Bu nur Yanti begitu prihatin dengan keadaan kejiwaan Arini yang semakin lama semakin labil
semenjak kecelakaan itu dan dokter mefonis bahwa Arini lumpuh total sejak saat itu Arini seperti kehilangan gairah dan semangat hidup
Arini lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam kamar, teman temannya yang berusaha menemui di tolak mentah-mentah karena Arini menganggap mereka hanya akan menertawakan dan merendahkan dirinya karena menurutnya mereka cuma mau ada kala saat senang saja tapi tidak di saat susah apalagi keadaannya sekarang berbeda dengan yang dulu sekarang dia hanya gadis lumpuh yang tidak bisa berbuat apa-apa lagi
keprihatinan Bu nur Yanti di ungkapkan kepada pak Hendra suaminya di suatu siang ketika mereka selesai makan siang
" pa aku kok tidak tega melihat Arini seperti itu "!
" papa sendiri juga prihatin ma tetapi harus bagaimana papa pun tak bisa berbuat apa-apa "!
"Apa papa tidak punya cara agar Arini bisa kembali seperti dulu meski hanya semangat hidupnya yang kembali Tapi Mama sudah cukup senang "!
Pak Hendra cuma bisa menghela nafas panjang mendengar penuturan istrinya
" Menurut papa hanya ada satu cara yang bisa mengembalikan Arini seperti dulu " ! kata pak Hendra
" Apa itu pa "? tanya Bu nur Yanti yang kurang paham maksud suaminya
" cara itu adalah seseorang yang bisa mengerti dan menerima keadaan Arini seutuhnya yang bisa membuat Arini percaya bahwa masih ada orang yang mau menerima keadaannya
mendengar penjelasan suaminya hanya diam
untuk beberapa saat mereka saling diam larut dalam pikiran mereka masing masing
saat mereka saling diam
tiba-tiba terdengar ketukan pintu dan panggilan dari luar
" om Tante "!
setelah mendengar ketukan pintu dan panggilan berkali-kali akhirnya pak Hendra keluar untuk membukakan pintu diikuti oleh Bu nur Yanti di belakangnya
" mau apa kesini "? tanya pak Hendra penuh selidik karena pak Hendra merasa kenal dengan pemuda yang berdiri di depannya saat ini
" om dan Tante lupa kepada saya "? tanya pemuda itu sambil tersenyum manis
" siapa ya "? kata pak Hendra karena memang Pak Hendra merasa tidak mengenalinya
Melihat pak Hendra tidak mengenalinya pemuda itu tertawa dan berkata
" ini Ferry Irawan om anaknya pak Dedy Susanto teman om Hendra"!
" oooo Ferry Irawan yang kuliah di luar negeri "!
balas pak Hendra setelah ingat siapa pemuda yang berdiri di depannya saat ini
" iya om ,om sudah ingat kan sekarang "?
" iya iya om ingat sekarang Ferry Ferry gimana kabarnya sekarang "?
" kabar saya baik om ,om sendiri gimana sehat kan "? Ferry balik bertanya
" om sekeluarga baik dan sehat ayo masuk sampai lupa tidak di suruh masuk "! jawab pak Hendra disertai tawa renyah
mereka kemudian masuk kedalam rumah dan duduk di ruang tamu sedang kan Bu nur Yanti masuk kedalam untuk membuatkan minuman untuk mereka
" oiya om kok nggak melihat Arini , Arini sedang tidak ada di rumah ya om "? tanya Ferry setelah beberapa saat mereka ngobrol
pak Hendra menarik nafas dalam-dalam mendengar pertanyaan Ferry
" kenapa om ada apa dengan Arini "? Ferry kembali bertanya
Pak Hendra kemudian menceritakan apa yang menimpa Arini dan yang membuat Arini sekarang kehilangan semangat hidup juga sikap pada teman temannya sekarang
" boleh saya ketemu Arini om "? pinta Ferry
Belum sempat pak Hendra menjawab Bu nur Yanti keluar dari dapur membawa tiga gelas minuman
" minum dulu tehnya fer "! kata Bu nur Yanti sambil meletakkan ketiga minuman itu dimeja
" terimakasih Tan ,saya sudah mendengar keadaan Arini sekarang , apa boleh saya menemui Arini "? pinta Ferry kepada Bu nur Yanti
" oh boleh kalau bisa buat dia kembali seperti dulu lagi meski keadaannya fisiknya tidak bisa pulih tapi setidaknya dia tidak putus asa seperti itu "! kata Bu nur Yanti
" ya Tan saya akan berusaha sebisa saya "! balas Ferry berusaha meyakinkan Bu nur Yanti
Bu nur Yanti kemudian mengantar Ferry ke kamar Arini
Bu nur Yanti membuka pintu kamar Arini
Setelah pintu dibuka Bu nur Yanti dan Ferry melihat Arini duduk melamun di kursi rodanya pandangannya kosong tanpa semangat
" Arini ini ada yang ingin bertemu dengan kamu "! kata Bu nur Yanti kepada putrinya
Arini tak membalas ucapan mamanya hanya menengok sekilas
" ini aku Ferry anaknya om Dedy Susanto kamu masih ingat aku kan "?
" Hem hanya itu yang keluar dari bibir Arini
sebaiknya kita ngobrol diluar aja yuk "! ajak Ferry
Arini hanya diam tak merespon
Dan di hanya diam menurut saja saat Bu nur Yanti mendorong kursi roda Arini menuju taman
Bu nur Yanti meninggalkan mereka berdua di taman
" untuk apa kamu menemuiku fer cuma untuk mempermalukan aku "? ucapan Arini pelan tapi terasa pedas di telinga Ferry
" bukan begitu maksudku "!
" kalau tidak begitu lalu apa "?
" dulu kita kenal baik karena orang tua kita juga berteman baik
sampai saat ini pun keluarga kita masih tetap baik "!
" tapi tidak dengan keadaan aku fer aku bukan lagi yang dulu , aku yang dulu bisa melakukan apa pun tapi tidak sekarang aku adalah orang yang tidak berguna dan dipandang rendah oleh mereka sekarang "!
" kamu salah kalau kamu berpendapat seperti itu justru saat ini lah kamu menunjukkan bahwa kamu itu orang yang kuat lebih kuat dari mereka "!
" bicara mudah fer tapi prakteknya nol "!
Arini berkata begitu sambil tersenyum sinis
"kamu memang tidak berubah sejujurnya aku sangat mencintaimu "!
" apa kamu mencintaiku fer , mungkin itu dulu fer selagi aku masih menjadi gadis normal tapi sekarang tidak akan mungkin itu kamu jangan membohongi dirimu sendiri mana mungkin kamu bisa mencintaiku gadis lumpuh "!
" aku seorang dokter ortopedi sekarang keadaanmu itu bisa pulih asal kamu semangat dan terus berusaha aku akan mendampingi sampai kamu sambuh Rin " !
" soal berusaha untuk sembuh memang itu yang aku inginkan tapi soal cinta biarlah waktu yang akan menjawabnya "!
Ferry menghela nafas panjang
memang berat menyakinkan Arini karena memang kenyataannya tidak semudah itu mengembalikan kehidupan Arini seperti dulu
tapi dia akan berusaha untuk menunjukkan cintanya kepada Arini
Bahwa cintanya pada Arini seperti mawar merah yang selalu segar dipandang
selesai