Biasanya kelas MIA terkenal dengan anaknya yang cerdas, dan pintar. Tetapi tidak dengan kelas X MIA 2, SMA Tunas Bangsa. Siapapun yang menjadi murid kelas ini nilainya pasti di bawah rata", sekalipun ada, pasti beberapa hari kemudian akan mati dengan mengenaskan. Semua itu berawal dari kutukan yang diucapkan salah satu siswa yang mati mengenaskan. Ia bernama Lina.
Inilah awal dari cerita yang tragis...
" guys...guys..., kita kayaknya punya temen baru deh." kata Nabila yang masuk kelas dengan tergesa-gesa
" kata siapa kamu? " jawab Yopi dengan penasaran
" aku tadi liat langsung kok! Tadi aku liat ada anak perempuan jalan di samping Bu Rika. Aku nggak pernah liat dia disini, jelas dia murid baru"
Tidak lama kemudian Bu Rika yang sekaligus walikelas mereka masuk dengan murid perempuan di samping nya.
" Selamat pagi anak-anak, hari ini kita punya teman baru. Dia baru pindah dari Surabaya. Ayo kamu sekarang perkenalkan diri."
" Selamat pagi teman-teman! Perkenalkan nama aku Maulina Zulfa, panggil aja aku Lina. Aku baru pindah dari Surabaya. Semoga kalian kedepannya bisa berteman baik dengan aku."
setelah berkenalan Lina duduk di bangku dan mengikuti pelajaran. Setelah jam pelajaran berlangsung, semua murid kelas ini datang di bangku Lina untuk berkenalan, terkecuali Yunia.
" Yun..kamu nggak kesini? sini ikutan nimbrung bareng kita, ada murid baru juga" tanya Yopi
" Nggak mau, nggak mood" jawab Yunia dengan wajah dinginnya
"Hihh si Yunia. Eh tapi kamu jangan takut sama dia, dia sebenernya orang nya baik tapi sikap nya aja yang cuek dan super dingin, sampai-sampai di juluki ratu es"
"Ohh gitu, nggak papa kok nanti juga akrab sendiri" jawab Lina
Sewaktu istirahat dan jam pelajaran Lina mudah akrab dengan teman nya terlebih lagi dengan Yopi, tetapi tidak dengan Yunia.
Kring...kring... bek berbunyi menandakan waktu pulang tiba. Yopi yang berjalan dari kelas menuruni anak tangga tiba-tiba di kejutkan dengan Yunia yang tiba-tiba di depannya.
" Kenapa kamu deket banget sama anak baru itu."
" Yunia! hampir jantungan nih aku, ngagetin aja. Kamu tadi tanya aku kenapa deket sama Lina? Dia kan murid baru tentu aku harus ngajak dia ngobrol biar nggak canggung, lagipula bangkunya kan bersebelahan sama aku. Eh tapi bentar- bentar, sejak kapan seorang Yunia tanya kayak gini? Yunia yang aku kenal kan orang nya nggak peduli banget, super cuek, bahkan nggak pernah nanya-nanya kayak gini. Jangan-jangan kamu naksir aku ya?" ledek Yopi ke Yunia
" Bodoh. Siapa juga yang naksir kamu."
" Canda... serius amat sih."
" Aku beri tahu kamu ya, jangan deket-deket sama anak baru itu. Dia jahat, pembunuh berdarah dingin, psikopat. Aku lihat dia memiliki aura gelap."
" Kamu salah menerawang kali. Walau kamu punya indera keenam bisa aja kan meleset ramalanya. Lagian gadis sebaik, dan seceria Lina jadi psikopat, nggak mungkin banget."
"Kamu lihat dia dari luarnya aja, tapi dalemnya terdapat jiwa pembunuh! Tunggu aja beberapa hari lagi, sebentar lagi dia akan melancarkan rencananya." setelah mengatakan itu Yunia pergi meninggalkan Yopi. Yopi yang tidak menghiraukan perkataan Yunia juga langsung pergi tanpa memikirkan perkataan Yunia tadi.
