Dinikahi sirih oleh sepupunya sendiri. Bercerai di usia pernikahan yang masih seumur jagung. Tinggal bersama dengan istri sahnya tapi sebagai pengasuh anaknya sendiri. Inilah kisah Nyata Dyana Dewi dan sepupunya yang tidak di ketahui orang sekali pun itu keluarga dan orang tua mereka sendiri....
Dyana Dewi.. Seorang janda dengan dua orang anak. Ia menjanda karena di tinggal suaminya yang meninggal tiba-tiba. Suaminya meninggal saat kedua anak Dyana masih kecil. Hal yang tak pernah terbayangkan oleh Dyana akan menjanda di usia yang masih muda....
Dyana menikah di usia remajanya,yaitu pada usia 19 tahun. Dimana kebanyakan gadis seusianya masih bersiap dengan mata pelajaran tapi ia sudah berstatus sebagai istri orang...
Dyana tak menyesal akan hal itu. Karena ia percaya sesuatu hal yang ada di dunia ini adalah rencana terbaik yang di berikan Tuhan untuknya. Termasuk menikah di usia muda....
Setelah menjanda begitu lama dan menghidupi kedua anaknya dengan susah payah. Selalu ada omongan-omongan yang terus menghakimi kesendiriannya itu. Ada yang bilang seperti ini,ada juga ia harus seperti itu. Seperti mereka begitu tahu apa yang di inginkan Dyana selama ini...
"Aku akan menikah,tapi tidak untuk sengsara lahir batin. Jika aku menikah hanya karena untuk menutup mulut orang yang menggunjingkanku. Maka lebih baik aku sendirian saja. Aku tak ingin menikah jika itu membuat kehidupanku menjadi tak tenang dan memicu masalah-masalah lainnya. Sedangkan masalahku sehari-hari saja sudah membuatku pusing!" Ujar Dyana pada seorang wanita yang menyarankannya pada seorang lelaki....
Hal tersebut sudah sering kali ia dengar, namun ia selalu menjawab demikian untuk memuaskan hasrat orang-orang yang penasaran dengan hidupnya. Meski sebenarnya ia tak ingin melakukan hal yang tak ada gunanya itu...
Tiba dimana masa ia sama sekali tak menduga hal yang besar terjadi dalam hidupnya...
Saat Dyana sedang bekerja di Wedding organizer,ia menerima sebuah panggilan masuk dari seorang pria yang ia kenal dengan sangat baik. Dialah Kevin,sepupunya yang juga menjadikannya teman curhat. Karena itu panggilan yang jarang terjadi,Dyana pun mengangkatnya....
"Ya Kev!" Kata Dyana sambil terus mendekor sebuah pelaminan...
"Lu dimana?" Tanya Orang di seberang teleponnya...
"Gue di ibukota! Kenapa?" Tanya Dyana masih sibuk mendekor...
"Lu mau ga jadi pengasuh?" Tanya Kevin tiba-tiba...
"Pengasuh? Anak siapa?" Tanya Dyana kembali...
"Anak guelah!" Jawab Kevin seadanya...
"Lah...Emang bini lu kemana?" Tanya Dyana yang mulai serius dan melepaskan pekerjaannya...
"Ga usah ngomongin dia deh,dia udah gue cerai. Capek gue!" Jawab Kevin sedikit mengeluhkan istrinya...
"Ah lu selalu gitu! Bilang cerai terus tapi ga kejadian. Udahlah... Gue sibuk ga usah bercanda sama gue!" Jelas Dyana...
"Siapa yang bercanda. Gue serius kali. Gue sama Fanti udah pisah satu bulanan. Dan gue kewalahan untuk ngasuh anak gue. Ibu kan udah berumur agak kesulitan ngasuh anak yang lagi aktiv-aktivnya kaya' Rara sekarang!" Jelas Kevin memastikan...
"Ah gitu! Jadi gimana? Mau cari pengasuh beneran lu?" Tanya Dyana memastikan...
"Iya.. Tapi gue minta sih orang terdekat aja. Yang bisa di percaya. Makanya gue hubungin lu!" Ujar Kevin pelan...
"Bentar gue pikirin dulu!" Jawab Dyana kebingungan...
"Eh...Lu masih sendiri kan?" Tanya Kevin tiba-tiba...
"Iya kenapa?" Tanya Dyana heran...
"Lu mau ga jadi bini gue? Kalau lu mau gue transfer ongkos kirim hari ini dan kita nikah!" Ujar Kevin yang langsung membuat Dyana diam dan tak bisa menjawab apa-apa...
"Dyn... Mau ga?" Tanya Kevin sekali lagi...
"Iya... Iya... Gue mau!" Jawab Dyana yang tanpa sadar mengiyakan permintaan Kevin...
Hari itu juga Kevin mentransfer uang pada Dyana untuk ongkos pulangnya. Dyana pun melakukan apa yang Kevin minta padanya. Meski sebenarnya ia sendiri tak tahu kenapa ia harus melakukan hal seperti ini....
