Ternyata urusan rumah tangga dalam hidup ini pelik juga. Berbagai peristiwa yang kudengar dan kusaksikan terkadang membuatku ngeri.
Persoalan rumah tangga terkadang membuat orang menjadi gila. Persoalan ekonomi kebanyakan membuat orang lupa diri. Apakah ini dilema yang akan di hadapi setiap keluarga?
Setiap orang punya cara sendiri untuk menyelesaikan masalah nya. Dengan pertengkaran, parang, pisau, atau bahkan mungkin berakhir dengan pembunuhan. Kerap hal itu kusaksikan pada berita di televisi.
Kurangnya kesabaran dan tidak mampu nya menggunakan pikiran dengan kepala dingin dalam menyelesaikan persoalan, terkadang inilah hal yang menjadi salah satu pemicunya.
Timbul pertanyaan dalam benakku, apakah setiap orang mengalami permasalahan yang sama?
Jawabannya adalah... Ya, tentu saja. Hanya dalam bentuk dan kadar yang berbeda-beda.
Persoalan-persoalan yang muncul sebetulnya adalah hal yang biasa dan sederhana. Hal ini tergantung pada orang yang menyelesaikan nya.
Dengan berbagai sifat, karakter, dan cara pikir yang berbeda, masing-masing orang menyelesaikan masalah mereka dengan cara yang berbeda pula, apakah akan dibikin rumit atau sesederhana mungkin.
Terkadang masalah kecil bisa diselesaikan dengan jalan mudah, itu kalau mau. Atau... perlu dibikin "sedikit" rumit supaya seru?
Seperti cerita tentang sepasang suami istri paruh baya yang tinggal disebelah rumahku. Masalah tentang..."gula".
Sebetulnya masalah sehari-hari yang "kecil", sepele, tak begitu rumit, tetapi bisa menjadi "pemicu" dari bom waktu yang besar.
Masalah-masalah lain yang terkumpul selama bertahun-tahun dan menumpuk akhirnya meledak begitu ditarik pemicunya.
Lalu apakah sebab yang sebenarnya?... tak lain adalah sifat "kikir" yang terlalu. Sifat pelit yang berlebih. Tamak akan harta. Keinginan dan kesenangan mengumpulkan harta hingga menjadi "hobi" yang telah mendarah daging, hingga bisa disebut sebagai salah satu jenis kelainan jiwa.
Seperti sore itu, tetanggaku kedatangan tamu. Kebetulan yang sedang berada di rumah adalah sang suami dan anaknya, sedangkan sang istri seperti biasa belum pulang dari berjualan sayur di pasar.
Si istri terkenal akan ke"pelit"an nya. Selain berdagang, dia juga bertindak menjadi rentenir dengan meminjamkan uang dengan bunga yang tinggi kepada sesama pedagang di pasar. Jika telah jatuh tempo dan uang belum bisa dikembalikan, maka apapun yang ada akan menjadi barang sitaan.
Sering aku melihat tetanggaku beserta orang suruhannya mengusung barang-barang yang terlihat sudah agak usang. Ada meja, kursi, lemari, apapun itu, hingga menumpuk di rumahnya. Yang masih agak bagus dijual kembali, sedangkan yang tidak, diperbaiki dan dipergunakan sendiri.
Tak hanya kepada orang lain, kepada keluarganya sendiri pun ia terkenal pelit.
Semua barang kebutuhan pokok serta kebutuhan rumah tangga lain di simpan di gudang dan lemari kemudian di kuncinya. Termasuk juga gula.
Hal ini dilakukannya karena khawatir barang-barang didalamnya akan dipakai oleh keluarganya sehingga menjadi habis.
Kunci dari setiap lemari dan gudang ia yang menyimpannya. Bahkan suami dan anaknya pun tak tahu dimana akan keberadaannya.
Begitupun semua hasil jerih payah suaminya bercocok tanam padi selama ini, dia pula yang memegang uang hasil penjualannya, untuk menambah modal dalam usahanya meminjamkan uang kepada para pedagang dipasar dengan bunga yang tinggi.
Tak sedikitpun sang suami diberi uang untuk membeli rokok ataupun untuk keperluan pribadinya. Uang yang diberikan hanyalah sebatas untuk membeli bibit dan pupuk untuk tanaman saja. Semua keperluan & pengeluaran rumah tangga, istrinya yang mengatur. Semuanya serba dihemat. Sangat sangat hemat, pakai sekali.
