pada sebuah senja, di sudut aku berdiri di tepi gedung yang paling tinggi. hembusan angin menjadikan langit begitu gelap. tak lama kemudian, hujan berkah pun turun, aku pun berteduh di tempat itu, jarum jam terus berputar bagaikan roda dan langit menjadi lebih hitam, hanya lampu yang menyinariku di kegelapan. aku pun tak tahu kapan rintisan air ini akan berhenti, tiba-tiba sakuku bergetar dan tertulis di layar "ayah" ketika aku mengangkat sinyal pun putus dan aku tidak bisa apa-apa. tanpa berpikir aku pun pergi menuju rumah, aku terus melangkah walau diguyur air di setiap jalan.
hingga aku tiba, ayahku seketika tak melihatku dengan tatapan biasa setelah aku mendorong pintu, aku pun terus berjalan menuju kamarku dan mengganti seragamku, setelah itu aku pun berjalan menuju ke ruang tamu. ayah pun masih terlihat begitu tidak biasa ketika menatap ku, aku pun menarik nafasku dan bertanya kepada ayah.
Disaat aku bertanya kepada ayah, seketika jantungku berdetak lebih cepat karena ayah tiba tiba marah kepada ku dengan suara yang keras. aku sudah tak sanggup menahan air mata karena ini. setiap waktu, di setiap saat ayahku selalu marah padaku karena aku.
padahal aku selalu bermimpi agar ayahku bisa senyum bersamaku. walaupun ibu sudah tenang di sana,tetapi aku pun tetap ingin memberikan hal yang mimpi yang besar kepada mereka berdua, sesuatu mimpi yang besar tapi butuh pengorbanan, inilah hidup.
disaat ibu telah pergi, ayah pun berbeda dengan dulu. dulu ayah selalu memberikan sepatah kata semangat kepadaku, tetapi sekarang ayah memberikan sepatah kata yang menyakiti hatiku. entah apa yang terjadi, aku pun tidak tau. seketika aku selalu diperlakukan seperti oleh ayah seperti bukan darah sendiri.
pada keesokan hari di sebuah fajar ayahku tiba tiba menarikku berjalan keluar dan membawa pakaianku .seketika hatiku benar benar sakit tidak anggap anak olehnya. aku melangkah demi langkah meninggalkan rumah itu yang penuh dengan kenangan bersama mereka.