Setelah pulang,Kevin langsung menemui Dyana untuk mencari penghulu yang akan menikahkan mereka. Dyana pun setuju untuk melakukannya...
"Kita nikah sirih dulu sampai semua urusan gue selesai. Dan untuk sementara hal ini kita rahasiakan dulu sama keluarga kita!" Ujar Kevin saat perjalanan menuju ke kediaman penghulu...
Sayangnya setelah sampai pada kediaman sang penghulu. Penghulu tersebut tak mau menikahkan mereka karena mereka masih terikat hubungan keluarga...
Dyana dan Kevin membenarkan hal tersebut. Tapi mereka bukanlah dari keturunan laki-laki,dan dalam agama itu sah-sah saja jika ingin menikah. Namun mungkin hal tersebut menjadi tabu karena mereka adalah kerabat satu nenek dan juga rumah mereka yang berada di satu kompleks...
Akhirnya Kevin dan Dyana pulang dengan tangan kosong. Tapi Kevin dan Dyana belum menyerah. Mereka mencari penghulu yang mau menikahkan mereka...
Setelah menunggu beberapa hari, akhirnya Dyana mendapatkan kabar dari teman yang ia mintai tolong untuk membantunya. Dengan hati yang senang Dyana menemui Kevin di rumahnya dan mengatakan kabar yang baru saja ia dapat....
Tak membuang waktu lama,Kevin dan Dyana pun menemui penghulunya dan pernikahan siri itu pun terjadi...
Setelah menjadi istri Kevin yang merupakan sepupunya. Dyana tinggal di rumah Kevin,dengan alasan sebagai pengasuh anak Kevin pada keluarganya....
Semua keluarga mempercayai hal tersebut karena mereka tahu bahwa Kevin dan Dyana memang cukup dekat meski umur Dyana jauh lebih tua di bandingkan Kevin...
Setelah menjadi seorang istri Dyana menjalani kewajibannya sebagai seorang istri. Ia menyiapkan makanan untuk Kevin. Juga melayani Kevin layaknya para istri pada umumnya. Ia pun menerima nafkah lahir batin dari Kevin...
Hal tersebut berjalan tanpa ada yang mengetahui hubungan di antara mereka. Hingga tiba hal tak terduga datang dan mulai mengusik keberadaan Dyana di rumah itu....
Hari itu... Saat Dyana sedang bermain dengan anak Kevin yang kini menjadi anak tirinya. Ada suara seorang perempuan masuk kedalam rumah. Dyana melihat keluar... Ternyata itu adalah ibu dari anak yang Dyana asuh. Dan juga istri dari suami Dyana...
Dyana masih mengatakan wanita itu istri dari suaminya, karena perceraian mereka belum selesai.
Dyana tersenyum melihat kehadiran wanita itu...
"Fan... Lu balik?" Tanya Dyana bersikap ramah
"Kak... ngapain di sini?" Tanya wanita itu pada Dyana...
"Gue? Gue lagi ngasuh Rara" Jawab Dyana Seadanya...
"Rara kakak yang ngasuhnya ya?" Tanya dia lagi
"Iya.. Kevin sibuk... Jadi dia minta gue yang ngasuhnya!" Jawab Dyana berbohong...
"Dimana dia?" Tanya Fanti pada Dyana...
"Siapa? Kevin ya? Dia masih di pemotongan Fan! Kenapa? Ada apa? Gue telpon deh kalo emang penting!" Kata Dyana cengengesan...
"Ga usah... biar gue aja yang telpon kak!" Jawab Fanti
Dyana kembali pada Rara. Dyana menggendongnya dan membawanya pada Fanti...
"Liat siapa yang datang?" kata Dyana pada Rara...
Rara hanya diam. karena memang saat mereka berpisah Rara masih bayi berumur enam bulan. Dan sekarang Rara sudah mulai berjalan...
Fanti mengambil Rara dalam gendongan Dyana. Namun Rara menolak. Setelah di bujuk akhirnya Rara mau naik kedalam gendongan Fanti...
Dyana bersikap acuh dengan kehadiran Fanti. Fanti sedang bermain dengan Rara. Dyana pun tak memperhatikan keseruan ibu dan anak itu...
Entah apa yang Dyana rasakan,Ia bahkan tak takut jika seandainya Fanti tahu hubungan mereka berdua. Dyana merasa diantara mereka sudah selesai dan ia berhak dengan kehidupan Kevin selanjutnya. Pikirannya adalah,sekali pun mereka bercerai nantinya dan hak asuh Rara jatuh pada Kevin. Fanti tetaplah ibunya,ia berhak mengunjungin anaknya kapan pun ia mau...
Saat Dyana sedang asyik menonton televisi dan Rara masih bermain dengan Fanti. Kevin kembali. Ia melihat kearah Dyana, Dyana hanya tersenyum...
