“Apa-apaan ini!” Ia tidak terima di perlakukan seperti gadis murahan. Ia tidak sengaja mendengar percakapan Nita dengan sang pacar saat melewati kelas mereka.
“Nia lo mau kan?” Ucapnya memohon.
“Enggak!” sahutnya lalu langsung pergi dari kelas dua belas ips dua. Nia sempat melirik pada Nata, cowok itu terlihat biasa-biasa saja, ia tidak terkejut, seolah memang itu yang di inginkannya. Nia berjalan cepat, dengan genangan yang siap tumpah. Hatinya sakit, seperti di tusuk ribuan jarum. Tidak ada yang tau cinta dalam diamnya. Nia mengangumi Nata saat MOS menyatukan mereka dalam satu kelompok.
***
“Hai!” Sapa Nata pada gadis yang melamun di pojok kelas, mereka sedang istirahat.
Nia menarik perhatiannya di saat cewek lain berkumpul dengan geng masing-masing, atau mulai membaur mencari teman, hanya cewek ini yang terdiam di pojok ruangan. Nia menatap sekilas, cukup seperkian detik, ia tidak tertarik pada cowok sok akrab. Berharap Nata cepat kembali ke tempat duduknya, Nia merebahkan kepala berbantal tangan menghadap tembok. Ia pikir cara itu akan berhasil, biasanya diabaikan membuat siapapun tidak mau mendekat.
“Kenalin nama gue Nata. Mau temanan sama gue ya, Please.” Merasa gerah Nia memilih keluar, ingin sekali ia berteriak; jangan ikuti gue! Nata mengikutinya hingga ke kantin. Nia harus bagaimana?
Ia tidak ingin ke kantin, cowok ini yang menggiringnya secara tidak langsung, memangnya Nia bisa kemana lagi selain ke tempat makanan banyak di jual belikan. Ia berhenti tidak ingin masuk lebih dalan ke area ramai, ia berbalik, tepat Nata berada di depannya.
“Kenapa? Gak jadi?” Untuk kesekian kalinya Nata di abaikan, gadis itu berjalan lagi menghindarinya, kali ini Nata tidak mengejar, ia memperhatikan hingga gadis itu menghilang dari pandangannya.
“Menarik.”
-----------
“Bisa gak sih lo jauh-jauh dari gue?!” Nia frustasi seharian ini Nata terus mengganggunya, Nia ingin sendiri. Ia tidak suka mengobrol, Nata selalu berusaha agar ia menjawab semua pertanyaannya. Ini bukan interview.
“Gak bisa tuh. Udah nikmatin aja.” Apa katanya? Nikmatin aja? Sengsara adanya!
“Maaf nih ya, kalau cuma gue yang ngerjain tugas ini, nama lo gak gue tulis.” Ini semua karena kakak kelas nyebelin, udah hampir pulang masih sempatnya bagi kelompok.
‘Kenapa juga satu kelompok sama dia?!’
Jumlah siswa di dalam kelompok satu genap, dengan cewek dan cowok ganjil. semuanya duduk dengan teman sebangku yang mereka pilih, sedangkan Nata dan Nia, mereka berdua saja yang duduk sendiri-sendiri, bukan salah kakak kelas dong menyatukan mereka dalam kelompok?
“Mau lo apa?” Tanya nya jutek. Nata malah senyu-senyum menbuat Nia siaga.
“Gue bisa kok ngerjain tugas ini sendiri.”
“Bagus.” Nia tidak perlu repot-repot bareng Nata terus.
“Kenalan dong?”
“Hah?!”
“Iya kenalan,yang resmi.” Nata tau siapa nama cewek di sampingnya, ia ingin mendengar langsung Nia menyebutkan namanya.
“Gak perlu.” Mereka sudah tau nama satu sama lain, apa gunanya kenalan ulang, buang-buang waktu.
“Ya udah kalau gitu.” Nata punya cara lain.
“Kak!” yang di panggil menoleh pada cowok yang mengangkat tangan di maja tengah paling belakang.
“Iya kenapa dek?”
“Kalau tugasnya gak selesai hari ini gimana?”
“Selesaiin di rumah lusa baru kumpul.” Nata mengangguk mengerti, kakak itu baru ingat jika tidak ada yang bertanya.
