Awan-awan putih menghias angkasa, semilir angin yang menyejukkan bersatu padu dengan kicauan burung yang terbang diangkasa. Warna-warni daun pepohonan & tanaman, memberikan kesan yang berbeda saat memandangnya. Pernahkah kau melihat bagaimana rupa dari bunga yang tengah bermekaran? Atau apa yang kau rasakan saat melihat birunya langit tanpa awan? Hal pertama yang kalian rasakan pastilah rasa yang menyejukkan, tenang & damai, seperti itu lah yang tengah aku rasakan saat ini. Jika aku menjauh darinya, rasa gelisah & takut mulai bermunculan. Jika aku berada di dekatnya, rasa tenang & damai menyelimutiku. Entah sihir apa yg dia berikan sehingga menimbulkan rasa kehilangan yang amat besar kepadanya, apakah aku bisa bertemu dengan orang sepertimu lagi? Dimana, & kapan aku bisa menemuimu lagi?
Rintik hujan membasahi bumi, namun tak menjadi penghalang untuk kendaraan berlalu lalang. Aku berdiri diatas trotoar sekitar sepuluh menit yang lalu, dengan hanya bermodalkan payung & jaket yang ku kenakan, aku merenung. "Kehidupan memang tidak harus selalu berada diatas, ada kalanya kita akan merasakan yang di bawah seperti orang lain". "Secara tidak sadar, Tuhan melakukan ini semua untuk menguji kita. Apakah kau akan selalu mengingatnya, dalam keadaan susah maupun senang", sebuah suara dengan tidak sopannya menyahut gumamanku sebelumnya. Aku pun terlonjak kaget & mundur beberapa langkah untuk menjaga jarak dengannya, ia yang melihat tingkahku itu hanya tertawa kecil. Waktu seakan terhenti saat aku memperhatikannya lebih jelas, senyumannya, tatapan & bentuk matanya, serta rambutnya yang basah karena ulah hujan. Aku terdiam tanpa sadar terus memperhatikannya, dia seperti orang yang ku kenal. Tapi aku tidak yakin, bahwa itu adalah orang yang selama ini ku nanti-nantikan. Tanganku tergerak untuk mengusap lembut pipinya itu, sambil terus memperhatikannya. "Hey, nona. Apa kau sangat terpana dengan ketampananku? Sampai-sampai kau melamun seperti itu?", ujarnya sambil mencium punggung tanganku yang sedang mengusap lembut pipinya itu. Aku pun tersadar saat merasakan hembusan nafasnya yang hangat menyentuh kulitku, sontak aku terkejut, menarik tanganku & menyembunyikan tanganku ke dalam saku jaket. Rona merah perlahan muncul di pipiku, detak jantungku berpacu dengan cepat, perlahan aku atur nafasku. Tarik..hembuskan..tarik lagi...hembuskan lagi.., begitu seterusnya hingga jantungku berdetak dengan irama yang normal. Ku lirik dia disampingku, sedang memakan cokelat. Tunggu, apa?! Cokelat?! Darimana dia, maksudku daritadi dia disini & darimana dia dapat cokelat itu?! Tas? Oh yang benar saja, dia bahkan tidak membawa tas sama sekali! Sadar aku memperhatikannya, ia berhenti mengunyah & beralih memandangku dengan pipi yang menggembung penuh dengan cokelat & matanya yang bulat seperti sebuah kelereng yang bersinar. Aku merasa seperti sedang menjaga seorang anak kecil
Keesokan harinya, aku kembali menunggu di atas trotoar itu. Karena cuacanya panas, aku pun memutuskan untuk duduk di kursi halte & menunggu bus jurusanku datang. Tiba-tiba telingaku seperti disumpal sesuatu, aku terlonjak kaget & hampir berteriak. "Siapa sih?! Ga sopan banget!!", akhirnya amarahku memuncak & melihat ke arah orang yang mengusikku tadi. "Ya maaf, kamu kek kesepian gitu. Makanya aku hibur kamu, pakai musik", ujarnya sambil tersenyum. Ahh, dia lagi rupanya. Aku ambil earphone yang ada di tangannya & menyumpalnya ke telingaku, perlahan alunan melodi yang merdu mengetuk indra pendengaranku. Semakin lama aku semakin hanyut dalam suasana yang dibawakan oleh musik, alam seakan setuju denganku. Angin bertiup dengan lembut & menerbangkan setiap helaian rambut kami, aku semakin hanyut dalam suasana yang amat menenangkan itu. Ku pejamkan mata & perlahan muncul kenangan yang sudah lama ku lupakan, tapi kenapa itu kembali lagi? Itu semua, saat aku masih bersamanya. Hingga kejadian yang membuatnya pergi, kenapa kembali lagi? Pergi!! Sungguh, aku tidak ingin mengingat itu lagi!! Aku terkejut & membuka mataku, sambil mengatur nafasku. Ku lihat dia terlihat panik & khawatir, "Kau baik-baik saja? Apa ada yang mengganggumu?". Sialan!! Ekspresinya & semua bentuk perhatiannya barusan, semakin mengingatkanku tentang dia. Tak kuasa menahan bendungan, akhirnya sungai kecil mengalir membasahi pipiku. Semakin aku mengingatnya, semakin deras sungai kecil itu mengalir. Peka dengan apa yang terjadi, ia merangkulku & merebahkan kepalaku di bahunya.
