Percayakah kamu jika dia mengatakan sayang? Atau bahkan cinta? Yakinkah dirimu atas kesetiaannya? Tanpa sedikitpun ragu kepadanya? Seberapa tahu dirimu tentang dirinya? Seberapa dalam dirimu mengenalnya? Seberapa teguh pendirian mu terhadapnya?
Harapan tinggallah harapan. Keinginan yang tak kan tercapai. Dirimu dan kenangan mu hanyalah masa lampau. Yang harus dijalani adalah masa kini. Itu semua tentu saja untuk masa yang akan datang. Untuk diriku, hanya untuk diriku. Tanpa ada lagi angan tentangmu.
Tanpa ada kata untuk mengakhiri hubungan kita, tanpa ada rasa yang tertata, tanpa pula bahagia yang terasa. Hanya luka yang tertera, hanya duka yang tertanam, hanya sesal yang tersisa.
Begitu saja kau hilang, menghindar dari kenyataan. Kata katamu yang begitu menggebu, takkan menyingkir dari ingatanku. Bujukan mu yang ahli merayu, takkan mudah untuk tersapu.
Bukan aku tak bisa melupakanmu, bukan pula aku tak mampu berlalu tanpamu. Hanya saja rasa sesal yang mendalam takkan pernah mampu untuk menyingkir dari hidupku. Karena masa laluku disaat itu hanya terpaku padamu, maka aku sulit menerima keadaanku.
Setidaknya sekarang aku tahu bahwa dirimu memang tak pantas untukku, bukan aku, tapi kamu. Setelah apa yang kuberikan untukmu, kau pun hanya diam seperti tak tahu malu. Kuberikan kebebasan bagimu, kebebasan untuk semua keinginanmu. Bahkan aku pun membebaskan mu untuk tetap bersamaku atau akan meninggalkanku. Dan akhirnya pun kau lebih memilih untuk meninggalkanku. Meninggalkan semua yang kita lalui sebagai kenangan. Dan dengan entengnya kau bilang bahwa kau akan ke pelaminan dengan wanita barumu. Bukan aku memendam benci dan memupuk dendam padamu. Aku hanya ingin kau tahu, kau bukan tempatku untuk terpaku. Bukan pula akhir dari pejuanganku. Kau, hanya segelintir orang yang tak tahu malu, sama seperti orang orang disekitarmu. Bukan aku tak punya hati, hanya saja aku tak mau bermain main dengan hati. Seperti kata pepatah. Biarlah anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu.
Memang aku akui, aku mungkin tak seperti yang kau harapkan dulu. Tak bisa menjadi orang yang bisa kau andalkan. Tapi tahukah dirimu? Aku, selalu menjadi andalan bagi keluargaku. Selalu menjadi kebanggaan orang tuaku. Dan memang, itu pula yang membuatku tak bisa secepatnya menerima pinangan mu.
Ingatkah kau apa yang kau katakan dulu ketika aku meminta waktu untuk menerimamu? Untuk menerima keinginanmu menjadikanku pendamping mu? Jika ingatanmu sudah bermasalah, maka akan kuingatkan dirimu dengan tulisan tulisanku di pesan chating antara kita berdua. Meskipun aku memang tak mengingat tanggal saat kita bersama untuk pertama kalinya, namun aku masih ingat dengan jelas perkataanmu yang memintaku untuk menjadi kekasihmu.
Agustus 2018
Kisah kita berawal dari pertemuan kita disebuah acara, meskipun itu bukan acara yang besar namun tetap berkesan. Kita yang jarang bertemu jarang pula bertegur sapa. Meskipun kita satu kampung, tak membuat kita sering berjumpa. Aku memang tak bisa leluasa mengatakan sebuah rasa, Aku hanya bicara ketika itu memang diperlukan. Bukan aku angkuh, aku hanya malu. Namun sejak pertemuan kita di acara tersebut, kamu mulai menghubungiku. Setiap sore hari sepulang aku dari tempatku bekerja, kau selalu mengirim chat dan menelfon ku . Apa saja yang ku lakukan, bagaimana keadaanku disini, sudahkah ini sudahkah itu. Hal hal sepele yang kau tanyakan pun kujawab dengan singkat.