“Pas sekali teman kalian bertanya, tugas yang saya berikan hari ini apabila tidak selesai. Selainkan dirumah lusa baru kumpul. Tidak menerima alasan terlambat apapun. Mengerti?”
“Mengerti kak!”
Apa lagi ini. Nia tidak mau bersama dengan Nata di luar sekolah juga.
“Dengarkan?”
“Gue gak tuli.” Nata tersenyum tipis, cewek seperti ini langka.
“Gue bisa ngerjain tugas ini sendiri kok.” Nia tampak berbinar.
“Kenalan dulu.” Tidak ada pilihan lagi.
“Kenalin nama gue Nia. Udah.” Segitu aja cukupkan? Senyum Nata meninggi.
“Oke sekarang giliran gue, dengerin baik-baik, resapan ke hati.” Bel kapan bunyinya? Nia udah gak tahan.
“Kenalin gue Nata, cukup nama pangilan aja, gue suka lo.” To the point sekali.
“Saraf lo putus ya?” Sarkas Nia berbisik, tingkat kegelisahannya meningkat, cewek-cewek melirik kearah mereka.
“Menurut lo?”
***
Saat itu ia sungguh tidak menyukainya, ia bahkan berjanji pada diri tidak akan menyukai Nata, ternyata apa? Ia melanggar janjinya. Image Nata yang dingin, jutek, galak, untuk mereka tidak untuk Nia, Nata bersikap tengil hanya kepadanya.
Ia memutuskan berbelok, bersembunyi di tolet, air matanya tidak mampu di bendung. Ia menagis dengan kedua tangan menutup mulut saat suara langkah kaki terdengar. Ia tidak boleh terlihat menyedihkan, sekuat tenaga Nia menahan isaknya tetap di dalam.
Ia tidak suka ini, sesaknya bertambah. Sebaiknya ia keluar sekarang. Nia mengusap seluruh wajahnya, semiga ia tidak terlihat seperti habis menangis. Matanya tidak terlalu merah lumayan berhasil mengecoh tapi tidak untuk dia yang jeli. Nia tersentak, dia yang menjadi sebab kepiluan hatinya menunggu di depan pintu.
Sengaja Nata tidak mengetuk. Nia menangis karenanya, setidaknya membiarkan gadis itu lega.
Nia melewati Nata begitu saja. Nta mengikuti dengan sabar kemana kaki itu melangkah. Nia berhenti mendadak, Nita muncul tiba-tiba di persimpangan.
“Kalian di sini? Gue nyariin.” Canggung, atmosfer membuat sulit bernafas. Nita menghampiri cowoknya.
“Yuk pulang.” Ajakannya di angguki sang pacar.
“Duluan Nia.” Pamit Nita di balas senyuman palsu. Ia masih mematung menatap punggung yang semakin mengecil. Air menetes membelai pipi. Nia tersenyum getir, beginikah ending kisahnya?
Ia baru memulai, begitu cepat berakhir. Nia tidak mengetahui jika Nita menyukai laki-laki yang sama dengannya. Apalagi status mereka semakin membuat dadanya menyempit.
“Lupain Nata.”
----------
Moodnya tidak bersahabat, ia tidak boleh terpengaruh, ujian tetap berjalan lancar. Selama satu minggu Nia bisa melupakan sejenak perih di hatinya, tumpukan buku mengalihkan perhatiannya, ia belajar dan belajar terus belajar.
Tidak terasa hari perpisahan tiba. Ia melihat Nata sangat tampan dengan balutan jas serta dasi, melekat cocok di tubuh tegapnya. Ia terus menghindar saat Nata menghampirinya. Ia tidak ingin bercengkrama dengannya, meski itu hanya menanyakan kabar.
Tentu saja Nia tidak baik, ia masih berusaha mengusir seorang Nata pergi, namun belum bisa, semua kenangan bersama terngiang. Yang ia ingat hanya kenangan manis, karena faktanya Nata memang tidak pernah menyakitinya, satu kesalahan fatal yang ia lakukan terlanjur mempercayainya lalu meyerahkan hatinya.
Semua ini terjadi karena ulahnya sendiri. Nia tidak boleh menyalahkan Nata apalagi Nita. Ia yang mencintai diam-diam, inilah resikonya.