Semakin lama aku bersama-nya, semakin nyaman & tenang jika aku di dekatnya. Zain, itu lah namanya. Seorang pria dengan tinggi 175 cm, berwatakan periang, humoris, penyayang & sabar. Hingga pada suatu hari, pandanganku berubah mengenai dirinya karena sebuah cerita masa lalu-nya. Pada malam itu, aku tengah menunggunya. Tapi ia tak kunjung datang, hingga kemudian datanglah seorang pria tua menghampiriku & bertanya akan maksud kedatanganku di malam hari. Aku pun menceritakan semua tentangnya & pria tua itu mendengarkannya dengan sangat antusias, tepat setelah aku mengakhiri ceritaku pria tua itu menatapku. "Nak, sebelumnya aku minta maaf karena memberitahumu hal ini. Tapi sejujurnya, kau memang harus tau siapa itu Zain. Zain itu, adalah salah satu korban kecelakaan tunggal di daerah sini. Karena dirinya belum terima jika ia sudah meninggal, ia sering bermain main disini. Ia tidak mengganggu orang-orang sekitar seperti arwah pada umumnya, tapi sebaliknya. Ia sangat suka menghibur orang-orang yang melintasi jalan ini, sepertimu. Jadi tolong, jangan membuatnya sedih atau kecewa nak..", jelas pria tua itu sebelum pergi meninggalkanku seorang diri di bangku halte. "Azka, dia mirip sekali denganmu. Aku merindukanmu, Azka. Ku harap kau bahagia disana", gumamku sambil mengusap air mataku & berlalu pulang karena hari sudah terlalu malam.
Keesokan harinya, aku pulang larut malam. Ya, aku tau. Jam-jam malam sangat jarang bus lewat, jadi apa boleh buat. Aku harus menunggu di halte itu dengan sabar. Saat aku sampai di halte itu, ku lihat Zain terduduk diam. Tak seperti biasanya, ia sangat cepat untuk menyadari keberadaanku. Jika merasakan kehadiranku, ia terlihat sangat ceria, bahagia & ribut sekali. Sampai aku harus menutup telingaku karena suaranya yang ribut itu, berbeda dengan yang saat ini. Dia hanya diam, termenung & seperti memikirkan sesuatu. Ku taruh tas di bangku halte itu & duduk di sebelahnya, "Kau sudah tahu semuanya bukan? Kenapa kau tidak takut & masih kemari? Lihatlah! Masih banyak halte kosong disana, pilih sesukamu. Dan tinggalkan aku sendiri, karena aku sudah tau pasti. Kau membenciku sekarang, karena aku tak sepertimu. Aku, hanyalah arwah pengganggu", jelasnya. Aku hanya diam mendengarkan semua perkataannya, ku tarik nafas dalam-dalam & mengeluarkan sesuatu dari dalam tas ku. "Aku tidak akan pergi, karena aku tidak menganggapmu seperti mereka. Bagiku, kau juga sama sepertiku. Jadi, aku tidak akan pergi, aku tidak takut dengan hal yang seperti itu. Aku merasa, kau melindungiku. Kau penghiburku & kau adalah segalanya. Jadi, jangan berhenti menghiburku, okey? Ini, ku berikan kau hadiah kecil. Ku harap kau suka", jelasku sambil memberikan sebuah cokelat kepadanya. Langsung saja, matanya berbinar seperti bintang & mengambil cokelat yang ada di genggamanku barusan, "Kau tahu? Jika kau marah seperti itu Zain, kau seperti anak kecil", ujarku sambil tertawa kecil. "Enak saja! Aku bukan anak kecil, ughh!!! Awas ya kamu!!", ancamnya sambil terus mengunyah cokelat. Aku hanya tertawa mendengar ancamannya itu.
Dan, itulah pertemuan terakhirku dengannya. Di halte itu, sedang memakan cokelat & bercanda bersama. Aku tidak akan melupakanmu, Zain. Andai kau tau Zain, kau mirip sekali dengan Azka. Aku bisa membayangkan jika kalian bertemu & berteman dengan baik disana, aku melewatkan sesuatu? Biar ku perjelas, sedikit tentang Azka. Azka adalah kekasihku, sifat & sikapnya tidak jauh beda dengan Zain. Azka meninggal dunia karena sebuah penyakit yang ia derita, aku tidak tau penyakitnya apa. Karena dia tidak memberitahukannya kepadaku, "Aku ga mau bikin kamu terlalu khawatir, sampai kepikiran", ujarnya waktu itu. Apakah, Zain adalah tiruan dari Azka? Aku tidak tahu, yang jelas aku tidak akan lupa dengan mereka berdua. Tuhan, jagalah mereka berdua untukku...