Oleh Antonius Raply Situmorang
“Astrid...! cepetan nak!” teriak papa Yanto pada Putri semata wayangnya. Ya pagi ini adalah hari Senin dimana mereka harus menjemput Antonius kerumahnya.
Astrid berlari-lari kecil menuju mobil sambil menggenggam buku bank soal Persiapan masuk perguruan tinggi. Astrid masuk dan duduk di belakang. “Yuk pah” ajak Astrid.
Setelah berangkat, mereka pun menuju ke rumah Antonius. Jaraknya tidak jauh dari rumah, Cuma butuh waktu kurang lebih setengah jam.
Sampai rumah Antonius. Ternyata dia sudah berdiri di sana.
“Ayok nak, maaf papa lama” ajak papa Yanto.
Iya pa. Ayah ibu, Antonius berangkat dulu ya.
“Iya nak. Hati-hati”.
Perlahan mobil mereka menyusuri jalan. Medan di kala pagi, selalu ramai dengan penduduk yang beraktivitas sejak matahari masih malu menunjukkan sinarnya. Sebagian besar adalah kaum pendatang, baik dari dalam ataupun luar pulau. Ada yang sukses, ada juga yang langsung pergi menuju rumah sakit, dan ada juga yang mengantar anak-anaknya ke sekolah.
Terlepas dari semua itu, Medan kota yang cukup indah. Kota persaingan hidup sangat menentukan jalan nasib seseorang.
It is the city that never sleeps.
Di tengah perjalanan, Astrid memulai pembicaraan. “Antonius kenapa tadi pagi lama banget balas pesan Astrid. Bukannya di jawab malah di read doang” ucap Astrid.
“Ya maaf. Kan Antonius sama Astrid kan jumpa. Jadi kenapa harus balas-balas pesan.” Jawab Antonius.
“Ya tapikan setidaknya di balas dong dekkk. Jangan di biarin gitu aja” sahut Astrid.
“Iya iya. Lain kali pasti di balas kok” jawab Antonius.
Tak lama kemudian akhirnya mereka sampai di sekolah. Sebelum mereka keluar papa Yanto memberi pesan.
“Nanti di sekolah jangan nakal. Belajar baik-baik. Dan yang paling penting harus saling menjaga” pesan papa Yanto.
“Iya pa” balas mereka berdua.
“Ini ada uang jajan untuk Antonius dan juga Astrid. Harus di terima, Ngga boleh tolak” sambil mengambil uang dari dompetnya. Dan memberikan uang kepada Antonius dan juga Astrid. Makasih ya pa ucap Antonius.
Iyaa. Belajar rajin-rajin. Jangan nakal, okey?
Hehehe siap pa jawab Antonius sambil tertawa.
“Ya udah sekarang masuk. Bentar lagi bel” ucap papa Yanto.
Iya pa. Kami berangkat ya pa sahut Astrid keluar dari mobil dan di ikuti oleh Antonius dan tak lupa mereka berdua mencium tangan papa Yanto.
“Papa berangkat sekarang. Nanti pulangnya bareng juga ya. Papa nga bisa jemput” ucap papa Yanto sambil menjalankan mobilnya.
Setelah mobil mereka tidak terlihat lagi. Antonius dan juga Astrid memasuki gerbang sekolah.
Banyak pasang mata yang melihat mereka. Banyak yang menganggap bahwa mereka pacaran namun anehnya lagi ada yang malah benci sama Astrid karena Cuma dia yang bisa dekat-dekat dengan Antonius.
Tak lama kemudian bel masuk berbunyi. Dan akhirnya mereka pisah.
“Nanti kalau udah istirahat Astrid datang ke kelas kamu. Tunggu di sana” ucap Astrid dengan nada tegas.
Iya iya kakak Astrid. Nga usah marah-marah lagi jawab Antonius sambil mengacak-acak rambut Astrid yang mana membuat banyak pasang mata langsung menatap tajam ke arah Astrid.
“Apaan sih. Kamu mau aku jadi santapan macan-macan itu ucap Astrid sambil menunjuk ke arah kumpulan siswa perempuan.
Biarin aja. Kan Astrid kakaknya Antonius. Jadi Antonius bebas lah buat ngacak-acak rambut Astrid jawab Antonius.
Ya udah terserah kamu lah. Tapi tanggung jawab kalau Astrid kenapa-kenapa.
Iyaa. Antonius duluan dulu ya.
Akhirnya mereka langsung bergegas masuk ke kelas masing-masing dan memulai sekolah dengan semangat.
Sesampainya Antonius di kelasnya. Langsung di suguhkan dengan temannya yang bernama Daniel.
“Hey bro. Udah datang aja. Nih ada surat dari kakak kelas sama ada kado juga di bungkus. Katanya sih, harus Lo sendiri yang buka. Jadi tugas gue hanya memberikan ini” ucap Daniel kepada Antonius.
Lebay banget Lo Daniel sambar Antonius.
Wah tumben Lo bisa bilang kayak gini. Memang sejak berteman dengan seorang Daniel ya jadinya pasti begini sahut Daniel.
Iyaa ini semua gara-gara Lo jawab Antonius.
Ya udah sekarang duduk aja gih. Masa berdiri terus. Ntar pendarahan tau rasa Lo. Hahaha ucap Daniel sambil tertawa.
Wah sembarangan Lo kalau ngomong Dan. Lo pikir gue ini perempuan apa? Sahut Antonius.
“Iya iya maaf”
Dengan tenang, tanpa tidak melihat sekelilingnya yang ternganga, dan entah sadar atau tidak teman-teman sekelas Antonius terkejut dengan tingkah Antonius. Karena baru kali ini dia banyak bicara dari bahan biasanya, sampai satu kelas bisa jadi benar-benar senyap, Antonius pun menjatuhkan tubuhnya ke bangku.
Namun mendadak ekspresi wajahnya jadi kaku kala begitu dia sadar ada sesuatu yang bertengger manis di atas mejanya. Sebuah kotak kue penuh potongan black forest dengan sebutir ceri merah di atas setiap potongannya. Serpihan-serpihan cokelat menutupi seluruh permukaan kue. Dan ada tulisan kertas di sana.
“Semoga kamu suka ya. Dari Fitri Carlina kelas XII IPA 1”. Namun ternyata Antonius tidak terpengaruh oleh kue itu.
Dengan sedikit jengkel Antonius meraih kotak kue, lalu menyodorkannya ke teman-teman cowok kelasnya yang duduk berkerumun tak jauh dari mejanya.
“Kalian pada mau ngak kue ini?
Aku nga bisa makan yang manis-manis. Nanti bisa diabetes kalau terlalu banyak” ucap Antonius.
Langsung aja mereka menyerbu.
“Asssiap bro. Jelas mau banget dong!”
Kotak kue itu pun segera berpindah tangan ke segerombolan mulut-mulut rakus yang menyambut dengan sorak kegirangan. Karena sejak tadi mereka hanya bisa memandangi kue itu, tapi Cuma bisa ngiler karena Fitri mengancam mereka apabila sempat menyentuh kue itu, karena kue itu memang spesial dibawa untuk Antonius. Dan kue itu pun ludes dalam sekejap.
“Enak, gila banget!!!” kata Ronni sambil menjilat-jilat tangannya. Makasih ya Antonius. Kalau bukan karena Lo kita nga akan bisa makan kue ini” ucap Ronni.
“Iya benar banget” sahut yang lain.
