***
Aku tersenyum simpul mendengar bunyi lirik lagu dari sebuah radio di sebelahku. Lirik yang begitu tepat dan begitu sesuai dengan yang kualami beberapa bulan terakhir ini. Senyum masih saja tak bisa hilang dari bibirku.
Benakku terus menampilkan satu wajah yang menghias angan dan mimpiku selama ini.
Satu sosok yang mengunciku hanya di sentakan pertama sejak kedua mataku menangkap kehadirannya di sebuah bangku kayu di taman samping rumahku.
Pria itu, yang bahkan tak kutahu nama, asal, atau statusnya berhasil membuatku begitu mengagumi dan mencintainya hingga terasa sesak.
Dia selalu duduk di tempat yang sama setiap pagi. Saat jam di kamarku tepat pukul tujuh, maka secara alami tubuhku bagai tergerak dengan sendirinya kearah jendela kaca hanya untuk melihat sosoknya itu.
Aku pertama melihatnya dengan tak sengaja. Pagi itu aku baru saja selesai mengemas sampah yang begitu banyak dan hendak menyimpannya di tempat sampah besar di depan setiap rumah di komplek kami.
Saat aku akan masuk kembali kerumahku, saat itulah aku melihatnya.
Dia duduk diam dengan wajah menghadap sepetak kebun mawar kecil di depannya.
Aku mengerutkan kening karena tak berhasil mengingat satupun tetanggaku yang berwujud seperti dia.
Dia begitu tampan, tubuhnya terlihat tinggi meski aku melihatnya dalam posisi duduk.
Aku begitu penasaran ingin melihat wajahnya lebih dekat. Maka saat itu, dengan nekad kulangkahkan kaki kearahnya.
Tiba-tiba dia menoleh padaku dan membuatku tertegun dengan sentakan yang cukup keras di jantungku.
Dia benar-benar tampan.
Rahangnya tegas, hidung mancung dan mata dalam yang terlihat tajam.
Saat itu aku cepat berbalik kearah rumah dengan nafas yang tiba-tiba sesak dan jantung berdentuman keras.
Aku tahu ada yang salah saat itu.
Di hari-hari selanjutkan kutahu sesuatu yang salah itu bisa kusebut dengan jatuh cinta.
***
Setahun sudah kebiasaan pagiku terus berlanjut.
Aku melihatnya setiap pagi yang selalu hanya duduk memandangi objek di depannya.
Aku selalu melihatnya diam-diam dari jendela kamarku yang tak jauh dari sana.
Rasanya begitu menenangkan namun juga terasa menyakitkan karena hanya bisa melihatnya seperti ini.
Aku tahu aku bodoh, tolol dan julukan lainnya untuk kelakuanku.
Jatuh cinta pada orang asing hingga dalamnya cinta yang ku miliki sudah masuk di tahap yang mengkhawatirkan.
Melihatnya sudah bagai keharusan untukku. Rasanya mungkin hampir sama dengan kebutuhanku akan udara. Aku butuh melihatnya.
Mata dan hatiku membutuhkan sosoknya lebih dari apapun setiap hari. Aku bahkan sanggup jika harus menghitung detik di putaran jam dinding hanya untuk menunggunya.
Aku mencintainya diam-diam.
Dari balik jendela dan dinding tebal yang menjadi simbol kepengecutanku.
Aku begitu bermimpi,kelak dia akan melihatku.
Meski tak sekalipun berharap rasa yang sama kan terbagi padaku.
Kurasa aku tak seberuntung itu.
***
"Sarah! Cepat periksa kotak surat! Ayahmu mengirim sesuatu katanya."
Aku menghembuskan nafas pasrah saat suara heboh bibiku mengganggu kenyamananku.
"Kirim apa? Tolong katakan pada ayah, jangan kirim perangko tua lagi. Aku bukan kolektor perangko." kataku kesal
Bibiku terbahak dengan tangan masih berlumur tepung.
"Hei, kau ini. Ayahmu bilang benda itu bernilai. Hargailah." ejeknya.
Aku memutar bola mataku kesal.
Aku berjalan cepat kearah pintu depan dengan dada berdesir. Dia masih ada di sana.
Hari ini dia memakai kaos rajut hitam berlengan panjang dengan earphone terpasang di kedua telinganya.
Aku menarik nafas mencoba menenangkan detak jantungku yang gila-gilaan di dalam sana.
Aku menghampiri kotak pos yang terpasang beberapa meter dari tempat duduknya. Tanganku terasa dingin dan aku gugup tanpa sebab. Konyol. Orang asing itu mampu membuatku sampai seperti ini.
Aku mengambil sebuah kotak pipih dari situ. Tadinya aku berniat langsung berlari kerumah, namun tubuhku mengkhianatiku.
Aku malah terdiam, lalu melihat kearah pria itu.
Deg!
Dia sedang melihatku. Matanya menyorot tajam kearahku yang kini membeku bagai patung di hadapannya.
Aku meremas sisi pakaianku gugup. Dia masih melihatku. Lalu tiba-tiba berdiri dan berjalan menghampiriku.
