malam ini aku menghadiri sebuah acara berkelas yang sama sekali belum pernah aku jajah, acara ini adalah pesta ulang tahun ke tujuh belas teman ku, dia sangat kaya jadi pestanya begitu besar dan mewah, banyak sekali orang yang berpakaian glamor, mereka tampak sangat elegan.
sedangkan aku adalah gadis dengan perekonomian menengah ke bawah. pakaianku hanya sebatas gaun merah dan hils putih, itupun pemberian temanku agar aku tak malu saat hadir di pesta.
selama berada di pesta aku merasa begitu canggung untuk sekedar berbincang atau mengambil makanan yang di sediakan. padahal orang lain begitu senang dan menikmati pesta.
"sepertinya pesta ini tampak menyenangkan bagi mereka." gumamku saat melihat semua tertawa senang.
aku terus mondar-mandir gak jelas bak setrika hingga akhirnya aku kembali memutuskan untuk duduk dan merenung melihat aktivitas temanku yang lainnya.
disini begitu hampa, aku sendirian. sahabatku yang mengundang aku untuk datang kesini sibuk sendiri. dia sama sekali tak menemui aku.
aku menghembuskan nafas kasar. "kenapa aku kesini jika akhirnya aku hanya duduk, jika begini aku bisa melakukannya di rumah." gumamku sembari melirik kesekeliling dengan jengah dan bosan.
tiba-tiba saja, seorang gadis bergaun putih dengan mahkota yang tertanam di kepalanya menghampiri aku. dia adalah trisha, teman terdekat yang mengundang aku dalam pesta besar ini.
"sialan disini kamu ternyata." ucapnya mengumpat dengan wajah kesal.
"ada apa?" tanyaku singkat padanya.
"aku sudah mencari mu kesana-kemari ternyata disini, mari ikut aku" ucapnya kemudian menarik tanganku paksa sehingga aku pun harus mengikuti kemana ia pergi. padahal aku sendiri belum bilang setuju untuk ikut dengannya.
kini aku berada di ruangan yang tampak tak normal, banyak orang sedang menari-nari, berciuman atau sedang melakukan hal yang tak sewajarnya.
"apa ini?!" tanyaku heran pada temanku.
"lihatlah ini puncak pesta yang kusediakan, pesta minuman dan malam yang berhasrat." ujarnya dengan senyuman yang sulit di artikan.
"maksudmu apa, bukankah seorang pelajar tak boleh seperti ini."
dia mendengus malas. "ya memang tak boleh tapi ini pestaku, aku berhak melakukan apapun." ucapnya kemudian mengajakku semakin ke dalam, tercium jelas aroma minuman yang pekat.
"aku tak suka tempat ini, lebih baik aku kedepan dan kembali ke pestamu yang normal." ujarku tho the point dan hendak pergi. namun Trisha menahan aku.
"cobalah dulu, engkau pasti suka." tangan kanannya memegang lengan kiri ku dan tangan kirinya menyodorkan segelas minuman yang masih asing bagiku. "ayo" Trisha memaksakan agar gelas itu berada pada genggaman tangan ku.
"cobalah." secara terpaksa aku mengikutinya perintah temanku ini, aku meneguk habis minuman yang rasanya masih aneh di lidahku.
Dan tiba-tiba saja, kepalaku terasa pening sepertinya aku kehilangan setengah kesadaran yang kumiliki, tapi rasanya begitu menenangkan.
Trisha terus menerus memberikan aku minuman itu dan aku juga suka rela meminumnya. alhasil sekarang aku benar-benar seperti orang gila, mungkin ini namanya mabuk.
Trisha pergi meninggalkan aku yang mabuk sendirian di tempat ini, rasanya bingung entah mau melakukan apa, sekarang inginku adalah pulang.
langkah ku gontai namun pasti, aku berjalan keluar dari tempat itu, aku menyusuri trotoar jalanan malam yang tampak sepi.
dari sini aku nampak sebuah bangunan kecil yang baru saja aku keluar dari sana, di depannya adalah hotel tempat pesta berlangsung.
"apakah puncak pesta Trisha terjadi di gedung yang berbeda?" gumamku bertanya-tanya.
ya mungkin saja, diakan sangat amat kaya. batinku meyakinkan.
waktu terus berjalan tapi rasanya aku sedari tadi berjalan tak kunjung sampai.
tinn! tinn!
suara klakson mobil menggema di telinga ku, cahaya terang dari arah berlawanan menuju ke arah ku dengan cepat hingga aku tak mampu melihat apapun, akupun pingsan tak sadarkan diri.
**************
seorang pria bertubuh tinggi dan kekar keluar dari mobil, tampak di penglihatannya seorang gadis muda yang pingsan. segera dia menghampiri gadis itu, dengan netranya dia menelisik seluruh tubuh gadis ini.