Gini ya teman-teman. Kalau bisa jika ada yang ngasih kayak gini. Jangan di terima. Antonius jadi kayak merasa bersalah gitu sama mereka. Antonius selama ini selalu terima pemberian mereka. Sedangkan Antonius nga bisa kasih apa-apa sama mereka. Jadi teman-teman Antonius harap kalian bisa bantu Antonius ya! Ucap Antonius sambil memohon kepada teman-teman sekelasnya.
“Tapi kami takut sama kakak kelas. Nanti kami malah di labrak lagi sama mereka” ucap salah satu dari mereka.
Tapi Antonius. Ngak papa kok kalau kamu menerima pemberian mereka. Kan mereka yang ngasih, asal jangan Antonius sendiri yang memaksa mereka buat ngasih kado. Tapi kami akan coba kok, kalau masih ada yang mau ngasih kado ucap Bella.
Makasih Bella. Kamu memang bisa di andalkan sahut Antonius kepada Bella.
It’s okey bro. Kita semua bakal selalu jaga kamu kok jawab Bella.
Hahaha kalian semua memang yang terbaik.
Tak lama kemudian, Bu Henny, selaku guru matematika, memasuki ruangan dan mengucapkan salam kepada anak-anak. Pagi itu penampilannya terlihat sangat cantik. Dia memakai setelan baju batik modern, mulai dari kemeja lengan panjang sampai rok panjangnya. Benar-benar cantik sekali.
“Ayo, anak-anak! Kumpulkan PR nya sekarang. Taruh di meja depan saya ya, biar ibu periksa,” seru Bu Henny.
Semua anak-anak termasuk Antonius segera bergegas mengumpulkan PR.
“Baik anak-anak sembari ibu memeriksa tugas kalian. Buka materi selanjutnya dan pelajari, nanti kita akan bahas bersama-sama” ucap ibu Henny dengan senyuman manis.
“Baik Buuu” sahut para siswa dengan semangat.
Bel istirahat berbunyi. Dengan wajah cerah anak-anak menghambur keluar.
“Antonius, ke kantin yuk!” ujar Daniel.
Iya kalian duluan aja. Aku masih nunggu Astrid dulu jawab Antonius.
Ya udah deh. Nanti jumpa di kantin saja.
Kita duluan ya ujar Daniel.
Setelah kepergian teman-teman Antonius. Ternyata Astrid sudah datang bersama teman-temannya pengurus OSIS.
“Antonius, sini bentar! Kami ada rapat OSIS sekarang, jadi nga bisa ke kantin. Kamu ngak papa kan sendiri? Atau kalau kamu mau, Antonius juga bisa ikut rapat bersama kami” ujar Astrid.
Tapi nanti lama nga rapatnya? Tanya Antonius.
Iyaa kayaknya lama. Makanya Astrid bilang kamu ikut saja ya bujuk Astrid.
“Nga deh Ast. Aku nga usah ikut. Antonius di kelas saja” jawab Antonius.
Jangan di kelas. Ke kantin dulu, kamu pasti laper. “Daniel sini bentar” teriak Astrid.
Iya kak ada yang bisa kami bantu jawab Daniel setelah di dekat kami.
Ini bawa Antonius ke kantin. Di tarik aja kalau nga mau seru Astrid kepada Daniel.
Iya kak. Tadi kami ajak Antonius kok kak, tapi katanya mau nunggu kakak. Siapa tau penting kan sahut Daniel.
Ya udah sekarang kalian ke kantin dulu ya. Awas jangan ganjen nanti di kantin. Nanti yang kewalahan malah Astrid. Ya udah kami pergi dulu ya ucap Astrid sambil berjalan bersama teman-temannya.
“Gila lo Ast. Kenapa nga kamu ajak aja tadi Antonius nya. Kan bisa sambil cuci mata juga” kata Raina si sekretaris OSIS.
Apaan sih Raina. Kamu itu udah punya pacar. Lagian kalau pun Astrid maksa Antonius tadi, dia nga akan mau ikut sahut Astrid kepada Raina.
Aduhh padahal tadi aku udah berharap banget lohh jawab Raina.
Di kantin sekolah, Antonius dan juga teman-temannya sedang mengantri untuk membeli makanan.
“Antonius kamu mau makan apa?” tanya Daniel.
Terserah kalianlah. Antonius ngikut aja sahut Antonius.
“Yeee kamu mah jangan gitu. Kamu dulu yang milih sana” kata Daniel yang memaksa Antonius yang masuk dan memilih makanan untuk mereka.
Ya udah deh.
“Permisi Bu, disini ada makanan apa saja Bu?” tanya Antonius.
Ohh ini nak, banyak nak makanan di kantin kita ini ucap ibu penjaga kantin.
Kalau kamu mau ibu bisa buat soto aja gimana? Tanya ibu penjaga kantin.
“Boleh Bu. Buat 6 porsi ya Bu. Sama teman-teman saya juga” jawab Antonius.
Minumannya apa nak?
“Yang ada aja Bu”
Hahaha kamu ya nak. Entah minum teh manis kek, atau minuman Coca-Cola. Banyak juga nak minuman kita jawab ibu penjaga kantin.
“Ya udah Bu. Teh manis dingin aja. Nanti di antar di meja sana ya Bu” ucap Antonius sambil menunjukkan meja kosong dipojokan..
“Okey nak. Di tunggu ya pesanannya” sahut ibu penjaga kantin sekolah.
Antonius berjalan ke arah teman-temannya setelah memesan makanan mereka.
“Lama banget loe Antonius, Kita udah laper nih” seru Daniel.
Makanya tadi yang mesan Lo aja Dan. “Awalnya titip tawa, ujungnya tinggalin luka” jawab Antonius sambil membuat suaranya seolah-olah sedih.
Yahh malah curhat. Sok puitis banget loo dek dek ucap Ronni sambil tertawa.
“Dak dik duk dek. Sembarangan kalau ngomong. Aku itu bukan adek lo Ron!” sahut Antonius.
Hahaha nga sadar ya kalau di sini Cuma loe yang masih 15 tahun, kalau kami udah 16 jawab Ronni.
Iya iya! Kalian yang menang balas Antonius.
Nah gitu dong. Kan harus Abang yang menang sahut Ronni membalas perkataan Antonius.
“Ini nak makanannya, maaf lama ya” ucap ibu penjaga kantin sekolah.
“Wahh akhirnya yang ditunggu-tunggu sudah datang” ucap Daniel.
Makasih ya Bu. Nanti kalau sudah selesai makan kita langsung bayar Bu jawab Antonius.
“Iya nak, silahkan di nikmati ya”.
Duh enak banget sotonya. Antonius memang yang terbaik buat milih makanan ucap Jonathan.
“Iya benar banget” sahut yang lain.
Mereka pun melahap makanan mereka dan setelah selesai makan mereka membayar dan langsung menuju kelas mereka karena sebentar lagi akan bel masuk.
Di lorong kelas mereka. Tiba-tiba ada pengumuman bahwa nanti pulang sekolah akan di adakan pertandingan.
“Halo teman-teman! Halo juga adik-adik kami kelas 10! Kami dari pengurus OSIS mengumumkan bahwa kita akan mengadakan pertandingan bola basket antar kelas, dan sekalian pemilihan tim basket yang baru karena sebentar lagi akan ada pertandingan antar SMA se-kota Medan. Dan kita juga akan memulai nanti setelah pulang sekolah. Demikian pengumuman dari kami agar kita laksanakan dengan baik! Akhir kata kami ucapkan sekian dan terimakasih” ucap Astrid yang mengumumkan lewat pengeras suara.
