Babak Pertama
“Mbak ...
Ada paket ...
Tolong diterima ... “
Suara itu terdengar mengambang dan hampa diiringi dengan ketukan pintu rumahku. Aroma harum membuatku yang tengah tertidur tergugah dan asalnya dari ruang tamu.
Saat aku membuka pintu depan, tampak sosok wanita bertubuh kecil ditutupi baju kurir berwarna merah compang – camping berdiri sambil menyerahkan sebuah bungkusan berwarna hitam. Aku menatap wajahnya yang tertunduk, tapi, eiger abu – abu menutup sebagian wajahnya.
“Terima kasih, mbak... kalau boleh tahu siapa nama Anda ?” tanyaku.
“Fera. Terima kasih sudah menerimanya. Masih banyak barang yang harus diantar, saya mohon diri dulu,” kembali dia berkata dengan suara mengambang, tubuhnya menghilang di kelokan.
“Kring,”
Suara telepon mengejutkanku, buru – buru aku menyambar telepon dan terdengar suara dari seberang sana.
“Hallo, mbak Raisa, ya ?”
“Benar. Kalau boleh tahu ini dari siapa ?”
“Maaf, mbak... ini Ella dari kantor Ok Go, paketnya baru bisa diantar besok, soalnya ban sepeda motor saya pecah,”
“Lho, paketnya sudah saya terima, mbak. Ini baru saja diantar oleh Mbak Fera,”
"Fera ? Seingat saya di perusahaan kami tak ada kurir wanita bernama Fera, mbak. Mungkin salah alamat,"
"Tidak, mbak. Paket sudah saya terima dan saya sudah menanda tangani berkasnya. Dan, belum saya buka," ujarku.
"Maaf, mbak Raisa ... kalau boleh tahu, bagaimana ciri-ciri wanita itu?"
"Pakaian yang dikenakan persis seperti pakaian kurir dari ekspedisi Ok Go, hanya saja agak Kumal dan compang-camping. Saya tidak bisa melihat wajah wanita itu karena tertutup oleh topi Eigernya dan kulitnya tampak pucat, mas. Kalau memang tak ada kurir wanita yang bernama Fera itu, lantas dia siapa, mbak ?"
***
Aku terbangun, mendapati diriku tengah berada di sebuah tanah lapang yang cukup luas. Sebuah tempat yang cukup asing, kering kerontang, sejauh mata memandang yang tampak hanyalah tanah-tanah tandus, banyak rekahan disana-sini bak sawah kering di musim kemarau.
Pakaian yang ia kenakan terdapat bercak-bercak darah yang mengering. Bau amis, apek dan busuk membuat perutku mual. Buru-buru pakaian tersebut dilepas dan baru sadar bahwa pakaian tersebut berwarna oranye dengan emblem Ok Go di dada sebelah kiri. Bau kurang sedap itu makin menggelitik hidung, refleks kubuang baju itu jauh-jauh.
"Mengapa aku ada di tempat ini sambil mengenakan pakaian kurir ?"
Tanyaku sambil melangkah menyusuri tempat itu berharap segera pergi dari tempat asing ini, namun pemandangan yang tersaji selalu sama, tanah gersang dan tandus. Setelah sekian lama berjalan, aku bagaikan seekor tupai yang berlari dalam kandangnya, tak bisa kemana-mana. Baju kurir itu adalah tanda satu-satunya.
“Sial, apa sebenarnya yang terjadi,” umpatku. Baru saja menutup mulut, sepasang mataku terbelalak, baju kurir yang kubuang mendadak bergerak.
Dari dalam baju bagian leher perlahan-lahan menyembul keluar sebuah benda hitam. Astaga, itu adalah kepala manusia, berambut hitam panjang dan kusut. Menyusul kemudian sepasang tangan berkulit putih pucat keluar dari baju bagian lengan. Yah, kini baju itu dikenakan oleh sesosok tubuh wanita yang berlumuran darah. Tubuh itu diam tak bergerak, jantungku berdegup kencang, bau busuk menguar dari tubuh tersebut.
