Malam yang sunyi, hanya terdengar suara suara jangkrik di samping rumahku. aku sedang duduk di balkon rumahku, terlintas di pikiranku kematian dari temanku Edo beberapa bulan yang lalu telah menciptakan rasa duka dan kehilangan yang mendalam, sekaligus kengerian yang penuh misteri. Hari telah berlalu menjadi bulan tapi rasanya seperti baru terjadi kemarin. Aku masih teringat jelas, ketika tubuh Edo ditemukan sudah keadaan tidak bernyawa dan tubuh nya hancur sebagian.
Tidak ada juga titik terang untuk asal-usulnya benda yang dimiliki Edo sebuah patung kayu berbentuk manusia tanpa kepala, dengan ukiran ganjil yang menciptakan sebuah api aneh dengan bayangan seperti phantasmagoria, dari dalam peti matinya.
Aku ingin mendamaikan ilusi mengerikan yang telah menghantuiku selama ini. Perihal tersebut terus berlanjut sepanjang waktu, hingga mengusik kehidupan sehari-hariku.
Hingga pada suatu hari, teman-teman kampus ku mengajakku untuk ikut melakukan sebuah pendakian di sebuah gunung di daerah Jawa Barat. Alasan utama dari acara pendakian tersebut adalah mereka ingin menangkap cakrawala di saat matahari terbit dan terbenam dari atas gunung dan ingin healing juga. Aku lantas mengiyakan ajakan mereka karena aku berpikir bahwa pendakian ini dapat menyembuhkan pikiranku yang telah kusut dan krisis akal sehat, serta melenyapkan mimpi buruk yang terus menyiksaku. Aku juga mengajak Candra, temanku,dan untungnya dia menerima ajakanku.
Setelah hari yang ditentukan telah tiba, kami berkumpul di sebuah stasiun kereta, di wilayah Jakarta Pusat, sekitar jam 14:40 siang. Di sana selain aku dan candra terdapat empat orang lainnya mereka bernama Abid, Farel, Ilham, dan Rafa. Abid adalah pemimpin dari pendakian ini. Dia adalah mahasiswa semester tua dan sangat berpengalaman dalam bidang traveling, berkemah, mendaki, dan menjelajah alam bebas. Alhasil, sebutan sang petualang sangat cocok disematkan untuknya.
Waktu yang ditempuh untuk menuju ke lokasi pendakian melalui kereta adalah sekitar 2 jam. Para anggota pendaki mengiringi perjalanan mereka dengan penuh antusias, kecuali aku dan Candra yang masih dihantui oleh mimpi buruk akan kematian Edo. Kami tiba di salah satu stasiun daerah, di Jawa Barat pada sore hari. Lalu kami menaiki transportasi umum, untuk menuju ke lokasi pendakian.
Setibanya di lokasi pendakian kami diberikan instruksi dari pemandu tempat pendakian mengenai jalur yang dapat dilewati oleh para pendaki, serta aturan-aturan yang harus ditaati selama mendaki. Mereka juga menawarkan seorang pemandu, untuk setiap rombongan pendaki tapi ditolak oleh Abid, karena biaya yang tidak murah dan dia sendiri sudah cukup berpengalaman dalam mendaki, sehingga dia mampu memandu rombongannya. Dan pendakian-pun dimulai. Abid selaku pemimpin pendakian, dia berjalan di paling depan dan menuntun rombongan dengan penuh wibawa. Abid dan Farel mereka sibuk mengamati keadaan sekitar, Ilham hanya berjalan mengikuti rombongan, sembari mengamati dan mengambil gambar lingkungan sekitar. Sedangkan aku dan Candra berjalan di barisan belakang, dengan rasa antusias yang masih ternoda oleh kenangan suram.
Kami menelusuri dari satu tempat ke tempat lainnya. Aku tidak bisa menggambarkan betapa serunya perjalanan ini memasuki hutan yang jauh dari aktivitas manusia. Beberapa kali kami berpapasan dengan rombongan pendaki yang lain, serta tidak lupa mengucapkan salam kepada mereka. Mungkin perjalanan ini bisa menjadi sebuah obat untukku yang sudah rusak, akibat imajinasi liar yang mengerikan.
Setelah hari sudah gelap Abid memutuskan untuk menghentikan pendakian dan beristirahat, meskipun keberadaan kami sudah dekat dengan pos pendakian kedua.
