#Bogor, Indonesia
Tidak pernah terbayang akan kembali ke sini. Setelah sekian tahun hidup tenang dalam pelarian. Iya, gadis itu menganggapnya sebuah pelarian.
Terdengar helaan nafas dalam dari gadis itu."setelah sekian lama aku berada dalam pelarian ini, akhirnya aku kembali kesini dengan nama yang sama, namun paras yang cukup berbeda.."
Dia,Senja.
Disaat orang-orang tertawa bernostalgia dalam kenangan yang lalu, dia justru hanya sesekali tersenyum menanggapinya, walaupun dapat terbilang senyumnya tipis.
Kepindahan keluarga Senja membuat Om Reno teramat senang.
Pasalnya jarak antara Jakarta-Bogor dekat namun mereka terhalang oleh urusan pekerjaan ditambah lagi, dengan kesibukan mereka masing-masing membuat keduanya bertemu setelah sekian tahun lamanya.
Maka senja tidak heran melihat papanya yang sekarang bermain catur di teras rumah sebagai akhir dari aliran kerinduannya selama ini.
"Kalian berdua sebaiknya bersekolah di sekolah yang sama dengan Wira." Usul Diana pada gadis kembar namun tidak identik itu.
Senja merupakan anak kembar namun tak identik, Nama kembaran dari Senja sendiri bernama Sena.
"Rencananya emang mau gitu." Jawab Kayla, yang tidak lain adalah mama dari Senja dan Sena.
"Kalau Rezy, sekolahnya dimana Tante?." Tanya Sena tiba-tiba yang menarik perhatian Senja tuk mendengarnya.
"Sama dengan Wira juga." Jawab Diana.
"Kita satu yayasan, tapi beda sekolah. Aku di SMA, sedangkan Rezy di SMK." jelas Wira lebih detail dari mamanya, sambil menyeruput es teh yang dibuatkan untuknya.
"Oh gitu."
"Ngomong-ngomong Rezy, dia kemana yah? Kok adik kamu belum pulang juga?." Tanyanya pada Wira.
"Rezy disini mah." Suara yang tiba-tiba terdengar memecah keheningan dengan masuknya.
Semuanya menoleh ke asal suara. Iya, itu suara Rezy, yang dilihatnya baru pulang sekolah, dan masih mengenakan seragamnya.
"Kamu darimana aja sih? Keluyuran mulu! Mama kan udah bilang, nanti ada tante Kayla dan keluarganya." Omel Diana padanya, ia tidak habis pikir pada anaknya yang satu ini.
"Maaf mah." Ucapnya, ia lebih memilih untuk meminta maaf sebelum Omelan berikutnya disertakan oleh mamanya.
Ia pun pergi menuju seorang wanita yang terduduk di salah satu sofa rumahnya."Tante." Rezy menyapa Kayla sambil menyalimi tangannya.
"Rezy ganti baju dulu." pamit Rezy. Setelehnya, ia melirik Senja dan Sena sekilas dan berlalu pergi dari sana.
"Masih sama yah seperti dulu, dingin." Semua orang yang mendengarnya tertawa tak terkecuali Senja yang menatap nanar punggung yang semakin menjauh itu.
"Dia emang gitu orangnya." Gadis itu mendesah dalam hatinya...
21.00
Waktu berjalan begitu cepat, makan malam pun telah selesai. Tapi sepertinya para orang tua enggan untuk berpisah. arah jarum jam telah menunjukkan pukul 9 malam. Mereka? masih asik mengobrol dan bernostalgia bersama.
Di ruang keluarga, hanya tersisa Wira, Senja dan Sena. Karena para Mama sedang mendukung suami masing-masing agar dapat memenangka permainan caturnya. mereka bermain di teras rumah depan, dan melanjutkan permainan yang sempat tertunda karena makan tadi.
Sementara Rezy? entah kemana perginya. Sejak selesai makan ia segera menggunakan Hoodie hitam miliknya dan memilih untuk pergi dari sana.
"Ka Wira, ingat gak sih, dulu Eja takut banget sama petir?." Sena memulai pembicaraan untuk mencairkan suasana yang sedaritadi terbeku bagai es.
"Eja tuh emang takut banget sama petir, makanya kalo di ajak main hujan-hujanan suka gak mau." Wira tertawa sesekali meledek Senja.