Aku tak lepas memandangnya, terlebih saat tubuh tersebut mendadak bergerak perlahan, kedua lututku lemas manakala sosok wanita berpakaian kurir itu berjalan merangkak menghampirinya. Aku mundur beberapa tindak, tubuhku bergetar hebat sekali, "Si... siapa, kau.... ?" tanyaku.
Sosok itu tidak menjawab, dari sela-sela rambutnya yang hitam, kusut, panjang, dan tergerai, muncul sepasang cahaya merah, tajam menusuk, ia membuka mulutnya dan memuntahkan cairan berwarna putih bercampur belatung, cacing, kelabang, kalajengking, kecoak dan hewan-hewan melata lain ke wajahku. Aku histeris, paling jijik dengan hewan-hewan seperti itu. Sosok itu perlahan – lahan menghilang, manakala mendapati diriku sudah berada di kamar tidurku. Bau aneh itu masih kurasakan, mengaduk-aduk seisi perutku terlebih mengingat saat hewan-hewan menjijikkan itu merayapi permukaan kulit wajah dan sekujur tubuhku. Ingin aku muntah tapi seakan terhenti di ulu hati dan kerongkongan.
Mimpi Buruk itu hadir saat aku baru saja memejamkan mata, sepanjang malam, menghantui dan mengganggu tidurku atau bahkan saat hendak memejamkan mata walau hanya sebentar saja.
***
Malam itu, cahaya purnama tampak bagaikan emas, langit begitu cerah. Kabut tipis yang turun dari Gunung penanggungan, menyebar ke kaki-kaki gunung, menyelimuti barisan pohon randu yang berdiri berjejer laksana barisan prajurit raksasa menjaga pintu masuk perbatasan 2 kota besar di Jawa Timur ( Mojokerto dan Pasuruan )
Di sebuah warung makan, 2 orang laki-laki duduk santai dengan ditemani 2 cangkir kopi dan satu piring berisi beberapa makanan ringan plus 1 pak rokok kretek. Mereka bercakap-cakap sambil sesekali menyesap kopinya. Seorang bertubuh gempal berambut gondrong dan yang seorang lagi bertubuh pendek, berambut keriting. Dialah Choirul atau sering disebut Irul.
Saat hari menjelang tengah malam, mereka meninggalkan warung itu dan berpisah di tikungan jalan.
Suara knalpot Bronx dari sepeda motor Irul terdengar memekakkan telinga menerobos jalanan yang sepi dan lengang. Mendadak ia menghentikan sepeda motornya manakala sebuah ada sebuah sepeda motor lain menghadang jalannya. Sepeda motor itu diparkir melintang di badan jalan yang sempit, wajah Irul merah padam... si empunya sepeda tersebut tak kelihatan batang hidungnya.
"Tin, tin, tin, ttttiiiinnnn,"
Bunyi klakson berkumandang, bergema begitu kerasnya sehingga seakan terdengar di segala penjuru. Tapi, sekeras apapun klakson dibunyikan, tak menunjukkan adanya kehidupan di sekitar tempat itu.
"Brengsek ! Akan kutabrak saja sepeda motor itu," umpat Irul sambil menginjak pedal gas keras-keras. Sepeda motornya meluncur bak anak panah dan ia terkejut sepeda motor yang melintang di jalan mendadak lenyap. Irul tidak dapat mengendalikan sepeda motornya dan
"Bbrruuaakk..."
Terdengar suara 2 benda keras beradu, moncong sepeda motor Irul melesak ke dalam sebuah badan pohon randu yang cukup besar, tubuh Irul terlempar dan dadanya membentur sebuah batu darah segar menyembur keluar dari mulutnya. Ia tidak sempat mengaduh, berteriak, tulang dadanya hancur.