2 bulan sudah berlalu, murid kelas ini yang awalnya 36 berkurang menjadi 20, sebanyak 16 siswa mati karena gantung diri. Walau hari nya berbeda murid yang mati memiliki kasus yang sama. Mati dengan cara gantung diri dan memegang surat yang berisi tidak kuat mengikuti pelajaran yang ada di kelas ini. Hal ini seperti membenarkan perkataan Yunia pada waktu itu.
Hal ini membuat Yopi teringat dengan ucapan Yunia pada waktu itu.
" Apa benar yang di katakan Yunia pada waktu itu? Tidak- tidak, murid-murid mati karena gantung diri tidak di bunuh, tentu bukan karena Lina." bisiknya di dalam hati
"Kamu masih menyangkalnya?" tiba-tiba Yunia bicara yang entah datang dari mana.
"Uhuk..uhuk..uhuk.., kau ini aku hampir mati tersedak gara-gara kau. Tiba-tiba datang seperti hantu."
"Gitu aja mau mati" jawab Yunia tanpa rasa salah
"Jelas lah mau mati, nggak ada akhlak banget lo"
" Yaudah maap-maap. Tapi kamu memang sedang memikirkan perkataan ku yang waktu itu bukan?"
" Enggak kok, perkataan kamu yang mana aku nggak inget."
" Nggak perlu nyangkal. Lagian yang aku omongin bener kan. Selama 2 bulan ini ada 16 temen sekelas kita yang mati. Itu pasti gara-gara ulah Lina si psikopat itu." Kata yunia dengan geram
"Tentu tidak ada hubungannya dengan Lina, dua itu murid biasa sama seperti kita."
" Jelas ada hubungannya, mana mungkin 16 siswa mati tragis dengan cara yang sama, dan itu semua terjadi setelah dia pindah ke sini." Bentak Yunia kepada Yopi
" Sssttt..... jangan keras-keras nanti kalo kedengeran orang bisa jadi masalah!"
Lalu Yunia menarik nafasnya dalam-dalam dan menenangkan diri.
"Yun.. Lina itu sama sekali nggak ada hubungannya sama kematian ini. Lagipula kalo dia pelakunya, kenapa dia nggak bunuh aku duluan? Aku kan temen deketnya." Kata Yopi sambil memegang tangan Yunia untuk menenangkannya
lalu Yunia meghempas tangan Yopi, dan mengatakan...
"Terserah kamu aja deh." Lalu Yunia berdiri dan meninggalkan Yopi. Tapi tiba-tiba Yunia berhenti dan berkata " Dia nggak bunuh kamu duluan mungkin karena dia punya perasaan ke kamu. Tapi, lihat aja selanjutnya yang akan terjadi."Lalu Yunia berjalan meninggalkan Yopi.
Seketika Yopi terdiam dan memikirkan perkataan Yunia tadi.
2 Minggu kemudian 14 murid karna bunuh diri.Kali ini murid-murid bunuh diri dengan melukai pergelangan tangannya dengan pisau sampai urat nadinya terputus. Hampir sama dengan kasus sebelumnya, murid yang bunuh diri memegang surat yang tertulis bahwa tidak kuat menerima pelajaran yang ada di kelas MIA 2 ini.
" Guys.., nggak kerasa ya kelas ini sudah sepi tak berpenghuni." kata Rosyid
" Iya, padahal kayak baru kemarin kita kenalan, lalu dalam waktu yang sangat singkat berpisah untuk selamanya." ujar Rahmat
"Aku jadi takut kalau setelah ini aku yang menjadi korban selanjutnya." kata Dini dengan takut
"Jangan takut kita nggak akan kenapa-kenapa." ujar Yopi menenangkan Dini.
" Iya, lagipula teman-teman kita itu mati karna tidak kuat mengikuti pelajaran di kelas ini, jadi selagi kita masih mampu mengikuti pelajaran ini tidak perlu takut." kata Lina dengan tersenyum manis.
