gubug reyot, bahkan tak layak tinggali. Padahal, keempat anaknya yang masih hidup, hidup dalam kemewahan.
Nenek Ippo pun pasrah, Lebaran tahun ini bisa jadi Lebaran terakhirnya, di mana ia akan dipanggil Yang Maha Kuasa dan tak ada satupun yang tahu.
"Nenek Ippo, kenapa melamun lagi? Masih memikirkan anak cucu Nenek?" ucap Cika. Cika adalah nastar selai nanas kesukaan Nenek Ippo. Mukanya sedih, tak kuasa melihat kepedihan yang dirasa Nenek Ippo.
Nenek Ippo menengok, memperhatikan Cika yang penuh harap kalimatnya tadi akan direspon olehnya. Nenek Ippo mengelap hidungnya yang agak berair. Ia sedang sakit namun tak ada yang mengurusnya.
Di sebelah Cika, berdiri Ciko, nastar isi keju yang juga memukau. Cika dan Ciko adalah nastar kembar yang dibuat sama persis bentuknya. Namun berbeda isi. Si kembar sangatlah sayang pada Nenek Ippo, begitu pula Miyong si cemilan lidah kucing dan Latifah di kue putri salju.
Cika dan Ciko punya sifat periang, walaupun keadaan suram, mereka tetap optimis. Lain halnya Miyong dan Latifah yang tidak terlalu peduli dengan keadaan Nenek Ippo. Miyong suka bergosip dan Latifah berdandan. Itu sebabnya Miyong dinamakan lidah kucing, sedangkan Lafifah selalu dibedaki oleh gula halus.
"Nenek mau mati saja," ucap Nenek Ippo pasrah pada hidupnya.
Si kembar pun kaget.
"Jangan begitulah, Nek," ucap si kembar bersamaan.
"Biarlah, gara-gara Nenek pun Kakek meninggal—"
Sssst!
Ciko menyuruh Miyong untuk diam.
"Nenek sih, waktu itu mengusir kakek," ucap Miyong.
"Miyong, diamlah," ucap Cika.
"Memang benar, nenek waktu itu memang bodoh. Kakek Dapo dipecat dari kantornya, dan Nenek … kecewa sekali. Kami hidup serba susah, tak punya apa-apa. Harusnya Nenek bersyukur, suka duka dilalui bersama," kenang Nenek Ippo sambil meneteskan air matanya.
"Tidak usah menangis, Nek. You are beautiful, loh, Nek." Latifah berjoget ala girlband Cherrybelle.
"Kalau tak ada Nenek, siapa yang akan memakan kami? Kami akan busuk, berbelatung, dan … hiiiiy, atuut!" ungkap Cika.
"Siapa yang mau mengunjungi Nenek yang sudah tua ini? Nenek merepotkan. Nenek tak mau merepotkan mereka. Mereka pasti sibuk dengan urusan anak-anak mereka sendiri.
"Andi, anaknya tiga, Billi, anaknya.dua, yang lainnya nenek sudah tidak ingat lagi," aku Nenek Ippo.
"Hubungi mereka, Nek."
"Nenek tidak tau nomor mereka," aku Nenek Ippo.
"Tetangga atau pak RT pasti tau, 'kan, Nek," ucap Cika.
"Rumah mereka jauh, kita ini kan di kampung. Nenek tidak kuat kalau harus jalan kaki."
Hufft.
Nenek Ippo menghembus napas kasarnya. Merasa.hidupnya sudah berada di akhir hayat. Siapa lagi yang dapat membantunya? Selama ini, Nenek Ippo hanya berharap pada tetangganya yang selalu mengirim makanan tiap pagi. Mungkinkah Nenek meminta pertolongan lagi pada mereka? Mereka sudah baik sekali, batin Nenek Ippo.
Nenek Ippo memang selalu ditawari bantuan oleh tetangganya, Namun Nenek Ippo menolak karena tidak mau menyusahkan mereka, seperti kehabisan pulsa dan sebagainya.
