Kehidupan adalah sebuah lilin besar. Sumbunya adalah waktu yang menghubungkan masa lalu dengan hari ini. Parafin yang membungkus sumbu itu adalah hidup kita. Semakin banyak waktu yang berlalu, maka semakin tipis api waktu yang akan memakan hidup kita.
Siang itu aku sedang menikmati segenggam es cekek untuk menyegarkan tenggorakan ku yang kering, bagaikan sebuah tanaman yang membutuhkan air agar tetap bisa bertahan hidup. Tanpa kusadari aku mulai tenggelam dalam lamunan ku , begitu banyak kejadian yang menimpaku, bukan kejadian bahagia melainkan sebaliknya. Dengan wajah yang penuh dengan Luka lebam Dan memar semakin membuatku terlihat sangat menyedihkan. Aku adalah seorang anak tunggal dengan keluarga yang Harmonis dimata orang-orang. Tanpa mereka ketahui bahwa aku hanya lah sebuah alat bagi mereka untuk mempertahankan martabat mereka dikalangan para manusia. Setelah tersadar Dari lamunanku aku segera bangkit Dan berjalan tanpa tau arah ke mana aku akan pergi, dengan langkah yang sempoyangan tanpa sadar aku sudah berada di depan sebuah rumah yang kecil namun terlihat sungguh harmonis dimataku.
Rumah tersebut adalah rumah sahabatku dimana terdapat 4 anggota keluarga didalamnya. Salah satu anggota tersebut adalah Elena. Ia adalah sahabat ku, yang tau akan keadaan ku Selama ini. Dengan wajah yang terkejut Elena menyampiri ku sambil membawaku untuk masuk kerumahnya. Dapat kulihat dengan jelas wajah khawatirnya saat mengobatiku. Tanpa kusadari air mata ku jatuh membasahi wajah putih ku yang ditutupi dengan Luka lebam. Elena yang paham akan keadaan ku memilih untuk tidak bertanya Dan menungguku untuk membuka suara sendiri. Setelah Elena selesai mengobati ku, ia langsung menuju dapur lalu membawakan sepiring nasi dengan beberapa lauk dan menyuapiku dengan sangat lembut dan hari-hati. Tidak terasa waktu telah menjelang senja dimana matahari mulai menenggelamkan cahaya indahnya yang menandakan waktu untuk istirahat akan dimulai. Tidak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu dari luar rumah, dengan langkah cepat Elena segera menghampiri arah suara tersebut agar membukakan pintu untuk ibu Dan adik-adiknya. Saat Elene membukakan pintu, tiba tiba mendarat lah sebuah tangan besar kepipi berisi Elena tanpa Elena ketahui orang yang menamparnya itu siapa. Aku yang mendengar suara itu langsung berlari ke sumber suara tersebut dengan langkah yang laju aku segera menyampiri Elena. Dimana langkah kaki ku mulai terhenti begitu melihat siapa yang datang kerumah sahabatku. Aku terdiam dan wajah ku mulai berubah dratis diikuti dengan sebuah keringat yang mulai membasahi kulit ku. Aku yang tahu siapa orang tersebut, mulai saling menatap tanpa basa basi orang tersebut langsung menarik ku dengan paksa. Sesampai dirumah yang dapat dibilang mewah orang tersebut segera membentak ku dengan mulut kotornya dimana orang itu mulai menjelekkan keluarga sahabatku dengan emosi yang mengelunjak aku mulai meluapkan semua emosiku tanpa sadar tangan yang tadi dipakai untuk menampar sahabat ku sekarang berganti dengan mengenai pipi putih ku yang semakin menambah hiasan lebam diwajah ku akibat perbuatannya lagi.
Keesokan paginya aku mulai melakukan aktifitas seperti biasanya dimana masih ditemani Luka lebam bekas semalam yang masih terhias indah diwajah ku , tanpa sarapan pagi aku langsung bergegas kesekolah dengan ditemani supir pribadiku. Saat aku sampai disekolah pandangan para siswa tertujuh kepadaku, aku yang mulai risih dengan pandangan mereka mulai menundukkan kepalaku sambil terus berjalan ke arah kelas. Sesampai dikelas pandanganku langsung tertuju pada sebuah bangku kosong, dimana bangku tersebut milik sahabatku, biasa nya jam segini bangku tersebut sudah terisi olehnya. Namun pagi ini aku belum melihatnya menempati bangku tersebut hingga sampai pulangan sekolah pun aku belum pernah melihat batang hidung sahabat ku itu. Suara bel pulangan berbunyi. Dengan langkah yang tergesa gesa aku langsung berlari keluar kelas, kemudian menuju kesuatu tempat yang sangat kuinginkan, tempat itu adalah rumah sahabatku Elena.