Senja hanya cemberut. Masih saja kenangan lama itu diingat. Benar-benar memalukan.
"Dan kalau Ena, dulu suka ngintilin Rezy mulu, inget kan?." Ledek Wira pada Sena dan gadis itu hanya tertawa mengingatnya.
Sedangkan Senja hanya diam menatap keduanya. Memang, sejak dulu Sena sering bermain dengan Rezy. Senja juga tidak menampik kalau keduanya sering terlihat bermain bersama.
Sena memang tipe yang mudah akrab."Kadang gue iri, Napa gue gak bisa seperti Sena." Batinnya menatap Sena.
Mereka kembar, tapi banyak sekali perbedaan diantara mereka. Bahkan wajah mereka saja terlihat tidak mirip, karena mereka kembar tidak identik.
Semua orang juga tahu, Sena terlihat lebih cantik dari Senja. Itu adalah salah satu alasan Senja selalu minder.
00.00
Pukul 12 malam, Senja masih terjaga dalam kamarnya. Terlihat ia masih berkutat dengan baju yang tadi siang belum dibereskannya. Dan juga, esok ia akan memulai sekolah barunya di sekolahnya Wira.
Krekkk
Suara apa itu?
Senja menjadi was-was. Ingin mengecek ke luar jendela namun ketakutan semakin membelenggunya. Namun rasa penasarannya tak kalah kuatnya.
Dengan keberanian yang tersisa, Senja memutuskan untuk mengeceknya.
"Maling?." batin Senja, saat dia telah menyingkap tirai jendela yang berada di balkon kamarnya.
Dilihatnya seseorang yang sedang menaiki pohon dengan perlahan seolah orang itu nampak ketakutan.
Di samping rumah Senja memang ada pohon yang sangat besar. Di sisi tembok pembatas halaman rumah Tanya Diana dan rumahnya.
Secara tidak langsung, dahan pohon itu menjadi penghubung antara balkon kamarnya dan kamar yang berada di rumah Diana.
"Apa ini? salah satu alasan Sena tidak ingin menempati kamar ini. Selain terletak belakang, pemandangan balkon juga tertutup oleh pohon dan hanya terlihat rumah Tante Diana." Senja meneliti balkon kamarnya yang dapat ditangkap oleh sorotannya itu.
Sena Lebih memilih kamar depan, posisinya di samping kamar Senja. Tapi balkonnya menghadap depan rumah. Berdampingan namun terasa jauh rasanya.
"Hei!." Teriak Senja, setelah ia membuka pintu balkon kamarnya. Dia merasa pria itu ingin memasuk ke kamar rumah Tante Diana lewat pohon, entah kamar siapa?
"Jangan-jangan benar-benar maling!."
Pria itu menoleh."Rezy !!!." Pekik Senja tersontak kaget mengetahuinya.
Sementara Rezy menatapnya tajam, merasa kaget bahwa aksinya untuk masuk rumahnya lewat jendela kamar tertangkap basah. Mungkin biasanya aman-aman saja.
Rezy pun masuk ke dalam kamarnya, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
"Dasar amuba, ga punya mulut!." Senja kesal, dan kembali menutup pintu balkonnya.
Di dalam kamar, Senja masih berpikir, Darimana Rezy selarut ini? Kenapa gak lewat pintu?.
"Apa Rezy sering lakuin itu? Apa dia senakal itu?."
Ucapnya yang memandang langit-langit kamarnya.
Sementara di luar, di seberang kamar Senja lebih tepatnya. Rezy memandang ke arah kamar Senja dari balik jendela dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Buat apa lu pindah lagi ke sini?." gumam Rezy yang di akhiri seringai kecil di tepinya. Kemudian ia menutup kembali tirai jendela miliknya.
Senja menyingkap tirai jendela beberapa detik setelah Rezy menutup jendela kamarnya. Ia memandang jendela sana berharap Rezy muncul di balik jendela sana namun harapannya harus nihil saat itu juga.
Senja terdiam, pikirannya menerawang pada memori masa lalu..
