Kebanyakan orang bersedih dan bahkan sampai menangis ketika acara perpisahan sekolah. Lalu, mengapa aku merasa biasa saja?
Semua berawal ketika aku menginjak bangku kelas 3 sekolah dasar. Waktu itu, aku dibuli satu kelas tepatnya semua teman-ah! entah bisa disebut teman atau tidak- sekelas membuliku. Alasannya? Hanya karena aku salah berbicara sedikit saja! Sedikit membuat sakit hati seseorang lalu dibalas dengan ejekan kepadaku dilanjut dengan yang lainnya satu demi satu membahas kesalahanku di masa lalu, dari satu orang ke orang yang lain bertambah dan berakhir dengan semua orang di kelasku. Aku menangis, tapi mereka malah lebih asik lagi membuliku. Bahkan kerudungku sudah terlepas, itu karena mereka. Tidak hanya mengejek, mereka bahkan menarik bajuku, juga mendorongku entah laki-laki ataupun perempuan semua membuliku. Sampai aku dibawa ke kantor guru.
Kejadian itu sangat membekas di ingatan ku. Bahkan kini aku berubah, aku mengabaikan siapa saja yang mencoba mengejekku, mencelaku, membuliku sampai mereka bosan dan berhenti mencari perhatian, berhenti memprovokasiku.
Kini aku menjadi gadis pendiam, tidak suka berteman, dan berbicara seperlunya. Nilaiku di sekolah meningkat, bahkan aku meraih peringkat 2 di kelas 6 semester 2, menuju kelulusanku.
Lalu aku meraih juara 2 nilai UN se-kabupaten di SMP. Dan kini aku SMK, menemukan keajaiban.
Saat aku pulang sekolah, aku entah bagiamana tersesat. Ini tidak seperti biasanya. Padahal aku berjalan melalui jalan yang biasanya aku lewati. Tapi aku merasa jalan ini tak ada habisnya. Aku melihat jam tanganku ini sudah 10 menit aku berjalan, biasanya aku bisa sampai rumah hanya dalam 5 menit. Tapi kini bahkan aku tidak tau ini berada di mana.
Ketika aku mendongak aku melihat langit berwarna merah? "Ha? Kok merah?" aneh! Meskipun senja biasanya langit tidak sampai semerah ini. Ini merah darah!
Swuuus~
Angin berhembus membuat bulu kudukku merinding. Aku alihkan pandanganku ke sekitar. Lalu aku melihat sebuah pondok, aku pun masuk. Tak disangka tampilan luar yang kumuh, kotor, rusak, di dalamnya malah terlihat mewah! Ini seperti istana! Bahkan banyak barang yang terbuat dari emas. Emas asli!
"Hei nak! Hati-hati Jangan mengambil barang yang bukan milikmu!" Suara seorang nenek tua terdengar. Aku merinding, "Suara ini sangat menakutkan." gumamku.
Di tengah rasa takutku, aku menoleh dan melihat seorang nenek-nenek berjalan. Tampilannya yang kukira menakutkan justru malah menakjubkan, dia mengenakan pakaian kerajaan. "Apakah dia dulunya anggota kerajaan?" batinku.
"M-maaf Nek, aku hanya tersesat. Dan masuk ke sini tanpa sengaja. Aku tidak akan mengambil apapun di sini." ujarku dengan terbata, masih ketakutan sekaligus gugup. "Apakah di akan menghukumnya karena masuk sembarangan?"
Tanpa terduga nenek itu malah tertawa. "Hahaha! Nak, jangan khawatir nenek hanya memperingatkan saja kok. Sini, -nenek itu duduk di kursi emas dan melembabkan tangan padaku- duduk di samping nenek." Nenek itu tertawa dan mengajakku duduk di sampingnya (kursi) sambil tersenyum.
Mendengar itu, aku mau tak mau duduk. Takut membuatnya tak senang. "Jangan takut Nak, kita keluarga -apa?- tidak mungkin nenek menyakitimu. Maaf ya nenek membawamu tiba-tiba. Pasti kamu terkejut. -hm?- Nenek adalah pemilik istana kecil ini, dan kamu adalah keturunan nenek yang ke 100 yang akan mewarisi semua ini."
Benarkah? Kenapa bisa? Jika memang aku keturunan yang ke-100 nya bukankah normalnya dia sudah tiada? Kalau begitu berapa usia nenek ini? "Kenapa aku? Dan bagaimana bisa nenek membawaku kemari?"
"Itu rahasia, sayang. Nanti juga kamu mengetahuinya setelah semua ini menjadi milikmu. Kemarikan tanganmu, biar nenek mewariskannya." Nenek itu mengulurkan tangannya, dan aku pun mengulurkan tanganku untuk digenggamnya. Aku masih tak berani percaya ini terjadi padaku. Sebenarnya banyak hal yang ingin aku tanyakan padanya. Tapi semua terasa sangat cepat, setelah aku menjulurkan tanganku nenek itu menggenggamnya dan sinar yang sangat menyilaukan membuatku tak sadar.
Saat aku membuka mataku, aku sudah ada di kamarku. "Sayang kamu sudah bangun." ucap Ibuku yang sedang duduk di sampingku. Aku di kamar, tepatnya di kasur dan ibu sedang uduk di sisi kasur. Nampak raut khawatir di muka ibu, aku pun menggenggam tangannya. "Aku tidak apa-apa Ibu." ujarku sambil tersenyum.
"Tidak apa-apa bagiamana, ibu khawatir sayang. Kamu sudah tidur selama 20 jam, itu tidak normal sayang. Kamu pulang tanpa menyapa ibu bahkan tidak menjawab sapaan ibu. Langsung kekamar dan tidur, kau bahkan tidak makan. Bahkan kamu mengunci pintu kamar." ucap ibu khawatir.
"Maaf, Bu." ucapku tertunduk, 'ternyata sampai seperti itu.'
***
Hari-hari berlalu seperti biasa, hanya saja kini aku tidak lagi merasa membosankan. Karena sekarang setiap aku pergi dan pulang sekolah, aku bisa terbang dengan bebas karena ketika aku mengaktifkan sayapku aku tidak terlihat. Dan aku tidak lagi harus berjalan kaki ke rumah. Aku pertama-tama mengambil jalan memutar ke jalan yang sepi.
Aku bahagia. Kini aku lebih sering tersenyum, bahkan di sekolah aku menjadi seramah dulu sebelum kejadian pembulian.
***
Dah Tamat