Tampak sesosok bayangan berjalan mendekati Irul. Sepasang mata Irul terbelalak melihat pemilik bayangan itu.
Ia adalah seorang kurir wanita, sebagian wajahnya tertutup oleh topi Eiger berwarna coklat bercampur dengan bercak-bercak merah kehitaman.
"Mas ....
Ada kiriman paket....
tolong diterima....."
Suara itu seakan menggema; datar, hampa dan dingin di telinga Irul, sepersekian detik kemudian, ia merasakan mulutnya dibuka secara paksa. Sebuah plastik berisi serbuk-serbuk putih bak kristal dijejalkan ke dalam, setelah itu pandangannya gelap, tubuhnya terkulai lemas dan tidak bergerak-gerak lagi ....
Bayangan wanita berpakaian kurir itu seakan hilang ditelan bumi, keadaan kembali sunyi dan lengang.
____
Gunawan, laki – laki plotos, jangkung dan tinggi itu berjalan memasuki rumahnya. Ia menghela nafas panjang sejenak. Ia mengambil sebatang rokok, api mulai membakar bagian ujung saat ia menghisap rokok tersebut dan menghembuskannya ke udara. Asap rokok segera merebak, menyebar memenuhi ruangan depan untuk kemudian bercampur baur dengan kabut tipis dan angin malam yang dingin. Sesaat lamanya ia menatap langit – langit, ada banyak hal melintas di benaknya. Hingga akhirnya sebuah ketukan pada pintu depan diiringi suara mengambang, hampa dan dingin.
“Mas....
ada paket ....
tolong diterima ....”
Suara itu membuat Gunawan terkejut, ia bangkit berdiri dan berjalan ke arah pintu depan.
“Kkrriieetthh ...”
Pintu terbuka, Gun tidak mendapati siapa – siapa di luar. Ia menggeleng – gelengkan kepala, “Dasar iseng,” gumamnya sambil menutup pintu dan kembali melangkah masuk. Sepasang matanya terbelalak saat melihat sebuah bungkusan plastik berisikan bubuk putih, “Siapa yang menaruh barang ini sembarangan,” katanya sambil meraih bungkusan itu untuk disimpan ke dalam locker, “Lho, locker ini tetap terkunci rapat, lalu ini kepunyaan siapa ? Seingatku aku tak mengeluarkannya sembarangan. Jika Tuan Muda Zein mengetahuinya, dia pasti membunuhku,”
“Mas....
ada paket ....
tolong diterima ....”
Ini yang kedua kalinya, suara itu sepertinya berada di dekat Gunawan, dari arah belakang. Tapi, kembali ia tidak mendapati siapapun, “Siapa itu ?” tanyanya. Tak ada jawaban dan dari ujung lorong sebuah benda kecil berwarna kuning menggelinding dan terhenti tepat di kakinya. Sebuah cincin emas bermata merah delima, persis cincin miliknya. Bersamaan dengan itu tercium bau harum, bau yang berasal dari kamarnya.
Pintu kamar terbuka, bau itu makin menyengat, seperti bau bunga melati dan Gun tersentak seorang wanita duduk di tepi pembaringan. Ia mengenakan pakaian coklat tua, pakaian khas kurir Ok Go dan mengenakan topi Eiger berwarna coklat kemerahan.
Gun menggosok-gosok kedua belah matanya, seakan tak mempercayai pandangan matanya.
"Siapa, kau ?" tanyanya kemudian.
Tak ada jawaban, wanita itu diam. Tubuhnya bagaikan sebuah patung, mendadak saja bau harum itu semakin menyengat, sepersekian detik kemudian bau itu berangsur-angsur berubah menjadi busuk, perut pria itu serasa diaduk-aduk.
Jari jemari Gun bergerak hendak menyentuh badan wanita itu. Tapi, telinganya mendengar suara aneh seperti gemerantak tulang dan kepala wanita yang menunduk itu perlahan-lahan terangkat, bergerak ke kiri dan terus bergerak ke belakang.