Aku terbelalak lalu bergerak gelisah dengan niat kabur secepatnya dari sana.
Dia berhenti tepat dua langkah di depanku. Tatapannya semakin terlihat tajam dari jarak sedekat ini.
Ya tuhan....
Jantungku berdetak terlalu keras hingga kufikir dia bisa saja mendengarnya. Lututku entah kenapa terasa tak bisa lebih kuat menopang tubuhku. Aku gemetar antara bingung, takut, malu karena berhadapan langsung dengan orang yang kupuja diam-diam itu.
Aku beranikan diri menatap balik matanya yang indah.
Dia benar-benar tampan. Aku bahkan harus mencengkram bajuku untuk mencegah keinginan konyol untuk menyentuhnya.
Kami saling diam dengan mata saling terkunci. Aku tak tahu terlihat seperti apa saat ini ekspresiku di matanya.
Lidahku kelu. Padahal aku ingin sekali melontarkan puluhan pertanyaan pada sosok di depanku ini.
Aku menggigit bibirku menahan gumpalan emosi yang terasa menyumbat hati dan tenggorokanku.
Ingin rasanya kuteriakan semua rasa frustasiku yang harus tersiksa berbulan-bulan karena sosok asingnya yang tak bisa seharipun pergi dari benakku.
Mataku tiba-tiba panas dan pandanganku berbayang. Air mata mengancam jatuh dengan konyol di depan orang yang tak ku kenal ini.
Dia pasti menganggapku gla, sinting, atau aneh.
Seorang gadis jelek dengan rambut berantakan terlihat hampir menangis tanpa sebab di depannya.
Aku sedikit meringis membayangan seberapa mengerikannya sosokku saat ini.
"Biar ku jawab satu-satu pertanyaan di kepalamu.
Namaku Cain. Aku berasal dari dari Belgia. Dan aku baru pindah bersama ibuku. Apa kau punya pertanyaan lain, Sarah?" ucap pria itu tiba-tiba.
Rasanya aku merasakan semua hal secara bersamaan. Serangan jantung, serangan panik, serangan takut, bingung, semua muncul bersamaan.
Bagaimana mungkin dia tahu semua pertanyaan yang muncul di fikiranku tadi?
Bagaimana caranya dia menjawab dengan tepat semua rasa penasaran di fikiranku itu?
Dia berlaga seperti orang yang bisa membaca fikiran saja.
Apa?
Tunggu
Mem--baca fikiran?!
Tidak mungkin!
Ya!
Yang seperti itu tidak ada!
Jika tadi aku tertegun karena terpesona, sekarang aku tertegun karena ngeri.
Rasanya seluruh tubuhku merinding, dan mataku kini menatapnya takut.
"Kau...." aku tak tahu harus bertanya apa padanya
Dia terkekeh dengan mata meredup sendu.
"Ya. Aku seorang Mind Reader. Kalau kau takut padaku, maka mundurlah! Sebelum aku melihat lebih banyak dari ini," ujar pria itu dengan tegas.
Aku tersentak lalu meringis pelan, ada yang berdenyut sakit di dalam sana.
Mundur?!
Yang benar saja!
Aku langsung melangkah maju dengan nekad kearahnya.
Jarak kami benar-benar dekat sekarang, aku pasti bisa menyentuhnya jika aku mengulurkan tanganku ke depan.
"Baca fikiranku!" pintaku dengan tegas.
Dia mengerjap dan menatapku tak yakin.
"Fikirkan sesuatu. Apa saja, Sarah!" pintanya pelan
Hatiku berdesir lagi saat namaku terucap dari bibirnya. Aku manutup mataku.
Akan kuucapkan sepenuh hati dan fikiranku, semua yang kurasakan padanya.
Sedalam apa sosoknya terpatri di hati dan benakku. Sesering apa aku bermimpi dan berangan tentangnya yang tak pernah kutahu.
Kutarik nafas pelan memusatkan semua yang kurasakan untuk kuteriakkan dalam fikiranku.
'Aku mencintaimu. Bahkan saat aku tak tahu siapa kamu. Aku mencintaimu. Rasanya begitu sakit karena aku hanya bisa menunggu dan melihatmu dari jauh.
Sekarang aku hanya tahu namamu. Meski tetap tak tahu siapa kamu. Tapi sialnya, aku tetap saja mencintaimu. Maaf..'
Aku tak berani membuka mataku sedikitpun.
Aku merasa wajahku panas dan jantungku bertalu di dalam sana.
Aku malu, tapi aku juga tak bisa menahan semua terlalu lama.
Aku mengepalkan tanganku yang dingin dengan cemas.
Sampai detik ini tak ada suara terdengar darinya, tapi aku tahu dia masih berdiri di depanku.
"Aku tahu. Aku tahu semuanya Sarah," ucapnya dengan pelan.
Akhirnya suara itu memaksaku untuk membuka mata karena penasaran.
Aku mengerjap menemukan wajahnya tengah menatapku dengan begitu lembut.
Dia tersenyum, lalu mengulurkan tangannya untuk mengusap pipiku yang terasa panas.
