Pagi itu, aku terbangun dari tidurku perih,pedih,dan terasa sembab tak jua hilang karena malam tadi ayah dan ibuku menghabiskan waktu malamku dengan mendengarkan mereka bertengkar.
ibuku menawarkanku untuk mengantarkan aku pergi sekolah "nak mau ibu antar ke sekolah?" katanya, "tidak bu aku naik sepeda saja" jawabku dengan muka yg bingung karena mengingat kejadian semalam. Aku bersiap dan berpamitan kepada orang tuaku. Di sekolah aku bergembira ria seolah olah aku melupakan apa yang terjadi semalam di rumah, jam sudah menunjukkan waktu pulang sekolah, aku pulang bersama temanku menggunakan sepeda masing masing. Saat itu temanku ikut pulang mengantarkan aku ganti baju karena kami ingin bermain.
KAGETTT...
Tiba di rumah aku sangat kaget karena salon kayu yang orang tua ku beli tergeletak hancur di depan rumah, seketika aku sadar dan mengingat kejadian semalam bahwa orang tuaku sedang tidak baik baik saja. Saat itu temanku pamit untuk pulang mungkin karena dia takut juga dan tidak mengerti apa apa karena kami masih SD. Saat aku sendiri aku mengintip ruang tamu dari jendela di dalam sangat kotor,gelas pecah, kopi tumpah, sofa berhamburan, seperti kapal pecah, saat itu aku hanya bisa menangis karena ak mengerti maksud dari ini semua yaitu... orang tua ku sedang bertengkar dan pergi dari rumah.
Suara tabku berdering...
Di atas meja bundar, aku berusaha untuk melihat siapa yang menelpon, ak mengambil linggis dan mencongkel jendela tapi mustahil tanganku berdarah karena mengenai linggis, awalnya aku mencari kunci di tempat biasa orang rumah simpan tapi tidak ada.
Aku berlari ke tetangga samping rumah dan bertanya kepada tante tini "dimana ibuku?" kataku, "gatau nak, tadi ibu pinjam helm katanya mau ke pasar tapi belum pulang pulang, tante juga mau pake helmnya jemput anak tante" katanya.
Aku hanya anak kecil yang bisa menangis sangat berharap aku melihat ibuku langsung tapi tidak ada.
Tante tini menyuruhku untuk istirahat di rumahnya sambil menunggu ibu pulang, aku membuka hp tante tini dan melihat foto ibuku dihpnya sambil menangis dan berkata 'ibu dimana, kapan pulang' .
Tiba tiba temanku yang tadi pamit pulang datang kembali "nur kamu gapapa?" katanya "ibuku dimana"kataku sambil menangis, temanku yang mengerti aku menemaniku dan mendengarkan aku menangis terus menerus. Aku mengajaknya untuk ke depan rumah (rumah sepupu) aku mengetok pintu rumahnya saat di buka, tante Neni sudah mengetahui hal apa yang terjadi sebenarnya, aku yang sudah feeling seperti itu dari awal karena aku melihat ekspresi tante neni yang sedih,kasian,khawatir terhadapku.
Tante Neni menelpon ayahku, beberapa menit kemudian ayahku datang dengan wajah yang marah "Tidak usah mencari ibumu lagi" katanya, aku yang mendengar hanya bisa menangis karena anak kecil sepertiku masih membutuhkan seorang ibu. Ayahku mengajakku untuk pulang ke rumah, di dalam rumah sangat berantakan, ayahku menelpon kakakku dan menyuruhnya pulang, sesampainya kakakku di rumah. Aku, kakakku, dan ayahku membersihkan rumah yang berantakan itu. Malamnya ayahku membeli mie ayam, aku yang daritadi menangis tiada nafsu makan di marai oleh ayah "Sudah jangan nangis, makan!" aku yang menahan tangis pun makan walaupun tiada selera makan.
Suara tabku berdering...
Ternyata ibuku yang menelpon dan memberitahuku bahwa dia baik baik saja, dia ada di rumah adiknya. "ibu kapan pulang" kataku, "gatau nak" kata ibu. Aku selalu menangis dan menyuruh ibuku untuk pulang, aku rindu aku ingin memeluknya, ibu yang mendengar aku nangis, "Sudah nak jangan menangis" kata ibuku, "matikan telponnya!" kata ayahku, ibu yang mendengar mengatakan "sudah dulu ya nak jangan nangis, nanti lagi telponannya, Assalamualaikum" kata ibu, "Waalaikumsalam" jawabku.
