Oleh Antonius Raply Situmorang
Apa aku sedang jatuh cinta? Mataku yang mengisyaratkanya. Saat mataku melihatmu, tidak bisa disembunyikan, terpancar dengan jelas. Pipiku yang mengisyaratkanya, pipiku memerah karena dirimu. Tidak bisa kusembunyikan, terpancar dengan jelas. Bagaimana ini bisa terjadi? Bagaimana aku bisa mengalami perasaan ini? Apa aku sedang jatuh cinta? Harapannya hanya satu. Yaitu dengan mencintaimu.
Pagi, di hari senin yang begitu dingin mencekam karena hujan. Aku pergi mandi dengan wajah yang sangat kusut tanpa gairah. Kuambil handuk yang kering dan mulai memasuki kamar mandi. Setelah selesai mandi, aku pun menyiapkan semua barang yang akan aku bawa ke sekolah. Di sela aku sedang membereskan semua barang yang akan aku bawa, aku teringat dengan kejadian siang dan malam kemarin. Saat itu aku sedang berada di sebuah restoran bersama dengan teman-temanku. Pada saat itu kami memesan makanan karena pelayan sudah ada di meja kami. “Mau pesan apa?” tanya pelayan tersebut. Aku yang tadi hanya fokus ke handphoneku segera langsung menoleh ke arahnya. Aku melihat seorang perempuan yang sangat cantik. Dan tiba-tiba jantungku berdegup dengan kencang. Aku bertanya kepada diriku sendiri, “apa yang terjadi dengan ku?” tanyaku dalam hati. Aku melamun sambil memperhatikan perempuan itu. Teman-temanku sudah memesan makanan, hanya aku yang belum. Dan salah seorang temanku langsung menyikut tanganku dan aku langsung terkejut. Aku malah di tertawakan oleh teman-temanku. Sekilas aku melihat perempuan tersebut itu juga tersenyum. Aku yang sedikit malu langsung saja memesan makanan. Sampai detik ini aku masih juga memikirkannya. Aku tidak tahu perasaanku bahkan perasaannya terhadap ku sebenarnya. Kenapa dia selalu tersenyum kepadaku sedangkan kepada teman-temanku tidak? Apa aku sudah jatuh cinta kepada dia. Tapi tidak mungkin.
Lucu bukan? Jelas saja lucu. Kita baru bertemu satu kali dan itu Cuma sebentar, sekitar beberapa menit. Tapi aku tak mengerti sampai detik ini, mengapa aku bisa sayang sama dia. Bahkan yang tadinya aku mengira dia itu perempuan biasa tapi ternyata bukan. Jelas aneh dan aku nggak bisa menafsirkan semua tentang perasaanku bahkan perasaan dia sebenarnya. Semakin hari aku pun semakin takut, kalau perasaan ini adalah perasaan yang benar-benar tidak perlu aku lontarkan bahkan tidak perlu aku sebut-sebut. Semakin hari aku juga semakin memikirkannya. Aku mencoba pergi lagi ke tempat kerjanya, ya restoran yang pernah aku kunjungi bersama teman-temanku. Kembali dia yang melayani pesananku dan pada saat dia masih mencatat pesananku, aku bertanya kepadanya. “Berapa nomor teleponmu? Apakah aku bisa menerimanya?” tanyaku kepada perempuan itu. Aku berpikir bahwa dia akan langsung marah dan tidak memberikannya, namun dia langsung tersenyum dan mengangguk.
Segera setelah dia menuliskan nomornya di handphoneku, aku melihat namanya. Ternyata namanya Putri. Tidak lupa aku mengucapkan terimakasih kepadanya. “Jadi mulai sekarang kita bertemanya?” tanyaku kepadanya. “Iya mulai sekarang kita berteman” jawab dia kepadaku.
Aku pun makan dengan lahap. Lalu setelah aku selesai makan, aku langsung menemui putri dan mengucapkan selamat tinggal. “Putri, aku pulang dulu ya. Nanti jangan lupa kabarin kalau udah pulang kerja!” ucapku tersenyum kepadanya. “Iya Antonius, kamu hati-hati pulangnya, jangan ngebut” jawab Putri yang juga tersenyum. Setelah itu, aku langsung bergegas pulang.