" jangan takut? siapa tau murid-murid yang mati itu bukan bunuh diri, melainkan ada yang bunuh mereka lalu si pelaku membuat seolah-olah mereka itu bunuh diri." kata Yunia dengan memandang Lina dengan tatapan yang tajam.
" Yun.. apa yang kamu maksud dari kata-kata mu barusan? " tanya Rosyid penasaran
" Kalian pikir aja sendiri, jika kalian peka." lalu dia meninggal kan teman-teman nya untuk pulang.
Waktu di lantai bawah tiba-tiba Rosyid, Rahmat, Dini memanggil Yunia dan menanyainya tentang kata-kata nya tadi.
" Yun sebenarnya apa yang kau maksud tadi waktu di kelas? siapa pembunuh yang kau maksud?" tanya Rosyid penasaran.
" Baiklah, tetapi entah kalian percaya atau tidak, itu terserah kalian, aku merasa bahwa Lina adalah dalang dari semua pembunuhan ini, dia membunuh semua murid kelas kita lalu menyabotase kejadian sehingga seolah-olah mereka mati bunuh diri. Sebelumnya aku sudah menceritakan ini kepada Yopi, tetapi dia tidak percaya. Sekarang terserah kalian saja percaya atau tidak."
" Kamu tahu darimana kalau Lina dalang dari semua ini?" tanya Dini
" Iya kalau kamu salah tuduh jadi bahaya." sahut Rahmat
" Sebelumnya aku merasakan dia memiliki aura gelap. Laku aku pikir, aku hanya salah prediksi. Ternyata benar prediksi ku dia memang seorang psikopat.Aku melihatnya sendiri, waktu itu saat pulang sekolah. Awalnya aku ingin mengambil jurnal yang ketinggalan di kelas, tetapi tidak ku duga Lina membunuh salah satu teman kita dengan mencekik lehernya. Lalu ketika murid itu sudah mati dia memasangkan tali di leher teman kita lalu menggantungnya. Dia juga menulis surat lalu menaruh di genggaman teman kita yang sudah mati itu. Dia membuat seolah-olah mereka bunuh diri, padahal dia pelakunya." ujar Yunia menjelaskan
"Iya aku hampir lupa, sehari sebelum ada kasus gantung diri ini, aku bertemu Lina di toko membelei tali sebanyak 3 gulungan. Saat aku tanyai katanya itu untuk pembangunan di rumahnya." kata Rosyid
" Bohong! Tidak ada pembangunan di rumahnya, setiap hari aku lewat depan rumahnya tetapi tidak ada pembangunan. Dia mengelabuhi kita untuk melancarkan rencananya." sahut Yunia
" Ada apa ini? Siapa yang bohong? " tiba-tiba Yopi datang menanyakan apa yang terjadi.
" Yop... ternyata kasus bunuh diri temen kita di kelas itu dalangnya adalah Lina. Lina yang bunuh mereka semua." kata Rosyid menjelaskan ke Yopi.
" Jangan bicara sembarang! Apa yang kalian maksud? Lina tidak mungkin membunuh teman-teman kita." jawab Yopi yang masih tidak percaya.
"Ini beneran yop.., Yunia lihat sendiri kalo Lina yang bunuh temen-temen kita semua, dan juga Rosyid liat Lina beli tali 3 gulungan katanya untuk pembangunan di rumahnya, tetapi padahal nggak ada pembangunan di rumahnya. Itu kan berarti untung nge gantung temen-temen kita." sahut Dini
"Jangan tuduh orang berdasarkan tebakan kita, lagipula kita tidak punya bukti." jawab Yopi
" Kalau kamu ingin bukti ayo, sekarang kita buktikan, dia sekarang ada di kelas." kata Yunia
" Baiklah ayo kita buktikan." kata Yopi
Lalu mereka berlima menuju kelas mereka. Sesampainya di depan kelas mereka merencanakan sesuatu. Lalu mereka menyuruh Dini untuk masuk duluan. Lalu sisanya menunggu di luar kelas
"Lin kamu nggak pulang?" tanya Dini dengan menahan rasa takut.