"Nenek, Nenek sudah tua, janganlah tinggi hati. Kau memang butuh bantuan, Nek," ucap Miyong.
"Kau saja yang ke sana," ucap kesal Nenek Ippo.
"Kami hanya kue. Bisa apalah kami." Miyong juga lama-lama kesal.
"Sudahlah, mati, mati sajalah kau, Nek."
Para kue yang mendengar kalimat Miyong langsung marah dan mengajak Miyong berkelahi. Nenek Ippo yang melihat para kue berkelahi itu malah tersenyum, mengingat pada masa lalu Nenek Ippo dengan anak-anak mereka yang masih kecil.
Kilas balik 60 tahun lalu.
Andi dan Billi masih kecil. Mereka sedang bermain bersama, namun kegiatan mereka diinterupsi oleh ibu mereka yang menyodorkan dua toples kue nastar di hadapan mereka.
Nenek Ippo baru menikah tiga tahun namun sudah dikaruniai dua "jagoan" yang lucu-lucu.
Mereka berteriak kegirangan, anak kecil mana yang tak suka dengan kue nastar, apalagi nastar ini adalah kue buatan ibu mereka sendiri.
"Aku nastar nanas," teriak Andi.
"Aku nastar keju," teriak Billi.
Mereka membuka toples itu. Nastarnya masih hangat karena belum lama dikeluarkan dari oven. Mereka sangat menyukai nastar, ada rasa bangga pada sang ibu karena anak mereka sangat menyukai kue buatannya.
Kilas balik selesai.
Sungguh sulit bagi Nenek Ippo untuk melupakan kenangan manis itu bersama dengan keluarga kecil mereka. Kini, hanya ada air mata yang mengering setelah puluhan tahun tak dikunjungi oleh anak Nenek Ippo.
Besok adalah Hari Raya Lebaran. Tak ada harapan bagi dirinya untuk melihat anak Nenek Ippo. Dua puluh tahun pun berlalu, apa bedanya Lebaran tahun lalu, tahun ini, maupun tahun depan? Nenek Ippo hanya berteman sendiri kecuali dengan empat kue buatannya.
"Tuhan, kalau Kau menghendaki aku dipanggil tanpa melihat anak cucuku untuk yang terakhir kalnyai, jadilah seperti kehendak-Mu. Tak ada lagi yang aku risaukan, aku tak punya keinginan lagi," doa Nenek Ippo yang membuat Cika, Ciko, Latifah, bahkan Miyong meneteskan air matanya.
"Sungguh keterlaluan, anak-anak Nenek Ippo," tangis Cika sambiil mengelap air matanya di badan Ciko.
Huaaaa!
Tangis mereka makin pecah, mereka tak bisa apa-aoa, selain berharap yang terbaik bagi Nenek Ippo.
"Tuhan, tolonglah Nenek Ippo. Bukalah hati anak-anak mereka. Untuk mengampuni Nenek Ippo yang kami cintai," doa Cika.
Tak berapa lama, belum air mata mereka mengering, di luar rumah Nenek Ippo terdengar suara mobil yang parkir di depan rumah. Ada beberapa suara yang memeluk haru, mungkin suara-suara rindu di antara mereka. Keadaan menjadi gaduh setelah beberapa saat, mungkin ada belasan orang yang berada di situ.
"Ada, apa sih?" tanya para kue.
Nenek hanya tersenyum, mungkin sudah tahu kalau itu adalah anak-anak mereka beserta keluarganya.
Tinggal sedikit lagi, Nenek Ippo akan menemui mereka. Ada perasaan haru, karena doa yang tadi diucapkannya langsung terkabul. Nenek Ippo merasa sangat bahagia. Ia sudah lupa kapan terakhir kali ia merasa bahagia. Saking bahagianya, ia sampai tak dapat merasakan apapun, bahkan nafasnya sendiri.
Inilah akhir cerita bagi Nenek Ippo, Cika, Ciko, Miyong, dan Lafifah. Cintailah orang tua kalian selagi mereka masih hidup, apapun kesalahan yang pernah mereka lakukan di masa lampau.