"Marrianneth"
Entah bagaimana, tetapi aku merasa ada sedikit cahaya di gelapnya malam itu. Sungguh, aku merasa bahagia.
"Marrianneth!!", dengan seruan nyaring aku berlari padanya.
Di detik sebelumnya, aku sempat berpikir untuk memeluknya. Tapi, aku salah. Saat tanganku hampir meraihnya, Marrianneth justru menarikku dan membawaku berlari ke suatu tempat yang silau terang - benderang.
Aku tahu tempat ini, kami ada di rumah sakit.
"Tu- tunggu, Marrianneth! Di mana Rein? Tadi dia—"
"—Aku tidak tahu. Kami selalu terpisah. Nanti saja baru kujelaskan...", Marrianneth dan aku melewati sebuah pintu yang besar, kuduga itu sebagai pintu utama rumah sakit.
Namun, keadaan telah sepi. Wajar saja, ini telah malam. Hanya ada beberapa orang yang tentu saja adalah pihak - pihak bala bantuan yang datang ke rumahku. Mereka tengah berbincang - bincang, memikirkan kasus yang tak terduga ini.
"Oh, tidak. Aku lupa! IBU!", aku lari menaiki tangga tanpa khawatir jatuh atau terpeleset. Sudah jelas, aku hanya sebuah jiwa. Aku tidak akan mati dua kali.
Saat sampai di lantai dua, kulihat setidaknya 8 orang berkumpul di pintu masuk sebuah kamar. Marrianneth yang mengikutiku dari belakang kemudian mendahuluiku ke kamar itu.
"Ayo!"
Yah, ini hari yang cukup berat untuk kulalui. Melihat tubuhku sendiri terbaring di kasur. Ada berbagai perban putih menutup luka besar di dahiku. Dan hal yang tak terduga adalah..
"Hazzie, kau belum mati. Tubuhmu hanya koma. Kepalamu terbentur bohlam lampu dan beberapa pecahannya menusuk dalam dagingmu. Aku tahu sulit untuk menghadapi hal ini. Tapi yang jelas, kita harus melindungi orang - orang dari 'Dia'!", Jelas Marrianneth. Ia memberikan pandangan penuh arti.
Kami melewati kerumunan orang yang ada di sana. Kini jelas sudah, ibu menangis tersedu - sedu di sampingku. Hatiku hancur.
"Hazz, ini semua salahku. Seharusnya aku tidak mengajakmu berbincang saat itu. Seharusnya kau tak perlu mendengarkan panggilanku. Aku sungguh merasa bersalah atas semua ini. Maafkan aku"
Aku memandangi Marrianneth dengan sedih.
Tidak, tidak. Aku bukan anak yang cengeng. Walau usiaku masih 11 tahun hal itu tidak akan menghalangiku untuk memecahkan kasus ini.
Akhirnya muncul suatu keputusan di pikiranku.
Oke, aku harus bergerak!!
"Marrianneth, aku ingin tahu. Kenapa di saat aku bertemu Rein, kau menghilang. Dan saat aku bertemu denganmu, Rein menghilang tiba - tiba. Rein mengatakan padaku bahwa dia tidak tahu kau ada di mana. Dan sekarang kau juga bilang bahwa kau tidak tahu di mana Rein berada! Kalian membuat kepalaku serasa berputar. Kumohon, aku butuh penjelasan!", ujarku mengakhiri ini.
Tanganku mencengkeram bahu Marrianneth dengan kuat. Kuyakin, dia tidak merasa sakit.
Marrianneth terdiam sebentar, hingga kemudian ia mulai berbicara.
"Hazz, aku pernah memberitahumu. 'Dia' bisa membunuh dan mengendalikan jiwamu. Kita, para jiwa yang tinggal di daerah ini tidak pernah tahu, jiwa mana yang sedang dalam kendalinya. 'Dia' akan menggunakan sebuah jiwa untuk menarik jiwa lainnya dan memakan mereka. Sama halnya dengan memancing ikan. 'Dia' butuh umpan untuk menarik ikan - ikan lainnya", aku mengangguk mengerti.
Ia lalu melanjutkan, "kau hanya perlu tahu, jiwa yang tidak dalam kendalinya pasti tidak akan mendatangi tempat yang 'Dia' kunjungi. Kami tidak mengunjungi rumah Fortessa, karena 'Dia' berkuasa pada tempat itu. Kami juga akan memilih tidak mengunjungi rumahmu saat insidenmu itu, karena 'Dia' ada di sana pada saat itu juga. Sungguh aneh jika Rein tiba - tiba mendatangimu, di saat 'Dia' baru saja mencelakaimu. Seakan - akan 'Dia' langsung menjelma menjadi Rein. Tidakkah kau merasa itu janggal? Kau suka pada hal janggal, kan? Kau pasti seharusnya sudah yakin bahwa itu aneh", Marrianneth menutup kalimatnya sambil mengangkat bahu.
