Karya : Andi naeni aelina mulya
kelas : Xl IPA 3
Malam menebarkan kilau cahayanya, terlihat semakin indah ketika ia berhiaskan bulan dan taburan bintang, meramaikan suasana yang ditemani angin bisu. Begitu bahagianya langit malam itu. tapi tidak denganku dan setangkai bunga mawarku. aku sedang berupaya tuli dari gunjingan malam yang tak kunjung sunyi.
Yahh itu lah aku dan setangkai bungaku yang malang.
Dimalam yang cerah dan penuh bintang itu, aku berjanjian dengan pacarku (Murni) pada tanggal 03 april, saat itu aku berjanjian dengannya untuk bertemu di sebuah tempat dimana tempat itu sangat berkesan bagi kami. Tempat dimana aku mengungkapkan rasaku dan tempat dimana ia menerima bungaku dan menerima cintaku.
Murni adalah wanita yang telah aku pilih untuk menjadi kekasihku. Murni berparas cantik dan manis ia memiliki lesung pipi, rambut yang hitam juga sedikit ikal. Murni sangatlah jago dalam mebuat makanan ia memiliki hobi masak, dimana masakannya itu aku yang mencicipinya dan menjadi jurinya. Ia selalu memasak dan masakannya akan di bawa kerumahku untuk ku cicipi.
Aku sangatlah cinta kepadanya, saat ia membawakan masakannya kerumahku, ia memiliki suara yang khas dimana saat ia datang ia akan berkata “tok tok tok assalamualaikum abang”. Di suatu hari, kami belanja Bersama sama untuk membeli stok bahan makanan yang sudah hampir habis di rumah murni, aku di ajari murni untuk berani menawar harga barang di pasar agar barang itu menjadi sedikit lebih murah sampai menjadi geratis. Aku juga di ajak murni untuk bersosialisasi pada pedagang pedagang kecil tersebut, sehingga aku mengenal banyak penjual di pasar tersebut. Saat pertama kali aku di ajak ke pasar aku lumayan terkejut dengan murni yang telah lumayan banyak di kenal oleh orang orang di pasar. Tak sedikit orang yang bertanya kepadanya “ehh neng murni, mampir neng sayurnya baru dateng ini masih segerr” dan lain lain. Akupun diajak oleh murni untuk melihat sayur sayur itu dan beberapa lauk yang lainnya, ia mengajari ku untuk memilih bahan bahan makanan yang masih bagus dan segar. Yahh aku mandapatkan ilmu baru.
Setelah kami belanja kami pulang untuk masak Bersama. Murni memasakiku sambel goreng, dan masakan lainnya, entah apa itu, aku tidak terlalu mengerti dengan nama nama masakan tersebut. Saat nya penilaian terhadap makanan itu aku berikan (menjadi juri). Aku tak pandai dalam menilai makanan itu, yang kurasakan saat menggigit makanan itu rasanya sangat mantap dan super uueenakk poll. Wahh ia sangat jago memasak.
Kami berpacaran sudah hampir 4 tahun, kami berdua sudah sepakat akan menikah di akhir tahun ini. Kedua keluarga kami sudah setuju akan pernikahan kami nantinya. Aku telah menyiapkan beberapa tugasku di kemudian hari, dan ia atau murni lebih memperdalam hobi masaknya, untuk kami berdua nantinya. Beberapa minggu lagi adalah hari anniversary kami pada tanggal 03 april tahun 2016. Saya selalu mengantar ia kepasar untuk membeli bahan bahan makanannya. Yahh kadang juga saya menggantikan ia ke pasar saat ia kurang enak badan, saya sudah terbiasa dengan pasar sejak saat ia mengajakku berkeliling pasar, jadi tak sedikit juga yang mengenalku. Dan aku dengan mudah untuk membeli barang barang yang ia suruh. Dan….