Hingga suatu hari kau menjebakku dengan kata kata yang pastinya kujawab dengan singkat.
You : Halo dek, sedang apa?
Me. : Halo mas, nih baru pulang.
You : Kok jam segini baru pulang?
Me. : Iya, tadi lembur.
You : Udah makan?
Me. : Belum.
You : Kenapa?
Me. : Belum beli.
You : nggak masak sendiri?
Me. : nggak.
You : Kenapa?
Me. : Capek.
You : Mau mas antar beli makanan? Mas jemput ya?
Me. : Nggak.
You : jawabnya kok singkat singkat sih dek?
Me. : Nggak.
You : nggak apa?
Me. : Nggak papa. Kok sekarang kamu sering nge chat aku, ada apa mas?
You : Nggak ada apa apa. Emang aku nggak boleh nge chat kamu? kamu kan masih singgle, belum punya pacar kan?
Me. : Terus?
You : Ya gitu, mau nggak kalau jadian sama mas?
Me. : Nggak.
You : Kenapa? Kok kamu jawabnya cepet banget? kan belum dipikir. Mendingan kamu pikir pikir dulu deh ya?
Me. : Aku baru putus, jadi belum pengen pacaran lagi.
You : Tapi mas serius dek sama kamu. Mas janji nggak akan mutusin atau ninggalin kamu. Mas nggak akan selingkuh.
Me. : Nggak usah janji. nggak ada yang tahu kan seperti apa kedepannya.
You : Iya memang nggak ada yang tahu akan jadi seperti apa. Tapi kita kan bisa berusaha untuk melakukan yang terbaik. Kamu jangan terpaku pada masa lalumu. Berilah kesempatan pada laki laki lain untuk bisa mengobati sakit hatimu dek, termasuk mas. Mungkin dengan putusnya hubunganmu dengan mantan pacarmu dulu itu merupakan pertanda bahwa kita berjodoh dek.
Akupun menjawab dengan tersenyum simpul. Bukan untuk menyepelekan, tapi hanya tersenyum karena berpikir bahwa kamu terlalu percaya diri dengan apa yang kamu katakan.
Me. : Memang mas tahu apa tentang sakit hatiku?
You : Mas memang nggak tahu apa apa tentang sakit hatimu. Tapi mas benar benar berjanji nggak akan membuat hatimu sakit dek. Percaya deh sama mas.
Me. : Aku kan sudah bilang. Jangan pernah berjanji. Belum tentu kamu bisa menepati.
You : Kalau mas sudah berjanji pasti mas tepati dek. Memangnya mantan kamu berbuat apa sampai sampai kalian bisa putus?
Me. : Jangan tanya.
You : Sebentar, mas mau tanya dek. Kamu masih perawan kan?
Mendengar pertanyaanmu itu membuatku ingin mengeluarkan kata kata kasar, sungguh, dari kata katamu aku bisa mengerti mengapa sampai sekarang kamu masih belum bisa berkomitmen pada satu wanita. Kamu seperti laki laki yang tak bisa menghargai seorang wanita. Kita belum ada hubungan apapun, tapi kamu dengan lancangnya sudah berani bertanya seperti itu? Benar benar orang yang menyebalkan. Karena aku sedang banyak pikiran dan rasa lelah yang menghampiri ditambah dengan pertanyaanmu yang menjengkelkan, membuatku sangat ingin memarahimu dan tak berhubungan lagi denganmu.
Me. : Memangnya kau masih perjaka?