"Aku lagi nunggu ojol aku nih."
"Tumben kamu kok naik ojol?"
" Iya papah aku, katanya ada meeting."
Tiba-tiba Lina mengeluarkan pisau dari dalam tasnya. Hal itu membuat Dini merinding takut setengah mati.
" Lin ngapain kamu bawa pisau ke sekolah?" tanya Dini merinding
" Oh.. ini? Aku juga nggak tau pisau ini bisa di tas aku. Tolong kamu pegangin sebentar Dinn."
" Eh...eh.. eee.. iya-iya." ketika menerima pisau dari Lina tangan Dini bergetar hebat dan seluruh tubuhnya merinding.
" Lin.. kok bisa ya pisau ini ada di tas kamu." tanya Dini yang sebenarnya sudah takut setengah mati
" Aku juga nggak tau, mungkin aku lupa ngeluarinnya, kemarin aku kan main ini sama temen-temen." jawab Lina
" Haa??? mainn??? sama pisau ini??? main apaan???" tanya Dini yang merinding.
" Iya aku main kemarin sama temen-temen sekelas kita. Mainnya namanya bunuh-bunuhan. Tapi mereka semua kalah jadi aku bunuh mereka deh.." jawab Lina dengan tertawa menyeramkan
" Ehh Dinn ayok kita main ini, yang kalah harus mati di bunuh ya, he.. he.. he.." Kata Lina dengan tertawa menyeramkan, dia pelan-pelan maju mendekati dini.
" Ha?? kamu sudah gila ya?? ini itu pisau tau!!" Dini bergetaran. Dia melihat Lina yang berjalan ke arahnya, dia pun mundur pelan-pelan.
" Emangnya kenapa kalau pisau? Seru tau main pisau, apalagi kalo udah bunuh orang. Lagian pisau nya kan kamu pegang jadi nggak usah takut." Lina tetua maju ke arah Dini.
" Jangan maju lagi, sekali kamu maju lagi aku akan bunuh kamu." Kata Dini yang takut, mundur pelan-pelan dan menodongkan pisau ke arah Lina.
"Ha.. ha... ha... Tenang saja sebentar lagi kamu akan bertemu teman-teman mu di sana, pergi yang tenang temanku... ha.. ha..haha..." Lina memegang tangan Dini yang memegang pisau, lalu membalikkan dan menusuk tubuh Dini.
"Arrrgghhhhh.........." Teriakan Dini, membuat Yunia,Yopi, Rosyid, dan Rahmat yang dari tadi menyaksikan semua kejadian di luar kelas menjadi merinding.
" Dini................." Teriak Yunia, lalu dia berlari menghampiri mayat dini yang mengenaskan.
" Kamu.... Kamu memang kejam, psikopat, kenapa kamu bunuh semua murid kelas ini?" Bentak Yunia kepada Lina karena geram kepadanya
" Ya ampun... ternyata ada ratu es, sejak kapan kamu datang? sebenarnya aku ingin bunuh kamu dulu tapi temen kamu yang satu ini memberikan nyawanya kepadaku jadi dia duluan deh. Sabar ya antri bentar lagi kamu juga nyusul temen-temen kamu ini. He.. he... he..." Kata Lina, lalu dia mencabut pisau yang tertancap di tubuh Dini dan bersiap, membunuh Yunia.
"Lina!!! hentikan semua ini!!" Kata Yopi.Datanglah Yopi, Rosyid, dan Rahmat.
"Yopi? sejak kapan kamu di sini? ini semua tidak seperti yang kamu kira."
