karya : Wajihan zahratisa
kelas : XI IPA 3
Malam yang kelam hanya terdengar suara jangkrik dan hembusan angin sehingga membuat suasana semakin mencekam, aku berada di tengah hutan dan yang bisa aku lakukan hanya menghalau pikiran-pikiran buruk di kepalaku yang sangat berbanding terbalik dengan suasana malam ini. Aku memanjatkan doa kepada Tuhan agar diberi keselamatan sampai keluar dari hutan ini, suara derap langkah kaki diikuti suara dedaunan yang diinjak semakin terdengar jelas menghampiriku yang tengah bersembunyi di antara semak-semak belukar. Aku hanya bisa bersembunyi dan menunggu hari esok hingga sang fajar terbit dan bisa melanjutkan perjalanan kembali.
Suara kicauan burung disertai cahaya matahari yang masuk melalui rimbunnya pohon di hutan ini. Hanya sepotong roti sebagai pengganjal rasa laparku di hari ini. Semua yang terjadi berada diluar ekspektasi ku. Rara, adalah teman masa kecilku namun karna suatu permasalahan hubungan kami menjadi renggang. Aku dan Rara berada dalam satu rombongan yang sama, namun sangat disayangkan kenapa aku terpisah dari rombongan itu. Terpisah dari rombongan adalah hal yang tidak kusangka sangka. Aku melanjutkan perjalananku untuk mencari jalan keluar dari hutan ini. Terus berjalan di antara tumpukan daun-daun kering dan rimbunnya pohon-pohon. Aku mencoba mengingat-ingat jalan yang pernah kulalui namun nihil, semua jalan yang sejak tadi kulalui terasa asing bagiku. apakah aku sudah berjalan terlalu jauh masuk kedalam hutan ini? entah apakah ini jalan yang benar atau malah jalan yang salah. Aku hanya bisa terus berjalan, secercah harapan muncul ketika aku menemukan sebuah gubuk tua dengan sungai disekelilingnya. Aku mencari pemilik gubuk itu namun tidak ada tanda tanda kehidupan didalam gubuk itu. Memberanikan diri untuk masuk kedalam gubuk tua itu, aku melihat sekeliling gubuk itu masih tertata rapi namun usang. Tanpa sengaja aku melihat secarik kertas berisikan foto sebuah keluarga kecil yang sangat terlihat harmonis. Pandanganku tertuju pada liontin merah yang dikenakan oleh salah satu wanita dalam foto itu. Parasnya yang cantik dan rambutnya yang bergelombang.
Kilauan cahaya yang masuk kedalam hutan ini semakin meredup, menandakan senja yang akan berakhir dan digantikan malam yang sunyi. Aku memutuskan untuk mengistirahatkan badanku di gubuk ini untuk malam ini. Dengan cepat aku mengumpulkan kayu dan menyalakan perapian sebelum malam benar benar menyambutku. Aku melihat persedian makanan yang kubawa semakin menipis. Hanya makanan ringan yang bisa ku makan untuk mengganjal perutku, suara air mengalir dan hembusan angin yang sangat menenangkan membuat pikiranku beristirahat sejenak memikirkan jalan keluar hutan ini. Mataku yang sudah mulai sayu pun mulai terpejam.
"Aaaaa!"
Aku terbangun mendengar teriakan itu. Siapa sangka malam ini menjadi malam yang sangat mencekam dari malam sebelumnya, suara teriakan yang membangunkan tidurku. Aku mulai dirundung rasa cemas dan takut. Aku bergegas menyimpuni barang barang ku dan bersembunyi diantara pepohonan lebat di sekitar gubuk. Sosok berjubah hitam yang menyeret seorang wanita terekam jelas dalam ingatanku, terdengar jelas sosok wanita itu berteriak meminta ampun kepada sosok berjubah hitam itu. Apakah dia membunuh wanita itu didalam gubuk? memberanikan diri untuk mengintip dari celah diujung jendela. Kejamnya sosok berjubah yang membunuh seorang wanita yang tidak terlihat wajahnya karna tertutup dengan rambut yang terurai. "Semua ini karna dirimu!" sosok berjubah hitam itu mengeluarkan sebuah pisau tajam dan langsung memenggal kepala wanita itu. Lumuran darah yang memenuhi gubuk itu menjadi pandangan yang sangat membuat bulu kuduk merinding. dinding gubuk yang sudah rapuh itu menjadi saksi bisu peristiwa itu. mengambil liontin dari kepala wanita itu dan mengenakan di lehernya "nyawa dibalas nyawa" seraya mencengkram kuat kalung itu. Dia mengambil sebuah peti disekitaran gubuk dan meletakkan kepala itu didalam peti. Keluar mengawasi sekitaran gubuk sambil membawa pisau berlumuran darah dan memandangi perapian yang sudah aku buat, ini adalah pertanda bahaya, sosok berjubah itu pasti sudah mengetahui bahwa ada yang menempati gubuk itu sebelum dia sampai. Perasaanku sangat kacau dan tidak bisa berpikir jernih, aku mencoba bersembunyi dan diam tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Sosok berjubah itu berjalan sambil mengecek sekitaran gubuk itu. Jarak ku dengan sosok jubah itu terbilang cukup dekat, hanya sebatang pohon yang cukup besar menjadi penghalang diantaranya. keringat dingin bercampur hembusan angin malam yang sangat mencekam. Tidak berselang lama sosok berjubah itu kembali masuk kedalam gubuk dan membawa sisa potongan manusia itu dan dibuangnya ke sungai. Dia kembali lagi kedalam gubuk dan keluar dengan peti yang dibawanya, dia berlari keluar dari gubuk itu. Aku tidak melihat wajah berjubah itu, hanya postur tubuhnya yang tinggi dan dan ramping. Apakah ini juga menjadi akhir hidupku? aku memberanikan diri untuk mengikuti sosok berjubah itu, jarak ku dengannya cukup jauh namun aku masih melihat sosok berjubah hitam itu. Alangkah terkejutnya ketika dia mengeluarkan kepala dari peti yang dibawanya dan menggantungkannya disebuah pohon besar. wajah itu terasa tidak asing bagiku. "AHAHAHA ini memang pantas untukmu" aku mencoba mengingat ingat wajah yang tergantung itu. tak sengaja aku menginjak ranting kering yang menimbulkan suara. Tatapan mata elangnya mengarah kepadaku, aku terkujut dan segera berlari dari tempat itu, sosok jubah itu mengikutiku. Namun apalah daya dia berhasil menangkap ku dan mencekikku. pandanganku yang mulai kabur tertuju pada cincin yang melingkar di jarinya, itu adalah cincin yang pernah kuberikan kepada sahabatku Rara, "Rara..." apakah semua ini adalah rencana Rara? segera dia longgarkan cekikan nya dan segera berlari meninggalkan aku sendiri. Kilauan cahaya senter menghampiriku yang tengah kaku. rombongan itu menemukan diriku yang hilang.
Tak terasa seminggu sudah aku pulang kerumah dan melakukan aktivitas, namun pikiranku masih terbayang bayang kejadian seminggu yang lalu ditengah hutan. Dan benar saja Rara tidak pernah terlihat sejak kejadian di hutan saat itu. Di suatu perpustakaan aku bertemu dengan seseorang yang sudah lama kucari, dia adalah Rara, ingin ku hampiri sosok yang tengah melamun itu namun niatku terhalang ketika aku melihat segerombolan polisi membawa Rara. Aku mengikuti mobil polisi itu sampai di kantor polisi, aku memberanikan diri untuk menyusul sahabatku. Dia terlihat menangis sambil tertawa sesekali "Rara..." dia menatapku seraya tertawa dengan keras. "apakah kau yang melaporkanku lintang? AHAHAHA" aku terkejut mendengar kacaunya. apakah benar dia dalang dibalik kejadian seminggu lalu? aku mulai bertanya kepadanya tentang kejadian dihutan. "Rara... apakah kau adalah sosok yang memenggal kepala wanita itu? apakah kau yang membiarkanku sendirian dihutan yang lebat itu?" "ya itu aku"penggalan kalimat itu membuatku terkejut dan membuat badanku menjadi kaku. Rara memegang erat liontin merah yang ia kenakan. ragu ragu aku bertanya kepadanya "apakah dia adalah sosok di selembar foto yang kutemui pada gubuk itu?" lagi lagi Rara hanya tertawa sambil menahan tangis yang ia pendam. Tak kuasa menahan air matanya, tangisnya pun pecah. "Sosok yang kau lihat di secarik foto itu adalah keluarga ayahku, laki laki berparas tampan itu adalah ayahku dan sosok perempuan yang menggendong anak kecil adalah ibu tiriku, dan anak kecil laki laki itu adalah adik tiriku. perempuan itu yang sudah merebut ibuku lintang... dia menghancurkan hidupku dan hidup ibuku. saat ibuku koma mereka berdua menikah dan sudah dikaruniai seorang anak laki laki. liontin yang dikenakannya adalah liontin milik ibuku sebagai Hadiah pernikahan yang pertama dengan ayahku. aku hanya ingin membalaskan dendam ibuku kepadanya." mendengar penjelasan Rara aku mulai mengerti tentang dendamnya pada ibu tirinya yang sudah menghancurkan hidup ibunya. sungguh, aku tidak menyangka selama ini dia menyimpan kenyataan pahit ini tanpa berbagi cerita kepadaku. aku merasa gagal sebagai sahabat karna tidak bisa mengurangi beban pikirannya. dan ini semua adalah alasan renggang nya hubunganku dengan Rara. Seminggu berlalu semenjak kejadian di kantor polisi, aku kembali mengunjungi Rara. Dia bukan seperti Rara yang dulu kukenal, aku membayangkan peristiwa peristiwa dulu ketika aku dan Rara masih bersama, sosok yang ceria dan penuh semangat. namun berbeda, sekarang dia berubah menjadi sosok yang kurang bergaul dengan orang sekitarnya. Liontin merah itu menjadi saksi bisu kejamnya pembunuhan malam itu.