Kau terlalu lama terdiam dan tak menjawab pertanyaanku. Entah apa yang kau pikirkan. Mungkin kau berpikir bahwa aku sudah tak perawan lagi karena tak menjawab pertanyaanmu dan mungkin juga aku tak perawan karena aku adalah orang yang merantau. Maka akan kukatakan padamu apa yang kupikirkan tentang dirimu jika kau benar benar berpikir seperti itu. Jika kau pikir aku sudah tak perawan karena aku bekerja dirantau, maka jangan salahkan aku jika aku berpikir kalau kau juga sudah tak perjaka. Maka sama sepertimu yang tak mau diberi bekas orang lain. Maka akupun juga tak mau diberi bekas orang lain. Bukan maksudku untuk sombong. Namun jika orang yang tak tahu diri saja selalu menyombongkan dirinya, mengapa aku tidak mengikuti permainannya.
You : Ehm,,,, sudah jam segini dek. Mending kamu mandi lalu istirahat. Sudah dulu ya.
Pertanyaanku pun kau abaikan. Kau putuskan sambungan telfon kita. Dan akupun tak memperdulikanya. Karena dengan begitu aku tahu bahwa kau tak jujur. Lalu bagaimana aku bisa percaya padamu? Haaahhh~ Tahun ini benar benar banyak sekali cobaan dalam hidupku. Somoga hati dan pikiranku kuat menjalaninya.
Hampir 2 minggu berlalu. Dan sekarang sudah memasuki bulan September. Keadaan keluargaku tak berubah, penyakit ayahku malah semakin parah. Sedangkan keuanganku tak ada bedanya. Aku yang mencoba menjalankan online shop akhirnya berhenti karena tak ada modal dan hanya melakukan pekerjaan sebagai karyawan pabrik biasa. Kesehatan ayahku yang menurun serta pinjaman di bank yang harus dibayar perbulanya, belum lagi biaya indekos dan biaya makan sehari. Aku harus yakin kalau aku kuat dan bisa menjalani semua ini. Menyembuhkan ayahku, melunasi hutang di bank, dan menabung untuk masa depanku.
Dalam keadaanku yang banyak pikiran, kau datang dan selalu menyatakan perasaanmu. Akhirnya aku menerimamu. Karena ayahku yang mendesak agar aku cepat menikah dan berkeluarga, agar beliau bisa lega. Namun begitu beliau tahu bahwa aku mempunyai hubungan denganmu, beliau pun bertanya padaku. Apakah aku yakin bisa bahagia bersamamu? Apakah aku menyukaimu? Lalu mungkinkah aku bisa bersanding dengan orang lain selain dirimu? Jika mungkin, beliau berharap agar aku tak bersamamu. Aku yang lelah dan terus mencoba menuruti semua permintaan ayahku, hanya bisa berkata, orang seperti apa yang ayah inginkan untuk mendampingiku? Apakah ayah akan menentangnya sama seperti pasanganku yang sebelumnya? Saat aku bersama pasanganku yang sebelum ini, ayah menentangnya karena adat istiadat Jawa. Lalu sekarang setelah ayah meminta dan terus meminta agar aku segera menikah karena keadaan beliau yang semakin menurun telah kuturuti. Mengapa beliau masih menentangnya? Entahlah, aku tak tahu harus berbuat apa. Mungkin aku memang belum memahami keinginan ayahku, atau mungkin aku terlalu banyak mengeluh.
Hubunganku denganmu berjalan seperti biasa menurutku. Meskipun kita jarang sekali bertemu karena keadaanku yang harus merantau untuk bekerja di kota lain. Kita tetap saling memberi kabar satu sama lain walau hanya sebentar ketika aku sudah selesai bekerja dan pagi sebelum bekerja. Kadang aku juga bertanya tanya sebenarnya apa pekerjaanmu, kenapa kau kadang merantau kadang dirumah. Kau jarang bercerita tentang keluargamu. Bagaimana keadaan mereka, siapa saja anggota keluargamu Mengapa kalian tak tinggal bersama dan masih banyak hal yang kutanyakan. Namun tak jarang kau mengalihkan pembicaraan. Bertolak denganku yang ketika kau bertanya tentang bagaimana keadaan keluargaku selalu kujawab sejujur jujurnya. Bahkan ketika kau bertanya tentang penghasilanku pun selalu kujawab seperti biasa. Agar kau tahu keadaan keluarga dan keuanganku. Karena kau selalu mengajakku menikah, sedangkan ayahku tak merestui hubungan kita. Bukan ayahku tak menyukaimu, tapi entah karena apa aku pun juga tak mengerti.