" Aku sudah lihat semuanya, ternyata benar yang dikatakan Yunia. Aku tidak menyangka kamu adalah dalang dari semua pembunuhan ini. Kenapa kamu melakukan semua ini?" tanya Yopi
" Aku... aku melakukan semua ini karena aku benci kelas MIA. Dulu waktu di Surabaya aku ingin masuk jurusan IIS, tetapi papahku memasukkan ku di jurusan MIA. Aku tidak kuat dengan pelajaran di kelas MIA, tetapi papahku menuntut aku menjadi juara kelas. Tiap hari aku belajar siang, malam, tetapi itu sia-sia. Aku tetap tidak bisa menjadi juara kelas, bahkan aku bisa di katakan paling bodoh di kelas ini, karena aku selalu mendapat kan rangking paling bawah sendiri. Itu membuat aku selalu di bully, di kucil kan, aku sudah ceritakan ini kepada papah ku tetapi dia tidak percaya. Hingga suatu hari aku di bully habis-habisan. Lalu papahku memindahkan aku untuk sekolah di sini, yang kebetulan papah ku juga pindah ke luar kota. Awalnya aku kira papah akan mengerti dan memasukkan aku ke jurusan IIS tetapi dia malah memasukkan aku ke kelas MIA. Aku trauma dengan kejadian sebelumnya. Jadi aku memiliki dendam pada kelas MIA. Aku berjanji pada diri ku sendiri akan menghabisi semua yang ada di kelas ini." kata Lina dengan meneteskan air matanya
" Tapi tenang saja sayangku Yopi, kamu tidak akan ku bunuh karna aku mencintaimu. Aku akan menyingkirkan 3 anak ini."
Lalu Lina berjalan ke arah Rosyid dan menusukkan pisaunya ke arah Rosyid. Setelah berhasil membunuh Rosyid dia mengejar Rahmat untuk membunuhnya. Yopi sudah menghalangi Lina dengan mengambil pisau di tangan nya tetapi itu tidak menghalangi Lina untuk membunuh Rahmat. Dia mengambil vas bunga lalu melemparkan ke arah kepala Rahmat, sampai Rahmat kehilangan nyawanya. Darah berceceran mengalir menjadi saksi dari tragedi tragis ini.
" 2 sudah di singkirkan, sekarang tinggal 1 lagi dendam ku akan terbayarkan. Ratu es bersiaplah menyusul teman mu... haha.. ha.. haha..." Lina mengambil pisau yang di pegang Yopi lalu berjalan ke arah Yunia bersiap untuk membunuhnya.
Jlebbbbb........
Duar..duar... hari itu hujan turun sangat lebat, suara petir bergemuruh seakan tau kejahatan yang di lakukan Lina.
" Yopi?? sayangku kenapa kamu di sini? kenapa kamu melindungi gadis!!!"
Ya, ketika Lina mencoba menusukkan pisaunya ke arah Yunia tiba-tiba Yopi datang melindungi Yunia, sehingga dia yang tertusuk.
" Tolong!!! lupakan dendam mu!!! kamu telah membunuh seluruh teman kami demi masa lalumu yang suram. Kami semua tidak bersalah, tetapi kenapa kita semua yang menjadi murid ini menjadi korban mu?Aku mohon setelah ini jangan bunuh Yunia. Cukup aku yang terakhir menjadi korban dari dendam mu. Lepaskan Yunia, karna aku mencintainya."
Seketika Yunia dan Lina terkejut mendengar perkataan Yopi.
"Apa?!! kau menyukainya? bahkan kau juga rela berkorban untuknya!!" Kata Lina terkejut mendengar perkataan Yopi
"Yop.. apa sebenernya yang kamu katakan barusan?!!" tanya Yunia dengan meneteskan air matanya
" Yun... sebenernya aku sejak lama suka sama kamu. Tapi aku selalu nggak berani ngungkapin nya ke kamu. Kamu itu selalu cuek, dingin ke semua orang, tetapi justru itu yang membuat aku tertarik untuk menyukaimu." kata Yopi dengan senyum manis nya.
" Bodoh! sebenernya aku juga suka sama kamu sejak lama. Tapi aku selalu nunggu kamu ngungkapin perasaan ke aku. Aku pikir aku cinta ku akan bertepuk sebelah tangan, tetapi ternyata kau juga mencintai ku. Dan sekarang kamu rela ngorbanin nyawa kamu ke aku."