“Nia!” Setelah bermain kejar-kejaran, akhirnya Nia menyerah. Ia tidak mau menjadi sorotan, banyak pasang mata memperhatikan mereka.
“Sampai kapan kamu mau menghindar.” Tanyanya pada gadis yang enggan berbalik.
“Gue ada urusan.”
“Nia.” Nata kehabisan kata-kata. Ia harus melakukannya. Ia tidak ingin terus hidup dalam terkaan.
“Aku mau tunangan...”
“NIA!” Belum selesai ia berucap, Nia melangkah cepat meninggalkannya.
----------
Ia tidak bisa menolak, Nita datang sendiri ke rumah mengundangnya, satu minggu setelah perpisahan. Cepat sekali, hatinya belum siap. Nia datang sendiri, karena memang ini acara untuk mereka, hampir semua teman seangkatan hadir.
Namun pada kenyataannya Nia tidak melihat siapa pun di ruangan ini selain Nata yang membawa sebuket bunga wawar putih dan kotak merah, Nia tebak isinya cincin. Pasti buat Nita, ya buat siapa lagi kalau bukan buat calon istrinya. Sepertinya Nia salah ruangan. Ia tersentak lampu seketika mati, menyisakan cahaya temaram lilin. Nata melangkah memangkas jarak.
Nia ingin pulang sekarang juga tapi tidak sopan Nita sendiri yang meminta kehadirannya. Nata meletakkan bawaannya di atas meja di tengah mereka. Dengan kedua tangan masuk kedalm saku celana. Persis senyum yang ia ukirkan waktu MOS, kembali di lihat Nia. Senyum itu berbeda, begitu ikonic
“Apa?” Katanya dengan nada jutek persis seperti saat awal perkenalan. Nata tertawa tertahan, ia tidak boleh ngakak, yang ada rencananya gagal. Kan sayang waktu berharga terbuang percuma.
“Apa kabar?”
Deg!
“Lo sengaja ya?” Firasat Nia buruk.
“Mau kamu apa?”
“Yang ada gue yang nanya mau lo apa?!” Tolong hentikan, Air mulai menggenang di pelupuk mata.
“Kamu suka aku?” Tanyanya serius, Nata ingin tau sebelum semua terlambat.
“Iya gue suka lo.” Jawabnya jujur.
“Siapa sih yang gak suka lo. Lo emang pantas di sukai. Bahkan teman lo bukan hanya sebaya, tapi kakak kelas, bahkan adik kelas juga suka sama lo. Lo punya banyak teman.” Sambungnya cepat, hampir saja Nia melakukan kesalahan terfatal dalam hidupnya.
“Gak usah sedih, gue muak liatnya.” Ujarnya begitu blak-blakkan.
“Nia.” Tidak di respon membuat emosinya naik.
“NIA!” Ia terkejut sekali, kali keduanya di bentak oleh laki-laki yang sama. Gadis itu bergetar, menahan luapan emosi yang ingin lepas. Api yang hampir menguasai padam dengan tetesan air dari gadis di depannya. Nia menangis persis seperti pertama kali mereka bertengkar.
“Apa gak ada ruang sedikit saja di hati lo buat gue.” Nata mengungkapkan kekesalan selama ini. Ia menyukai gadis ini, gadis unik yang memenjaranya. sungguh, ia tidak tenang jika belum memastikan Nia baik-baik saja. Nia tercenung.
“Apa?” Sahutnya dengan air yang terus mengalir.
“Gue cinta sama lo.” Pengakuan begitu menyayat hati.
“Nia lo juga cinta gue kan?” Apa ini kesempatannya?
Hatinya ingin berkata iya, tapi otaknya menyuruh kabur, tidak bisa Nata punya Nita. Nia memilih melangkah pergi, isak sampai ketelinga Cowok yang begitu mengaguminya. Sejak pertama kali melihat Nia, Nata sudah terpikat, Nia tidak seperti gadis kebanyakan, dia berbeda. Dia itu seperti bunga mawar, indah, perlu kehati-hatian agar bisa di petik. Dia bisa menjaga dirinya, namun ada kalanya singapun perlu penjagaan.