10 tahun yang lalu...
pertama kali tinggal di rumah ini, kira-kira saat usia Senja 6 tahun. senja terlahir di kota Bogor, tapi dia selalu berpindah-pindah tempat tinggal, mengingat ayahnya yang seorang dokter mengharuskannya selalu siap dipindah tugaskan.
"Aku Rezy." Ujar bocah kecil yang seumuran dengannya. Ekspresinya datar itu yang Senja lihat.
Saat ini Senja memang sedang berada di rumah kan kerjanya titip amanah menurut mengantar makanan.
"Aku Senja." Jawabnya dengan senyuman. Mencoba mencairkan suasana. Namun Rezy masih aja datar padanya.
"main denganku." Ujar Rezy kaku. Tapi terlihat keren di mata Senja. "Tadi itu ajakan atau perintah?." Pikir Senja.
"Boleh." Senja mengangguk.
Mereka bermain mobil-mobilan. Tapi sejak tadi mereka hanya diam tak bersuara. jelas sekali senjata menikmati bermain mobil-mobilan ketik dia kan perempuan. Rezy ini bagaimana sih? tapi Senja berusaha tetap memainkannya.
Senja yang pemalu untuk memulai dengan orang baru, dan Rezy yang dingin. ia jadinya seperti itu, tak menyenangkan dan hanya ada keheningan di antara mereka.
Senja yang sangat ingin memulai pembicaraan. Tapi dia sepertinya ragu. Melihat Rezy yang datang membuat nyalinya menciut.
Padahal di awal Dia sangat senang. Ini pertama kalinya ada teman yang menyapanya duluan, terlebih teman laki-laki. Rezy yang pertama.
senja memang tidak mudah berbaur terhadap
orang baru, dia lebih suka disapa terlebih dahulu dibandingkan memulai, tidak seperti Sena yang mudah sekali berbaur dan memiliki teman.
Sena yang juga cantik dan juga memiliki sifat ramah. Senja bukannya tidak cantik, hanya saja dia kurang suka menunjukkan diri dan tidak suka menjadi pusat perhatian.
"aku coba cari boneka" Rezy membuka suara dan langsung beranjak dari hadapan Senja.
Melihat Senja yang diam saja mungkin Rezy
mengira senja bosan bermain dengannya. padahal dari tadi Rezy diam saja.
Senja menunggu Rezy sangat lama, dia pun beranjak dari duduknya dan berniat pulang saja.
"Hai." sebuah suara menghentikan pergerakan Senja.
Dilihatnya, seorang bocah laki-laki yang memiliki senyuman hangat dan manis jadi senja terlihat tampan, pikir senja
"Aku senja." menjabat tangan Wira dengan senyum merekah.
"Aku punya ini, kau mau main denganku?." Wira menunjukkan botol kecil berisi cairan sabun.
Senja mengangguk.
mereka berdua bermain di halaman belakang, yang penuh bunga mawar milik Diana. Meniup gelembung sabun dengan ceria, sesekali mereka tertawa bersama saat gelembung-gelembung itu terbang dan jatuh pada duri-duri mawar.
Sungguh mereka sangat menikmati permainannya. berlari-lari mengejar gelembung sabun yang terbang sampai mereka tidak sadar, Rezy sedang memandang keduanya tak jauh dari sana.
***
"Huh.." lagi, senja menghembuskan nafas gusar
mengingat itu semua.
Sebenarnya apa salah dia pada Rezy? setelah ia mengatakan ingin mengambil boneka. tapi dia tak pernah datang kembali. bahkan sampai bertahun-tahun senja tinggal di sini, Rezt tidak pernah lagi menyapanya.
Sampai usia mereka 10 tahun tak ada interaksi, hingga akhirnya Senja pindah ke Jakarta. dan sekarang setelah kembali lagi ke sini pun masih sama. Dingin.
"Mungkin kita memiliki secuil kenangan. Tapi waktu telah mengubur semua itu. atau mungkin, itu tidak pernah berarti apa-apa untukmu. Apa kamu benar lupa? atau memang tidak pernah menganggapku ada." batin Senja.
Senja menutup tirai jendela dan bergegas tidur.
***
Di sisi lain lelaki itu masih terjaga dia kembali menyingkap tirai jendela."Apa dia sudah tidur?." Kenapa dia jadi kepikiran kembali pada gadis itu.
"Kenapa dia harus kembali?...."