Enam bulan kita menjalani hubungan ini, akhirnya ayahkupun tak menentang hubungan kita. Meski keadaanya semakin memburuk, beliau tetap tersenyum kepadaku. Pikiranku menjadi kacau ketika adik laki lakiku mengalami kecelakaan dan berhenti dari pekerjaannya karena harus istirahat untuk memulihkan keadaannya. Segala keadaan yang memberatkanku tak kau hiraukan, kau tetap saja menuntutku untuk segera menikah denganmu. Sedangkan kau tahu untuk apa saja penghasilan dari pekerjaanku. Disaat aku mimintamu untuk menunggu, kau bilang kau akan selalu menunggu. Saat aku mengatakan bahwa aku masih memerlukan waktu kira kira selama 1 tahun untuk melunasi tanggunganku di bank dan menabung untuk biaya pernikahan, kau pun setuju untuk menunggu.
Tiga kali aku memintamu untuk menungguku. Dan kau selalu mengiyakannya. Tanpa kutahu ternyata itu hanya akan menjadi sebuah kata tanpa rasa. Satu tahun sudah kita menjalani hubungan ini, kau semakin sibuk sendiri seolah tak menganggap aku ada. Sulit untuk dihubungi. Mungkin kau merasa bosan dengan hubungan jarak jauh yang kita jalani. Tapi aku juga tak bisa selalu datang padamu jika kau ingin bertemu. Apa tak bisa jika kau saja yang mengunjungiku jika kau rindu? Kau bilang aku semakin dingin, namun aku tak tahu seperti apa hangat yang kau inginkan. Aku bukan orang yang pandai berpura pura, maka akupun tak bisa bertingkah manja dan hangat padamu jika kau saja selalu dingin padaku.
Dibulan Oktober 2019, aku mendengar kabar tentang ibumu. Ibumu yang meninggal di tanah rantau dan dimakamkan disana karena sanak keluargamu berada disana. Akupun mencoba menghubungimu untuk menenangkanmu, itupun jika kau dapat kuhubungi. Namun nyatanya kau tak dapat kuhubungi dan tak juga segera menemui jasad ibumu. Selang dua hari kau baru pergi ke makam ibumu di rantau itu. Meskipun hanya untuk sebentar seharusnya kau segera menemui ibumu ketika dia dalam keadaan kritis. Aku sebagai kekasihmu benar benar kecewa padamu. Bagaimanapun beliau ibumu, ibu yang melahirkanmu.
Sejak saat itu kau tak mudah dihubungi. Ketika aku pulang untuk menemuimu pun kau tak acuh seolah aq melakukan kesalahan. Jika kau mengatakan apa salahku, akan kucoba memperbaikinya. Namun jika kau hanya diam, maka kuanggap kau sedang kesal akan sesuatu yang sayangnya tak kutahu. Hingga aku mendengar pertanyaan dari ibuku yang membuatku terkejut. Beliau bertanya, apakah aku sudah selesai denganmu, karena sekarang tersebar kabar bahwa kau akan melamar sepupuku sendiri, sepupu jauh yang tempat tinggalnya saja dekat dengan tempat tinggalku. Akhirnya aku mengerti mengapa kau tak bisa dihubungi dan hanya menjawab dengan singkat semua pertanyaanku. Jelas sudah sekarang penyebab perubahanmu. Namun aku tak mau hanya percaya pada gosip belaka. Kebiasaanmu mengalihkan pembicaraan ketika aku bertanya padamu kini mulai menjadi jadi. Aku masih bertahan dengan keadaan hati yang digantung. Bukan, bukan aku terlalu menyukaimu atau terlalu mencintaimu hingga aku tak bisa melepaskanmu. Aku hanya menunggu kejujuranmu tentang semua hubungan kita dan tentang gosip gosip di sekitar. Aku pun tak mau bersama dengan orang yang mengharapkan orang lain untuk menjadi pendampingnya. Harusnya kau sudahi hubungan kita jika ternyata kau menyukai orang lain. Karena bagiku jika sekali saja kau memikirkan wanita lain untuk menjadi pendampingmu, maka kau sudah tak ingin menjadi pendampingku lagi. Karena itu aku membebaskanmu untuk memilih. Tetap bersamaku atau silahkan mencari pengganti ku, yang kuyakin sudah kau temukan.