Sekeras-kerasnya batu bisa berlubang, tetesan air terus menerus membuat seperti itu. Izinkan Nata menjadi airnya.
“Lo emang butuh gue Nat.” Nita bergabung di waktu yang tepat.
“Halo Nia.” Sapanya ramah pada teman curhatnya satu tahun belakangan. Nia mematung, situasi apa ini?
“Mau sampai kapan lo terus ketakutan? Ayolah lihat ke depan. Buka mata lo lebar-lebar. Ada pria dengan cinta tulus hanya untuk seorang kurnia ningrum seorang.” Nia memandang Nata lalu Nita bergantian.
“Apa yang kalian rencanakan.” Ini aneh. Nita memberi kode dengan raut wajahnya.
“Tanyakan saja padanya.” Nia berbalik menghadap Nata yang akan berterus terang.
“Gue sebaiknya pergi.” Langkahnya di cekal dengan satu kalimay yang terlontar.
“Enggak! Lo tetap di sini.” Nia tidak mau berdua saja dengan pria menyedihkan. Di mata Nia, Nata sama menyedihkannya dengan pria megemis cinta. Nia sangat tidak menyukai itu, ia membenci wanita yang menolak pria yang terus berjuang tidak menyerah hingga perasaannya terjawab. Jangan buat Nia berharap, ia takut menerima sakit yang lebih parah dari sekarang.
“Nita panggil semua orang, kita selesaikan acara ini secepatnya.”
“Eh!” ini tidak ada dalam rencana. Nata mengambil langkahnya sendiri.
“Biarkan Nia pulang dan beristirahat.” Rasanya sangat pedih. Air menetes deras, tidak membiarkan jejaknya mengering. Langkah Nita terhenti saat hendak mencapai pintu.
“Gue suka lo!” Ucap Nita lepas kendali, ia geram. Hatinya panas.
“Apa?!” Nata ingin mendengarnya sekali lagi.
“Gue suka lo Nataniel, gue takut hubungan kita tidak lagi sama, gue gak mau jika hubungan ini berakhir kita juga berakhir. Silahkan lo nikah, punya anak yang banyak, gue rela jadi teman lo selamanya asalkan lo gak ninggalin gue.” Lirihnya berderai tangis.
Nia meraung di tempat, kedua tangannya ia gunakan menutupi wajah berantakannya. ia malu sekali. Bisa-bisanya mengakui perasaan di hadapan cowok yang sebentar lagi menajadi hak cewek lain. lampu menyala. Nita tersenyum lebar. Semua tamu bersembunyi bermunculan, gemuruh tepuk tangan mengisi ruangan. Adegan yang sangat mengharukan. Nia menyingkirkan tangannya, ia melihat sekeliling. Apa ia sedang di permainkan?
Nata mengambil kotak segi empat itu. Ia mendekat hingga jarak yang tersisa hanya satu langkah. Nata membuka kotak itu, cincin perak dengan permata di tengahnya sudah menunggu di pasangkan di jari manis mempelai wanita.
“Jadilah isritriku.” Dua kata yang sangat bermakna. Ia tidak meminta Nia menjadi ibu dari anak-anaknya, ia membutuhkan Nia sebagai istri sekaligus rekan hidupnya.
Hening, para tamu ikut merasakan ketegangan menunggu jawaban. Nia linglung. Ia tidak bisa berpikir jernih, pikiranya bercabang, dimulai dari mana semua ini? Pandangannya menyapu ruangan, hanya beberapa teman yang di kenali. Semuanya tersenyum padanya. Teman seangkatan yang sempat tidak dirinya anggap.
“Gue...”
“Nia!” Ia tidak bisa mencerna. Semuanya terlalu mendadak, terlalu mengejutkan, Nia berlari meninggalkan acara. Cowok yang menjadi saksi perjuangan sahabatnya dari masa MOS Menepuk pundaknya memberikan semangat.
“Belum terlambat.” Mendengar itu semangatnya kembali menggebu, Nata hendak menegejar, tangannya lebih dulu di cekal.
“Jangan sekarang.” Nata mengerti, Nia perlu waktu sendiri, setelah mereka benar-benar nyaman, Nata akan menjemput bidadarinya.
Fin