"Ngapain lu disini?" Tanya Kevin pada Fanti...
Fanti berdiri dan menatap Kevin. Dyana yang melihat hal itu menghindari mereka. Dia mengambil Rara dan mengajaknya bermain di teras depan....
Entah apa yang mereka bicarakan,Dyana tak tahu.Dyana pikir mereka akan bertengkar dengan suara yang meninggi. Tapi ternyata mereka bicara baik-baik. Dyana sedikit lega melihatnya. Setidaknya tak ada hal buruk yang harus Rara dengar dari ibu dan ayahnya saat bertengkar...
Karena Dyana sudah memberikan waktu yang cukup pada keduanya. Dyana pun masuk kedalam rumah. Saat itu Rara sudah tertidur. Ia membaringkan Rara di kamar Kevin. Dan ternyata Fanti sudah berbaring di atasnya. Dyana hanya tersenyum melihatnya. Tanpa bicara dan tanpa penolakan sedikit pun terhadap situasi seperti itu...
Dyana keluar menuju ke ruang tengah. Tak ada Kevin di sana. Dyana mencarinya dan ternyata dia sedang makan di dapur...
"Kev... Kenapa dia dikamar?" tanyanya pada Kevin...
"Dia balik lagi!" jawab Kevin ringan...
"Lu Nerima dia lagi?" Tanya Dyana memastikan...
"Ya.. Jangan khawatir. Ini ga akan bertahan lama koq. Percaya sama gue!" Ujar Kevin meyakinkan Dyana
Dyana tak bertanya lagi,Dyana pikir saat ini bukan waktu yang tepat untuk berdebat. Masih ada Fanti di rumah. Dyana pun mengabaikan masalah ini...
Siang berlalu malam menjelang, Dyana kembali ke rumah ibunya. Dan Kevin tetap berada di rumahnya bersama dengan nyonya besar yang baru saja kembali...
Selama itu Dyana tak memikirkan hal yang aneh-aneh terhadap keduanya. Ia bersikap seolah tak terjadi apa-apa hari ini.
Sebelum Dyana tidur,Kevin sempat mengirimi Dyana sebuah pesan melalui WhatsApp...
"Jangan malam-malam tidurnya. Besok kesini ambil Rara!" Kata Kevin padaku melalui pesannya...
"Iya!" Jawab Dyana singkat...
Dan itu berakhir begitu saja tanpa Dyana bertanya lagi padanya bagaimana dengan dirinya. Ia seakan-akan menerima semua hal yang Kevin putuskan pada kami bertiga. Meski dalam hati Dyana menolak,tapi lagi-lagi Dyana hanya bisa menuruti kemauan Kevin saja...
Hari sudah menjelang pagi,Dyana bangun untuk bersiap-siap kerumah Kevin. Setelah ia selesai membersihkan rumah ibunya dan membuatkan sarapan untuk anak-anaknya. Ia pergi kerumah Kevin yang hanya berjarak berapa ratus meter dari rumahnya...
Seperti biasa saat sudah berada di rumah Kevin. Dyana membuatkan sarapan untuk Kevin dan Rara..
Kevin bangun dan tanpa rasa takut,ia mencium pipi Dyana..
"Ish... Apaan sih!" Keluh Dyana pada Kevin..
Kevin hanya tersenyum pada Dyana. Lalu masuk kedalam kamar mandi yang tak jauh dari dapur...
Setelah membuatkan Kevin kopi, Dyana membersihkan rumahnya seperti biasa,sebelum adanya Fanti....
Dan ternyata Kevin tadi malam tidur di ruang tengah dimana tempat kami sering menghabiskan waktu bersama menonton televisi...
Dyana melirik ke kamarnya. Tak ada Fanti ...
"Kemana Fanti?" Tanya Dyana pada Kevin saat dia keluar kamar mandi..
"Pergi ke pemotongan!" Jawab Kevin singkat...
"Lu tidur di depan semalam?" Tanyaku padanya lagi...
"Ya... Kenapa? Lu pikir gue akan sekamar sama Fanti?" Tebak Kevin...
"Kali aja... Kan udah lama ga ketemu,siapa tahu ada yang kangen kan... Mana gue tahu?" Gurau Dyana menggoda Kevin...
Kevin hanya tersenyum kecil pada Dyana.Dyana pun tak menghiraukannya. Ia sibuk dengan urusannya yang menjalankan kewajiban sebagai seorang istri. Kevin pun demikian,Ia tak menjelaskan apa pun padaku. Dyana pun tak bertanya lagi padanya....
Kevin pamit dan kembali mencium Dyana...
"Apaan sih lu? Liat orang ntar!" Elak Dyana...
"Dalam rumah juga! Ga ada yang liat koq!" Jawab Kevin...
"Ya udah pergi sana, nyonyamu sudah menunggu!" Goda Dyana pada Kevin...