“Kok tiba-tiba banget ya pengumumannya! Kita mana ada persiapan. Baju olahraga saja nga bawa” ucap Daniel setelah mereka masuk ke kelasnya.
Iya bener banget. Masa iya pake dinas sekolah sahut Jonathan yang membuat mereka semua terdiam.
“Teman-teman tadi aku udah di telpon pembuat baju kelas kita, jadi sekarang udah di antar ke sini. Kita masih bisa main kok” seru Bella bendahara kelas.
Wah Bella memang penyelamat kita. Nga sia-sia kita milih dia jadi bendahara jawab Daniel.
Iya iya, ini semua demi kelas kita sahut Bella.
Bel pulang berbunyi. Dengan wajah cerah anak-anak menghambur keluar.
“Antonius, nanti kelas kita tanding basket lawan 12 IPS 1 lho. Kelasnya Helga. Dia itu ngincar-ngincar kamu Lho. Ciee...! Lo nanti harus main nga boleh nga main, kita tadi udah bahas siapa yang akan main dan semua setuju kalau Lo ikut main juga. Nihh baju Lo,” ujar Daniel bersemangat. Antonius mengangguk sambil tersenyum. Mereka turun menuju lapangan basket di depan gedung sekolah.
“Sepuluh... IPS 1....!!!” seru Bella memberi semangat kepada tim basket kelasnya. Sesekali dia melambaikan tangan pada Antonius, ketua kelas mereka. Antonius sedang berebut bola dengan Kevin, cowok bernomor punggung 10. Kevin bertubuh atletis dan berisi. Potongan tubuh yang benar-benar pas untuk ukuran tinggi badannya. Antonius juga punya badan yang bagus, kulit yang putih dan potongan rambut yang lumayan panjang sampai alis namun pendek di bagian samping dan juga mempunyai tinggi badan yang tidak kalah dengan Kevin. Banyak sorak-sorai dari penonton terutama penonton perempuan yang berteriak-teriak mendukung Antonius.
Di tengah keramaian itu, Helga tiba-tiba mendekati Bella.
“Eh, Bella, kelas Lo tanding lawan kelas gue ya?” tanya Helga.
“Iya. Ntar kalo kelas gue menang, bakal lawan kelas nya kak Astrid. Tumben kakak kesini?” tanya Bella sambil tetap memperhatikan tim basket kelasnya.
“Iya nih, gue mau liat Antonius main basket, sekalian nanti ngasih air minum di sini. Kenapa, ngak boleh?” jawab Helga ketus. Bella mengernyitkan dahi dan berucap dalam hati “Duh nenek sihir, liat aja nanti responnya Antonius”.
“Wahh, Antonius jago juga ya main basketnya, yang lain juga keren banget” sapa Astrid saat break pertandingan.
Di saat yang sama, Antonius menghampiri mereka, menatap Helga kemudian langsung beralih ke Astrid dan segera mendekatinya.
“Kakak, Antonius haus,” ucap Antonius sambil membuat muka manyun dengan bibir cemberut.
Helga yang merasa dirinya tidak di respon segera pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Tanpa memperhatikan Helga, Astrid segera memberikan botol minumnya kepada Antonius.
Dia juga mengatakan kepada teman-teman Antonius kalau di sana sudah disediakan air minum.
Astrid menghela napas memerhatikan Antonius.
“Tadi kenapa nga nyapa Helga?” tanya Astrid.
Nga tau. Emang tadi Helga nyapa Antonius ya? Ngak kan? Ucap Antonius yang sepertinya tidak suka dengan Helga.
Astrid terdiam, agak kaget dengan jawaban Antonius.
“Ya udah kalau memang gitu. Tadi Astrid Cuma nanya doang kok” jawab Astrid.
Iyaa, aku ke kamar mandi dulu ya ucap Antonius sambil berlari ke kamar mandi.
“Astrid, kelas pacar Lo masih ketinggalan angka nih! Ucap Kevin sambil duduk di samping Astrid.
“Santai, Vin. Kan ada Antonius. Oh iya, jangan ngomong kalau Astrid sama Antonius itu pacaran. Kami nga Cuma adek kakak, nga usah salah paham” jawab Astrid seadanya.
“Yes, kalau begitu masih ada kesempatan dong?” tanya Kevin.
Kesempatan apanya Vin? Ucap Astrid menanyakan balik.
“Pikirin aja sendiri! Jelas Kevin hanya tersenyum kecil sambil mengacak-acak rambut Astrid dan berjalan ke lapangan basket karena bunyi peluit tanda break pertandingan telah usai. Tidak jauh dari situ terlihat Antonius berlari-lari kecil bergabung dengan timnya. Setelah semua pemain berkumpul, pertandingan babak kedua pun langsung dimulai.
Astrid yang di buat seperti itu langsung tersipu malu. Karena memang dia suka dengan Kevin sejak kelas 10.
Pertandingan babak kedua pun telah usai dan di menangkan oleh kelasnya Kevin.
Malamnya, Antonius dan Astrid menonton TV di rumah Astrid.
“Ast, ganti filmnya dong, masa iya dari tadi nonton film Korea Mulu!” seru Antonius yang sudah bosan.
“Eh,kamu nga suka nonton film Korea ya? Ya udah kita ganti channel TV nya saja. Antonius sukanya apa?” tanya Astrid.
“Kita nonton film Marvel Avengers gimana?” seru Antonius.
“Ya udah. Sebentar aku cari dulu. Biasanya malam-malam begini banyak film Marvel.”
Tiba-tiba, ada yang menelepon Antonius. Kebetulan handphonenya ada di samping Astrid dan langsung melihat siapa yang menelepon.
“Ini ada yang nelpon, angkat gih!”seru Astrid.
“Halo, ini siapa ya?” sapa Antonius.
“Halo Antonius, ini Sarah. Kamu apa kabar?”
Deg! Antonius tertegun. Dia masih kenal banget suara Sarah. Ya Sarah adalah perempuan yang memutuskan Antonius tahun lalu.
“Eh, halo. Ada apa? Antonius lagi sibuk, nggak bisa di ganggu!” seru Antonius.
Bukannya langsung di jawab, Sarah malah diam.
“Apa Antonius udah lupa ya samaku” ucap Sarah dalam hati.
Kalau memang tidak ada yang mau di sampaikan Antonius tutup sekarang seru Antonius.
“Eh, tunggu dulu Antonius, Sebentar saja. Aku mau ngajak kamu ketemu boleh nggak?” tanya Sarah.
“Nggak ada waktu” sahut Antonius sambil menutup telponnya dengan cepat tanpa menunggu jawaban Sarah. Tak di sangkal, Antonius sebenarnya tidak mau lagi berhubungan dengan Sarah. “Dia pikir Cuma dia yang bisa berbuat seperti itu” ucap Antonius dengan nada pelan namun masih bisa di dengar oleh Astrid.
Astrid terdiam, dia tak percaya Antonius bisa berbicara seperti itu. “Antonius kenapa? Kalau ada yang mau di ceritain cerita saja sama Astrid. Tadi siapa yang nelpon Antonius” tanya Astrid dengan nada lembut.
“Eh.... ini Ast, yang nelpon tadi itu adalah masa lalu,” seru Antonius.
“Sarah?” tanya Astrid yang memang sudah mengetahui karna Antonius pernah menceritakannya.