Bahkan untuk membayar SPP anaknya yang masih SD dibiayai oleh tetangga dermawan, yang menjadi orang tua asuh bagi beberapa anak sekitar yang dirasa kurang mampu.
Meskipun sebenarnya ibunya sendiri punya tabungan yang banyak di bank, dan jauh dari kata kurang mampu. Akan tetapi ia lebih suka berpenampilan menyedihkan sehingga tak terkesan bahwa ia memiliki banyak uang, dan bantuan2 akan sering datang ke keluarga mereka.
Sore itu, karena kedatangan tamu, sang anak yang bernama Wakhid disuruh bapaknya meminjam gula dirumahku.
" Budhe, saya mau pinjam gula, disuruh bapak.. "
" O, ya.. berapa khid? " kata ibuku
" Satu gelas saja budhe, nanti diganti kalau ibu sudah pulang dari pasar " jawab Wakhid.
Ibuku pun mengambilkan gula yang dimaksud, dengan takaran gelas belimbing seperti biasanya.
" Teh nya sudah ada belum ? " tanya ibuku.
" Sudah budhe...sisa yang tadi pagi " jawab Wakhid.
Setelah Wakhid pergi ibuku pun bergumam;
"Kasihan itu anak, jarang banget minum minuman manis, kalaupun ada cuma pagi saja, itupun cuma sedikit, atau bahkan terkadang cuma teh tawar anget, sekedar menghangatkan badan"
"Memang... ibunya yang kebangetan, masa gula aja sampai di kunci biar nggak berkurang, takut habis dan harus beli lagi pakai uang"
Setelah menjelang maghrib, sang istri dari tetanggaku itu sampai di rumah. Memang, kalau belum sampai kedengaran adzan maghrib, tetanggaku itu belumlah pulang dari mencari uang.
Tak berapa lama Wakhid datang mengetuk pintu rumahku.
" Tok.. tok.. tok..! "
" Budhe.. ini mau mengembalikan gula yang tadi... "
" O ya... ibumu sudah pulang khid? " jawab ibuku sambil menerima gula.
" Sudah budhe.....saya permisi pamit dulu ya budhe... " kata Wakhid kemudian beranjak pulang.
"Yaa.... " jawab ibuku, kemudian menutup pintu.
Tak berapa lama terdengar kericuhan dari rumah tetanggaku itu.
" Prang...!! "
" Prang...!! "
" Klonthaang...!! "
" Aaaaahhh...!!
" Toloong.....!! Toloong....!!
" Jedderr...!! " suara pintu dibanting keras-keras.
Tetangga kiri-kanan yang mendengarnya pun segera berlarian berdatangan. Tak lupa pula ada warga yang memanggil pak RT untuk datang ke tempat kejadian.
Ditempat kejadian terlihat tetanggaku memegang sebilah golok tajam sambil dipegangi oleh beberapa orang. Di seberangnya terlihat istrinya berlumuran darah tergeletak tak sadarkan diri dan segera ditolong oleh beberapa warga. Anaknya, si Wakhid yang ketakutan menangis sesenggukan dipojok ruangan.
Setelah berkoordinasi dan menghubungi polisi, pak RT yang dibantu warga mengatur segala sesuatu yang terkait untuk penyelesaian masalah ini.
Tetanggaku akhirnya masuk bui, sementara istrinya masuk rumah sakit, sedangkan anaknya untuk sementara dirawat oleh saudaranya.
Usut punya usut, ternyata pertengkaran itu sebelumnya dipicu karena masalah gula.
Sang suami yang malu karena keseringan pinjam gula saat diperlukan, menyampaikan keluhannya kepada sang istri dan berharap agar lemari-lemari tak perlu lagi dikunci.
Bukannya dijawab dengan baik-baik, justru kata-kata pedas lah yang diterima oleh sang suami.
Akhirnya, karena masalah yang terakumulasi sejak lama menimbulkan emosinya bertumpuk, dan ia pun naik pitam, sehingga terjadilah peristiwa tersebut.
Dengan adanya kejadian ini, aku heran....kenapa bisa orang begitu cintanya pada harta, hingga lebih memilih untuk menderita daripada kehilangan sedikit hartanya, seolah-olah harta itu adalah nyawanya yang sangat berharga.
*****