"Nyonya di hati gue cuma lu! Jangan macam-macam!" Kata Kevin setengah mengancam Dyana...
Dyana mengabaikannya,ia sudah terbiasa mendengar ancaman seperti itu dari Kevin. Apa lagi saat Dyana hendak pergi keluar selalu kata-kata ancaman yang Kevin keluarkan untuknya...
"Awas lu kalau berani selingkuh! gue tonjok Lu!" Ancam Kevin biasanya...
Lagi-lagi Dyana tak mengindahkan hal tersebut. Ia selalu menganggap hal tersebut hanya gurauan saja. Menurutnya,Kevin adalah pria yang lembut. Sekali pun ia tak pernah kasar pada Dyana. Tapi hal tersebut kebalikan dari yang di alami nyonya besar. Jika bertengkar,sering kali Kevin melayangkan tangan ke tubuh Nyonya besar. Meski begitu Dyana tak pernah takut kalau Kevin akan melakukan hal yang sama dengannya. Ia tahu antara dirinya dan Nyonya besar mempunyai sebuah perbedaan. Dan cara perlakuan Kevin pun berbeda. Ia sangat menjaga perasaan Dyana. Walau akhirnya Dyana dan Kevin berpisah juga...
Siang itu Dyana melihat Fanti sedang keluar kamar dengan baju yang berantakan dan rambut acak-acakan. Dyana yang baru saja pulang dari mentransfer uang kaget melihatnya. Wanita dewasa sudah pasti tahu apa yang terjadi pada Fanti. Namun Fanti acuh saja. Ia melemparkan senyum pada Dyana...
"Udah pulang Kak?" Tanya Fanti pada Dyana...
"Iya!" Jawab Dyana singkat...
Tak lama berselang Kevin pun keluar kamar tidak memakai baju. Dyana masih santai menghadapi situasi itu. Ia masih sempat mengobrol dengan Nyonya besar di ruang tengah...
Saat Dyana pamit hendak pulang,Kevin menyusulnya dan menyelipkan uang padanya...
"Apaan nih?" Kata Dyana datar...
"Untuk jajan anak-anak!" Jawab Kevin...
Dyana mengambil uang tersebut dan memasukkan di tas *Selempang* yang selalu ia bawa kemana-mana. Lalu pergi meninggalkan rumah Kevin tanpa bertanya lagi...
Untuk masalah uang,sebenernya Dyana cukup mampu. Ia tidak terlalu kesulitan untuk hal yang satu ini. Ekonominya cukup baik meski tak bisa di katakan ia kaya,namun untuk makan minum atau biaya hidup anak-anaknya Dyana mampu. Sudah belasan tahun ia menghidupi anaknya sendiri tanpa bantuan orang lain,dan itu baik-baik saja. Kehadiran Kevin hanya pertolongan kecil yang ia terapkan dalam hidup Dyana. Tanpanya,Dyana masih akan tetap berdiri dan makan....
Hari itu berlalu begitu saja. Besoknya saat Dyana kembali ke rumah Kevin,ia melihat Fanti sedang menyuapi Kevin. Dyana masih acuh,ia sibuk bermain dengan Rara...
"Kak,gue capek... Pijitin dong!" Pinta Kevin pada Dyana...
Dyana tak menolak,ia mendekat pada Kevin dan Fanti yang duduk bersebelahan. Dyana memijat kaki Kevin dan Fanti menyuapinya. Entah itu keadaan apa? apa yang sedang terjadi pada ketiga orang itu? Hubungan macam apa sehingga bisa sebegitu tegarnya melihat pasangan bersuap-suapan dengan wanita lain. Tapi percuma,ingin berteriak pun pada siapa. Pernikahan Dyana dan Kevin hanya minoritas orang yang tahu. Meski itu pernikahan sah di mata agama,tetap saja itu sebuah komitmen. Bukankah komitmen pun melibatkan perasaan antar keduanya?..
Dengan alasan itulah di penghujung bulan Agustus Dyana meminta pisah dari Kevin. Awalnya Kevin menolak namun karena dipaksa terus-menerus oleh Dyana akhirnya Kevin mau melakukannya. Ia mentalak Dyana di dapur rumahnya....
"Dek... Maafin Aa' ya.. Aa' terpaksa melakukan ini!" Kata Kevin pada Dyana...
Dyana hanya menganggukkan kepalanya. Ia menerima talak dari Kevin dengan ikhlas. Tak bersedih,tak menangis atau pun terluka dengan perlakuan Kevin padanya. Alasan lain dari kenapa Dyana meminta cerai adalah karena Fanti selalu memperlakukan dia dengan baik. Ia tahu bahwa Fanti masih terlalu muda,terlebih pernikahan mereka terjadi di usia di mana semua orang sedang asyik-asyiknya mencari jati diri. Mungkin itulah yang membuat Fanti sulit di atur dan masih bertingkah layaknya remaja...