Tepat dimana besok adalah hari anniversary kami. dan kami berjanjian untuk bertemu di suatu tempat. Aku telah menyiapkan tempat yang sering kami datangi Bersama, aku mengajak ia bertemu pada malam hari pukul 20.00. di tempat yang pertama kali aku mengungkapkan rasaku. Malam dimana hari sangat bahagia, bintang bulan dan langit yang tampil sangat cantik.
Aku menunggu murni datang dengan harapan untuk berjanji agar kita selalu Bersama dan menua barsama. di temani dengan bungaku mawarku yang cantik. Aku selalu menunggu ia datang sampai dimana pada jam 21.30 aku terus menelfonnya untuk datang tetapi nomer yang aku telfon tidak aktif. Aku meletakkan setangkai bunga mawarku dan barang barangku di meja bergegas kerumah murni untuk menjemputnya. Tak biasanya ia tidak mengangkat telfon ku, sesampai nya aku di rumah murni aku melihat pintu nya tampak terkunci dan pagarnya telah tertutup rapat jadi aku berfikir mungkin murni baru saja ke tempatku tetapi karna aku sangat laju jadi aku tidak memerhatikan di pinggir pinggir jalan.
Aku bergegas lagi kembali ke taman tadi untuk menjaga tempatku dan mungkin murni telah sampai, aku mengendarai kendaraan ku dengan pelan sambil melihat orang orang yang tampak reme di dekat pasar aku tidak melihat ada kejadian di situ jadi aku terus mengendarai kendaraan ku dengan pelan, sampai dimana saat aku bertemu dengan bapak bapak penjual sayur atau langganan murni ia tampak gemetar, wajah penuh takut dan sedih sehingga membuat aku berheti sejenak, saat aku turun dari kendaraan ku, bapak itu memelukku dengan erat sambil mengangiss berkata “mas yang sabar yahh neng murni pasti…….” Belum selesai bapak itu berbicara aku segera mendorong bapak itu dan bertanya dengan gemetar dan suara yang sedikit keras. ”APA YANG TERJADI PADA MURNI???” Bapak itu berkata bawha murni kecelakaan dan di larikan ke rumah sakit terdekat. Aku yang sudah mendengar itu menjadi tak karuan dan bergegas kerumah sakit tersebut tanpa berpamitan dengannya, dan mengucapkan sedikit katapun.
Aku mengabaikan segala barangku yang berada di taman yang aku telah siapkan, yang aku tau di mobilku masih tersisa setangkai bunga mawar, dan di taman juga ada setangkai mawar. Sampai di rumah sakit aku bertemu kedua orangtua murni yang tampak menangis di depan ruangan igd, ibu murni yang segera memelukku meminta maaf karna tidak mengabari bahwa murni mengalami kecelakaan, karna mereka juga baru mengetahui ini, dan saat ia ingin mengabari ternyata hp mereka ketinggalan. Aku sangat lah sedih mendengar tangisan dari keluarga mereka yang tampak lesu seakan akan meregut kebahagiaan kami di malam yang cerah dan cantik ini.
Aku bertanya bagaimana keadaan murni sekarang… mereka tidak bisa menjawab dan hanya bisa menangis sambil menggelengkan kepala mereka. Seketika itu pun aku runtuh dan hanya bisa berdoa mulutku yang tak berhenti bergerak selama kurang lebih satu jam, dokter pun keluar. Kami segera berdiri dan menanti kabar dari dokter tersebut. Aku melihat wajah si dokter itu tampak seperti ingin menyampaikan perkataan yang membuat kami terluka. Karna dokter itu selama keluar ia hanya menghela nafas dan berkata sabar kepada saya. Yahh saat semua sudah tampak berdiri aku berada di dekat dokter itu sedikit demi sedikit mengintip ke dalam tapi tak melihat apapun. Dann dokter pun mengabari dengan Duka yang mendalam bahwa murni telah pergi selama lamnya. Aku yang tak kuat mendengar perkataan tersebut jatuhh, dan ibu murni pingsan. Aku hanya ingin bertemu dengan murni dan memeluk ia secara langsung.