“Iya, masa di bilangnya gini! Aku mau ngajak kamu ketemu boleh nggak? Antonius kan nggak suka lagi sama dia. Malah ngajak ajak” seru Antonius yang mulai kesal dan membuat bibir manyun.
Astrid tersenyum melihat Antonius. “Jadi kamu mau ketemu sama dia?” tanya Astrid.
“Enggak lah, mana mau. Mending tidur” ujar Antonius.
“Iya kalau memang seperti itu. Nggak apa-apa kalau memang dia ngajak ketemu. Tapi kalau memang Antonius nggak mau tidak apa-apa.
Tapi setidaknya Antonius dengerin dulu apa yang mau dia bilang. Kalau dia nge chat atau telpon jawab baik-baik. Di jawab nanti dalam arti hanya sebatas teman doang, nga lebih” ucap Astrid memberikan penjelasan kepada Antonius.
“Jadi walaupun udah putus masih bisa berhubungan gitu?” tanya Antonius.
Itu sih tergantung Antonius nya. Kalau Antonius mau ya bisa jawab Astrid.
“Tapi Antonius nga mau lagi berhubungan dengan dia. Salah dia sendiri.”
“Ya udah kalau memang seperti itu. Sekarang masih mau lanjut nonton filmnya nggak nih?” tanya Astrid.
“Nga lagi deh Ast. Mending tidur” jawab Antonius.
“Tapi ini masih jam 7 loh. Kita keluar yuk beli jajan. Papa sama ayah kan ke rumah sakit. Nanti kita kabari kalau kita keluar. Siapa tau mama sama ibu pulang,” seru Astrid.
“Iya Ast. Aku ngikut aja” sahut Antonius.
Usai mengabari orang tua mereka. Antonius dan juga Astrid pergi keluar untuk membeli jajan. Mumpung malam Minggu.
Di sebuah restoran
“Bang Kevin.... ini kenapa harus restoran mahal gini bang. Kan ada warteg-warteg pinggir jalan tadi,” bisik Antonius pada Kevin namun terdengar oleh teman-temannya juga.
“Udah nggak usah di pikirin soal harga. Nanti kita yang mentraktir kamu makan,” sahut Surya salah satu tim basket sekolah Antonius.
“Eh... anu bang. Soalnya aku nggak bawa uang. Kan nggak mungkin terus orang Abang yang selalu nraktir” jawab Antonius dengan nada pelan dengan wajah yang sudah menunduk.
“Meragukan Kekayaan keluarga kami kahh?” tanya Surya dengan sedikit bercanda.
“Ya udah deh kalau gitu. Kalau misalnya pun aku nolak tetap aja Abang semua yang nraktir,” seru Antonius.
“Nah, itu tau. Sekarang makan sepuasnya aja ya. Soal harga aman kok. Lagian kalau kurang ada uang kemenangan pertandingan tadi siang,” jelas Kevin.
“Iya deh bang. Sultan mah bebas,” sahut Antonius mengalah.
“Hahaha udah mulai nge gas ya!” ucap mereka.
“Ini nge gas karna Abang semua,” sahut Antonius.
“Buruan pesan ya,”
“Iyee...”
Antonius dengan senang hati langsung memesan makanan yang ia suka, namun tak seperti ekspektasi. Rasanya memang benar-benar luar biasa enak, pantes aja bintang 5, tapi porsinya hanya separuh dari penjual makanan warteg langganan nya.
“Enak sih enak bang. Tapi porsinya bikin miris nangis,” seru Antonius.
Kevin terkekeh geli melihat Antonius. “Kalau mau nambah juga nggak apa-apa kok. Di pesan lagi aja” sahut Kevin.
“Nggak deh bang. Cuma bercanda kok. Ini aja udah kenyang,” sahut Antonius cepat.
“Beneran udah kenyang. Kalau gitu nanti kita jalan-jalan lagi ya. Malam-malam gini tuh jadi tambah seru,” ucap Surya.
“Bener banget tuh. Nanti kita keliling kota aja. Lagipula kepala sekolah sudah keluarin ijin, kalau kita bisa nggak sekolah besok. Di anggap hadir,” ujar Kevin.
“Yang bener bang?” tanya Antonius.
“Iya. Makanya Abang kan udah nyuruh kamu biar masuk ke OSIS. Tapi ngeyel nggak mau juga,” sahut Kevin.
“Enak banget ya, besok nggak sekolah”
“Tapi soal jadi pengurus OSIS itu, nggak deh bang. Serasa belum mampu,” ujar Antonius.
“Ya udah lah. Tapi Abang saranin aja. Kita semua kan pengurus OSIS. Cuma kamu yang nggak masuk”
“Iya bang. Nanti di pikirin deh” sahut Antonius.
“Nah, ini dia yang paling kita tunggu,” ujar Surya tiba-tiba melihat ke arah pelayan membawa makanan penutup mereka.
“Wah, ada es krim. Rasa coklat lagi” seru Antonius bersemangat.
“Biar adek kami ini senang” sahut Kevin.
“Iya di makan aja. Kalau mau di habiskan aja,” sahut Surya.
“Hehehe makasih bang,”
Antonius pun mulai melahap es krim coklat di depannya. Tanpa dia sadari teman-temannya mem foto Antonius dan langsung membuat status di WhatsApp dan juga Instagram. Bahkan tidak lupa mereka menandai Antonius di foto tersebut. Antonius tertawa lepas seperti anak kecil yang di berikan permen.
Seseorang tiba-tiba mengomentari postingan mereka.
@V.For.Claraa
“Aku melihatmu”
“Aku kembali melihat mu”
“Senyum manis mu membuatku tersipu”
“Gerak-gerik mu membuatku mleyot”
“Dan semakin kamu tersenyum semakin membuat ku cinta padamu
Tring....tring....
Ponsel Kevin berbunyi tertera nama ‘Papa’ di layar ponselnya. Kevin langsung sesegera mengangkat telepon dari papanya.
“Halo pa... ada apa?”
“.....”
“Apa!? Oke aku akan ke sana sekarang!”
“.....”
“Tunggu ya pa!”
Antonius kebingungan melihat wajah Kevin yang perlahan semakin cemas dan pucat.
“Bang Kevin kenapa?” bang Kevin nggak lagi sakit kan?”
“Ayo pergi sekarang!” ajak Kevin
“Mau kemana bang?” tanya Antonius.”Bang Kevin kenapa?” bang Kevin nggak lagi sakit kan?”
“Ayo pergi sekarang!” ajak Kevin
“Mau kemana bang?” tanya Antonius.
“Udah ikut aja!”
“Eh kalian mau kemana Vin. Kok langsung pulang,” seru teman-temanya.
“Nanti aja ku kabari. Kalian lanjut dulu ya,”
Kevin langsung pergi menuju parkiran mobil dengan sedikit berlari, Antonius yang masih kebingungan ikut berlari agar tidak ketinggalan langkah dari Kevin.
Di dalam mobil
“Bang Kevin, kita mau kemana sih?” tanya Antonius.
“Antonius... Abang minta tolong kamu diem aja. Sebentar saja. Abang biar bisa fokus nyetir,” pinta Kevin melirik Antonius.
“Ish... bang Kevin di tanyain mah jawaban nya nggak masuk akal,” kesal Antonius.
...***...
Di rumah sakit
Antonius semakin keheranan dengan tingkah Kevin, apalagi sekarang dia membawa Antonius ke rumah sakit. Kepala Antonius penuh dengan segudang pertanyaan.