Aku mengingat kembali saat - saat aku bertemu Rein. Memang aneh. Saat itu ia berjongkok di depanku, seakan dia tidak menyadari ada pembunuh yang sedang menatapku dari atas. Tapi, aku ingat dia tersenyum padaku. Hangat dan lembut. Membuatku saat itu yakin, bahwa dia adalah orang baik. Yah, tapi itu juga menguatkan bukti bahwa Rein sedang dalam kendali Roh Jahat itu. Umpan memanglah selalu menggoda. Sial!
"Sekarang apa yang harus kita lakukan? Aku biasanya memikirkan kasus - kasus biasa dan memecahkannya. Tapi yang kini kita hadapi adalah, entah apa. Tidak ada yang pernah memberitahuku", aku mendengus kesal.
Marrianneth masih menatap tubuhku yang terbaring di kasur, lalu ia mengajakku ke atap rumah sakit. Di sana sungguh gelap.
"Aku ingin menceritakanmu sesuatu", ia memulai.
"Aku siap mendengarkan", kataku sambil terus menatapnya.
"Keluarga Fortessa, mereka punya seorang anak perempuan, anak kedua sekaligus anak tengah. Anak itu diberi nama Evillia Erd Fortessa. Nama yang aneh, bukan?", Marrianneth bergidik sedikit. Aku masih fokus mendengarkannya. "Kau tahu, mereka selalu memanggilnya Evil. Karena nama itu, ia dituduh sering membawa sial pada keluarganya. Semua orang membencinya, bahkan keluarganya. Entah, mungkin untuk menghindari sial yang dibawa Evil, ayahnya mengurung Evil di ruang bawah tanah tanpa diberi makan. Mereka tak pernah berani mendekati pintu ruang bawah tanah karena keadaan Evil tampak sangat mengerikan di bawah sana. Di masa - masa penuh penderitaannya itulah, ia mengenalku"
"Apa??", aku terkejut. "Apa dia sudah mati?"
"Tidak, dia belum mati. Dia sama sepertimu, bisa mendengar jiwa - jiwa di sekitarnya". Aku mengangguk sambil melayangkan pandanganku ke pemandangan di bawah rumah sakit.
"Ia berteman denganku sejak itu. Namun, lama kelamaan dia berubah gila dan kelaparan. Setiap hari ia memakan kadal ataupun serangga yang ia temukan di bawah sana. Aku merasa ngeri dan meninggalkannya, sebab ia tak bisa kuajak bicara lagi. Ia mengalami kelainan jiwa saat itu. Saat mendengar suara - suara, Evil akan memukul - mukulkan balok kayu pada sumber suara. Dan sejak kutinggalkan, aku tak tahu bagaimana keadaannya lagi".
Aku mulai membayangkan kilasan - kilasan gambar seorang anak perempuan yang bertindak gila, menerkam kadal yang lewat di sekitarnya, dan memukul - mukul ke udara kosong. Sungguh memprihatinkan, pikirku.
"Dan hingga di suatu malam, kira - kira 3 tahun lalu, ada sebuah angin topan yang menyerang daerah sekitar sini. Semua tetanggamu mengungsi di ruang bawah tanah mereka. Keluarga Fortessa dan dua anak laki - laki mereka yang masih berumur 9 dan 11 tahun mengungsi ke ruang bawah tanah seorang tetangga, meninggalkan Evil yang sedang melakukan hal yang tak diduga"
Aku mengerjap. "Apa yang ia lakukan?"
"Dia membuka segel roh jahat. Entah bagaimana, aku pun tidak tahu. Tapi, yang kudengar adalah dia memukul - mukulkan kayu ke sebuah lambang yang terukir di lantai ruang bawah tanah. Lambang itu konon merupakan segel yang mengurung sebuah Roh Jahat yang terkurung di perut Bumi. Pembuat lambang itu adalah Heinrich Fortessa, kakek dari Evil. Ia adalah seorang paranormal yang misterius. Namun, begitulah cerita yang kudengar"
Aku terdiam memandang Marrianneth sambil merasakan ada yang berubah dengan udara malam itu. Rasanya dingin sekali.
END-