Waktu penguburan pun tiba, kami hanya bisa ikhlas dan pasrah terhadap musibah yang kami dapat. Setelah penguburan selesai semua orang tampak duka, aku bergesas ketaman dan mengambil barang ku di taman tadi, aku tak menyangka ini akan terjadi pada murni. Setelah mengambil barang barang ku yang berada di taman aku masih melihat bunga mawarku yang masih cantikk, aku teringat murni yang sangat menyukai setangkai mawar. Aku kekuburan untuk menaruh mawar tersebut sambil bercerita tentang kejadian semalam.
Aku bertemu bapak bapak yang menjual sayur di pasar ia juga datang untuk ke kuburan murni, ia bercerita tentang kejadian semalam, ia menyaksikan langsung kejadian tersebut. Ia bercerita bahwa “murni sehabis magrib ia bergesas kepasar, ia singgah di warung saya untuk membeli beberapa sayur dan kue saya melihat murni sangat cantik malam itu, ia hanya senyum kepada saya dan berkata ingin bertemu dengan abang. Saat setelah berbelanja Ia pamit pulang, tetapi di depan pasar terjadi keributan ia terdorong jatuh, saya ingin membantu tapi orang orang sangat banyak mas jadi saya ikutan terjatuh, pada saat ingin berdiri neng murni masih terjatuh dan ternyata di belakang ada kereta kuda, mungkin kuda tersebut kaget karna orang orang tersebut berlarian dan terjadi keributan sehingga neg murni ketabrak oleh kereta kuda dan ke tendang oleh kuda tersebut sehingga kena kepala neng murni. Saya hanya bisa membantu saat orang-orang sudah lumayan tenang mas. Maaf saya tidak cepat bertindak, saya juga menyesal.” Bapak itu pun sama sama merasakan penyesalan dengan saya. Saya hanya bisa untuk sama sama saling menguatkan. Walaupun hati ini kadang masih tidak rela dan sangat sakit. Calon istri saya meninggal di hari anniversary kami.
Aku sangat sedihh mendengar cerita tersebut, aku hanya bisa menangis dan meminta maaf kepada murni seharusnya aku mejemput murni dan melarang ia keluar rumah. Namun apa yang terjadi kayu telah menjadi abu. Sama sekali tidak bisa mengembalikkan ia ke dunia ini. Yang ada hanya penyesalan. Sekarang yang tersisa hanyalah janjiku kepada murni dan penyesalanku yang tak kunjung habis. Aku berharap agar kami dapat bertemu lagi di kehidupan yang abadi.
Aku menepati janji kami untuk selalu Bersama, mungkin orang ada yang menganggap aku bodoh atau ada yang setuju. Tetapi itulah janjiku untuk selalu bersamanya. Aku selalu menjaga cinta ini agar tetap abadi. Karna aku yakin murni pasti menemaniku dari sana. Aku membuat usaha untuk berdagang alat dan bahan masakan, akupun juga membuka beberapa warung makan. Alhamdulillah aku sudah bahagia bisa memenuhi kemauan murni yang ingin membuka tempat makan. Sekarang aku telah menjadi pedagang yang cukup sukses. Aku masih setia kepada murni.
Aku selalu menulis surat untuk murni setiap tanggal 03 dan di hari anniversary kami. Seperti yang aku katakana pada janjiku “CINTA KU ITU MURNI” walau setangkai bunga mawar yang ku bawa pada malam itu di takdirkan menjadi malang sepertiku. Tapi aku akan berusaha untuk membuat bunga yang malang itu untuk hidup lagi, pada tempat makan yang telah aku buat, setiap meja aku sediakan setangkai mawar. Untuk mengisi kekosongan itu sekaligus menjadi teman ku.
Salah satu potongan surat yang aku tulis untuk murni.
JIKA SETANGKAI BUNGA YANG AKU BAWA DI TAKDIRKAN MENJADI MALANG
MAKA AKU TAK AKAN MEMBIARKAN CINTA KU IKUT MENJADI PENGHALANG
AKU AKAN MENCINTAIMU
KARNA CINTAKU MURNI UNTUKMU.