Pernahkah kalian merasakan cinta. Hati yang bergetar. Jantung yang berdetak lebih cepat dan terasa kencang. Pipi yang selalu merona. Tersenyum menjadi keseharianku jika mengingat dirinya. Rasa ingin bertemu yang sungguh tinggi. Selalu ingin bersamanya, seakan berharap waktu bisa berhenti lebih lama.
Itulah cinta yang kurasakan. Mungkin kalian merasakan cinta yang berbeda denganku. Tapi yang pasti merasakan dan mendapatkan cinta itu indah.
Saat itu, aku hanyalah seorang mahasiswi di salah satu kampus ternama di Jakarta. Orang tuaku tinggal di Bandung. Aku di sini tinggal di sebuah kost - kostan yang tak jauh letaknya dari kampus. Keseharianku sederhana, simpel dan enggak pake syarat. Jika punya banyak waktu aku selalu memasak bersama teman satu kostanku untuk mengisi perut. Tapi tidak bisa dipungkuri, warteg menjadi tujuan favoriteku jika kesibukan sudah merasuki hari - hari ku.
Vira, teman satu kostanku, satu kampus, dan satu jurusan denganku. Dia menjadi teman dari segala teman. Sedihku, bahagiaku, kadang emosiku selalu ku ceritakan dan tumpahkan padanya. Wanita yang ceria dan dewasa. Sampai saat ini dia tetap menjadi sahabatku.
"Aku menghilangkannya." Bisikku.
Sore itu, aku mencari - cari buku curhatku. Sebuah buku yang penuh dengan kisah diriku. Bagaimana jika ada orang yang menemukannya dan membacanya. Apa mereka akan mentertawakan kisahku. Sekarang aku merasa menyesal telah menulis itu semua.
Ku mengingat - ingat kembali. Pagi tadi jelas aku membawanya. Aku menggenggamnya di tangan kananku. Lalu aku ke perpustakaan, masuk kelas, ke ruang dosen, kantin dan..
"Ah.. aku tidak mengingatnya." Teriakku sendiri.
Aku termenung. Duduk sambil menutup ke dua mataku dengan tanganku. Ruang kelas ini sepi, rasanya tak apa jika ku meratapi kesialanku di sini.
"Alma." Panggil seseorang.
Aku menurunkan kedua tanganku. Menatap seorang pria yang berdiri di depan pintu kelas. Sungguh tampan, sepatu kets putih, celana levis gelap dan kemeja yang tertutup sweater putih yang menambah sempurna penampilannya.
"Ya." Jawabku.
Pria itu tersenyum, dan melangkah ke arahku. Ku berfikir, apakah sebelumnya aku pernah bertemu dengan dirinya. Bagaimana dia bisa tahu namaku.
Mataku akhirnya membulat. Mulutku membentuk huruf O besar. Ya Tuhan.. kenapa bukuku bisa di tangannya.
Dia menarik kursi yang tak jauh dari dudukku. Senyumnya makin terlihat jelas sekarang. Wajahnya mendarat sempurna di hadapanku.
"Ini punyamu?" Tanyanya sambil menunjukkan buku yang ada di tangan kanannya.
Tanganku bergerak secepat yang ku bisa untuk meraih buku itu. Tapi gerakan pria itu lebih cepat dari perkiraanku. Tangan kirinya sekarang memegang pergelangan tangan kananku untuk menghalangi tindakanku.
"Heii.. Aku pasti kembalikan, tenanglah." Pintanya.
Tangannya masih memegang pergelangan tanganku, bergerak ke arah punggung tangganku, membuka perlahan jari - jari ku yang tertutup. Beberapa detik kemudian, dia meletakkan buku yang ku cari - cari sejak tadi.
"Ku kembalikan." Ucapnya sambil tersenyum.
"Terima kasih"
"Jadi kapan kamu mau traktirku? Bakso Pak Joni juga tak masalah." Ucapnya sambil tersenyum.
"Kamu membacanya?"
Pertanyaan bodoh ke luar dari mulutku. Jelas dia sudah membacanya. Mungkin dia sekarang sedang mengolok - ngolok diriku. Aku bangkit dari dudukku hendak meninggalkannya. Ahh.. rasa kesal atau malu yang ku rasakan saat itu. Mungkin ke duanya.