"Krak,"
Kepala wanita itu berputar 180 derajat ke belakang. Gun berteriak histeris manakala sepasang cahaya merah menyorot tajam diantara bayangan topi yang sebagian menutup wajahnya.
“Mas....
ada paket ....
tolong diterima ....”
Kali ketiga suara itu bergema sementara wanita itu berdiri dan berjalan menghampiri sementara tangannya menggapai-gapai hendak memegang Gun yang masih histeris. Pria itu bergerak menjauh namun kedua kakinya serasa lemas, iapun jatuh terduduk.
Teriakannya seakan terhenti di kerongkongan manakala, bubuk-bubuk putih masuk ke dalam mulutnya. Sepasang matanya terbelalak, bola matanya bergerak ke atas saat busa putih keluar dari mulutnya dan wajahnya membiru. Saat itu juga, rohnya terlepas dari raganya.
***
"Apa ?" seru pemuda tampan itu pada ponselnya, "Gunawan dan Irul meninggal ? Bukankah kemarin dia baik-baik saja?"
"Entahlah, tuan muda... hasil otopsi yang keluar menyatakan ia overdosis?"
suara bergetar dari seberang sana membuat wajah pemuda itu merah padam, "Bagus ! Itulah akibatnya kalau serakah," katanya, "Berapa banyak lagi yang kalian ambil dariku ?"
"Kami tidak berani, tuan... semuanya, sudah kami kirimkan sesuai dengan permintaan,"
"Jangan bohong... jikalau aku tahu masih ada barang yang kalian simpan, aku tidak akan tinggal diam,"
"Sungguh, tuan... kami tak berani mengutak-atik barang yang bukan milik kami,"
"Baiklah. Kita bertemu di tempat seperti biasa. Kita selesaikan urusan ini secepatnya," ujar si pemuda sambil menutup ponselnya.
"Ada apa sebenarnya? Semua orang-orang ku mendadak mati semua, kalau terus menerus begini, bisa bangkrut aku," gumamnya seorang diri.
“Mas....
ada paket ....
tolong diterima ....”
Mendadak terdengar suara mengambang, datar dan hampa. Pemuda itu tersentak, ia menoleh kesana-kemari untuk mencari tahu asal suara tersebut, tapi, tidak ada siapa-siapa. Dan sepasang matanya tertuju pada sebuah kotak kecil dibungkus dengan plastik merah.
"Hmmm, siapa yang bisa menembus ruangan pribadiku, padahal sistem keamanannya sudah canggih," katanya sambil meraih bungkusan itu dan membukanya. Sebuah cincin emas bermata merah delima, itulah isi bungkusan kecil tersebut.
"Aku tidak merasa memiliki cincin ini, cincin ini sama dengan kepunyaan mereka, tapi, siapa yang memberikan ini padaku," sepasang mata pemuda itu tiba-tiba beralih ke arah pintu masuk dan melihat sesosok bayangan, "Hei, siapa itu ?" tanyanya sambil bergegas melangkah ke arah pintu, saat pintu itu dibuka, bayangan itu menghilang.
Si pemuda mengeluarkan ponselnya dan setelah menekan tombol pada keypad ia berkata, "Periksa seluruh pintu masuk ada penyusup,"
Dalam waktu yang tidak lama, beberapa orang petugas keamanan datang dan salah satunya menghampiri, "Tidak ada siapa-siapa, Tuan Muda Zein," katanya.
"Kau pikir aku berbohong, ha ?! Jelas-jelas baru saja aku melihat ada seseorang di sekitar sini, mengapa kalian bilang tidak ada seorang pun ?" bentaknya membuat semua orang terdiam sementara wajahnya tertunduk dalam-dalam.