“Bang Kevin... ini kenapa sihh? Ngapain kita ke sini? Siapa yang sakit sih bang?” tanya Antonius yang sudah kesal.
Kevin diam tak menjawab, dia hanya terus berjalan. Mempercepat langkahnya hingga mereka sampai di paviliun melati. Ruang perawatan VIP di rumah sakit kota ini. Kevin menghela nafas panjang sebelum membuka pintu.
Karena tadi Kevin di telpon oleh papanya, dia di beritahu bahwa ayah dan ibu Antonius mengalami kecelakaan besar, dan papanya meminta Kevin untuk membawa Antonius ke rumah sakit.
“Bang Kevin.... ini kenapa sihh! Jelasin dong bang! Jangan diem aja dari tadi, aku nggak paham! Bang Kevin udah bisu ya” kesal Antonius.
“Dek... please dengerin Abang ya. Jangan ngebantah dan jangan banyak tanya dulu. Cukup liat kondisinya aja ya! Bisakan?” pinta Kevin.
“Iya-iya bang, Abang dari tadi sok misterius banget,” kesal Antonius.
“Janji?”
“Iya bang”
“Ayah sama ibu kamu mengalami kecelakaan tadi. Dan sekarang mereka lagi di rawat di dalam. Ada Astrid juga di sana, papa sama mama dan juga om Yanto ada di dalam, jadi Abang mohon kamu jangan bertingkat aneh-aneh nantinya,” pinta Kevin.
“APA?”
“Kamu tunggu bentar di sini, biar Abang dulu yang masuk,”
Ceklek.....
Dengan penuh keberanian, Kevin membuka pintu. Mamanya dan juga mamanya Astrid telah menangis duduk di sofa. Papanya dan juga papanya Astrid hanya diam bersandar di dinding, dan Astrid... Ia duduk diam di samping ranjang ayah dan juga ibunya Antonius, sambil menutupi seluruh wajahnya dengan tangannya.
“Papa! Gimana keadaannya ayah sama ibu Antonius? Gimana pah?” tanya Kevin.
“Kamu tenangin Antonius ya nak...”
“Pah...jangan bercanda yah! Ayah sama ibu gimana?” tanya Kevin serius.
“Ayah sama ibu Antonius... udah nggak ada,”
“Pah... papa jangan bercanda ya! Kevin serius yah. Lagi nggak bercanda,” ucap Kevin tak percaya.
Kaki Kevin melemas, ia langsung berbalik untuk menemui Antonius di luar. Tapi terlambat, Antonius sudah lebih dulu masuk ruangan dan mendengar semua.
“Antonius...”
“Antonius...” kaget Astrid dengan mata yang merah.
“Kakak... ayah sama ibu mana kak?” tanya Antonius dengan wajah datar.
“Antonius....”
Astrid tidak sanggup menjawab pertanyaan Antonius. Kevin berjalan mendekati Antonius.
“Bang Kevin... ayah sama ibu mana bang?”
Tanya Antonius.
“Antonius...”
Antonius berjalan mendekati ranjang ayah dan ibunya, ia memegang tangan ayah dan juga ibunya yang sudah dingin. Wajah pucat, terdapat luka di wajah, tangan dan kaki, di kepala terdapat perban yang menutupi luka yang terbuka, tubuh dingin dan terbujur kaku tidak bernyawa. Hal itu membuat Antonius terdiam.
“Ayah... ibu... bangun ya,” panggil Antonius lembut.
Kevin terkejut mendengar suara Antonius yang begitu lembut di telinganya. Sama juga dengan Astrid. Hampir setengah tahun mereka berteman, bahkan sama-sama saling menganggap keluarga, baru kali ini mereka mendengar Antonius berbicara dengan suara lembut.
“Ayah... ibu... bangun ya. Katanya ayah sama ibu mau beliin Antonius sepatu baru biar bisa berangkat pertandingan basket? Ayo beli sekarang, ayo beli yah, ibu,” ajak Antonius lembut sambil menggenggam tangan ayah dan juga ibunya.
“Dek...,” panggil Astrid.
“Ayah... ibu... Ayo bangun yah,” panggil Antonius dengan suaranya yang paling lembut.
“Antonius...”
Kevin berjalan mendekati Antonius. Dia sedikit memutar tubuh Antonius. Matanya memerah dan sudah berkaca-kaca, wajahnya datar pucat, pandangannya kosong. Kevin memeluk adiknya itu yang saat ini sedang rapuh, begitu juga dengan Astrid dia berjalan dan segera ikut memeluk Antonius.
“Ayah... ibu...” panggil Antonius dengan suara lembut.
Tak ada setetes air mata pun yang keluar dari mata Antonius, dia hanya diam dan tak berekspresi.
“Yang kuat ya dek...” ucap Kevin.
Kevin dan Astrid mendekap erat Antonius. Namun Antonius semakin melemas, Kevin keheranan tidak biasanya Antonius lemas seperti ini. Kevin sedikit melonggarkan dekapannya. Namun Antonius sudah jatuh pingsan tidak sadarkan diri.
“Antonius...,”
“Dek... Antonius.... sadar dek,” panggil Kevin.
Semua panik, mereka langsung membaringkan Antonius dan mengusapkan minyak kayu putih agar Antonius segera sadar.
Di rumah keluarga Antonius.
Antonius masih terbaring tidak sadarkan diri, ia mulai membuka matanya. Ia terkejut sudah terbaring di kamarnya. Ada Daniel, Ronni, Sarah, dan juga Bella.
“Dan...Ron...! ayah sama ibu mana? Orang tua gue mana” tanya Antonius panik.
“Antonius, yang kuat ya. Ayah sama ibu udah nggak ada,” ucap Daniel.
“Ayah sama ibu mana Dan?” bentak Antonius.
“....”
Daniel, Ronni, dan juga Sarah maupun Bella, tak ada yang bisa menjawab pertanyaan Antonius. Antonius kehilangan kesabarannya, ia langsung berlari keluar kamar. Sudah banyak orang yang datang melihat orangtua Antonius. Mereka ber bela sungkawa atas meninggalnya orangtua Antonius. Mereka sangat kasihan pada Antonius, bahkan mereka terkejut kala mendengar kematian orangtua Antonius. Karena orangtua Antonius adalah orang yang baik, sopan. Ketika mereka mendengar pembicaraan bahwa keluarga Antonius meninggal, mereka langsung bergegas menuju rumahnya.
“Ayah sama ibu mana?” gumam Antonius.
Kevin dan Astrid yang melihat Antonius berdiri di sisi lain. Kevin menarik tangan Astrid dan pergi menghampiri Antonius.
“Dek... ikut Abang aja,” ajak Kevin.
Kevin merangkul pundak Antonius, membawanya kembali ke kamarnya, dan mendudukkannya kembali di tempat tidur.
“Kalian ber-4 keluar dulu ya,” pinta Kevin.
“Iya bang,”
“Dek... dengerin Abang sama Astrid di sini ya. Kamu harus kuat, Tuhan nggak akan menguji hambanya di luar kemampuannya,” jelas Kevin.
Antonius hanya diam mematung, tak ada suara, apalagi gerakan air mata. Hanya diam seperti boneka hidup. Kevin kembali membawa Antonius ke dalam pelukannya.
“Antonius...jangan kayak gini, aku nggak suka kamu yang kayak gini. Kamu harus kuat, sekarang kamu ganti baju dan kita pergi makamin ayah sama ibu ya! Kamu harus kuat, temui mereka buat yang terakhir kalinya. Buat kepergian mereka sebagai kepergian yang berkesan,” pinta Astrid mengusap kepala Antonius.