"Aa' tenang aja,masalah Rara gue akan tetap merawatnya. Sayang gue ke Rara udah mendarah daging. Jadi ga usah khawatir!" Kata Dyana membahas masalah anak Kevin...
Hari itu semua berjalan seperti biasa. Dyana sering menginap di rumah Kevin tapi hanya menemani Rara tidur di kamarnya. Sementara Kevin dan Fanti tidur di kamar mereka...
Dyana berusaha menghindar dari Kevin saat Kevin mencoba untuk bicara,namun lagi-lagi Kevin selalu melakukan hal yang tak terduga,seperti menyelipkan uang di dalam kantong ayam yang di bawa Dyana. Atau kadang tiba-tiba datang berkunjung hanya sekedar ingin melihat Dyana...
"Lu apaan sih ngikutin gue mulu!" Oceh Dyana pada Kevin..
"Hanya kangen!" Jawab Kevin tanpa ragu...
"Hanya? Hadeeehhh!" Keluh Dyana...
Dyana tak menghiraukan masalah itu lagi,ia merasa semuanya akan berakhir jika Kevin nantinya lelah dengan perlakuan acuh Dyana...
Tak di duga, Bukannya berniat pergi, Kevin kian gencar mengejar Dyana. Kevin lebih perhatian pada Dyana,tak hanya Dyana,tapi juga pada kedua anaknya. Hingga Dyana memasukkan nomor telepon Kevin ke daftar hitam...
Tapi lagi-lagi Kevin tak menyerah,ia selalu datang berkunjung kerumah Dyana. Ia tahu waktu Dyana di rumah sendirian atau melakukan aktivitas lainnya. Kapan Dyana memasak,kapan Dyana mandi dan lain-lainnya. Kevin bahkan menyadap ponsel Dyana,tapi Dyana tak menghiraukan karena ia merasa ia tak berbuat salah...
Lama-kelamaan Dyana geram pada Kevin dan menemui Kevin...
"Berhenti dong bersikap kaya' gini,gue risih. Jangan buat semuanya menjadi sulit. Fanti baik banget sama gue. Uwak juga!" Keluh Dyana...
"Kenapa sih? gue kan ga ngapa-ngapain lu! Santai sajalah!" Jawab Kevin seenaknya..
Dyana tak bicara lagi,Kevin memang tak bisa di ajak bicara. Ia selalu bertingkah semaunya. Dan Dyana pun tak bisa mengeluhkan hal tersebut pada orang lain. Bisa di pastikan bukannya mendapatkan dukungan hal sebaliknya malah akan menyerangnya sendiri...
Pada suatu malam Kevin menelpon Dyana untuk membantunya di pemotongan. Dyana tak bisa menolak,ia hanya mengikuti apa yang di katakan Kevin. Malam itu juga ia pergi ke pemotongan ayam. Tak disangka hal tersebut membuat kecurigaan dari keluarga Kevin. Ibunya Kevin mengunjungi Dyana yang baru saja pulang dari pemotongan ayam...
"Dyn... Ngapain malam-malam keluar kepemotongan?" Tanya Ibunya Kevin yang Dyana panggil Uwak...
"Biasa Wak,Kevin minta tolongin. Jangan mikir yang macam-macam. Lagian ngapain keluar malam-malam kalau bukan karena kerjaan. Mending tidur!" Jawab Dyana seadanya...
Ibunya Kevin tak bertanya lagi. Kevin selalu melakukan hal yang membuat Dyana bertemu dengannya...
Semua hal yang terjadi selalu berakhir begitu saja,baik itu tentang kecurigaan keluarga Kevin atau tentang semua pertanyaan-pertanyaan Dyana pada Kevin...
Entah apa yang di miliki Kevin sehingga Dyana tak bisa menolak semua keinginan Kevin. Bahkan saat Kevin menginginkan tubuhnya pun Dyana menyerahnya pula...
Kadang terbesit sebuah pertanyaan yang ingin Dyana tanyakan pada Kevin,namun selalu ia tahan karena ia rasa ia tak berhak menanyakan pertanyaan semacam itu. Meski ia tahu bahwa posisinya di hidupnya Kevin cukup aman...
Hari-hari berlalu,sudah satu tahun hubungan mereka berlangsung seperti itu. Entah apa yang terbesit di antara keduanya. Tapi semuanya baik-baik saja. Berjalan lancar tanpa ada yang mengetahuinya...
Dyana menerima posisinya yang mungkin bisa di katakan sebagai bahan pelampiasan Kevin. Walau cara Kevin memperlakukannya sangat berbeda jauh dari Fanti,tetap saja... Dyana hanya keinginan Kevin yang tak akan pernah terwujud secara nyata....
Setiap harinya Dyana hanya mengurus Rara anak Kevin dan Fanti.. Kadang kalau ia diperlukan,ia pun membantu Kevin dan Fanti di pemotongannya...