"Baiklah kalau begitu," ujar pemuda itu, "Perketat penjagaan dan jangan biarkan seorangpun masuk kemari. Aku akan pergi menemui seseorang,"
"Siap. Tuan muda,"
Tak jauh dari tempat itu, seorang pria separuh baya berdiri sambil menatap tajam ke arah pemuda itu.
"Giliranmu akan segera tiba, Zein. Kau harus merasakan apa yang dirasakan Nak Fera,"
***
Malam itu, Zein sedang bercumbu mesra dengan salah seorang gundiknya, mereka terbawa dalam lautan asmara. Hanya desah nafas berpacu dengan degub jantung yang terdengar di dalam ruangan berukuran 4x5 M² itu. Mereka tak menyadari bahwa di tengah cahaya lampu yang remang-remang, sesosok bayangan berjalan mengendap-endap.
Tak lama kemudian, wanita yang menjadi lawan main pemuda keturunan Arab itu melangkah keluar sementara, Zein sudah terlelap setelah mencapai puncak kenikmatan yang tiada tara. Tubuh wanita itu hanya dibungkus dengan kain putih tipis bercampur dengan keringat, siapapun yang melihatnya, khususnya kaum Adam, akan terpesona dengan kemolekan tubuh dan lenggak-lenggoknya itu.
Bayangan itu berjalan menghampiri, "Bagaimana sudah kau dapatkan berkas-berkas pengiriman paket 3 tahun lalu?"
"Sudah, pak... ini," kata wanita itu sambil menyodorkan sebuah buku setebal 5 cm.
"Baiklah. Terima kasih, nak,"
"Mudah-mudahan dengan berkas ini bisa menyeret Zein ke meja hijau dan arwah kak Fera bisa tenang di alam sana. Hati-hati, pak,"
"Kaulah yang harus berhati-hati, nak... sebab, harimau itu licin dan licik, sewaktu-waktu bisa mencabik-cabik tanpa ampun,"
"Pengorbananku, layak untuk Kak Fera. Bapak tak perlu khawatir, saya tidak sendirian disini,"
"Baiklah, nak... bapak pergi dulu," kata bayangan itu sambil membalikkan badan dan melangkah dengan hati-hati meninggalkan tempat itu.
Wanita itu berdiri sambil menatapnya, hingga lenyap di kerumunan semak belukar. Setelah menghela nafas panjang ia kemudian melangkah masuk, "Kak Fera... semoga kau menjaga dan melindungiku selalu dari kawanan serigala lapar ini,"
"Mbak....
Ada paket ....
tolong diterima...."
Suara mengambang, dingin dan datar, terdengar seakan menggema terbawa angin dingin yang berhembus perlahan. Aroma harum dan tajam menusuk rongga hidung, membuat bulu kuduk wanita itu meremang. Ia menoleh kesana-kemari hingga sepasang matanya tertuju pada sebuah bayangan yang berdiri di ambang pintu masuk. Bayangan seorang wanita, berpakaian kurir berwarna coklat tua bercampur dengan bercak-bercak darah merah kehitaman. Topi Eiger, menutupi sebagian wajahnya.
Wanita itu mundur beberapa tindak, sementara sepasang matanya tak berkedip, bibirnya gemetar, gigi-giginya saling beradu. Jantungnya serasa berhenti berdetak manakala bayangan itu sudah berada di hadapannya.
***
Video pita VHS. Itulah paket yang kutemukan beberapa hari yang lalu. Sebuah barang yang cukup langka di jaman millenial seperti sekarang. Beruntung aku masih memiliki mesin pemutar video pita berbentuk kotak tersebut.
“Paket yang aneh dan unik menurutku. Tak ada nama dan alamat pengirimnya,” kataku pada Ella.
“Kalau boleh tahu, apa isi video itu ?” tanya Ella.
“Sebuah video aneh, mengerikan dan sadis menurutku,” ujarku sambil memasukkan video itu ke playernya dan menekan tombol pada mesin. Lama sekali aku dan Ella menatap layar TV yang hanya menayangkan kumpulan semut dan suara berisik.
