Mataku yang sedang memandang langit melihat matahari yang bersembunyi dibalik awan seolah malu malu untuk menampakkan dirinya, langit yang diwarnai dengan warna gelap disertai dengan hembusan angin yang menerpa kulitku, daun yang tertiup angin berjoget layaknya tidak memiliki masalah, disusuli dengan setetes demi setetes air yang jatuh dari langit. Langit yang kini cahayanya kian meredup membuatku berlari secepat kilat memasuki aula sebelum rintikan hujan semakin deras mengguyur tubuhku.
Saat aku melangkah masuk ke aula suara yang halus menyapa telingaku suara yang begitu aku kenal siapa pemiliknya. Didalam ruang yang begitu luas dan padat diisi murid-murid SMA kencana, mataku menangkap sesosok pria yang sedang memangku gitar dan menyanyikan bait perbait setiap lirik dari lagu "a line without hook" song by Ricky Montmogery yang merupakan salah satu lagu favoritku. Aku terpana mendengar suranya dan melihat ekspresinya yang begitu mendalam menyanyikan lagu tersebut membuatku candu untuk terus menatapnya. Ia begitu berkarisma, matanya yang tajam menusuk, rahangnya yang begitu kokoh, hidungnya yang menjulang tinggi, alisnya yang tebal, dan bola matanya yang terang berwarna abu abu gelap membuatku selalu tertuju padanya, aku kagum akan begitu sempurnanya ciptaan tuhan.
Aku Azana Btari wanita yang selalu mengaggumi seorang lelaki, satu tahun lamanya sudah aku memendam rasa ini. Selama ini aku selalu bungkam akan perasaanku, kalian pasti tahu sakitnya memendam perasaan, seharusnya perasaan yang aku miliki harus berani untuk ku ungkapkan, tetapi inilah pilihanku, mencintainya secara diam dan memandanginya dari kejauhan, hanya itu yang dapat aku lakukan.
Untuk pertama kali melihatnya tidak terbesit didalam pikiran untuk jatuh hati padanya, tetapi waktu berkata lain, hari ke hari hatiku jatuh kepadanya, ia lelaki dengan suara indah Sekala Abisatya pria dengan sejuta pesona yang mampu membuatku menaruh hati kepadanya.
"Ada apa?" Tanya Nala yang tiba-tiba muncul di belakangku.
"Tidak apa-apa, aku hanya melihat sekala bernyanyi diatas panggung" jawabku dan melanjutkam jalanku mencari tempat duduk.
"Kenapa kau tidak mengungkapkan perasaanmu saja kepada sekala" bisik naya yang tiba-tiba berkata seperti itu.
"Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu"
"Yah tidak apa-apa sih aku cuman bertanya"
"Menurutku hanya memperhatikan gerak geriknya dari jauh saja sudah cukup untukku" jawabku dengan tegas.
🍁🍁🍁
Malam ini aku ditemani dengan secangkir minuman matcha, memandangi gelapnya awan ditemani dengan beberapa bintang dan bulan yang menerangi bumi, terkadang Cahaya mempunyai caranya tersendiri untuk menghibur malam dari sepi. Dan kini aku menghibur diriku malam ini hanya dengan sebuah alunan musik dari gitar yang kini aku mainkan. Memetik gitar memainkan berbagai macam lagu untuk menghilangkan rasa sunyi yang aku rasakan malam ini. Aku selalu berangan-angan akan ada sesosok lelaki yang nantinya akan menemani malamku dengan bernyanyi sambil memetik senar gitar.
Ku torehkan semua kisah yang aku miliki tentangnya diatas kertas yang berlembar-lembar. Begitu banyak kata yang tidak dapat mendefinisikan dirinya. Serendipiti adalah kata yang sangat cocok untuk kita. ketidaksengajaanku dalam menemukan mu adalah kesenangan untukku walau aku tahu sakit yang aku tanggung untuk mencintaimu itu sangat menyakitkan, ingin sekali ku ungkapkan perasaanku kepadamu tetapi aku belum memilliki keberanian untuk mengungkapkan bagaimana diriku begitu mencintaimu, setiap hari angan-angan akan kehadiranmu disamping ku.
"Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu". - Sapardi Djoko Damono, Aku Ingin
hari senin kini menyambut, hari yang banyak tidak disukai orang-orang. Begitu khimadnya matahari menyilaukan seluruh siswa-siswi SMA kencana yang sedang melaksanakan upacara bendera di lapangan, panasnya matahari yang begitu menyengat ke kulit membuat semua siswa-siswi SMA Kencana banyak yang mengeluh.
