Senja hari itu, dikala sinar mentari mulai memudar. Aku berdiri diam diujung rel kereta. Memikirkan haruskah aku mengakhiri hidupku. Kereta mulai menampakkan dirinya. Seketika aku mencoba mendekatinya. Namun seorang pria yang asing menghentikanku. Aku pun teralih dari tujuan awalku, suaranya yang lantang membiusku. Aku pun menghentikan langkahku menoleh kesosok pria menawan yg menggenggam lenganku. Ia lantas refleks menarikku menjauh. Kamipun saling bertukar pandang. seketika itu akupun langsung tersadar lantas menjauh dari sana.
Malam telah tiba, aku mencoba untuk tidur, namun apalah dayaku setiap aku tidur mimpi buruk itu terus muncul. aku pun hanya bisa mengambil setumpuk obat diatas meja yang ada disamping kasurku agar bisa memaksaku untuk tidur.
Keesokan hari nya aku terbangun dari tidurku. Aku memutuskan untuk pergi menemui psikolog. Tak aku sangka orang yang kemarin menolongku ada dihadapanku.
"eh.. kau yang kemarin kan, untuk yang waktu itu, terimakasih. Apa kau juga ingin menemui psikolog ?"tanyaku.
"tidak, aku adalah konselor diklinik ini"
aku yang mendengar itu seketika mencoba untuk pergi.
"tunggu! kamu hebat sudah memberanikan diri datang kesini. Jadi, jika kamu bisa maukah kau berbicara denganku diluar?"Kamipun pergi ke sebuah Cafe tak jauh dari sana.
Segelas kopi telah diantarkan oleh pelayan.
Kami saling memperkenalkan diri. Setelah itu dia langsung menanyaiku beberapa hal.
"Aku tahu ini mendadak, tapi bolehkah aku mengajukan beberapa pertanyaan? Tiara boleh memilih untuk tidak menjawab jika kamu tidak mau"
"Baiklah"
"Apa Tiara pernah mencoba untuk berobat sebelumnya?"
"Tidak, ini pertama kalinya"
"Sejak kapan mencoba untuk mengakhiri hidupmu?"
"aku.. tidak terlalu ingat"
"begitu yaa.."
"Bagaimana kalau Tiara ceritakan alasan mencoba untuk bunuh diri?"
aku yang mendengar pertanyaan itu lantas ragu menjawab.
"tidak apa-apa kalau sekarang Tiara tidak mau menjawab, tapi saat ini aku hanya sedang mencoba untuk membantumu.."
"Sebenarnya, aku terus bermimpi tentang trauma traumaku dimasa lalu. Orang itu...terus muncul dimimpiku"
Akupun menjelaskan mengenai perceraian orangtuaku, kekerasan yang dilakukan ibu kandungku, bully-an dari teman-temanku, hingga ceritaku dengan orang yang selama ini kuanggap sahabat.
"Baiklah, ini kartu pengenalku, untuk selanjutnya mari kita bertemu diklinikku" aku pun menerimanya lantas pulang kerumah.
Evan namanya, saat ini dia bekerja diklink psikologi itu. Akupun mencoba menyimpan nomor handphone yang tertera disana, namun tak sengaja aku malah menekan tombol yang salah.
"Halo, ada apa Tiara"
"Maaf aku tadi mau menyimpan nomormu, tapi tidak sengaja malah menekan tombol panggil"
"Begitu..oh iya, Untuk konseling selanjutnya, bagaimana kalau kita bertemu diklinik minggu depan?" ajaknya
"baiklah, sampai jumpa minggu depan" beep bunyi panggilan telah berakhir
Sepekan telah berlalu, sesuai janji akupun datang dan bertemu di kliniknya, ia kembali menanyakan berbagai hal terkait masa laluku. Tak terasa beberapa jam telah berlalu, klinikpun akan segera ditutup. Aku memberanikan diri untuk mengajaknya makan malam terlebih dahulu.
"Tidak terasa sudah jam segini ya, bagaimana kalau kita makan malam dulu, sebagai terimakasihku juga untuk hari ini. kamu juga belum makan kan?"
Ia pun menyetujuinya dan kami segera pergi ke sebuah restoran yang tak jauh dari klinik. Seorang pelayan datang ke meja kami, memberikan sebuah buku menu. Ia tanpa ragu membuka menu itu kemudian melirik berbagai jenis makanan yang terlihat menggugah selera.
Malam demi malam, hari demi hari, bulan demi bulan berlalu. Pagi ini aku akan kembali berkonsultasi, traumaku sudah mulai membaik, aku tidak pernah lagi memimpikan masa laluku itu. Namun aku merasakan perubahan lain dalam diriku. Detak jantungku seringkali berdegup kencang saat berada didekatnya. Esok adalah hari ulang tahunku, mungkin itu waktu yang tepat untuk mengungkapkan perasaanku.
Sudah beberapa waktu aku menunggu, namun Evan tidak kunjung tiba, aku yang khawatir lantas menghubunginya. Tidak ada tanda-tanda jawaban. Aku kembali menghubunginya, namun masih tidak ada jawaban. Aku segera keluar dan bergegas kerumahnya. Kutemukan dia tergeletak dilantai merintih kesakitan. Aku segera menelpon rumah sakit. Ambulans datang bergegas membawa kami pergi. Para perawat datang membawa Evan masuk ke ruang UGD. Evan pernah berkata kalau sewaktu kecil ia pernah mengalami gangguan jantung. Aku yang mengingat itu lantas cemas dan takut penyakit jantungnya itu yang kambuh. Sejam telah berlalu, terus kupanjatkan doa kepada Tuhan, memohon keselamatan Evan.
Dokterpun keluar, aku spontan bertanya"bagaimana kondisi Evan?" Dengan raut wajah sedih ia berkata "maaf mba, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi kami tidak bisa menyelamatkan Evan". Aku yang mendengar itu seketika menangis, hatiku hancur, aku bahkan belum menyatakan perasaan ku, mengapa kamu meninggalkanku, Evan?
Keesokannya adalah hari pemakaman. Aku yang tak bisa melupakannya lantas tak kunjung datang ke pemakaman. Aku kembali mengonsumsi obat-obatan. Mimpi-mimpi buruk itu juga datang menghantuiku. Aku yang tak tahan dengan semua penderitaan ini, kembali berpikir untuk mengakhiri hidup. Aku melihat ada sebilah pisau dimeja itu. Tanpa pikir panjang, aku mengambil pisau itu, kuarahkan tepat ke dadaku, mencoba menusuk jantungku. Disaat itu ada seseorang yang membuka pintu rumahku lantas mengambil pisau itu dariku. Dia adalah teman Evan, ia datang kesini mengantarkan Hadiah ulang tahun dari evan untukku. Aku membuka kotak itu, didalamnya terdapat sepucuk surat dan sebuah cincin. Aku kemudian membaca surat itu lantas menangis.
Tuhan mengapa kau memberikanku takdir seperti ini? Mengapa kau tidak membiarkanku mati? Bagaimana aku bisa menolak permintaanmu ini, Evan? Dengan segera aku pergi ke makamnya, dengan mata yang sembab dan sebuah senyuman menahan tangis aku mengucapkan, "Terimakasihku Evan ini kedua kalinya kamu menyelamatkanku".