"Raka, lo dipanggil Pak Edwin sekarang"
Ada orang lain yang datang diantara kami. Seorang pria yang berbicara pada pria di hadapannku. Aku tahu sekarang nama pria ini. Raka, pria yang membuatku terkesima pada pandangan pertama dan membuatku tertunduk malu sekarang.
"Oke." Jawab Raka.
Pria yang memanggil dirinya pergi setelah Raka mengucapkan kata "Oke" padanya. Sekarang Raka ikut berdiri di hadapanku kembali.
"Aku tunggu traktiran dari mu." Tersenyum dan berlalu pergi meninggalkan ku seorang diri.
Apa yang harus aku lakukan sekarang. Seorang pria menunggu traktiran dariku. Apakah dia sedang mengancam diriku. Pasrah adalah kata yang pas untuk ku ucapkan saat ini.
Dua hari berlalu dengan normal, aku tak pernah bertemu lagi dengan sosok Raka. Semua berjalan seperti biasa. Sampai akhirnya, ku bertemu dengan dirinya kembali sekarang. Pertemuan keduaku kali ini di sebuah kantin. Aku tak pernah mengira bahwa Raka ada di hadapanku kembali.
"Apa yang kamu pesan?" Tanyanya.
"Apa yang kamu lakukan di sini" Tanyaku.
"Sama seperti dirimu, makan" Jawabnya.
Ku menatapnya kembali, makanku terhenti tapi tanganku masih setia memegang garpu dan sendok saat ini. Kenapa dia tak kunjung pergi. Kenapa dia terus melihatku sekarang.
"Hayolah sampai kapan kamu di situ?" Tanyaku akhirnya.
"Kamu sungguh penikmat bakso ya?"
Dia menghiraukan pertanyaanku dan membahas kembali cerita lalu dalam bukuku.
"Jujur, kamu sudah membaca sejauh mana?" Tanyaku.
"Semua." Jawabnya cepat.
Aku terbatuk mendengarnya. Dia membaca semuanya. Mau di taruh di mana mukaku sekarang. Melihatku terkejut dan terbatuk, dia langsung membantuku mengambilkan air mineral yang ada di hadapanku, sebotol air yang tadi ku pesan bersamaan dengan semangkuk bakso ini.
"Terima kasih" Jawabku setelah ku merasa lebih baik.
"Jadi kapan kamu akan mentraktirku?" Tanyanya.
"Apa setelah ku mentraktirmu, kamu enggak akan cerita ke siapapun?"
"Ya, mana jarimu?"
"Untuk apa?"
Dia langsung meraih tangan kananku yang ku letakan di atas meja saat ini. Mengepalkan empat jariku dan hanya menyisahkan satu jari yaitu jari kelingkingku. Diapun melakukan hal yang sama. Jari kelingking kami bertemu, berpautan satu sama lain. Hati bergetar menatap ini semua.
"Aku janji, setelah kamu mentraktirku bakso pak Joni dan mau menemani hari - hariku. Aku tak akan bilang ke siapapun mengenai curhatanmu itu"
"Hah.." Barusan dia bilang apa, kenapa aku harus menemani hari - harinya juga. Ku langsung berusaha melepaskan jariku yang masih berpaut erat dengan jarinya.
"Kita sudah berjanji, kamu harus ingat itu" Ucapnya.
Raka berlalu pergi, tapi sebelum dirinya benar - benar pergi, dia mengambil bakso yang ada di mangkukku dan memakannya.
Aku kembali terdiam dan terbengong melihat tingkahnya.
"Woiii.." Teriak Vira sahabatku.
Aku tak menyadari kedatangannya. Sekarang dia sudah berada di hadapanku.