Antonius hanya mengangguk halus. Astrid keluar menunggu Antonius dan Kevin. Kevin menemani Antonius untuk mengganti baju, Kevin takut kalah Antonius pingsan lagi. Setelah Antonius mengganti baju yang serba hitam, mereka pun keluar bersama.
“Dek, ada apa-apa jangan di pendam ya. Cerita sama Abang,” pinta Kevin lembut.
Antonius hanya mengangguk halus, mereka pun mulai mengiringi dua peti mayat ayah dan juga ibu Antonius, menuju pemakaman setempat.
Di pemakaman
Antonius hanya diam memperhatikan semuanya, tanpa mengeluarkan sepatah katapun.Semua teman-temannya juga datang. Selesai di doakan, semua orang pergi. Tinggal Antonius, Kevin, Astrid, dan juga teman-temannya yang lain.
“Kevin... papa sama mama dan juga om Yanto sama Tante ke sana dulu ya. Mau ngucapin terimakasih sama orang-orang,”
“Iya pa,”
“Ayo pulang... kita doakan yang baik-baik untuk mereka ya,” ajak Kevin.
“.....”
Kevin berdiri bersama Antonius, ia menggandeng pundak Antonius sambil berjalan.
“Bang Kevin...” panggil Antonius.
“Ya? Kenapa?” tanya Kevin.
“Ah... Aku...”
Antonius tak sanggup meneruskan kata-katanya. Dadanya sesak, dia kesulitan bernafas, matanya buram, pandangannya kabur, hingga akhirnya Antonius kembali lagi tak sadarkan diri.
“Dek... Antonius? Antonius... Astaga Tuhan. Kuatkan keluarga kami ya Tuhan!” panik Kevin.
Kevin dan Astrid langsung segera membawa Antonius pulang ke rumah Kevin. Dan segera menelepon dokter pribadinya.
Di rumah keluarga Kevin.
Kevin dengan cepat mengendong Antonius dan membaringkannya di salah satu kamar tamu di rumahnya.
“Astaga Tuhan... Antonius kenapa Vin?” tanya mama Kevin.
“Nggak tau mah, tadi pingsan waktu di pemakaman,” jawab Kevin.
“Ya Tuhan... cepat panggil kan dokter?” panik mama Kevin.
“Ya Tuhan... Antonius bangun nak... ,” ujar papanya Kevin.
Tak butuh waktu lama, dokter keluarga Kevin pun datang untuk memeriksa keadaan Antonius.
“Gimana om?” tanya Kevin.
“Ia sepertinya mengalami tekanan berat pada psikisnya,”
“Sepertinya?”
“Iya... Kita bisa memastikannya saat ia sudah sadar, om akan mengajukan beberapa pertanyaan dan jawabannya akan menentukan semuanya. Yang jelas, tolong kedepannya Antonius jangan sampai di tekan lagi. Rasa kehilangan yang begitu dalam sangat memengaruhi suasana hati dan juga kesehatan mentalnya.”
“Baik om,”
“Tapi dia akan baik-baik aja kan om?”
“Kita berdoa kepada Tuhan... asal ada dukungan dari keluarga, semua pasti mudah untuknya,”
“Iya om. Makasih ya om,”
...
Setelah Antonius sadar, dokter melakukan beberapa pemeriksaan terhadap psikis Antonius. Benar saja, rasa kehilangan yang begitu besar membuatnya menjadi stres dan lebih mengarah kepada depresi. Di tambah, kematian adiknya di masa lalu, dan juga Antonius memikirkan hari dimana dia pergi jalan-jalan sedangkan orangtuanya pergi berbelanja. Perasaan bersalah semakin membuncah di hati Antonius.
“Gimana dok?”
“Beberapa orang akan baik-baik aja kalau sudah melakukan pemeriksaan. Tapi sepertinya dia anak yang tertutup, sedikit sulit memintanya untuk bercerita dengan sukarela. Memaksanya pun akan berdampak buruk padanya.”
“Jadi, apa solusinya dok?”
“Terus beri dia dukungan. Buat dia merasa kalau semua akan baik-baik saja. Setelah dia mau sedikit saja bercerita, maka kemungkinan besar bahwa beban di hatinya perlahan akan menghilang. Dan sampai pada saat itu, dukungan keluarga lah yang paling dia butuhkan.”
“Baik om. Aku mau kabarin teman-teman dulu. Biar sama-sama saling mendukung. Antonius juga kesayangan mereka!” ujar Kevin.
“Iya hubungi mereka Vin. Antonius juga butuh dukungan dari mereka,” sela Astrid.
“Gimana kalau Kevin bawa Antonius ke rumahnya. Nanti Kevin sama Astrid tetap dampingi. Tapi kan keluarga terdekatnya Cuma kita. Keluarga Antonius sendiri saja nggak mau nolong mereka,” seru Kevin.
“Tidak apa-apa. Kita kan keluarga Antonius juga. Kalau sempat mereka gangguin adek kamu. Papa yang akan langsung bertindak. Enak saja mereka mau ngancurin keluarga Antonius lagi,” sahut papa Kevin mulai mengeluarkan unek-unek di hatinya.
“Ya udah begitu saja. Semoga Antonius baik-baik saja,” sela mama Kevin.
“Sekarang saja kamu ke sana. Papa sama mama dan juga om dan Tante bakalan nyusul ke sana nanti. Kita tidur di rumah Antonius,” ujar papa Kevin.
“Iya pa,”
Kevin pun mengambil kunci mobilnya dan mengantarkan Antonius yang belum sadar ke rumahnya dan ditemani oleh Astrid.
Rumah keluarga Antonius.
Daniel dan juga teman-temannya yang lain terkejut saat Kevin membopong Antonius turun dari mobil.
“Astaga Tuhan, Antonius kenapa nak?” tanya ibu tetangga rumah Antonius.
“Pingsan bu, tadi di pemakaman,” jawab Kevin.
“Ayo nak, cepat bawa masuk ke dalam!” ucap ibu itu.
Mereka langsung membawa Antonius masuk ke dalam kamarnya. Menjaga Antonius sampai Antonius sadar.
“Maafin bang Kevin ya dek! Seandainya saja bang Kevin nggak paksa kamu ikut. Ayah sama ibu pasti nggak akan begini” ucap Kevin dengan nada bersalah.
“Jangan bilang gitu nak. Semua ini memang udah rencana yang di atas. Coba misalnya kalau Antonius ikut, tiba-tiba mengalami kecelakaan tadi. Jadi lapangkan hati untuk menerima semuanya,” ujar ibu tetangga rumah Antonius.
“Iya Bu... makasih bu selalu support Antonius padahal kondisinya seperti ini,” ucap Kevin.
“Mau bagaimana pun, Antonius itu tetap keluarga ibu. Walaupun tidak ada hubungan darah, mereka sekeluarga selalu baik. Mana mungkin ibu ninggalin Antonius gitu aja,” jawab ibu itu.
“Terimakasih Bu atas perhatian yang ibu berikan,” balas Kevin sambil tersenyum.
Antonius sadar dan pandangannya kosong, tidak ingin ditemani siapapun, tidak punya keinginan apapun, tidak merasa lapar dan haus. Hanya ada rasa sedih dan menyesal.
