Jingganya senja membawa kehangatan bagi mereka yang berbagi cerita bersama,melepas rindu,saling bercengkrama satu sama lain seakan tak ingin terpisah oleh waktu yang terus berjalan.
Disinilah aku Sendiri di tengah keramaian orang-orang yang sangat menikmati hangatnya senja dan terus merindukan senja yang selalu datang dan pergi.Bagiku senja hanya sebuah belati yang memberi goresan luka yang begitu dalam.Sehingga aku pun tidak tau kapan luka itu akan sembuh, aku terus berusaha menutup luka itu. Aku pikir dengan aku terus menutupnya maka luka itu akan membaik. Ternyata aku salah, semakin aku berusaha menutupinya maka semakin terasa sakit luka itu.
Aku tau aku egois, karena menilai sesuatu hanya dari sudut pandang ku tapi aku tidak peduli itu. Aku tidak merindukan senja yang datang maupun pergi aku hanya merindukan dia yang membuatku bisa merasakan kehangatan senja itu lagi.
*8 Tahun yang lalu*
Aku keluar dari ruang BK yang tempatnya tidak terlalu jauh dari ruangan kelas XI IPA 3. Aku melihat dirinya yang tengah mengobrol dengan bagiannya.
"Baru selesai satu , datang lagi satu Masalah" aku menggerut kesal
"bodo amat peduli apa gue" gerutuku lagi.
Dengan santai aku berjalan melewati kelasnya, langkahku terhenti ketika mendengar teriakan seseorang yang cukup membuat telingaku terasa berdenging.
"WOYYY LIA !!!" Teriaknya.
Dengan malas aku berbalik " apa sih Al " jawabku seadanya.
Dia menghampiriku dan langsung mendaratkan pukulan di kepalaku
"Awww,dah gila ni anak”.
"Syukurin,lo sih semalam tinggalin gue tidur duluan.Langsung main tutup telpon duluan lagi kan gue mau cerita ".
"Iya gue tau lo jengkel sama gue, tapi nggak usah main pukul juga kali, pake teriak-teriak lagi. Lo pikir nih sekolah tempat lo jadi Tarzan, bikin budek aja lo" bukannya mendengar omelanku Al malah kembali memukul kepala ku
"emang gila dahh"
"APA" jawabnya spontan sambil menatap ku tajam "Dasar lu yahh cowok breng....." ucapan ku terjeda karena mendengar teman sekelasku memanggil ku.
"LIA PESANAN LO ADA DIKELAS" teriakan Ica memenuhi lorong koridor sekolah.
"Ihhh benar-benar yah nih penghuni sekolah Tarzan semua apa , gue sumbat juga lama-lama tuh mulut"
"Udah nggak usah banyak ngoceh ambil tuh pesanan Lo" sahut AL nyelonong.
"Iya iya gue ambil, Tuh pesanan gue udah datang ayok temanin gue ke kelas " aku menarik tangannya
" Lo beli buku itu lagi " menatap ku heran
" udah deh ndak usah bawel".
Kalian bisa lihat sendiri bagaimana sifat Al ke aku dan sebaliknya bagaimana sifat aku ke dia,kita memang sudah sangat dekat dari awal masuk SMA, aku juga lupa sejak kapan kita bisa dekat bahkan sudah menjadi sahabat. Aku dan Al hanya beda kelas, kita satu jurusan , satu angkatan , dan sama - sama bobrok. Kita bisa dikatakan lebih dari sahabat tapi kita juga tidak pacaran. Aneh? iya aku tau aneh aku juga bingung dengan status kita , tapi satu yang aku tau, aku dan dia masing-masing nyaman dengan hubungan ini.
***
Bel pulang sudah berbunyi. Aku dan Ica langsung menuju parkiran, tapi belum sampai di parkiran Ica sudah dijemput sama doi nya. Jadilah aku berjalan sendiri menuju parkiran. Aku melihat Al sedang bersiap menaiki motor nya, wajah dinginku seketika berubah.
"Woyyyy" aku mengagetkannya dengan memukul kepalanya (aku tau cara berteman kita memang terbilang kasar tapi menurut kami itu hal yang wajar).
"Sialan lo !!! mau bikin gue mati diluann haaa" bisa kulihat dari wajahnya dia sudah siap mengumpat ku dengan kata- kata mutiaranya
"HAHAHA" aku terus tertawa melihat Al seperti itu.
"Senang kan loh liat gue sengsara" aku mulai mengatur nafasku.
"Ayo pulang..."aku langsung naik keatas motor.
