Kesendirian bukan gambaran kesepian yang bisa aku ungkapkan untuk saat ini. Lebih pada perasaan lelah yang memaksa hati untuk menyingkir sejenak dari riuh perasaan yang tak kunjung mereda. Namun bukan soal rindu yang bisa segampang itu diungkap padahal objek merindu tidak tepat sasaran. Kesendirian adalah pilihanku saat ini. Rehat dari perasaan tidak sehat yang sudah kupendam enam tahun terakhir. Pada seorang dengan bayang jelas jatuh dipelupuk mata namun masih sulit terjangkau oleh retina. Cukup sulit melihat bayang itu dengan sempurna. Samar dan kabur.
Sayap sayap merpati mengepak bersamaan angin bertiup kecil menerbangkan anak rambut yang bandel terlepas dari ikatan. Kemudian dedaunan di atasku yang terjatuh dua tiga melewati mata memaksa agar lamunanku terhenti dan mengikuti gerak daun jatuh itu. Dan kemudian rindu semu itu tergambar jelas.
Apakah rindu ini pantas untuk diucap? Disaat objek merindu itu tidak tahu apakah sang perindu itu ada dan merekalan waktu berharganya untuk menyendiri. Berharap sang objek merindu sadar. Kemudian hadir dan menghapus kata sendiri.
Tidak. Percuma aku meratap.
"Sa? Kamu disini?"
Aku menutup lamunan. Tersenyum.
"Dari tadi."
"Nih, harusnya kamu bisa dateng." sebuah undangan terulur.
"Aku usahain, ya. Makasih udah diundang."
Rindu semu itu akan menghilang. Semoga bersama rasa yang pernah tumbuh berkembang namun tak pernah terpetik ini.
Aku melambai setelah mengucap kalimat basa basi perpisahan. Aku harus menjauh dari sumber bahagianya.
Langkah kaki berat ini menuntunku entah kearah mana. Melangkah sesuka hati tanpa arah. Aku menatap udangan itu. Bernuansa putih seperti impianku. Kalimat sederhana berbahasa perancis mirip seperti yang aku mau. Tentu saja dengannya.
Andika & Revita
Betapa manis tulisan itu. Bagaimana jika diganti.
Andika & Lisa
Kemudian senyumku terpancar. Berhalusinasi lagi.
Sebuah pertanyaan berputar dalam kepala. Apa aku harus datang? Sendirian? Tidak. Itu terlalu menggambarkan diriku. Apa harus dengan pasangan? Siapa? Apa aku pernah mengenal seseorang sebelumnya?
Atau lebih baik tidak datang. Tidak perlu menyaksikan objek rindu itu yang tidak lagi pantas menjadi objek rindu. Dia milik seseorang.
Kenapa dua merpati yang tadi mengepakkan sayap didepanku kini kembali mengepakkan sayapnya disekitarku. Apakah aku adalah seorang yang pantas di panas panasi dengan sebuah hubungan?
Dan kenapa mereka terus menunjukkan kemesraan itu? Membuatku marah dan menggeram.
Aku melempar undangan itu. Tepat didepanku. Dan bisa saja sebentar lagi akan kuinjak injak dia. Namun aku tidak bisa. Tidak kuasa. Dia bukan milikku, kan? Lalu ada apa denganku.
Kemudian aku duduk memeluk lutut. Hampir menangis rasanya. Benci rasanya. Kesal. Kenapa aku seperti ini. Kenapa aku menjadi pihak yang tidak bisa merasakan apa itu dicintai. Kenapa pula aku harus mencintai lelaki yang tidak tahu siapa aku. Kenapa aku harus menjadi diriku. Kenapa aku adalah aku.
Segala makian itu berkumpul di kepala. Keluar dalam bentuk air mata. Karena memang tak ada yang bisa aku salahkan. Siapa yang harus aku salahkan?
Aku menangis memeluk lutut. Menyembunyikan wajah agar tak terlihat oleh sepasang merpati yang sengaja memanas manasiku tadi. Aku benci dihina. Dan lebih benci lagi karena aku pantas dihina.
Undangan tadi masih dengan sabar menungguku selesai menangis. Sedikit bergerak karena angin. Kenapa aku. Undangan ini tak salah apapun.
Lalu aku memungutnya. Berjalan tergesa meninggalkan dua merpati yang menyebalkan itu. Aku menyimpan dendam padamu.
