" Ya Allah, jujur kalo nanti udah SMA aku ingin hidup santai menikmati masa sekolah seperti yang lain. Aku lelah!" Batin Sheyla merasa pusing sendiri menghapal pelajaran yang akan diujikan besok.
Mana materinya sulit lagi! Gimana caranya bisa paham dalam waktu semalam? Gak lucukan kalau nilainya sampe rendah? Bisa malu atuh.
................
"Woy Bila! Lo mau curang ye? Pake jimat segala. Emangnya Lo ga ngehapal semalam?" Ucap seorang cowok bertubuh tinggi memergoki orang disampingnya yang tentu saja sedang menyalin seluruh jawaban ujian bestienya dari sift 1. Ga ngotax emang.
Nabila mendelikkan matanya. Enak aja nih anak ngatain dia padahal akhirnya nyontek jugakan? Dasar ga tahu malu.
"Lo ngatain gue untuk ngehina gue ato mau jawabannya?" Fix, pasti minta contekan.
Dan betul, si Irfan nyengir sambil memperlihatkan deretan giginya yang putih bak sinar senter. Ultimately, ga susah mikirin jawaban.
"Tuhan, gue bersyukur punya teman pekaan kayak dia! Terimakasih ya Allah." Teriak cowok tersebut yang mengundang perhatian seluruh mata di kelas, termasuk Sheyla yang baru saja sampai.
"Napa sih gue harus kenal ama orang kaya dia? Mana berisik, alay lagi! Untung ganteng. Kalo ga, udah gue pecat sebagai teman." Nabila hanya bisa mengurut dadanya. Ya mau bagaimana lagi?
"Irfan, kalo Lo teriak gue ga akan ngasih nih contekan ama lo, do you understand?" Ujarnya dengan suara rendah supaya ga jadi pusat perhatian.
"Oghey, Lo tenang aja Bil! Apapun gue lakukan demi ini." Celetuknya sambil menyalin dengan ligat.
"Fan, Lo gila ye? Lo serius ngintip tuh jimat pas ujian? Ga takut ketahuan? Bisa habis Lo nanti." Sheyla berkacak pinggang disamping meja Irfan dengan raut wajah yang sulit diartikan.
"Kepada anak rajin, anak pinter diharap diem dulu! Saya sebagai seorang Irfan ingin mengerjakan proyek yang harus selesai dalam menit ini juga. So, no sound."
Waw, hebat nih anak! Udah hasil ujian ga murni keringat sendiri, nyuruh orang diem lagi. Huft!
Sheyla menyipitkan matanya seperti perempuan yang tengah curiga.
"Ada-ada aja lo. Yang penting kalo nilai lo - lo pada sampe diatas gue, gue ga terima yah! Gue bakal bilang Ama guru kalo kalian ga jujur ngerjain ujian ini."
"Terserah!" Irfan tampak tak terlalu peduli. Yang penting, sekarang dia udah punya jawaban cadangan kalau lembar jawabannya kosong. Lumayan kan buat nambah nilai?
Bel tanda masuk sudah berbunyi. Artinya, ujian akan segera dimulai dan para murid tidak bisa lagi menghapal atau semacamnya. SMP itu begitu on time sehingga mau tak mau para siswa-siswi disana harus disiplin.
"Heh, Lo ngapain disini juga? Ga denger bel udah bunyi?" Sepertinya Sheyla akan terus marah sampai ujian selesai akibat perbuatan Irfan.
Cowok itu menahan tawanya melihat tampang Sheyla.
"Ga, karena telinga gue hanya bisa mendengar setiap kemarahan yang keluar dari mulut lo. Hahaha!"
"Lo...." Ucapan gadis itu terhenti karena guru pengawas sudah masuk kedalam lokal. Tentu saja ia tak mau terlihat buruk di mata guru.
"Kali ini Lo selamat. Lain kali gue ga akan ngelepasin lo. CAMKAN itu!" Ancamnya yang membuat cowok tersebut bergidik ngeri.
....
"Yeay akhirnya ujian dah siap." Sorak penghuni kelas lX.B riang. Mereka benar-benar semangat dengan berakhirnya USBN maka berakhirlah penderitaan yang dialaminya. Mungkin Manja jadi penuh oleh siswa SMP yang membeli Boba.
"Ca, gue nebeng ama lo ya." Pinta Sheyla pada teman karibnya yang dekat sejak kelas VII.
"Hmm, maaf ya El. Tapi gue udah buat janji ma temen. Lain kali aja ya." Bujuknya, berharap Sheyla mengerti.
"Ooh, oke. Ga papa, sans aja."
Kelas terasa begitu sunyi. Hanya Sheyla seorang yang tinggal didalam. Sedangkan yang lain sudah berhura sana-sini mendinginkan kepala yang sempat berapi akibat soal ujian. Dahlah! Yang penting ujian dah siap!
Gadis manis itu berjalan melewati gerbang sekolah. Ia hanya melihat beberapa orang saja disana. Lagipun itu hanya gara-gara mereka yang mengisi perutnya masing-masing.