"dihhh nggak tau diri banget Lo lama-lama"
"Bokap gue pergi sama istri barunya" ceritaku pada Al.
"Ngapain?" jawabnya.
"Yaelah lo kayak nggak tau aja, udah ayo jalan ". Sepanjang perjalanan tidak ada percakapan antara aku dan Al, karena kita memang tidak suka berbicara dengan melawan angin. Al menurunkan ku di depan kompleks
"Makasih tumpangannya"
"Tumben Lo bilang makasih "
"Dihhh nih anak giliran gue bilang makasih dibilang tumben,giliran kagak diomelin nggak berhenti-henti. Dah kayak cewek aja lo" aku berjalan masuk menuju kompleks. langkah ku berhenti ketika aku mendengar,"gue yakin cowok-cowok diluar mana ada yang berani sama singa betina kayak lohh"teriak dari atas motornya. Aku tersenyum dan memutar badanku "Awas lo kemakan omongan sendiri".
Waktu terus berjalan tak terasa aku dan Al sudah kelas XII. Hari demi hari kulalui dengan belajar dan belajar, mempersiapkan diri untuk menghadapi Ujian Nasional. Waktu cepat banget yah berlarinya, perasaan baru aja kemarin aku ikut PLS, sekarang udah hari terakhir Ujian Nasional aja hehe..
Aku melihat Al menghampiri ku "Bagaimana ujiannya lancar?" sambil memberikan sebotol minuman.
"Lancar dong" jawabku yang kulanjut dengan meneguk minuman yang diberikan Al.
"Habis ini ada kegiatan? Kalo nggak ada ayok ke atap"ajaknya kepadaku.
"Nggak ada, ayo ke atap"
Di atap sekolah merupakan tempat favorit kita.
"Lia , gue mau ngomong sesuatu sama lo"
"Yaudah sihh ngomong aja" jawabku seadanya yang masih sibuk dengan buku-ku
"Gue sayang sama lo tapi sayang yang lebih dari seorang sahabat".
Aku terdiam, kututup buku ku dan memposisikan diriku menghadap ke arahnya "Lo jangan ngaco dehh" jujur saat Al mengatakan itu aku merasakan ke janggalan di dalam diriku tapi aku tidak tau apa itu.
"Aku serius Lia" Al mengatakan itu dengan sungguh-sungguh.
"Sejak kapan?" aku tidak bisa berkata apapun hanya kata itu yang terlontar dari bibirku "Sejak kapan Al , sejak kapan...".
Al hanya terdiam disaat dia melihat ku mengatakan itu dengan lirih, "Aku tau Lia,aku tau aku salah".
"Terus lo udah tau lo salah dan buat apa lo kata kan itu " aku berdiri dari duduk
"Gue tau kalo gue ngunggkapin perasaan ini loh bakal marah. Tapi, aku nggak bisa nahan perasaan ini Lia".
"Lo mikirin perasaan lo, tapi lo nggak mikirin perasaan gue, Lo nggak mikir Al yang selalu ada buat gue itu elo. Keluarga gue pun nggak ada yang peduli sama gue dan sekarang loh minta kita pacaran ? Gue nggak bisa....Jika suatu saat kita pacaran dan kita putus gue bukan hanya kehilangan pacar gue tapi gue akan kehilangan sahabat gue selamanya". Al mencoba memeluk ku, tapi aku menepis tangannya.
"kamu kan udah tau, kalo prinsip yang kupegang itu semuanya cuman punya kesempatan satu kali. Hidup sekali, mati sekali, dan hubungan yang dikhianati gak bisa dirajut lagi" aku segera pergi dari hadapan Al .
Sejak saat itu aku sudah tidak pernah bertegur sapa dengannya bahkan hingga hari kelulusan, aku dan dia seakan tidak pernah saling mengenal.
***
Kejadian 8 Tahun yang Lalu merupakan kejadian dan pertemuan terakhir ku dengan Al aku sudah tidak pernah mendengar kabar tentangnya ataupun melihatnya lagi. Aku memang sangat kecewa denga nya, tapi aku selalu teringat akan perkataan nya "Suatu saat ditempat ini senja akan terus menjadi kehangatan bagi persahabatan kita". Sekarang yang kurasakan hanya luka, luka yang disebabkan oleh diriku sendiri. Aku tidak tau kapan luka ini bisa sembuh, mungkinkah seiring dengan berjalannya waktu, atau mungkin akan ada seseorang yang datang dan membantuku menyembuhkan luka itu? Atau hanya Al penawarnya?. Ada begitu banyak tanda tanya di otakku, dan aku tak tau apa jawabannya.
SELESAI