Dia memilih sebuah tempat di dalam pepohonan jati untuk berkemah karena tempat tersebut memiliki tanah yang rata, serta tidak ada kerikil atau berbatu. Sebetulnya teman-temanku berharap agar kami tetap meneruskan perjalanan tapi Abid menolak dengan alasan terlalu berbahaya untuk mendaki di hari yang sudah gelap, karena selain itu salah satu aturan tidak tertulis itu sangat berisiko ditambah dengan area pendakian yang cukup terjal, sehingga dapat membahayakan nyawa pendaki yang tidak cukup berpengalaman. Alhasil, kami terpaksa untuk melanjutkan pendakian di keesokan paginya.
Lantas kami memasang tiga tenda, setiap tenda dapat diisi oleh dua orang. Aku berbagi tenda dengan Abid, sedangkan Candra berbagi tenda dengan Farel, begitu juga dengan Ilham yang berbagi tenda dengan Rafa. Malam itu, kami banyak melakukan kegiatan-kegiatan yang menghibur seperti bernyanyi di depan api unggun dengan diiringi gitar, bermain kartu, dan sebagainya. Hal tersebut terus berlangsung hingga waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Alhasil, kami semua kembali ke tenda masing-masing, untuk beristirahat dan mempersiapkan diri untuk perjalanan berikutnya.
Di dalam tenda, Abid banyak sekali melempar pertanyaan kepadaku dari alasan aku mengikuti pendakian ini, hingga tidak lupa dengan membahas kematian Edo. Aku hanya menjawab seadanya. Walakin, Abid tetap membuka topik pembicaraan terhadapku. Aku tidak pernah menyangka bahwa Abid adalah orang yang ringan lidah sangat kontras dengan penampilannya yang sangar dan dingin. Percakapan kami berdua terus berlangsung hingga tengah malam; sampai akhirnya kami tertidur dengan sendirinya.
Namun, seketika kami kembali terbangun, setelah mendengar suara Candra yang membangunkan kami dari luar tenda. Lantas Abid yang lebih sigap langsung keluar dan menemui candra yang melukis kegelisahan di wajahnya. Dia bersaksi bahwa Farel belum kembali ke tenda, setelah dia pergi untuk buang air kecil. Candra juga bilang bahwa dia sudah keluar mencari Farel, tapi dia tidak menemukannya. Mendengar kesaksian itu, Abid langsung bergegas keluar sembari membawa sebuah senter, lalu menelusuri area sekitar perkemahan kami. Aku ikut membantu mencarinya karena aku juga khawatir dengan keberadaan Farel. Setelah kami bertiga menelusuri tempat tersebut, seketika Abid menemukan bercak darah yang kami terka adalah darah Farel di tanah, yang lokasinya tidak jauh dari tenda Candra dan Farel.
Lantas insting Abid sebagai seorang petualang mulai berbicara dan menyadari perihal yang tidak benar. Dia bergegas menuju ke tenda Ilham dan Rafa dan membangunkan mereka. Kemudian Abid menyuruh mereka untuk segera berkemas, dan pergi ke pos pendakian kedua karena letaknya tidak terlalu jauh dari tempat kami berada untuk meminta bantuan kepada pemandu, penjaga hutan, atau pendaki lainnya. Ilham dan Rafa sangat terkejut dan meminta keterangan dari Abid tapi penjelasan Abid hanya membuat Ilham dan Rafa menjadi panik dan bersikeras untuk ikut mencari Farel. Alhasil, terjadi sedikit perdebatan di antara mereka bertiga. Setelah Abid berhasil meyakinkan Ilham dan Rafa alhasil mereka bergegas membereskan diri dengan perasaan gundah. Kemudian Abid meminta Candra untuk menuntun Ilham dan Rafa ke pos pendakian kedua, sembari memberikan sebuah peta jalur pendakian kepadanya sedangkan Abid dan aku akan mencari Farel. Setelah Candra bersama Ilham dan Rafa sudah berjalan pergi aku dan Abid langsung pergi menjelajahi hutan yang gelap, dengan hanya ditemani oleh sebuah senter di setiap tangan kami, sekaligus mengikuti arah bercak darah yang berceceran di tanah. Bahkan kami juga menemukan beberapa potongan daging kecil, yang kami duga itu milik Farel. Aku bergidik ngeri melihatnya, sedangkan Abid terlihat berusaha pagan dan masih dapat mengontrol rasa takutnya.
Kami menjelajahi hutan jauh lebih dalam sampai akhirnya kami tiba di sebuah tempat yang lapang
dipenuhi oleh reruntuhan candi yang tak bernama, sangat tua, dan berarsitekur ganjil. Tempat itu telah ditumbuhi oleh rerumputan, lumut, dan ilalang menjalar, serta dipenuhi oleh bau yang tidak masuk akal dan dapat diasosiasikan dengan bau batu yang telah membusuk. Bahkan kami juga mendapati berbagai macam patung aneh, dengan ukiran-ukiran absurd dan mengerikan, yang belum pernah kami lihat sebelumnya. Seakan-akan kami baru saja menemukan sebuah peninggalan sejarah yang belum terekspos sebuah peninggalan dari peradaban ganjil yang hilang dari catatan sejarah.