Saat ini kami sedang berada di Dufan pukul 10.00. Matahari sangat terik hingga udara terasa panas. Hari itu Dufan begitu ramai, kala hari ini adalah weekend sehingga banyak orang yang berkunjung. Ada yang membawa keluarganya dan bahkan ada yang membawa kekasihnya. Di loket tiket nyaris tidak ada antrian sehingga kami mendapat tiket dengan cepat dan mudah.
Sebelum mulai menaiki wahana kami duduk di depan gerbang, Putri berdiri di depan mesin kipas angin yang menyemprotkan cipratan-cipratan air. “Kalau lagi panas terik begini, rasanya segar juga ya disiram air,” ucap Putri kepadaku.
Aku tersenyum membalas perkataan Putri dan mengangguk. “Wah, aku udah lama lho nggak ke sini!” ujarku ketika masih melihat Putri menikmati siraman airnya.
“Aku juga terakhir ke sini tahun lalu...,” timpal Putri.
“Kalau itu sih masih baru Put. Aku kayaknya terakhir waktu SMP deh...”
Kami pun berjalan menuju komedi putar. Setelah itu kami melanjutkan ke wahana-wahana lain. Hampir semua wahana kami naiki. Dari yang santai sampai yang menegangkan. Dari istana boneka sampai halilintar.
Antonius menuju kios minuman dan membeli minum untuk Putri. Dia juga membeli makanan ringan.
“Makasih Antonius!” seru Putri.
“Eh, Put, naik itu yuk, kayaknya seru,” ujar Antonius sambil menunjuk salah satu wahana. Di wahana itu terdapat banyak kursi yang digantung dengan rantai. Kursi-kursi itu nantinya akan diputar, lama-lama makin kencang dan tinggi.
“Ayuk, aku juga pengen naik!” seru Putri sambil menarik tanganku.
Akhirnya mereka berjalan-jalan menikmati permainan yang ada. Mereka berjalan sambil mengudap makanan ringan.
“Wah, Put, udah jam tiga lewat lho,” ujar Antonius.
“Wah, nggak kerasa ya? Trus kita langsung pulang nih?”
“Yah... Satu permainan lagi terus kita pulang?”
“Oke, naik apa?” tanya Putri.
“Naik bianglala aja! Yang lain kan udah,” seru Antonius.
“Hmm... Boleh deh, aku juga udah lupa rasanya naik bianglala.”
Aku dan putri menaiki kursi warna biru. Ketika tiba di tengah-tengah putaran, pemandangan Dufan mulai terlihat.
“Wow, tinggi juga ya!” sahut Putri sedikit berteriak.
Antonius melihat ke bawah. “Pemandangannya bagus...,” komentarnya.
Mereka sibuk memandang ke bawah dan sejenak tidak berbicara. Putri sendiri juga sibuk membenarkan rambut panjangnya yang di gerai dan berantakan ditiup angin.
“Putri...!” panggil Antonius dengan lembut.
“Iya Antonius, ada apa?” jawab Putri.
“Senang sekali memiliki kamu di sampingku dan aku merasa sangat beruntung.
Apakah tidak ada kesempatan untukku memiliki perasaanmu .
Dan kita akan belajar bersama demi hubungan kita di masa depan. Apakah kamu mau jadi pacar dan pendamping hidupku?” tanya Antonius.
“Aku... Sayang sama kamu Antonius, sayang banget! Terima kasih sudah menerimaku apa adanya”
“Oke, jadi apa jawabannya?”
“Iya aku mau!” sahut Putri sambil mengangguk.
Antonius tersenyum lebar. Dia mendekatkan tubuhnya, menarik tangan Putri, lalu menggenggamnya erat. Dan sekali lagi Antonius mengucapkan terima kasih. Dia berbisik di telinga Putri,
“Makasih, Put. Aku sayang kamu...”
“Hari ini adalah, hari yang paling bahagia dalam hidupku. Aku jatuh cinta 100 kali kepadamu.”
TAMAT