"Hadeh, nih kadang angkot nyebelin juga ye? Kalo ditunggu malah ga ada yang lewat. Kan, ini yang aku benci. Bosan dah nunggu mereka, tapi untung aja bawa hp. Kalo ga, ga tau dah gimana nih otak." Ia begitu kesal. Rencana yang begitu matang untuk pulang cepat malah kandas gegara temannya buat janji dengan yang lain.
Tak lama duduk di jenjang tempat les, Sheyla mendengar suara orang. Makin lama terdengar semakin jelas dan begitu familiar ditelinganya hingga membuatnya memutuskan untuk sembunyi.
"Ca, Lo bukannya pergi ama Sheyla tadi pagi? Terus...."
"Iya, tapi dia pulang naik angkot. Kita jadi pergikan?" Tanya Risa antusias. Seperti ia begitu semangat hari ini.
Sheyla yang sembunyi cepat bertindak. Ia mengambil beberapa gambar. Mungkin saja ini perlukan?
Ia benar-benar kecewa. Inikah balasan atas semua kebaikannya? Mengapa dia merahasiakan hal sebesar ini dari Sheyla? Apakah begitu sedikitnya rasa percaya Risa padanya?
Sheyla baru sadar kalau dia adalah teman yang tak dianggap. Bagaikan habis manis sepah dibuang. Akan dicampakkan ketika sudah tak berguna lagi.
Padahal disaat orang-orang mengucilkannya dari pergaulan, hanya Sheyla seorang yang mau berteman dengannya. Sheyla orang yang terus bersamanya. Sheyla yang selalu membantah isu-isu buruk mengenainya. Dan apa ini? Mengapa Risa tega melakukannya? Yang jadi masalahnya mengapa tidak jujur saja?
Tak bisa dipungkiri beribu pertanyaan yang terlintas dalam otak Sheyla. Ia terus memandang dua sejoli itu dari kejauhan.
"Oke fine, Lo harus tenang! Untung selama ini tak ada kerugian yang Lo dapat saat berteman dengannya. Ayolah, jangan Lo sedih Kil!".Sheyla menunjukkan smirknya.
"Dan sekarang permainan dimulai!"
....
Ini adalah malam Minggu. Malam berarti bagi mereka yang beruwuwan. Tapi tidak bagi cewek yang satu ini, ia geli dengan hal-hal seperti itu. Sungguh menjijikkan.
Entah mengapa, Sheyla seakan mati rasa. Sama sekali tak tertarik dengan sesuatu umum yang dialami oleh para ABG.
"Untung aja gue nyempetin diri buat beli kartu baru. Dengan ini rencana gue bisa lancar." Sheyla ngechat Risa dengan menyamar sebagai orang lain. Ia berharap orang yang ia anggap teman itu tidak pernah berpikir sampai kesini.
Risa
P
Save
?
Raya
Ok
Tq
Tak lama kemudian, muncul strory WA dari Risa. Itu membuat Sheyla semakin yakin kalau dirinya selama ini selalu diprivatkan. Buktinya, status WhatsApp nya terlihat di hp Sheyla yang lain.
Risa
Wah,, pada dimana nih?
Cieee,, itu Tegar ya?
Manja
Y
Sheyla tersenyum sedih, meringis melihat ketika temannya jujur pada orang lain ketimbang dirinya.
"Gue ga nyangka Lo bakalan kaya gini Sa. Lo lebih jujur pada orang lain ketimbang gue. Jadi selama ini Lo ga pernah percaya Ama gue?"
이상한 진구
Foto
Foto
Foto
Foto
Foto
Foto
Foto
Saya kecewa dengan anda Risa!!
Gw ga cemburu tapi gue sedih lo berubah
Lo sembunyiin hal sebesar ini dari gw?? Lo ga pikir gimana sakitnya hati gw?
El,, itu ga benar
Dengerin penjelasan aku dulu
Ga usah dijelasin lagi,, gw paham kok
El,, tunggu dulu!! kamu salah paham
Dengerin penjelasan aku dulu
Sorry,,
i haven't been able to be a good friend to you
Tenang,, gw g akan membenci lo kok
Gw akan terus mendoakan yg terbaik buat lo
El...
Sorry my friend
Anda telah memblokir kontak ini.
Setelah hampir satu jam saling chat, akhirnya Sheyla mem-block kontak Risa. Ia tak peduli dengan apa yang akan dijelaskan oleh cewek tersebut. Yang penting siapa yang memulai dia yang akan menanggung.
Saat ini Sheyla hanya tersenyum paksa. Sadis emang kisah pertemanan mereka.
Rupanya benar kata ibunya, bahwa rasa akan menghancurkan segala yang ada di depannya. Ternyata cinta tak selalu indah. Rasa adalah penghancur persahabatan yang sudah lama dijalin dan langsung menghilang dalam sekejap mata.
"Huft udahlah! Mendingan gue tidur. Ga guna juga gue sedih. Ntar dikira sadgirl lagi."
"Lagi pula gue juga ga salah. Jadi, ga ada alasan untuk nyesel. Semoga esok hari yang baik buat gue."
Kesimpulannya, dalam suatu hubungan harus dilandasi dengan kejujuran.
Bahkan kesetiaan dan saling percaya sangatlah berpengaruh untuk tahannya hubungan.