Secara sekilas, kami melihat bercak darah itu mengarah ke dalam sebuah gua - terletak di tengah reruntuhan candi - yang terbuat dari bebatuan granit, yang menghantarkan ke bawah tanah. Saat kami mendekati mulut gua tersebut di dalam sana sangat gelap gulita, dengan dinding yang telah ditumbuhi oleh akar merambat dan lumut, serta sebuah anak tangga yang terbuat dari batuan kapur yang cacat dan tidak rata. Di anak tangga itulah, kami mendapati bercak darah itu melaju ke dalam kegelapan yang tak berujung.
Maaf Darel, sepertinya kamu harus tinggal di permukaan. Apabila dilihat dari medannya, tempat ini sangat berbahaya. Kita tidak tahu apa yang akan kita hadapi di dalam sana. Aku takut bahwa aku tidak bisa menjamin keselamatanmu." ujar Abid.
Lantas aku menolak permintaannya, dan memaksa untuk ikut bersamanya masuk ke dalam gua. Alhasil, terjadilah sebuah perdebatan di antara kami berdua. Namun, harus kuakui bahwa Abid adalah orang yang sangat keras kepala, sehingga aku terpaksa harus mengalah dengannya. Mungkin ada benarnya permintaan Abid sebab dia adalah orang yang sangat berpengalaman dalam bidang ini, dan mungkin dia juga tahu bahwa aku bukan orang yang tepat untuk diajak masuk ke dalam gua yang tidak jelas asal-usulnya.
Kemudian, Abid mengeluarkan sepasang woki-toki - dari dalam tas ranselnya - yang didesain untuk kegiatan berkemah. Lalu dia memberikan salah satunya kepadaku. Sebab di tempat ini, ponsel tidak dapat digunakan karena tidak ada jaringan sinyal. Alhasil, woki-toki kemah menjadi satu-satunya alat komunikasi yang dapat kami gunakan saat ini.
"Aku akan memberimu kabar lewat woki-toki ini. Jika terjadi sesuatu padaku, cepatlah pergi cari bantuan!" ujar Abid padaku, sebelum dia memasuki mulut gua.
Dan aku hanya menyaksikan kepergiannya dari mulut gua dengan diselimuti oleh perasaan gelisah, hingga tubuh Abid menghilang seutuhnya di dalam kegelapan. Setelah itu, aku hanya bisa menunggu tanpa arah, dengan diisolasi oleh rasa takut yang tidak pasti, dan ditemani oleh beberapa patung terkutuk yang salah satunya memiliki rupa tidak asing. Saat kuteliti dan ingat-ingat patung itu memiliki rupa yang sama dengan patung kayu yang dimiliki Edo. Sebuah patung tanpa kepala - bukan karena distorsi alam atau vandalisme tangan manusia dan memiliki ukiran yang sama ganjilnya. Apakah Edo pernah datang ke tempat ini, untuk suatu tujuan yang tidak pernah kuketahui? Lebih-lebih bila kuingat secara letak geografisnya, tempat ini lumayan dekat dengan desa tempat kami kkn dulu. Darel... Darel... apa kamu dengar suaraku?" ujar Abid dari woki-tokinya secara tiba-tiba, sehingga mengagetkanku yang sedang terfokus melihat patung ganjil itu.
"Abid... iya... aku mendengarmu." balasku.
"Ya Tuhan... jika kamu bisa lihat apa yang kulihat! Tempat ini sangat mengerikan... mustahil... tidak bisa dipercaya!" ujar Abid.
"Apa itu Abid? Apa itu?" tanyaku.
"Darel... tempat ini... aku belum pernah melihatnya! Ini sangat dahsyat! Aku tidak bisa memberitahumu, Darel! Aku tidak berani memberitahumu! Ini... ini tidak masuk akal!" balasnya dengan gugup.
Aku sungguh tidak mengerti dengan apa yang dia katakan. Perihal yang bisa kulakukan adalah melempar pertanyaan gemetar kepadanya. Namun, Abid tidak memberikan jawaban yang pasti.
"Aku menemukan Farel!" ujar Abid.
"Farel? Bagaimana dengan keadaannya? Apa dia baik-baik saja?" tanyaku.
Abid tidak membalas dalam beberapa waktu.