Sebenarnya tidak ada yang tahu betapa aku mencintai lelaki itu. Semua terjadi dalam diam sampai perasaan itu menjerit dengan sendirinya. Menjerit geram karena selalu diabaikan. Karena pantas pun tidak aku mengungkap perasaan itu padanya. Lelaki yang begitu sempurna bagiku. Yang dulu kala SMA selalu meluangkan waktu barang sejenak untuk bersujud Duha pada Tuhan. Sedangkan aku meluangkan waktu untuk mengintip ciptaan Tuhan itu yang sedang menyembahNya.
Betapa berbeda.
Tapi kenapa aku teramat sakit padahal telah mengetahui fakta tentang dia yang tak pernah bisa termiliki olehku. Dan begitu mudah meneteskan air mata untuknya yang tak pernah mungkin mengenalku.
Aku berjalan menuju trotoar jalan. Meninggalkan ramai taman yang kebanyakan diisi oleh kisah asmara memuakkan itu. Bahkan merpati juga sedang memadu kasih.
Belum jauh aku melangkah ponselku berdering dari dalam saku. Panggilan tak terjawab kemudian satu pesan dari nomor tidak dikenal. Aku mengabaikan. Mencari tempat sepi untuk bisa membalas atau hanya sekedar membaca pesan itu. Trotoar terlalu ramai untuk sekedar bermain ponsel.
Seratus meter aku berjalan hingga menemukan satu kafe kecil yang tak memiliki banyak pengunjung. Ketika aku masuk sambutan sepasang suami istri paruh baya menyambutku. Dengan senyum sumringah dan sapaan lembut. Aku mengulum senyum.
Dari sekian banyak kafe harus bertemu dengan sepasang kekasih. Lagi.
Aku duduk dekat dinding kaca. Sengaja melihat riuh kota dari balik meja. Kemudian tersenyum miris karena di kota seramai ini hanya aku yang selalu sendiri. Menatap orang lain sebagai penonton bosan menatap adegan yang terus terusan klise. Berharap ditarik masuk dalam cerita namun tak tau dengan peran seperti apa.
Aku menyendok redvelvet pesananku yang sudah diantar. Betapa manis dan lezat. Namun tetap hanya aku yang bisa berkomentar lewat otak. Tidak bisa bertukar rasa dengan penghuni kursi didepanku.
Ah, pesan tadi. Aku merogoh saku. Mengeluarkan ponsel kemudian mencari pesan tadi.
Lisa, bisa kita bertemu sebentar?
Eh, nomor tidak dikenal ini minta bertemu. Apakah ada sesuatu yang penting seperti memberiku kartu undangan pernikahan, lagi.
Maaf, nomormu belum tersimpan. Bisa tahu nama dulu? Mungkin kita kenal satu sama lain.
Terbalas dengan cepat. Jika itu memang undangan pernikahan, maka biarlah aku meratap sekali lagi.
Aku Andika.
Aku hampir tersedak. Andika siapa? Apa aku pernah mengenal nama Andika sebelumnya. Aku memutar otak. Teman SD, teman SMP, teman SMA, teman kuliah, rekan kerja, satu satunya teman yang kukenal bernama Andika hanya dia yang kini namanya terukir dalam kertas undangan. Kemudian satu pesan hadir lagi.
Dulu kita satu SMA. Aku satu tahun diatasmu, kelas IPA 4. Sudah ingat?
Aku sempurna membeku. Andika. Dia menghubungiku. Apa apaan ini.
Apa yang harus aku tulis sekarang? Namun belum selesai aku berfikir untuk menulis apa dia sudah kembali mengirim pesan.
Jika kamu masih di kota ini, bisa kita bertemu sebentar?
Ya. Tentu saja Andika. Dengan senang hati.
Aku membalas dengan mengirimkan dia alamat kafe. Silakan datang kesini hari ini jika itu betulan penting. Namun silakan tidak datang jika tidak terlalu penting.
Aku mengucap kalimat itu berkali kali dalam hati setelah mengirim alamat kafe. Bodoh. Apa aku sudah siap untuk itu.
Setengah jam berselang. Aku masih mengharapkan kehadirannya. Apakah itu Andika yang ku kenal atau Andika lain yang mengenalku. Satu pesanan Americano panas mendarat sempurna di mejaku. Mengepulkan asap harum yang menggoda. Kemudian sepotong kue manis yang lagi lagi kupesan untuk menghilangkan bosan menunggu. Walau seluruh bosan sebenarnya menjelma menjadi harap dan perasaan canggung. Aku takut jika itu betulan Andika yang aku kenal. Namun aku akan lebih takut jika itu bukan Andika yang aku kenal. Dua kemungkinan yang sama sama akan mengecewakan.