“Kok aneh,” kataku.
“Apanya yang aneh ?”
“Kita sudah menunggu 15 menit, namun, film yang ada dalam video tape itu tidak muncul. Padahal kemarin aku sempat memutarnya. Dalam waktu tak kurang dari 10 menit, sudah muncul gambarnya. Durasi film hanya 45 menit saja. Tapi, mengapa sekarang malah yang muncul hanyalan sekumpulan semut saja,” jelasku.
“Ah, sudahlah, mungkin video pita tersebut rusak. Sekarang jamannya DVD player, mengapa harus dibingungkan dengan video tape kuno itu. Aku kembali melanjutkan pekerjaanku, non...,” ujar Ella sambil melangkah meninggalkan tempat itu. Aku hanya mengangkat tangan kanan saja. Setelah Ella tidak ada, mendadak di layar TV sudah terpampang sebuah adegan brutal. Membuatku tak berkedip melihatnya.
“Hentikan, jangan kalian sakiti dia. Dia hanyalah kurir dan tidak tahu menahu soal paket tersebut,” teriak seorang laki – laki paruh baya kepada 5 orang laki – laki yang berdiri mengelilingi seorang wanita yang terbaring di lantai. Laki – laki itu berusaha melepaskan diri dari cengkeraman seorang pria bertubuh gempal dan berambut gondrong.
“Tutup mulutmu, pak tua. Ini adalah perintah Tuan Muda. Siapa saja yang berani macam – macam dengan paket tersebut, tak peduli pria-wanita, tua-muda bahkan anak – anak, harus disingkirkan. Rasa penasaran telah menghantarkannya ke ambang maut. Kami tak ingin mencari masalah, membiarkannya hidup,” ujar laki – laki plotos jangkung dan tinggi sementara tangannya meraih bungkusan plastik berisi serbuk putih tak jauh dari delivery box di dekat wanita itu.
“Aku tidak akan membiarkan kalian berbuat seenaknya. Apalagi pada seorang wanita,” ujar laki – laki paruh baya itu sambil bergerak cepat dan mendadak saja ia dapat melepaskan diri dari pegangan tangan pria bertubuh gempal dan gondrong itu. Ia berlari dan menyerang ke arah Gunawan, namun, dihadang oleh 2 orang.
Pertarungan tidak seimbang terjadi dan hanya dalam waktu singkat laki – laki paruh baya itu kembali diringkus dan seseorang menendang tempurung lututnya, ia berteriak diiringi jeritan menyayat dan iapun roboh sambil menggeliat – geliat kesakitan.
“Orang tua tak tahu diri,” ujar laki – laki berambut keriting, berkulit hitam, dia adalah Irul, “Gun sekalian saja bunuh laki – laki ini biar tidak merepotkan,”
“Tenanglah, kita akan membereskannya setelah bersenang – senang dengan kurir wanita ini,” kata Gun sambil menyambar kepala wanita itu, topi eigernya terlepas dan ia menjerit tertahan manakala Gun menjambak rambutnya. Sepasang mata wanita itu tampak menyala-nyala, seakan ingin membakar wajah laki – laki plotos yang kini menyodorkan bungkusan plastik di tangan tepat pada hidungnya.
Wanita itu berusaha membuang wajahnya, bermaksud menghindari bau harum menyengat yang menusuk hidungnya, tapi jambakan Gunawan terlalu kuat, belum lagi kedua tangannya ditelikung ke belakang oleh seorang pria bertubuh tinggi besar dengan tato naga di dadanya. Sekeras apapun usahanya untuk melepaskan diri, gagal malah luka di kepala kanannya yang mengering terbuka lagi. Laki – laki plotos itu menyeringai, “Kau benar, nona.... paket itu tidak kosong dan inilah isinya. Kurasa kau perlu mencobanya,” sambil berkata demikian, ia membuka paksa mulut wanita itu dan menjejalkan serbuk putih mengkilap bak kristal ke dalam mulutnya.
