Ramalan Kota itu benar-benar terjadi dan sudah di nubuat kan sejak ratusan tahun lalu. Nubuat bahwa Kota Valerine akan menjadi kota mati dan sebuah tempat tanpa kehidupan. Dan disanalah sering kali terjadi pembantaian sadis.
...
Ana menangis dan meratapi nasibnya, dia terjebak di kota mati yang besar dan angker itu. Seragam polisinya sudah semakin kotor, rambutnya acak-acakan dan mungkin badannya juga sudah bau. Sudah seminggu dia terjebak di tempat itu. Ketujuh temannya juga sudah tidak menampakkan batang hidungnya lagi sejak berpencar seminggu lalu ke penjuru kota tersebut untuk menyelidiki sesuatu. Mungkinkah mereka... ah, tidak?! Itu tidak mungkin dan semoga tidak terjadi.
Seumur hidup ini pertama kalinya dia terlantar seperti ini. Kepala kepolisian sangat salah menugaskan dia dan teman-temannya masih tetap menyelidiki kota mati ini.
...
Berawal dari sebuah e-mail misterius yang sepertinya mirip ultimatum dan seperti mengancam aparat kepolisian.
"Kalian para polisi adalah pengecut jika tidak berani menuju kemari, polisi seperti kalian adalah benalu negara ini dan sebentar lagi kantor polisi akan meledak jika tidak ada delapan orang anggota polisi turun kemari."
Tentu saja ultimatum itu tidak bercanda dan sepertinya serius.
Ana berjalan sempoyongan, tak tentu arah diantara lebatnya pepohonan di kota mati Valerine.
"Seseorang tolong aku, hiks!"
Aura dingin dan misterius mengalun seketika. Ana yang masih setengah sadar mencari-cari sumber aura tersebut.
"Siapa? Ada seseorang di sana?"
"Kumohon tolong aku, hiks!"
WUSS!
BRAK BRUK!
Angin semakin kencang dan Ana merasa ada sesuatu yang tidak beres.
Dia menoleh ke belakang. Sepertinya tadi dia dengan jelas merasakan ada orang yang lewat di belakangnya, mungkin sekitar dua orang.
"Kumohon jangan ganggu aku, hiks."
Ana memekik kaget ketika merasakan penglihatannya menangkap sosok tujuh makhluk astral tergantung di sebuah pohon.
"Hwaa, tolong aku. Rachel, Kelvin dimana kalian? Tolong aku." suara Ana terdengar pilu memanggil nama kedua sahabatnya tersebut.
"Hiks, hiks. Tolong kemari. Tolong bantu aku."
"Tolong bantu aku keluar dari kota mati ini." teriak Ana gila seketika. Dia sudah tidak kuat lagi untuk bertahan. Itu perasannya.
...
Ana mengesot sambil menangis saat manik hijaunya tertuju ke sebuah gedung bertingkat sepuluh yang sepertinya merupakan gedung terlantar di kota mati ini.
"Semoga ada yang bisa membantuku di sana." Ana lanjut mengesot dengan sisa tenaganya yang semakin menipis dan menipis. Meski dalam keadaan sekarat, dia masih dapat memperkirakan jarak tempatnya ke gedung tersebut. Sekitar seratus meter kalau tidak salah.
Hanya itu yang dapat disimpulkan olehnya saat ini.
10 meter.
Dia sudah kelelahan.
50 meter.
Dia semakin berupaya mengumpul tenaganya.
100 meter.
Dia masih berupaya lagi mengumpulkan sisa tenaganya.
120 meter.
Keringat mulai mengucur di sekujur tubuhnya.
170 meter.
Wajahnya semakin membiru, juga semakin pucat.
200 meter.
Dia mulai menangis dan hampir jatuh di tanah.
Dia masih tetap mengesot memasuki gedung tersebut.
Samar-samar dia melihat sebuah air mancur tak jauh dari tempatnya berada saat ini. Tetap mengesot. Dan saat sudah tiba di dekat air tersebut, dia langsung meminumnya sepuasnya untuk melenyapkan dahaganya. Tenaganya sedikit pulih.
Dia melihat seisi gedung tersebut dengan tatapan nanar. Gedung ini terlalu gelap dan juga luas. Tak ada sumber penerangan sedikit pun.