"gadis kecil si pemabuk." gumamnya lalu mengangkat tubuh gadis ini dan ia bawa ke mobil.
setelah itu pria dewasa ini ataupun Liam namanya, membawa gadis ini ke hotel yang tak jauh dari tempat tadi. mungkin Liam membawa gadis ini kembali ke tempat pesta Trisha tadi.
***********
setelah memesan kamar, Liam membaringkan aku di atas kasur, dengan lembut dia melepaskan hils yang kupakai dan melepaskan ikatan serta jepit yang ada di rambutku.
matanya yang nakal melihat bentuk tubuhku yang indah dengan penuh nafsu. kemudian dia mendekat semakin dekat, tubuhnya hampir tak berjarak denganku. posisinya seperti sedang ingin push up di atasku.
"nona kecil kau tampak menggairahkan." ujarnya singkat lalu mencium bibirku.
sebenarnya aku tak benar-benar pingsan, aku masih merasakan sentuhan di tubuhku, rasanya aku ingin melawan tapi tenaga untuk membuka mata saja aku tak punya.
dari sekedar ciuman itu dia beralih semakin dalam, lidah kami saling bertemu dan bertaut, tak lama kemudian mulutnya turun ke arah leherku, dia mencium dan menghisap sehingga tertinggal bekas kemerahan di area leherku.
"maafkan aku nona, aku tak bisa menahannya lagi, inilah kurangnya aku." ucapnya saat melihat gaun merah masih melekat pada tubuhku sebelum ia menanggalkan semuanya.
sekarang aku tampak bugil tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuhku, semua bagian tubuhku nampak jelas di pandangannya, semakin memperbesar hasratnya padaku.
tanpa basa-basi diapun menanggalkan celananya, sekarang dia bugil dari arah perut ke bawah. tampak disana ada yang sudah tak sabar dan ingin segera di puaskan.
kakiku di buka lebar-lebar olehnya, sehingga terbentuk huruf V dan nampak sekali area intimku yang membuat dia semakin bergairah. Liam mengambil ancang-ancang sebelum miliknya tertanam sepenuhnya di lubangku itu.
benda besar itu menghujam milikku di bawah sana, milikku yang sempit mencengkeram benda itu, rasanya perih dan sakit.
perlahan Liam mulai menggerakkan miliknya maju-mundur di dalam lubangku, semakin lama gerakannya semakin cepat, terdengar suara rintihan darinya, sepertinya ia menikmati aktivitas malam ini. sedangkan aku tak bisa melawan hanya diam dan menahan sakit yang begitu hebat.
malam berlalu begitu cepat, kini hari telah menunjukkan pagi. pelan-pelan Indra penglihatan ku tersadarkan, aku melihat tempat yang sangat asing bagiku.
kepalaku terasa pusing, badanku lemas dan merasa sakit pada area tertentu, rasanya hanya untuk sekedar berdiri saja tak sanggup.
"euuuh" erangku ketika terasa nyeri di titik itu.
ketika aku melihat tubuhku dibalik selimut, aku hanya bisa menangis, semuanya sudah terjadi tak ada yang bisa dilakukan lagi. tanpa kusadari, suara tangisku membangunkan laki-laki yang tidur di sampingku.
dia membuka matanya, memposisikan tubuhnya duduk dan aku masih tetap berbaring di sampingnya. "euh kau nona, sudah bangun?" dia mengelus kuncup rambutku dengan lembut.
"hentikan!" aku menepis tangannya kasar, kini aku sedikit bertenaga untuk melawannya.
namun ia justru kembali tidur menghadapku, badannya semakin dekat dan tangannya yang kekar memeluk erat tubuhku. semakin melawan semakin erat pelukannya, aku hanya bisa menangis dan meluapnya segala amarahku dalam pelukannya.
"menangislah nona kecil, maafkan aku sudah mengambil mahkotamu." dia menebas-nebas punggung ku. "aku akan kembalikan lagi dengan menikahimu." dia menepuk beberapa kali punggung ku lalu mengecup dahiku.
setelah kejadian malam itu, aku terpaksa berhenti sekolah dan memilih menikah dengan laki-laki yang baru ku ketahui namanya Liam.
banyak sekali cibiran, kebencian, hinaan yang orang-orang lontarkan padaku, semuanya begitu membuat aku sesak. kejadian satu malam itu membuat aku sial, tetapi aku senang bisa menikahi laki-laki yang baik dan perhatian ternyata.
sejak menikah pun, Liam menjadi setia pada istri kecilnya ini, dia tak lagi memanggil wanita panggilan untuk memuaskan hasrat nafsunya. jika ingin ia bisa meminta pada istrinya. saking molek dan indah tubuh istrinya, Liam terus kecanduan dan rasanya ingin terus melakukan itu setiap hari.