Begitu serbuk itu habis, Gunawan kembali menyambar plastik lain dan kembali melakukan hal yang sama hingga akhirnya wanita itu roboh lemas tak berdaya. Laki – laki paruh baya itu menggeram – geram, tapi, rasa sakit pada lututnya membuatnya tak mampu berbuat apa – apa.
5 orang laki – laki itu tertawa terbahak – bahak, mereka berdiri mengelilingi wanita yang kini sudah kehilangan seluruh kesadarannya. Wajah, rambut dan pakaiannya kusut masai, tubuhnya menggigil bak orang kedinginan, namun, pemandangan ini mengundang birahi 5 laki – laki tersebut.
“Breth .... Breth ... Breth ...”
Pria bertato naga di dadanya itulah yang pertama kali merobek – robek pakaian wanita itu dan segera memperkosanya bergantian. Seorang dari mereka mendokumentasikan kejadian tersebut. Sementara, laki – laki paruh baya itu tampak menangis, membuang muka mendengar tawa di sela – sela rintihan perlahan. Tak seorangpun tahu bahwa laki – laki paruh baya itu merangkak meninggalkan tempat itu.
Adegan terakhir dalam video pita tersebut adalah box delivery milik wanita itu dibongkar dan paket – paket di dalamnya berhamburan keluar. Diantara ceceran bungkusan paket tertera nama Raisa lengkap beserta alamat rumahnya. Sekalipun gambar itu diambil dalam durasi singkat, mungkin sepersekian detik, Raisa dapat melihatnya dengan jelas. Setelah itu, layar TV kembali menyajikan tayangan ribuan ekor semut. Film dalam video pita itu sudah habis.
***
“Siapa yang merekam video tersebut ?” tanya Raisa padaku saat aku berkunjung ke rumahnya.
“Entahlah ... tapi, setidaknya kita sudah mengetahui siapa dan apa yang telah menimpa kurir wanita bernama Fera itu,” kataku.
“Lalu, kau tak ada hubungannya dengan peristiwa itu, mengapa dia datang dan menghantuimu, mbak ?” tanya Ella.
“Aku tak mengerti, Ella... padahal, aku sama sekali tidak mengenalnya. Oya, di dalam video tersebut ada seorang laki – laki paruh baya tengah dianiaya oleh para preman itu, apakah kau pernah melihatnya ?”
“Oh, iya... aku seperti pernah melihat orang itu di kantor. Akan tetapi, semenjak pemuda keturunan Arab itu dipercaya untuk mengelola kantor Ok Go, aku tak pernah bertemu dengan orang itu,” jelas Ella.
“Apa kau mengenalnya, mbak ?”
“Mengapa kau tertarik untuk menyelidiki laki-laki itu ?”
“Beliau adalah kunci atau saksi hidup, sewaktu Fera diperlakukan tidak manusiawi oleh preman – preman itu. Jika kita tahu dimana beliau berada, kita pasti bisa mengungkap misteri di balik kejadian itu. Dan menyeretnya ke meja hijau,” ujarku.
“Jangan ceroboh, Mbak Raisa... Orang – orang ini, pastinya punya backing yang cukup kuat, makanya mereka berani bertindak seenak perutnya sendiri. Nyawa manusia tidak ada harganya,” ujar Ella.
“Kau takut, Mbak Ella ? Jika seandainya, hal itu menimpa kurir – kurir yang lain, bagaimana ? Apakah kita harus diam saja ?” protesku, “Pernahkah terlintas di benak Mbak Ella, jika, apa yang dialami oleh Fera itu terjadi pada diri kita ?” sambungku.
“Jangan sampai itu terjadi, aku takut mati,” sahut Ella, wajahnya pucat pasi, “Baiklah, aku akan mencari tahu siapa laki – laki paruh baya itu,”
“Lebih cepat, lebih baik, mbak...”
***