Dia mengesot menaiki tangga. Saat itu Ana belum yakin dan tak tahu akan menuju ke lantai mana.
Dia merasa ada sosok yang mengikutinya. Kembali Ana dikagetkan dengan sosok laki-laki yang misterius dengan membawa pisau di tangannya.
Hei. Tunggu. Dia bukan hantu? Pria itu menyeringai seram saat melihat Ana.
"Ahahaha, tak kusangka kau masih sanggup memasuki gedung ini walaupun kau hampir sekarat. Hari ini juga kau akan berakhir seperti mereka." pria itu menunjuk ke arah sebuah pojok ruangan. Di sana tergeletak beberapa mayat manusia dengan sembarangan.
"Tidak! Kelvin, Rachel. Hiks, hiks!" kantung mata Ana semakin deras mengeluarkan partikel bening. Dia menangis sejadi-jadinya.
"Hahaha, bersiaplah menjemput ajalmu. Sepertinya tidak menarik jika caraku membunuhmu sama seperti temanmu, polisi bodoh ini. Kau adalah polisi wanita yang kuat. Mari kita lihat apakah kau masih bertahan hidup saat kau terjatuh dari gedung ini." pria itu adalah Aldo, mantan narapidana yang pernah menyimpan dendam besar kepada pihak polisi yang memenjarakannya.
"Apa kau tahu bagaimana rasanya tidak di percaya? Polisi memenjarakanku begitu saja, tanpa bukti dan tanpa tahu benar salah." Aldo mengenang sepenggal masa lalunya yang cukup kelam.
"Kumohon jangan. Aku tahu kau tidak bersalah. Aku memperjuangkanmu saat itu agar kau keluar dari penjara."
"Diam. Sudah terlambat. Hahaha!" Aldo menyeret kedua kaki Ana ke luar teras lantai sepuluh gedung dan menjatuhkan Ana ke bawah.
Ana, kini dia antara mati dan hidup.
HUP!
Ana bernafas tersengal-sengal. Dia tidak merasakan tubunnya terbentur apapun, tanpa rasa sakit.
"Itu? Siapa? Kumohon jangan sakiti aku lagi."
"Ana, kamu terselamatkan. Kamu belum meninggal. Ini aku Jansen, kekasihmu." Jansen berusaha menjelaskan pada Ana yang sekarat. Jansen menangisi nasib Ana.
"Pak, tolong membantu pihak medis untuk memberikan pertolongan pertama pada kopral Ana. Kami harus segera membawanya ke rumah sakit."
Jansen memasrahkan kekasihnya ditandu oleh pihak medis. Ana masih sempat memanggil nama Jansen, sebelum akhirnya tak sadarkan diri. Jansen ikut ke dalam mobil ambulans.
"Kopral Ana, berjuanglah. Anda bisa." dukung seorang pegawai medis tersebut. Jansen tersenyum nanar menggenggam tangan Ana yang pingsan dan membelai kepalanya.
Wajah Ana begitu pucat dan biru.
Selang setelah kejadian itu, polisi, tentara dan pemuka agama yang masih berada di tempat itu setelah Jansen ikut mengantarkan Ana ke rumah sakit, mengevakuasi ketujuh mayat polisi yang dibunuh oleh Aldo.
Kini ketujuh polisi tersebut dimakamkan dengan layak. Tak berhentinya isak tangis dan duka warga kota untuk almarhum ketujuh polisi tersebut. Meski terselamatkan dari kejadian itu, ucapan terimakasih dan simpati menghujani Ana.
Sementara itu, Aldo masih tetap tak di ketahui keberadaannya.
Keberadaannya jauh dari kota itu. Misterius dan sulit di lacak.
"Hahaha, tunggu saja. Aku masih hidup...dan dendamku belum tersampaikan sepenuhnya..." Aldo tertawa licik.
...
Maaf kalo kalian tegang lagi!
😐😐😐
Kali ini author kembali mempromosikan karya author, novel chat story yang berjudul Hey Badboy I Love U. Dibaca ya!? Hehehe, jangan lupa tinggalin jejak. Ditunggu ya!?🙃