Kevin, Astrid, orangtuanya dan bahkan teman-teman Antonius sendiri pun tidak bisa membantah permintaan Antonius, mereka hanya harus sabar menghadapi keadaan Antonius yang seperti ini.
“Antonius... makan yuk... Bang Kevin bawa nasi goreng kesukaan kamu nih sama ada susu strawberry juga. Yuk makan! Atau kamu mau makan bareng? Abang suapin deh,” ajak Kevin dengan nampan di tangannya.
Antonius tak menjawab, hanya menggeleng, memunggungi Kevin dan kembali tidur. Kevin hanya menghela nafas panjang untuk bersyukur.
“Kuatkan kami ya Tuhan,”
Hari berikutnya.
Antonius masih murung, setelah pulang sekolah, Kevin, Astrid dan juga teman-temannya yang lain langsung mengunjungi Antonius. Mereka menggantikan ibu Siti yang sedang menjaga Antonius.
“Ibu... Antonius gimana? Udah mau makan belum? Dari kemarin itu dia nggak mau makan bu,” keluh Kevin.
“Udah mulai respon kok nak. Dia mau makan,” ujar ibu Siti.
“Benarkah? Antonius makan apa aja Bu? Nambah nggak?” tanya Kevin bersemangat.
“Cuma makan 1 pisang sama segelas air putih nak!” jawab ibu Siti.
Jujur, itu bukan jawaban yang ingin mereka dengar. Tapi setidaknya itu lebih baik dari yang kemarin. Kevin dan Astrid pergi ke kamar untuk melihat keadaannya.
“Antonius... bang Kevin sama Astrid pulang, ada teman-teman juga di luar,” seru Kevin.
Antonius masih saja berbaring di kasurnya. Siang malam dia hanya tidur di kamar. Pikiran di otaknya membuncah, Antonius benar-benar ingin berteriak namun seperti tidak memiliki suara.
Dia seperti kehilangan arah, hidup tanpa tujuan, seolah penderitaan selalu menantinya di mana pun dia berada.
“Antonius... bangunlah, makan... masa dari kemarin Cuma makan 1 pisang doang? Makan nasi lah ya. Atau kamu mau makan apa? Astrid beliin, kami akan mencarinya walaupun itu susah. Tolong Antonius, kamu ngomong dong ya... Ngomong dong dek, kamu mau apa? Kami semua siap jadi sandaran kamu,” seru Astrid yang mulai meneteskan air mata.
“Antonius... ngomong dek. Kakak mohon... kalau ada apa-apa cerita sama kakak, sama bang Kevin. Jangan gini dek. Kalau kamunya kayak gini ayah sama ibu pasti menangis melihat kamu. Kamu mau ayah sama ibu menderita di sana?” tanya Astrid. Dia tidak mau melihat Antonius semenderita ini. Jujur saja, Astrid sangat sedih melihat keadaan Antonius.
“....”
Antonius beranjak duduk, Kevin dan Astrid sangat senang melihatnya. Namun Antonius masih mengabaikannya.
“Ini makanannya,” ujar Kevin.
Antonius tak menggubrisnya, ia berjalan mengambil handuk lalu keluar kamar dan pergi menuju kamar mandi tanpa melihat Kevin. Kevin menghela nafasnya, ia bingung dengan semua ini.
“Antonius.... kapan kamu mau buka mata dan lihat semua kenyataan ini,” gumam Kevin.
Di kamar mandi
Antonius belum melepaskan pakaiannya, tapi dia sudah membasahi tubuhnya dengan air.
“Ayah... Ibu... Adek... Antonius pengen nyusul kalian,” gumam Antonius.
Antonius melepas semua pakaiannya, lalu segera membersihkan diri. Biasanya Antonius selalu memanggil ibunya untuk mengambilkan pakaiannya, yang membuat ibunya selalu menjitak kepalanya padahal udah besar tapi selalu lupa membawa pakainya. Namun saat ini hatinya seperti benar-benar kosong tanpa perasaan.
“Kenapa nggak nafsu makan? Nggak merasa lapar sama sekali, dan aku tidak bisa senang. Pengen teriak tapi nggak ada suara,” gumam Antonius sambil menyabuni badannya.
Merasa mulai dingin, Antonius segera menyudahi acara mandinya. Dan segera memakai pakaiannya keluar. Baru membuka pintu, Antonius memegangi kepalanya.
“Ahh....”
Brukk....
Antonius jatuh pingsan, teman-temannya yang sedang duduk di depan langsung panik. Mereka langsung berlari untuk menolong Antonius.
“Bang Kevin... Kak Astrid.... Antonius pingsan lagi,” teriak Bella.
“Apa... Astaga Tuhan Antonius kenapa lagi dek,” panik Kevin keluar dari kamar.
Kevin pun segera membopong Antonius kembali ke kamarnya dan segera memanggil dokter keluarga mereka.
Setelah dokter datang, ia memeriksa keadaan Antonius lalu memasang infus ke tangannya.
“Om... Antonius kenapa lagi? Kok pingsan lagi?” tanya Kevin.
“Dari kapan belum makan?”
“Dari kemarin Cuma makan 1 pisang doang om!” jawab Kevin.
“Astaga Kevin... orang nggak makan satu hari aja bisa pingsan, dan ini dari kemarin Cuma makan 1 pisang doang? Pantes aja kondisinya langsung drop!”
“Tapi om bilang nggak boleh maksa, ya udah kami Cuma siapin makanannya doang,”
“Ya nggak kayak gitu juga Kevin. Walaupun orang itu sedang tertekan, ia tetap butuh makanan, Antonius beruntung banget nggak kenapa-napa. Kalau satu hari lagi aja Antonius nggak makan. Bisa-bisa kena kanker lambung nanti dia. Jadi tolong Antonius lebih di jaga lagi, jangan ceroboh lagi. Perkataan om ini berlaku juga untuk kalian semua. Paham?”
“Iya om. Paham!”
“Udah... Om pergi dulu ya. Kalau infusnya sudah mau habis langsung kabari om,”
Malam hari
Saat Kevin sedang tertidur, Antonius terbangun. Ia melihat wajah Kevin yang sedang tengah terlelap dan sepertinya sedang kelelahan.
Pagi hari sekolah. Sore hari mesti latihan basket di tambah mengurus HUT sekolah, dan malam hari masih harus mengurusnya. Antonius tak bisa bayangkan betapa lelahnya Kevin melakukan itu setiap hari.
Antonius melihat botol infus di sampingnya dan segera mengambilnya dan pergi ke kamar orang tuanya.
Pada saat membuka pintu, Antonius melihat di ruang depan Astrid, mama papanya dan bahkan ada orangtuanya Kevin juga. Mereka tidur hanya beralaskan tikar dan selimut seadanya. Betapa sayangnya mereka terhadap Antonius.
Di kamar orangtuanya
Antonius melihat setiap sudut ruangan yang penuh kenangan itu. Hingga pandangannya tertuju pada meja dengan beberapa bingkai foto di sana. Antonius mengambil salah satu foto, dimana dia sedang di peluk oleh ayah dan juga ibunya.
Antonius memeluk foto itu dan tertidur semalaman di sana.
Pagi hari
Kevin terkejut setengah mati saat melihat kasur di sampingnya telah kosong, lantas kemana Antonius? Kevin panik dan langsung berlari ke ruang depan dan memanggil mereka yang ada di sana.
“Papa... Mama... Astrid... Om Tante....!” panggil Kevin panik.
“Iya kenapa teriak-teriak Vin?” tanya mamanya terkejut.