Kini aku melangkahkan kakiku ke perpus dikarenakan bu Hana meminta tolong kepadaku untuk mengembalikan buku paket ke perpus saat ini, setelah aku mengembalikan buku, aku mencari beberapa buku yang menarik untuk aku baca, tetapi secara tidak sengaja mataku melihat seorang lelaki sedang bersenda gurau bersama seorang wanita, aku mengenali dua orang tersebut dia sekala dan mentari, ya dia sekala lelaki yang selama ini aku sukai, ia sedang bersama mentari sang primadona sekolah yang terkenal akan parasnya yang cantik dan memikat banyak lelaki, bahkan perempuan pun banyak yang mengagguminya, berbanding terbalik dengan diriku yang biasa biasa saja. Mentari dan sekala sangat sering dirumorkan memiliki hubungan, dan aku selalu mendengar akan rumor itu, tetapi aku selalu menepis rumor itu didalam otakku, karena aku begitu jarang melihat mereka bersama.
Mereka berdua begitu asyik berbisik-bisik berdua, terkadang aku melihat sekala tertawa kecil, tawa yang sangat jarang aku lihat, aku melihatnya begitu senang bersama mentari, terlintas di otakku memikirkan akan rumor mereka yang menjalin hubungan sepertinya emang benar terlihat dari kebahagian mereka saat ini. Aku yang melihat mereka begitu sakit tapi mau gimana lagi aku senang jika melihat sekala senang dan bisa tertawa bersama mentari. Ku putuskan untuk meninggalkan mereka dan kembali ke kelasku.
🍁🍁🍁
Riuhh suara anak SMA Kencana bercampur SMA Galaksi kini bercampur aduk saling menyoraki nama sekolah masing-masing, sore ini sedang ada tanding basket antara SMA Kencana dengan SMA Galaksi yang diadakan di lapangan basket sekolahku yaitu SMA Kencana. Aku duduk di tribun baris ketiga dari depan ditemani dengan Nala aku menonton pertandingan ini. Aku menatap salah satu pemain basket nomor punggung 19 dari sekolahku, sekala nama yang tertera di jersey tersebut. Aku terus memperhatikan bagaimana lihainya seorang Sekala dalam bermain basket. Teriak akan bangga dari SMA Kencana menggelagar di lapangan ini, pertandingan yang kini berakhir dan dimenangkan oleh sekolahku membuat kami semua berteriak heboh dan kesenangan.
Setelah pertandingan selesai semua pemain menyingkir ke pinggir lapangan, mataku tidak berhenti terus menatap sekala yang berjalan ke pinggir lapangan yang kini melangkah menghampiri Mentari ia menerima dan meminum sebotol air mineral yang diberikan mentari, dengan mentari yang mengelap keringat keringat yang bercucuran dikepala dan leher sekala, aku begitu iri melihatnya, aku ingin berada diposisi mentari saat ini. Sekarang aku yakin dan percaya mereka memiliki hubungan, terlihat dari begitu manisnya perlakuan mentari ke Sekala dan diterima baik sama Sekala.
Aku berjalan menjauhi lapangan basket, aku tak sanggup melihat akan kemesraan mereka. Aku seharusnya sudah siap jika melihat hal itu, karena aku yakin suatu saat hal itu akan terjadi. Ingin rasanya aku menangis saat ini, mengeluarkan semua rasa sakit yang aku rasakan, tetapi dengan menangis tidak dapat merubah keadaan apapun. Setetes air tanpa izin jatuh dari mataku, tidak sanggup aku tahan. Aku begitu mencintainya, aku tidak rela ia dimiliki oleh orang lain, begitu egoisnya aku.
Sepulang sekolah aku selalu mengurung didalam kamar menangisi hal yang seharusnya tidak aku tangisi, seharusnya aku percaya akan rumor mereka dari dulu, dan tidak menaruh hati terlalu lama terhadap sekala, inilah yang berbahaya dari cinta, kita tak pernah bisa merencanakan dan memilih kepada siapa akan jatuh cinta, dan berapa lama rasa itu akan ada di hati kita. Sepanjang malam ini aku habisi hanya untuk menagisi dirinya.
🍁🍁🍁
Hari demi hari aku lewati, kini aku belajar untuk melupakannya. Melupakan perasaan yang pernah aku miliki terhadapnya dan biarlah perasaan tersebut aku pendam tanpa ia ketahui dan mengubur dalam-dalam perasaan itu. Tapi ingin ku berterima kasih kepada Sekala Abisatya sesosok lelaki yang pernah hinggap di hatiku, ia telah mengajariku bagaimana cara mencintai seseorang dengan tulus.
"Mencintai tidak harus memiliki, mencintai adalah memberi tanpa berharap untuk diberi kembali."