Sesampai disana aku sedikit bingung tidak biasanya rumah sahabat ku akan terlihat sepi seperti ini, biasanya Elena dan adik-adiknya akan berada didepan teras sambil bercanda ria menunggu kepulangan ibu mereka dari kerjanya. Dengan hati yang sedikit bimbang aku mulai mengetuk pintunya untuk memastikan apakah Elena Dan keluarganya ada didalam, karena tidak ada respon tangan ku mulai gemetar dan aku semakin menggedor pintu rumah sahabatku dengan keras berharap akan ada yang membukakan pintu rumah itu. Tidak terasa langit mulai gelap disusulin dengan nyanyian para jangkrik yang sedang bersenandung ria menikmati waktu bermain nya. Tiba tiba aku melihat ada seorang wanita paru baya yang menghampiri ku sambil menggenggam sebuah amplop surat, seingatku dia adalah tetangga elena, dengan wajah yang tidak bisa kutebak wanita itu memberikan ku amplop yang digenggamnya, sambil terseyum ramah. Dapat kulihat di amplop tersebut ada nama ku yang sangat terpampang jelas. Aku yang penasaran segera membuka amplop tersebut lalu membacanya.
To: nathalia
From: Elena
Hai nathalia, mungkin kamu udah dapat surat ini Dari tetangga ku bukan? sebelumnya aku mau minta maaf ke kamu yang sebesar-besarnya. Dan terus terang saja, aku sebenarnya sudah lama mengalami riwayat penyakit kanker paru paru, mungkin karena ayah ku dulu sering merokok jadi aku yang menjadi korban nya. Hahahaha hebat kan aku bisa kelihatan sehat di depanmu, aslinya aku mati-matian nahan sakitnya, hanya saja aku tidak mau membuatmu semakin menderita karena aku. Ah iya sebenarnya malam itu aku ingin menceritakan semuanya ke kamu tentang ini dan tentang operasi ku besok, namun karena ada masalah antara kamu Dan keluargamu aku mulai kembali memikirkannya. Mungkin cuman ini aja yang bisa kutulis selebihnya aku minta maaf yah ke kamu. Dan kemungkinan besar aku sudah tidak ada didunia ini lagi.
jadi kamu jangan pernah berpikir untuk mengakhiri kehidupanmu, karena aku tidak ada lagi disamping mu yah nathalia, aku tau kamu itu anak yang kuat, jadi hiduplah dengan baik meski Dunia emang selalu kejam kepada kiya, kamu mau menjadi jaksa bukan? Semangat kamu pasti bisa meraihnya:). Dan aku ingin mengucapkan terima kasih banyak sudah mau jadi sahabat terbaikku.
oh iya kalau kamu ingin menemuiku mungkin hanya sebatas mayat ku saja, hahahah. aku berharap kamu masih bisa melihatmu untuk terakhir kalinya dan ingat kamu harus tetap tersenyum meski aku sudah tidak dapat menemanimu lagi yah nath :)
-Salam hangat untuk nathalia sahabatku.
Setelah membaca surat tersebut aku mulai berlari untuk mencari taxi dan langsung menuju ke rumah sakit tersebut dengan menahan isakan tangis ku. Disetiap detiknya aku berdoa agar yang di surat itu hanyalah bualan mu saja, jika pun itu benar aku berharap bisa melihatmu untuk terakhir kalinya walau hanya sebatas kain putih yang menutupimu. Sesampai dirumah sakit aku mulai menanyakan keberadaanmu, aku sedikit terkejut bahwa yang ada disuratmu itu benar dengan perasaan campur aduk aku mulai mendatangi ruangan mayatmu dan menangis sesenggukan, sambil melihat wajah pucatmu.
karya: Fitri Nur Wahyuni