"Halo Abid... kamu mendengar suaraku?" tanyaku lagi.
"Astaga... mereka... makhluk apa mereka! Oh Tuhan... mereka memakan Farel!" balas Abid dengan gamang.
"Apa kamu bilang?"
"Farel... Farel sudah mati!" jawab Abid dengan nada panik.
Aku yang mendengar itu tidak bisa berkata apa-apa, selain bergidik ngeri dan menatap kosong ke dalam gua, dengan penuh ketakutan yang sulit dijelaskan.
"Oh Tuhan! Mereka melihatku!" ujar Abid dengan nada yang lebih panik.
"Abid! Cepat keluar dari tempat itu!" perintahku.
Abid tidak menjawab dalam beberapa waktu kalakian dia kembali membalasku dengan nada yang penuh keputusasaan.
"Demi Tuhan... Darel... kamu harus cepat pergi dari tempat ini! Itu satu-satunya harapanmu! Lakukan apa yang kukatakan... dan jangan minta penjelasan!"
"Tidak Abid... tidak! Aku tidak bisa meninggalkanmu!"
"Sudah terlambat! Aku tidak bisa... aku tidak bisa kembali... cepat tinggalkan aku! Mereka... mereka sangat berbahaya!" ujar Abid dengan penuh kepanikan liar.
"Kalau begitu... bertahanlah! Aku akan menyusulmu!" ujarku.
"Tidak... jangan... dasar bodoh! Cepat pergi... sebelum terlambat!" teriak Abid yang kemudian diikuti oleh suara raungan mengerikan, dan panggilan diakhiri dengan suara jerit histeris yang terputus.
Aku hanya bisa berteriak-teriak memanggilnya. Tetapi tidak ada balasan dari Abid. Hanya ada kesunyian mencekam yang menyelimutiku. Lantas aku mulai mempersiapkan diri untuk masuk ke dalam gua, dan tidak menghiraukan pesan dari Abid. Tetapi, sewaktu aku hendak memasuki gua, aku mendapati kehadiran sosok yang sedang berjalan keluar dari dalam kegelapan, menuju ke arahku berada.
"Abid! Apa itu kamu?" tanyaku sambil mengarahkan cahaya senter ke sosok itu.
Namun, dari ujung pandanganku aku hanya mendapati sosok itu dengan sangat samar, akibat diselimuti oleh kegelapan yang pekat dan mengaburkan. Dari sisa-sisa pandangan terjelasku, aku mendapati bahwa sosok itu bukanlah Abid. Aku tidak tahu apa yang kulihat sekarang ini. Dia tidak wajar tidak manusiawi tidak utuh! Kemudian sosok itu tertawa dengan suara yang dalam dan menyeramkan, sehingga menggetarkan jiwaku. Lalu dia berkata:
"Abid? dia sudah mati!"
Darel langsung tercengang sekujur tubuh nya terasa lemas dan tak berdaya melihat sosok itu dan mendengar apa yang dikatakan sosok itu. Darel langsung lari meninggalkan gua dan sosok itu. Darel lari dengan perasaan sangat panik dia mendengar sosok itu tertawa sangat kencang. Darel menyusul Candra,Ilham, dan Rafa ke pos 2 untuk mengajak mereka turun dan pulang. Sesampainya di pos 2, Darel langsung mengajak Candra, Ilham dan Rafa untuk segera berbenah dan pulang dengan wajah yang sangat panik. Mereka bertanya tanya apa yang sebenarnya terjadi. Darel tidak langsung menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dan mereka langsung bergegas turun dan pulang. Sesampainya di titik awal mereka datang ke tempat itu mereka bertemu dengan penjaga hutan dan ada dua pemandu yang sedang nongkrong di warung. Mereka menghampirinya dan disitulah Darel menceritakan semua yang terjadi pada Abid dan Farel. Candra,Ilham dan Rafa sangat terkejut dan seakan tak percaya tapi itu lah yang terjadi. Penjaga hutan dan 2 pemandu itu juga sangat terkejut dan ikut berbela sungkawa atas kehilangan Abid dan Farel. Keesokan hari mereka kembali ke jakarta dan sesampainya dirumah Darel mereka merenungi semua yang telah terjadi. Mereka sangat sedih, terutama Darel ia sangat sedih dan semakin trauma.karna dia lah yang mendengar sendiri kalo Abid sudah mati karna ulah sosok menyeramkan itu. untungnya mereka ber empat selamat tetapi harus kehilangan dua temannya. Dengan kejadian itu mereka ber empat trauma dan memutuskan untuk tidak akan melakukan pendakian lagi.
TAMATTTT....