Kemudian setengah jam lagi berlalu. Kopi panasku sudah separuh kosong. Sedangkan piring kue tadi sudah habis tak tersisa. Lalu seorang muncul. Laki laki berkemeja kotak kotak biru tanpa dikancingkan. Menampakkan kaus hitam dengan tulisan kecil yang tak bisa aku baca. Dia menoleh kesana kemari dan berjalan kearahku setelah berhasil menemukan kursiku yang tersembunyi. Lelaki itu tersenyum manis. Duniaku direnggut.
Dia Andika yang aku kenal. Dan Andika yang aku suka.
"Halo, Lisa." kalimat pertama yang muncul sebelum dia menarik kursi dan duduk didepanku. Ah, rasanya seperti kencan.
"Hai." aku sudah mulai canggung.
"Apa saya mengganggu? Maaf jika mengganggu."
"Tidak, tidak. Jika itu mengganggu mungkin saya tidak akan mengirimkan alamat kafe."
Ah, tentu saja itu kalimat yang bagus dari pada, tidak mengganggu aku justru menunggu.
Kami belum berbincang banyak. Dia hanya sedikit bercerita kemudian bertanya. Dan selama itu belum sedikitpun aku paham arah mana yang akan dia bicarakan.
"Mau pesan lagi?" tanyanya setelah melihat gelas kopiku kosong.
"Tidak. Ini gelas kedua saya. Terlalu banyak kafein bisa membuat saya tidak tidur hingga besok." aku memancing tawa. Entah itu berhasil atau tidak tapi setidaknya ada senyum di wajah itu.
"Sepertinya kamu sudah lama menunggu. Dan saya rasa terlalu berbelit belit tidak terlalu nyaman."
"Santai saja. Saya masih punya waktu libur hingga tiga hari kedepan."
"Saya tau ini lancang namun akan lebih lancang jika saya tidak mengatakannya sekarang."
Oh, Lisa. Tolong kendalikan hati dan otakmu sekarang.
"Ada kemungkinan saya akan menyesal. Namun penyesalan juga akan hadir jika saya tidak mengatakannya sekarang."
Aku hanya tersenyum menunggu. Dengan otak kotorku yang mulai berpikir yang tidak tidak. Dan detak jantung yang sudah mulai tidak bisa diajak kerja sama.
"Sebenarnya saya sudah menyukaimu sejak enam tahun lalu."
Otakku menggila. Jantungku benar benar diluar kendali. Aku terkejut namun terlalu dini untuk menyimpulkan.
"Maaf... "
Kenapa dia minta maaf?
"Seharusnya saya jujur lebih awal."
"Tidak, tidak. Kamu bilang akan menyesal jika tidak mengatakannya sama sekali. Jadi seharusnya kamu lega sekarang." aku berucap. Tentu dengan hati yang berlawanan karena otakku sedang tidak dalam mode normal untuk diajak berfikir dengan jernih.
"Saya akan menikah. Dan itu akan menjadi beban jika saya masih menyimpan rasa pada kamu."
"Tidak, Dika. Kamu sudah mengungkapkannya dan itu tepat. Setidaknya nanti kamu akan berdampingan dengan orang yang lebih baik daripada saya." aku menelan saliva. Rasanya terlalu berlebihan aku mengucap itu, "berbahagialah."
Aku memancarkan senyum. Dengan segala mentari yang kuusahakan bangkit dari dalam diriku. Berkompromi dengan otak sejenak saja tidak memunculkan beban berlebih. Hanya untuk meyakinkan lelaki didepanku bahwa dia tidak akan menyesal. Kemudian berani memberikan seluruh hatinya oada wanita yang akan dia nikahi.
Aku kembali tersenyum setelah melepas kepergiannya. Lambaian tangan yang didedikasikan untukku. Untuk kali pertama sekaligus terakhir.
Bodoh kau Lisa. Aku menahan tangis ketika seluruh mentari dalam diriku mulai redup. Berganti gelap yang memakan seluruh cerah. Mengumpulkan seluruh penyesalan dalam diri untuk bisa keluar sebagai tangis.
Seandainya aku juga berdoa untuknya. Seandainya aku juga meluangkan waktu di sepertiga malam untuk meminta dia mengungkapkan itu lebih cepat. Seandainya juga aku mendekati Tuhan untuk meminta restu atas dirinya. Bukan malah sibuk berlari dan melupakan.
Dua merpati yang tadi mengepak di taman kembali hadir disekelilingku. Memakan biji jagung yang sengaja dicecer oleh pemilik kafe untuk mereka. Merpati itu mengeluarkan suara. Entah mengejek atau bersimpati. Namun yang pasti aku sudah menyesal.
Menyesal kenapa aku tidak memoerjuangkannya. Jika aku juga berjuang mungkin tulisan dalam undangan itu akan berganti menjadi,
Andika & Lisa