Hari-hari sudah Dyana jalani cukup pelik karena Kevin seperti tak ingin melepaskannya. Meski ia selalu menolak namun saat bertatapan dengan mata Kevin ia pun tak kuasa untuk menolak kehadiran Kevin dalam hidupnya....
Ia tak ingin seperti ini terus,Ia tak ingin kehidupannya di usik terus-menerus oleh Kevin yang selalu menggodanya...
Mengatakan pada Kevin?..
Bukan satu atau dua kali,namun Kevin seperti tak mengindahkan peringatan Dyana itu...
Kevin seperti seekor semut yang mencari gula. Yang selalu ingin tahu di mana keberadaan Dyana dan apa yang sedang ia lakukan...
Entah cara apa lagi yang harus ia lakukan agar Kevin meninggalkannya. Ia sudah tak bisa memikirkan hal tersebut. Ia takut malah akhirnya ini akan berbalik menyerangnya saat ia terus menghindar dari Kevin...
Di sisi lain anak kedua Dyana sudah merasa sangat dekat dengan Kevin. Kevin selalu bertanggung jawab pada anak perempuannya itu. Selalu mengabulkan semua keinginannya apa pun yang ia inginkan. Hal ini pula yang membuat Dyana segan bicara kasar pada Kevin meski dalam hatinya begitu banyak hal yang ingin ia katakan..
Sudah satu tahun setengah semua berjalan seperti itu. Akhirnya semua semua sudah terbiasa dengan cara mereka masing-masing...
Kevin yang selalu mengganggu dan menggoda Dyana atau pun Dyana yang sudah bersikap masa bodoh dengan tingkah Kevin tersebut. Ia enggan mengumpulkan emosinya untuk berdebat dengan Kevin karena semuanya akhirnya akan berakhir begitu saja. Kevin tak akan mengerti apa keinginan Dyana sebenernya...
Hari ini... Pagi-pagi sekali Rara di antarkan Kevin kerumah Dyana. Dyana kaget karena biasanya ia selalu mengunjungi Rara terlebih dahulu namun kini Rara sendiri yang di antarkan oleh Kevin...
"Ada apa? apa dia sakit?" Tanya Dyana terburu-buru pada Kevin...
"Ga tau... Dia rewel dari semalam. Selalu nanyain Lu. Tapi karena malam jadi ga gue antar kesini!" Jawab Kevin seadanya...
"Rara kenapa nyariin bunda? Apa ada yang sakit?" Tanya Dyana pada Rara...
"Bunda... Rara mau tidur sama bunda. Ga mau di rumah. Ga mau sama mama,sama papa!" Rengek Rara...
Dyana langsung menatap Kevin lalu melepaskan pandangannya dan membawa Dyana ke kamarnya...
"Rara bobo di sini ya! bunda ada yang mau di omongin sama Papa Rara!" Ujar Dyana membujuk Rara..
Rara tak pernah membantah perkataan Dyana. Ia selalu menurut pada apa yang di katakan Dyana. Seperti pagi ini,ia hanya memeluk guling saat Dyana melepaskan dirinya dari gendongan Dyana ..
"Eh... Kenapa Rara ga mau sama kalian? Apa Nyonya besar marahin Dia?" Tanya Dyana langsung...
"Ga lah... emang lu pikir gue akan diam aja saat Fanti marahin Rara.. Ga tau kenapa Rara rewel banget. Bawa kedokter deh sama lu. Liat apa dia sakit atau gimana. Kasian gue!" keluh Kevin...
"Ga usah lu kasih tahu gue juga bakal bawa dia kedokter!" Jawab Dyana tajam...
"Ini uangnya... Sisanya ambil aja untuk Diva (anak perempuan Dyana)" Ucap Kevin sambil menyodorkan 5 lembar uang ratusan pada Dyana...
Dyana tak banyak menjawab,ia mengambil uang itu dan kembali ke kamarnya sementara Kevin pun pulang kembali ke rumahnya...
Siang harinya Dyana membawa Rara ke dokter klinik untuk mengetahui apakah Rara sedang sakit. Tapi tak ada hal yang serius selain batuk dan pilek. Rara pun kembali di bawa pulang lagi oleh Dyana...
Karena lelah,Rara sudah tidur selama perjalanan pulang. Saat sampai di rumah Dyana pun langsung membaringkan Rara di kamarnya. Lalu ia bersantai sambil memainkan ponselnya...
Ia melihat-lihat story-story WhatsApp-nya. Tak sengaja ia melihat story Fanti. Sebuah photo dengan testpack dua garis merah di dalamnya..
Dyana tersenyum kecil melihatnya lalu mengomentari photo tersebut...
"Selamat ya Nyonya... Jadi Rara rewel karena ini?" Gurau Dyana dalam pesannya....
Dyana senang karena hubungan Fanti dan Kevin baik-baik saja. Ini kian menguatkan dirinya untuk pergi dari Kevin. Meski saat ini ia tak tahu apa yang akan ia lakukan agar Kevin sepenuhnya meninggalkan dirinya...