"Sekarang giliranku untuk bertanya. Kau siap?" tanyanya.
Aku mengangguk ragu kearahnya.
Dia tersenyum lembut sekali lagi, membuatku terpesona tiada henti menatapnya.
"Kau punya pacar?" tanyanya
Aku menggeleng dan mengerucutkan bibirku kesal.
'Yang benar saja. Mana bisa aku pumya pacar saat kepalaku isinya dia semua. Huh!'
Cain tergelak pelan.
Matanya sedikit menyipit saat dia tertawa. Tapi dia malah semakin tampan buatku.
"Kita menikah!" itu bukan pertanyaan kan?
Haah??!
Menikah?!
"Siapa yang menikah?" cicitku panik
Cain tergelak geli di depanku.
"Tentu saja kita, sayang." jawabnya lembut
Aku menganga terkejut.
Kau gila ya?
Menikah?
Dia menunduk tiba-tiba. Tangan yang tadi terulur ke pipiku kini terjatuh dengan lunglai di samping tubuhnya.
Sial! Aku lupa kalau dia bisa tahu apa yang kufikirkan.
"Kau tidak mau ya?" lirihnya.
Aku tergagap bingung.
Kita baru saling kenal....
Dia mendongak menatapku.
"Aku jatuh cinta padamu jauh sebelum kau melihatku." ucapnya yang sontak membuatku terbelalak.
'Apaa?!
'Kapan?
Aku terlalu terkejut hingga hanya menyuarakan pertanyaanku lewat fikiran.
Dia tersenyum penuh cinta padaku. Membuat hatiku menghangat dan membuncah haru seketika.
"Aku melihatmu saat mengantar ibuku membeli roti di kedai depan rumahmu.
Kau cantik, dengan wajah berlumur tepung itu benar-benar membuatku tak bisa melihat kearah lain," jawabnya sambil tersenyum dengan wajah menerawang.
Aku menggigit bibirku gugup dan tak percaya diri mendengarnya.
'Aku? Cantik? Matamu rusak ya?'
Cain terbahak saat mendengar protesan di kepalaku.
Dia menggelengkan kepala dengan senyum geli tersisa di bibirnya.
"Aku senang kau tidak sadar kalau kau cantik. Karena bsa kubayangkan bagaimana gilanya aku kalau harus bersaing dengan pria lain," ucao Cain dengab senyum lebar.
Wajahku panas sekarang.
'Sial!
"So, will you marry me?" Cain melamarku. Lagi.
Aku tersedak rasa haru dan bahagia menatap binar penuh cinta di depanku.
Aku mengangguk yakin dengan tubuh sedikit gemetar.
Dia tertawa lembut lalu menarikku cepat kedalam pelukannya yang hangat. Diciumnya pucuk kepala, rambutku berkali-kali.
"Mari kita saling mengenal setelah menikah, Sarah. Aku ingin bisa mencintaimu dengan benar nantinya. Aku hanya bisa menawarkan pernikahan bagi perempuan yang ku cintai. "
Aku menangis. Begitu bahagia karena mencapai mimpiku yang bahkan tak pernah terbayang sedikitpun.
Laki-laki yang kupuja diam-diam juga mencintaiku. Aku benar-benar bahagia sampai tak bisa menggambarkannya.
Cain menatapku lekat. Diusapnya air mata yang mengalir di pipiku.
"Ya Tuhan... Sayang. Aku mencintaimu, sangat-sangat mencintaimu," ucapnya entah kenapa terdengar serak ditelingaku.
Aku terkikik dengan perasaan ringan dan bahagia.
"Aku juga mencintaimu, Cain," ucapku penuh haru.
***
Aku teringat sesuatu yang jadi pertanyaan besar di fikiranku.
"Cain, kenapa kau selalu duduk di taman setiap pagi? Apa yang kau lihat?"
Dia terkekeh pelan, lalu meringis dengan wajah malu.
"Aku menunggumu keluar. Tapi sayangnya kau selalu mengambil jalan memutar tiap saat pergi.
Jadi aku kehilangan kesempatan untuk berkenalan denganmu dengan serius," jawab Cain mengejutkanku.
Aku mendelik kesal.
"Hei, kau kan bisa baca fikiranku. Kau pasti tahu kan kalau aku begitu jatuh cinta padamu. Bodoh!" protesku dengan kesal.
Cain tergelak pelan.
"Ya aku tahu. Aku curi semua hal dari fikiranmu.
Dan waktu enam bulan ini kupakai untuk mempersiapkan pernikahan kita sesuai impianmu yang berhasil aku tahu.
Makanya aku baru hari ini datang dan langsung melamarmu.
Karena ternyata mempersiapkan semua itu sendiri benar-benar menguras waktu."
Aku menganga dengan mata berkaca-kaca.
"Bagaimana kalau tadi aku menolakmu."
Dia meringis seperti menahan sakit.
"Kau tidak akan menolakku. Kau juga mencintaiku." jawabnya terlihat agak ragu.
Aku tergelak malu.
"Tentu saja." jawabku sambil menunduk malu.
End.
--------