“Antonius hilang ma,” ujar Kevin.
“Hah? Yang benar kamu?” tanya mamanya tak percaya.
“Iya ma! Tadi malam ada di samping Kevin. Tapi pagi-pagi tadi udah nggak ada di kasur,” ujar Kevin panik.
“Siapa yang nggak ada Vin?” tanya papanya baru bangun.
“Antonius pa,”
“Apa? Ya udah buruan kita cari. Papa takut Antonius buat hal yang aneh-aneh,” ujar papanya Kevin.
“Iya pa,”
Mereka semua langsung bangun dan mencari keberadaan Antonius, dan berkeliling di sekitar rumah. Mereka juga menelpon teman-temannya untuk menanyakan keberadaan Antonius. Namun nihil tidak ada yang tau dimana dia saat ini.
Kevin dan Astrid mencari ke setiap sudut ruangan, tak ada tanda-tanda Antonius. Hingga tiba-tiba Kevin teringat dengan kamar almarhum ayah dan ibunya. Ia langsung pergi ke sana.
“Astaga dek... ternyata kamu di sini!” ucap Kevin lega.
“Astrid panggil papa sama mama. Bilang kalau Antonius udah ketemu,” pinta Kevin.
“Iya Vin!”
Kevin duduk di samping Antonius. Menatap wajahnya dengan sendu.
“Tolong jangan berubah jauh lagi ya dek. Cukup yang pertama saja yang merubah kamu, yang kali ini jangan...,” gumam Kevin sambil mengelus rambut Antonius.
Antonius terbangun karena merasa ada yang mengganggu tidurnya, ia melihat ada Kevin di sampingnya.
“Bang Kevin...,” panggil Antonius lembut.
“Iya kenapa? Kamu butuh sesuatu? Ngomong sama bang Kevin!” ucap Kevin bersemangat saat Antonius mulai memanggilnya.
“Pengen nasi goreng sama bakso yang di gerbang sekolah....”
“Oke tunggu! Lima menit lagi bakal ada. Kamu jangan kemana-mana ok? Bang Kevin segera balik. Nanti biar mama sama papa yang nemenin kamu,” ucap Kevin buru-buru.
Kevin langsung mengambil kunci motornya dan sesegera mungkin melajukan motornya untuk membeli pesanan Antonius. Bahkan panggilan papanya dia hiraukan. Tapi melihat senyum di wajah Kevin, mereka mengerti kalau Antonius sudah mau bicara.
10 menit kemudian
Ceklek
“Huh... maaf... aku terlambat 5 menit! Huh ini nasi goreng sama baksonya dek! Huh... bentar aku ambil piring sama mangkok dulu,” ucap Kevin sambil mengatur nafasnya yang tersengal-sengal.
Antonius sedikit tersenyum melihat Kevin yang sedang menyiapkan makanan untuknya. Padahal dia sudah menyuruh mamanya Kevin untuk masak nasi goreng karena Kevin yang sedikit terlambat tadi. Astrid dan juga papanya sedang keluar membeli buah-buahan yang dia minta tadi.
“Terimakasih Tuhan... engkau masih memberikan orang-orang yang baik disekitar ku...” gumam Antonius sedikit tersenyum.
Semenjak bangun dari tidurnya, Antonius merasa sedikit lebih tenang. Kesedihan di hatinya tiba-tiba tidak separah kemarin.
“Huh... Nak ini buahnya! Kamu mau makan yang mana dulu? Pisang? Apel? Strawberry? Anggur? Jeruk? Pir? Buah naga? Salak? Atau yang mana?” tanya papa Yanto antusias setelah kembali dari toko buah.
“Buah naga pa....,”
“Oke bentar papa kupas dulu ya,”
Papa Yanto semangat 45 menyiapkan buah yang baru dia beli. Kevin dan juga mamanya sibuk mempersiapkan makanan untuk Antonius.
“Antonius.... ini makanannya. Mama suapin ya... sini-sini,” ujar mamanya Kevin membawa nampan.
Antonius menggeleng dan segera meraih nampan di tangan mama Kevin dan memakan nasi goreng yang baru di masaknya walaupun dengan kepala yang masih pusing.
“Sini mama suapin aja. Kalau di suapin pasti lebih enak,” pinta mama Kevin.
“Nggak ma... Mama pasti capek banget masak ini...,”
“Nggak lah. Kalau soal masak mama nggak pernah capek. Kalau gitu di habiskan ya. Biar mama senang liatnya,”
Antonius tersenyum dan mengangguk.
“Habis makan nanti tidur ya. Nanti mama datang lagi,”
“Mama...”
“Kalau mama nggak pergi kerja hari ini boleh ya!” pinta Antonius lembut.
“Kenapa? Anak mama ini kenapa lagi? Ada yang sakit? Kalau ada kita langsung berangkat ke rumah sakit,” tanya mama Kevin.
“Nggak sakit ma. Cuma butuh teman,”
Mama Kevin kembali meletakkan tasnya. Begitu juga dengan suaminya dan bahkan Kevin, Astrid dan juga mama papanya kembali duduk. Mereka lebih mementingkan Antonius daripada yang lain saat ini.
“Kenapa? Ayok cerita sama mama!” ujar Mama Kevin.
Antonius tiba-tiba langsung memeluk erat mama Kevin. Mamanya sedikit terkejut akan sikap Antonius yang tiba-tiba ini. Namun, mamanya Kevin langsung saja mengusap-usap kepala Antonius.
“Ada apa? Coba cerita sama mama...” pinta mama Kevin dengan suara lembut.
“Gini aja dulu ma...” pinta Antonius.
Mama Kevin mengangguk dan membalas pelukan Antonius. Antonius hanya diam, tapi air matanya terus mengalir. Mama Kevin menyadarinya karena semua air mata Antonius jatuh ke pundaknya.
Lama Antonius memeluk mama Kevin. Akhirnya dia tertidur. Mama Kevin menyadarinya. Beliau mendengar hembusan nafas Antonius yang teratur.
“Papa... bantu mama buat ngangkat Antonius. Dia udah tidur sepertinya masih capek,” bisik mama Kevin.
Antonius pun di pindahkan ke kasur. Di beri selimut. Mereka pun keluar kamar dan menunggu di ruang depan sambil bercerita.
“Mama rasa tadi Antonius tiba-tiba meluk mama, itu karena Antonius pasti rindu sama ayah sama ibunya,” ujar Mama Kevin membuka pembicaraan.
“Iya benar banget ma,” jawab papa Kevin.
“Seandainya saja Kevin nggak maksa Antonius buat keluar waktu itu, ayah sama ibu pasti nggak akan cepat pergi ya ma,” seru Kevin.
“Jangan bilang gitu nak Kevin. Tuhan sudah mengatur kehidupan Antonius. Coba misalnya kalau Antonius ikut sama ayah dan juga ibunya. Trus ngalamin kecelakaan seperti yang kemarin. Semisal Antonius meninggal sedangkan ayah dan juga ibunya masih hidup, betapa menderitanya mereka nanti. Kedua anak mereka meninggal karena kecelakaan. Mereka pasti akan berpikir bahwa hidup mereka telah sia-sia. Lagipula, Tuhan tidak akan pernah meninggalkan hambanya yang setia,” jawab papanya Astrid.
“Intinya kita harus selalu mendukung Antonius. Jangan biarkan dia selalu terpuruk. Selalu beri dia semangat. Apapun yang terjadi dia adalah keluarga kita,” tutur papanya Astrid.
TAMAT