Tapi setelah kabar kehamilan Fanti itu,Kevin kian jarang mengunjungi Dyana. Ia hanya datang beberapa kali saat perlu saja. Seperti menjemput atau mengantarkan Rara saja...
Dyana pun tak memperhatikan perilaku yang berubah dari Kevin. Mungkin karena dia tak tertarik atau apa tapi selama ini ia bisa menjalani hari yang baik dengan tanpa atau pun adanya gangguan dari Kevin...
Sampai pada akhirnya Kevin mendatanginya ..
"Sini... gue mau ngomong!" Kata Kevin dengan wajah yang serius...
"Ngomong apaan sih? serius banget?" Tanya Dyana penasaran...
"Lu kan tau Fanti lagi hamil. Dia lagi butuh banget perhatian. Dan tanpa sadar gue pun mulai perhatiin dia. Apa lu ga apa-apa?" Tanya Kevin ragu-ragu...
"Ya ga apa-apalah... Diakan bini lu? dia juga ngandung anak lu. Jadi sewajarnya lah lu perhatiin dia!" Jawab Dyana santai...
"Lu yakin ga apa-apa?" Tanya Kevin sekali lagi...
"Iya ga apa-apa...Santai aja!" Kata Dyana meyakinkan Kevin...
"Ya udah deh kalau begitu jaga Rara baik-baik ya..Gue mau balik ke pemotong!" Kata Kevin bersikap aneh....
"Iya... Ati-ati lu!" Kata Dyana mengingatkan Kevin....
Pembicaraan itu pun hanya sebatas itu. Meski sedikit aneh karena membicarakan hal yang tak penting itu tapi Dyana cukup lega karena akhirnya Kevin bisa kembali pada keluarganya sendiri...
"Mungkin ini awal yang baik. Semoga lu bener-bener bisa sayang lagi sama Fanti, Kev!" Kata Dyana dalam hatinya....
Setelah kehamilan Fanti,Kevin sudah jarang mengunjungi Dyana. Ia terlihat sibuk dengan pekerjaannya. Meski kadang-kadang Dyana tetap membantu Kevin di pemotongan ayam miliknya...
Obrolan mereka pun hanya sebatas obrolan biasa saja. Yang tidak seperti biasanya Kevin selalu menggoda Dyana...
Dyana tak menghiraukan hal tersebut,ia malah lebih senang dengan perubahan Kevin itu. Setidaknya Kevin sudah berada di jalurnya meski ia belum sepenuhnya berada di jalur itu...
Sampai tiba suatu hari Kevin datang tiba-tiba kerumah Dyana...
Dyana yang baru saja menidurkan Rara kaget dengan kedatangan Kevin yang tiba-tiba...
"Kev... Ngapain lu?" Tanya Dyana spontan...
"Kenapa sih kalau gue datangin lu,lu selalu nanyain ini?" Keluh Kevin...
"Ya aneh aja,kan udah lama lu ga kemari kalau bukan karena hal penting. Lah tiba-tiba siang bolong gini lu kemari. Kan gue heran!" Jawab Dyana santai...
"Ya udah anggap aja gue kesini karena hal penting!" Ujar Kevin sekenanya...
"Dasar aneh Lu!" Gerutu Dyana yang langsung berjalan ke dapurnya...
Siang itu,Kevin menghabiskan waktunya di rumah Dyana. Meski itu hanya kunjungan biasa,Dyana menjadi tak enak hati karena Kevin meninggalkan Fanti yang sedang hamil muda...
"Balik lu... Siapa tau Nyonya besar perlu sesuatu! Dia lagi hamil muda,pasti lagi mual-mualnya, lagi-lagi puyengnya tuh. Lu sebagai suami jagain dia!" Kata Dyana menasihati Kevin...
"Lu ngusir gue?" Tanya Kevin memastikan...
"Bukan ngusir,tapi bini itu kalau lagi hamil pengennya di manja-manja sama suaminya!" Jelas Dyana...
"Ntar ah.. Sorean dikit!" Jawab Kevin seadanya...
Dyana hanya bisa menghela nafas panjang karena tingkah Kevin itu. Ia tak bisa memaksanya pulang karena mungkin Kevin sedang bertengkar dengan Fanti. Dyana pun membiarkan Kevin bermain dengan Rara yang sudah bangun tidur. Sementara Dyana sendiri mengerjakan pekerjaan rumahnya tanpa menghiraukan keberadaan Kevin di rumahnya...
Sore pun menjelang, Setelah memandikan Rara, Dyana menyuruh Kevin untuk membawanya pulang. Kevin pun tak membantah lagi. Ia membawa Rara pulang bersamanya...