Yunia tidak mampu menahan tangisnya, air mata yang sudah tidak bisa di tahan lagi, keluar sendirinya.
" Nggak papa, tapi aku seneng ternyata kamu juga sama aku, ternyata cintaku terbalas juga. Sekarang kita sudah saling mengetahui perasaan kita masing-masing aku udah seneng banget. Walau kita akhirnya kita bersatu tetapi akan berpisah lagi untuk selamanya. Tapi nggak papa, kamu harus ngelanjutin hidup kamu, biar aku yang menjadi korban, masa depan kamu masih panjang, siapa tau kamu nemuin orang yang lebih baik dari aku. Tapi kamu jangan lupa ya sama aku. Aku pergi dulu untuk selamanya dada.... i love you......"
Ketika menutup matanya untuk yang terakhir kali, dia meneteskan air mata, yang menandakan bahwa dia sudah ikhlas tiada demi berkorban untuk orang yang dicintainya. Seketika tubuh Yopi sudah tidak bergerak lagi. Dia sudah pergi untuk selamanya.
Berderai air mata Yunia. Dia memeluk mayat Yopi yang berlumuran darah. Seakan dia tidak menyangka bahwa Yopi sudah meninggalkannya untuk selamanya. Cinta yang baru di ungkapkan, baru bersatu, seketika hilang menjauh.
Setelah itu Yunia terdiam lalu mengambil pisau yang tertancap di tubuh Yopi. Dia berjalan ke arah Lina seakan ingin membunuhnya.
" Kamu harus mati!!! kamu sudah membunuh semua temanku dan juga orang yang aku sayangi." Kata Yunia dengan sangat marah.
Melihat Yunia yang sangat marah dengan membawa pisau ditangannya dan sedang berjalan ke arahnya, membuat Lina justru tidak takut. Dia terdiam di tempat seakan rela untuk di bunuh oleh Yunia.
Lalu Yunia menusukkan pisau ke tubu Lina. Seketika Lina tertawa menyeringai dan mengucapkan sumpah serapah.
" Hi..hihi....hehe... walaupun aku sudah kehilangan cintaku, tetapi aku sudah berhasil membunuh seluruh murid di sini. Tetapi aku belum puas karna aku masih belum membunuhmu. Kau sudah merebut cintaku, dan sekarang kau berhasil membunuhku. Aku akan mengutuk kelas ini, agar dendam ku sepenuhnya terpenuhi. Aku bersumpah mulai hari dan seterusnya tidak akan ada yang menjadi murid pintar di sini, sekalipun ada dia akan mati mengenaskan seperti aku dan teman-teman yang lainnya, kelas ini akan terpuruk, terkutuk sepanjang masa. Haha.... ha.. haha...."
Seketika angin berhembus sangat kencang,hujan turun dengan sangat lebat, suara petir yang menggelegar, seolah-olah mengabulkan sumpah serapah yang di katakan Lina.
Sejak hari itu Yunia menjadi anak yang sangat pendiam. Anak yang awalnya masih mau berbicara walaupun sedikit, sekarang sangat jarang bicara, bahkan seperti orang bisu. Terkadang dia juga sering mengunjungi makam Yopi. Ketika mengunjungi makam, air mata yang sangat deras mengalir di pipi gadis cantik ini. Kejadian itu seakan tertancap di dalam pikiran dan juga hatinya, sampai dia tidak bisa menghapus tragedi yang sangat tragis itu walaupun dia sudah berpindah sekolah.
Sampai detik ini sering terdengar suara jeritan dan juga rintihan yang keluar dari kelas ini. Hal ini seperti arwah-arwah korban pembunuhan sadis yang di lakukan Lina menjerit meminta keadilan. Bahkan terkadang nampak arwah Lina yang berjalan di bangku-bangku kelas ini dan tertawa menyeramkan.
END.....
Setelah baca tolong like dan komen nya ya guys, jangan lupa ikuti aku juga...
Thank You...