Selama dua bulan aku menunggu kepastian. Ayahku yang mendengar gosip itupun kembali tak menyukaimu. Ketika aku kembali pulang di bulan Desember, aku kembali kaget dengan kabar dari ibuku tentangmu. Ibuku berkata bahwa kau tak jadi melamar sepupu jauhku, tapi melamar tetangganya. Lucunya, tetangganya itu juga masih tetanggaku. Malah lebih dekat dengan rumahku daripada dengan sepupuku. Ha ha ingin rasanya ku tertawa. Kau memang tak pantas dipercaya. Apa kau tahu gosip apa yang sedang terdengar saat ini disekitar tempat tinggal kita? Mereka berkata bahwa aku adalah orang ketiga pada hubungan antara kau dan sepupuku. Mereka bilang bahwa hubungan yang kau jalani selama satu tahun itu bersamanya, dan aku menjadi orang ketiga diantara kalian. Padahal aku yang berpacaran denganmu selama satu tahun, namun apa yang kudapatkan sekarang? Hanya fitnah dan cemooh orang yang tak tahu apa apa tapi sok tahu yang berkoar koar. Lalu apa yang kau lakukan? Kau hanya bersenang senang dengan kekasih barumu, tetangga sepupuku. Kau benar benar melakukan lelucon yang memuakkan. Namun sekarang mereka semua tahu yang sebenarnya. Bahwa aku bukan orang ketiga. Namun seorang wanita yang ditinggalkan karena tidak cantik, dan juga tidak kaya. Kau melamar wanita yang lebih muda, lebih cantik, dan keadaan orang tua serta saudara yang lebih kaya dariku. Hingga aku berpikir sebenarnya yang kau kejar itu cinta atau nafsu? cinta seperti apa yang kau inginkan? Kau hanya berpikir untuk cepat cepat menikah tanpa menghargai pasanganmu. Namun yang tak kau tahu. Meskipun aku bukan wanita yang cantik namun aku bisa menjadi wanita cantik jika aku mau, meskipun aku bukan dari kalangan orang kaya, namun aku yakin dengan usahaku sendiri aku bisa memenuhi kebutuhanku dan keluargaku sendiri, karena aku bukan penikmat harta orang tua. Dan meskipun aku saat ini masih menjadi tulang punggung keluarga, namun aku yakin suatu saat nanti aku akan menjadi tulang rusuk seseorang.
Bukan aku sombong, bukan pula maksudku untuk angkuh. Aku hanya mencoba menguatkan diriku untuk menghargai keputusanmu. Meski banyak hal buruk yang kau tinggalkan dalam jalan hidupku.
Dan sekarang akhir tahun 2020, kau akan menempuh hidup baru bersama dengan orang kau inginkan. Semoga kau puas dengan yang kau dapatkan. Dan semoga bukan hanya sekedar Nafsu dunia yang kau kejar.
Salam sesalku pernah memberimu waktu. Telah kurelakan dirimu dengan salahmu. Dan kau hanya menjadi debu yang berlalu. 😌😌😌😌😌