Akhir desember, teman ayah yang sudah di anggap saudara ingin menjemput ibu pulang dan mengantarnya kembali ke rumah tapi ibu lagi di luar kota, aku yang hanya bisa menangis bilang kepada om pupus "ibu mana om..." kataku, "nanti dulu ya nak, ibu lagi ga di sini" kata om pupus. Setibanya aku di rumah bersama om pupus tanpa membawa ibu, ayahku bertanya "mana ibumu?" aku menjawab "ibu gaada yah"kataku, om pupus langsung menjelaskan kepada ayah. Saat itu aku selalu menangis karena ekspektasiku yang tidak sesuai, aku kira ibuku akan pulang bersamaku dan om pupus nyatanya tidak. Aku yang sudah melihat ekspresi ayahku yang menunggu kepulangan ibuku ternyata hancur... aku gagal menyatukan orang tuaku di akhir tahun tersebut.
Awal tahun baru aku,ayah,kakak,om toto pergi menjemput ibu di rumah adiknya, tapi ibu tidak mau pulang alasan takut sama ayah, sudah 3x aku,ayah,kakak, dan om toto menjemput ibu tapi ibu tetap tidak mau ikut pulang bersama kami. Setelah sekian banyaknya kami menjemput terus menerus akhirnya kami berhenti untuk menjemput ibu.
Sebenarnya aku sering bermalam di rumah adik ibuku seminggu sekali tetapi sehari saja tidak cukup untuk anak sepertiku bertemu dengan ibu dengan waktu yang sangat singkat.
Tiba dimana saat.. sore itu, aku dan ayahku sedang duduk di bangku teras rumah "ayah, berikan ibu 1x kesempatan lagi untuk pulang ke rumah" kataku, "nak.. ayah sudah memberikan kesempatan banyak kali untuk ibumu tetapi ibumu tetap tidak mau pulang, sekarang ayah sudah tidak mau lagi tiba tiba ibumu mau pulang" jawab ayah dengan nada yang rendah kepadaku.
Setelah lika liku terjadi akhirnya ayah dan ibu resmi bercerai. Capek rasanya aku yang menduduki kelas 1 SMP menggantikan posisi ibuku, aku bangun lebih awal, mencuci piring,baju,memasak, dan harus pintar membagi waktu.
Ibu berjualan di pasar untuk mendapatkan uang, aku melihatnya seperti itu sangat sedih dan aku tidak bisa melakukan apa apa. Aku selalu mendoakan yang terbaik untuk kedua orang tuaku, kesehatan maupun rezeki. Selang beberapa bulan,"Dek kalo ibu nikah lagi tidak apa apa?" kata kakakku, "tidak boleh" jawabku, "kamu tidak kasian sama ibu jika dia terus menerus bekerja seperti itu? bagaimana di hari tuanya nanti, siapa yg membiayainya?" ucap sang kakak, aku terdiam beberapa menit, "iya kak boleh kok" jawabku habis di nasehati.
Beberapa bulan kedepan
Suara hp berdering...
Ibu
Ibu : Assalamualaikum nak
Aku : Waalaikumsalam bu
Ibu : Nak, ibu mau tanya.. jika ibu nikah lagi kamu tidak apa apa?
Aku : Iya bu tidak apa apa (mataku sambil berkaca kaca)
Ibu menangis..
Ibu : Kenapa mengizinkan ibu nikah lagi nak?
Aku : Supaya ibu ada yang biayain, ibu jangan galak ya kepada anak dan suami ibu nanti (sambil nangis)
Ibu menangis..
Ibu : Iya nak, terima kasih ya
Akhirnya kami menutup telpon
Beberapa bulan kemudian...
Acara pernikahan ibuku berjalan dengan lancar, Alhamdulillah ibuku mendapatkan suami in shaa Allah yang lebih baik daripada ayah, aku ikut senang dan bahagia. Suami ibuku memperlakukan aku seperti anaknya sendiri. Aku selalu berdoa untuk kebahagiaan keluargaku, baik orang tua,kakak, dan diriku sendiri.
Terima kasih untuk diriku yang sudah kuat sampai saat ini, dan aku pribadi sejujurnya merasa gagal untuk menyatukan kembali kedua orang tuaku, tapi inilah takdir Tuhan, apapun yang terjadi sudah menjadi kehendak-Nya.