Nara membuka pintu kamar Ferry dengan hati-hati. Ia melihat Ferry sedang bervideo call dengan pacarnya. Tanpa menunggu lama, Nara menghampiri Ferry dan bergelayut manja padanya.
“Ra, jangan seperti ini. Lihatlah, ada Kak Selfi lo,” ucap Ferry mencoba menepis Nara dengan lembut.
“Baiklah...” Nara berbisik sambil menjauh dari Ferry dan duduk di kasur miliknya. Ia menatap wajah Ferry dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Selfi, sudah dulu ya. Ada Rara di sini,” ucap Ferry dengan sangat lembut pada pacarnya. Nara melihat pacar Ferry menutup sambungan teleponnya. Setelah itu, Ferry menghampiri Nara.
“Rara sayang...” Ferry mencium puncak kepala Nara. Nara hanya diam saja.
“Rara...” Ferry tersenyum manis kepada Nara. Nara masih tetap diam.
“Sudahlah, Rara mau masuk ke dalam kamar saja,” ucap Nara sambil beranjak bangun. Tangannya ditarik oleh Ferry.
“Jangan marah dan ngambek sayang, Rara.” Rara adalah panggilan sayang Ferry padanya. Nara langsung tersenyum padanya.
“Boleh Rara tidak marah, tapi...” Nara menatap wajah Ferry dengan tatapan genit. Ferry menutup wajahnya dengan tangannya, tampak kebingungan.
“Baiklah, katakan apa itu?” ucap Ferry dengan sangat pasrah dan lemas.
“Hanya cium saja. Tapi, di sini,” Nara menunjuk.
“Ha, yang benar saja?” Ferry terkejut, tatapan matanya melebar. Nara langsung memeluk Ferry.
“Lupakan saja Kak. Bukankah nanti Rara akan merasakannya juga kalau Rara sudah mempunyai pacar,”