Siang itu, aku menceritakan padanya pertemuan pertamaku dengan Raka. Sampai akhirnya ku bertemu dengan dirinya kembali tadi. Satu kesimpulan darinya "Raka tertarik dengan diriku"
Tiga bulan berlalu dengan cepat. Semenjak janji yang terucap diantara kami waktu itu, hari - hari ku selalu ada dirinya. Dia selalu menemaniku. Selalu berbagi cerita denganku. Selalu tersenyum indah bersamaku. Aku telah merasakan cinta. Rasa ingin memiliki dan tak ingin berpisah sangat mendominasi sekarang.
Saatnya tiba, saat dimana aku harus memenuhi janjiku padanya. Entahlah.. kenapa baru sekarang hal ini terwujud. Mentraktir bakso pak Joni. Aku punya kisah memalukan di sini. Aku tak sanggup membayar saat itu. Dompetku menghilang, lebih tepatnya tertinggal. Sungguh memalukan. Membantu cucu piring menjadi tanggung jawabku saat itu. Itu cerita laluku yang kutuangkan dalam buku yang telah ia baca.
"Kamu suka ice cream, rasa apa yang kamu suka?" Tanyanya.
"Ehmm.. Vanilla." Jawabku.
Sore itu, aku kembali pergi bersamanya. Tangannya selalu setia menggenggam tanganku. Mengajakku melangkah sejajar denganya. Senyum yang hangat selalu terpancar jelas di wajahnya.
Aku menatap wajahnya, senyumnya dan cintanya. Kami saling memandang dan bergandengan tangan. Melangkah menuju sebuah taman kecil.
"Ehm.. ini enak, kamu mau mencobanya?" Tawarku sambil memasukan kembali ice cream yang ku genggang ke dalam mulutku.
dan.. apa yang tiba - tiba terjadi. Dia benar - benar mencoba ice cream yang ku tawarkan padanya. Tapi bukan yang ku genggam, melainkan ice cream yang ada di mulutku. Dinginnya ice cream berubah menjadi hangat saat bibirnya menyentuh lembut bibirku. Rasanya menjadi sangat manis.
Itu ciuman pertamaku, dan dia cinta pertamaku. Semua berawal indah, dan berkahir dengan air mata.
Aku menderita, menangis dan tak sanggup mengakui bahwa ini kenyataan yang ku jalani.
Dia memutuskan untuk pergi meninggalkanku. Aku tak pernah tahu alasannya. Apakah aku telah menyakiti hatinya. Apakah aku pernah menyinggung perasaanya. Apakah ada yang salah dengan sikap dan tingkahku padanya. Aku minta maaf.. apakah kata maaf tidak bisa membuat dia kembali padaku. Aku sungguh minta maaf.. tapi.. dia tetap pergi.
Dia datang tiba - tiba dalam hidupku, dan pergipun tiba - tiba. Sosoknya benar - benar menghilang. Kemana aku harus mencarinya lagi. Aku tidak dapat menemukannya dimanapun.
Aku mencari dan terus mencari, mengetuk satu pintu dan kepintu lainnya. Berlari dan menangis sepanjang yang ku bisa. Tempat - tempat yang pernah kita kunjungi ku kunjungi kembali. Berharap kamu ada disalah satu tempat itu. Namun hasilnya nihil.
Setelah kepergiannya, aku benar - benar terpuruk. Menangis menjadi rutinitasku.
Dua tahun sudah berlalu, semenjak dia pergi meninggalkanku. Aku tak pernah menyesal mengenalnya. Aku tak pernah menyesal jatuh cinta padanya. Aku tak pernah menyesal pernah mengukir kisah indah padanya. Terima kasih sudah mau mampir mengisi kehidupanku. Aku mematuhi pesan terakhirmu. Menjalani hidup dengan baik tanpa dirimu.
Hari ini, adalah hari pernikahanku. Aku menemukan pria lain yang membawaku ke jenjang ini. Dia baik sama sepertimu. Dia yang membuatku bangkit dari keterpurukanku waktu itu. Aku mencintainya sekarang dan berharap selamanya. Sosokmu masih akan tersimpan rapih dalam hatiku. Ku harap kamu menjalankan hidupmu dengan baik juga.
-Selesai-
Semoga menikmati ceritanya😊
Likenya jangan lupa ya.. 😘
Terima kasih semua🙏
*Lanjut mengkhayal, mau bikin cerita apa lagi ya
😄