Setelah hari itu,Kevin tak lagi mengunjungi Dyana. Kadang ia hanya menitipkan makanan dengan seorang kurir untuknya dan juga untuk kedua anaknya. Atau kadang dia memberi anak kedua Dyana uang jajan untuk keperluan sekolahnya. Hanya itu saja. Interaksi pun terjadi hanya beberapa waktu tertentu saja seperti saat Dyana datang untuk menjemput Rara atau Kevin yang mengantarkan Rara kerumahnya...
Jarak Kevin dan Dyana memang perlahan menjauh,tapi Kevin tetap berusaha memenuhi kebutuhan Dyana dan kedua anaknya. Dyana pun tak menolak karena memang Kevin tak langsung memberikannya pada dirinya...
Sampai akhirnya Kevin mengajak Dyana bertemu di luar rumah. Ia mengirim pesan pada Dyana...
"Makan di luar yuk!" Kata Kevin mengajak Dyana...
Dyana berpikir sejenak untuk mengiyakan ajakan Kevin itu...
"Tumben... Ada apaan emang?" Tanya Dyana dalam pesannya...
"Ga... Hanya pengen makan bareng lu aja sambil ada hal yang pengen gue ceritain sama lu!" Balas Kevin...
"Dimana?" Jawab Dyana langsung...
"Tempat biasa!" Balas Kevin lagi...
"Gue kesana 15 menit lagi. Gue mau nidurin Rara dulu!" Jelas Dyana...
"Oke!" Jawab Kevin singkat...
Dyana pun segera menidurkan Rara lalu bersiap-siap menemui Kevin di tempat yang telah di janjikan....
Dyana mengendarai motor untuk menemui Kevin. Sementara Kevin sudah menunggu di pinggir jalan dengan mobilnya...
Mereka masuk kesebuah lesehan dan memesan makanan dan minuman. Dyana pun menyantap makanan yang sudah ia pesan. Setelah selesai mereka pun bicara. Dyana yang memulai pembicaraan karena tak ingin mengulur banyak waktu. Ia takut jika ada orang yang kenal dengan mereka dan berpikiran yang macam-macam tentang mereka berdua...
"Lu mau ngomong apaan?" Tanya Dyana langsung...
"Gini... Gue rasa,gue ga bisa lanjutin hubungan kita!" Kata Kevin tiba-tiba membuat Dyana kaget...
"Hubungan? Jadi selama ini Kevin masih nganggap gue pasangan dia?" Kata Dyana bingung dalam hatinya..
"Maksud lu gimana ya Kev.. Gue masih belum ngerti!" Kata Dyana kebingungan...
"Kita ga bisa sama-sama dalam keadaan yang kayak gini Dyana,Fanti lagi hamil juga. Sedangkan lu ga mau jadi bini kedua gue. Gue ngerasa makin kesini makin dekat lagi sama Fanti. Fanti juga udah banyak yang berubah koq. Jadi karena alasan ini gue pengen kita akhiri hubungan kita ini. Tapi lu tenang aja, untuk biaya. Semuanya gue akan tanggung. Gue akan tetap bertanggung jawab sama lu dan juga anak-anak lu!" Jelas Kevin panjang lebar...
"Tunggu...Tunggu... Oke gue tahu maksud lu! Tapi gue bingung kenapa lu harus ngomongin ini ke gue. Ini bisa lu putuskan sendiri koq. Jangan khawatir tentang gue. Lagian kita ga punya hubungan lagi. Setelah terakhir lu talak gue. Gue udah bebasin lu. Karena gue sadar gue ga mau menjadi orang ketiga dalam hubungan kalian. Kalau lu ngerasa sikap baik gue selama ini sama lu,itu hanya karena menghargai lu sebagai mantan suami juga sebagai kerabat sepupu gue. Ga lebih dari itu koq!" Jelas Dyana...
"Okelah kalau begitu. Gue anggap lu terima keputusan gue ya!" Ucap Kevin memastikan lagi...
"Iya aja dah!" Jawab Dyana mempersingkat waktu...
Percakapan itu pun berakhir dengan perginya Kevin dan Dyana dari lesehan itu...
Setelah percakapan siang itu. Kevin benar-benar menepati janji-janjinya yang ia buat pada Dyana. Ia hanya sesekali mengunjungi Dyana dan anak-anaknya. Tapi ia tetap bertanggung jawab dengan kebutuhan Dyana serta anak-anaknya...
Dyana pun tak menolak lagi. Kevin pun lebih menjaga jarak darinya. Ia lebih hormat Dyana karena ia menganggap Dyana sekarang hanyalah seorang sepupu saja...
Dyana lega karena sekarang semuanya telah berada pada tempat masing-masing. Meski ia kehilangan seroang pria yang memperhatikannya,namun ia tetap mendapatkan hal tersebut dalam wujud lainnya...
Cerita tentang pernikahan mereka pun tak ada yang mengetahuinya hingga saat ini. Semua berjalan baik-baik saja sebagai sebuah keluarga kerabat yang rukun...
TAMAT....