Mahendra wirawan, seorang lelaki dengan senyuman manis tak lupa dua pasang lesung dipipinya. Badannya yang menjulang tinggi bak tiang listrik ini walaupun masih duduk dibangku SMA tetapi sudah memiliki tubuh yang atletis. Mahendra atau kerap dipanggil mahen dan Andra ini adalah salah satu siswa populer di sekolahnya, parasnya yang tampan serta kepintarannya dalam menguasai semua pelajaran membuat para siswi tergila-gila pada sosok mahendra termasuk guru-guru yang selalu memuji dan membanggakannya.
Tapi siapa sangka dibalik sosoknya yang dikagumi banyak orang itu tersimpan teka-teki yang sulit untuk dipecahkan. Ada hal yang tidak diketahui banyak orang tentang siapa sosok mahendra sebenarnya.
Hujan turun deras siang ini, waktu dimana anak sekolah mengakhiri kegiatan belajar dan kembali kerumah untuk melanjutkan aktifitas lain. Hampir seluruh siswa dan siswi SMA Gerhana sudah meninggalkan pekarangan sekolah namun ada seorang siswa yang diam sendirian didalam kelas termenung menatap air hujan dengan tatapan sendu, dia adalah mahendra. Orang yang selalu terlihat bahagia dan tersenyum itu ternyata bisa menunjukkan wajah sendu seperti bukan dirinya saja.
"Hah? Itu murid disekolah ini kan? Siswi kelas berapa dia"
Mahen bermonolog ketika dirinya mendapati seorang perempuan yang sedang asyik bermain dibawah air hujan, perempuan dengan rambut terurai berwarna hitam legam itu terlihat begitu bahagia, senyum yang merekah tercetak dibibir mungil nya.
Perempuan itu adalah Irania wulandari, siswi kelas 11 IPS 5. Tidak sedikit juga orang yang tau siapa dia, karena anaknya yang humble dan baik hati membuatnya dikenal banyak orang, dia termasuk anggota OSIS yang menjabat sebagai wakil ketua osis
Rasa penasaran yang menyelimuti membuat mahen tanpa sadar terus memperhatikan ira dari dalam ruang kelas, perempuan itu sendirian dibawah hujan ditaman belakang sekolah. Entah apa yang dipikirkan mahen tanpa sadar ia ikut tersenyum melihat ira.
Seakan sadar ada yang memperhatikan, ira melihat sekeliling dan melihat seorang lelaki menatapnya dari balik jendela disalah satu kelas yang ada disana.
"SIAPA KAMU?" Teriak ira pada sosok lelaki yang mencoba bersembunyi
Karena penasaran Irania memberanikan diri menghampiri kelas tersebut. Disaat melihat kedalam dia terkejut karena ternyata sosok itu adalah mahendra, lelaki yang dikagumi hampir seluruh siswi SMA Gerhana
"Lho, ko kamu mahen? Ngapain disini?" Tanya ira setalah kesadarannya kembali
"Eh iya nih, gak ngapa-ngapain sih cuma nungguin hujan reda baru aku pulang"
"Ternyata yang lagi ujan-ujanan itu kamu ra" lanjut mahen
"Heem lumayan buat nenangin pikiran ini, aku kira siapa tadi yang ngintip ternyata itu kamu" ucap ira dengan gerakan mata keheranan
"Maaf-maaf, gak ada niatan ngintip kok cuma tadi gak sengaja keliatan aja sih" suara tawa mahen menutupi rasa canggung dari keduanya
Mahendra dan irania merupakan salah satu siswa-siswi yang sering jadi andalan di SMA Gerhana, jadi keduanya sudah sering bertemu dan lumayan akrab namun tidak sering mereka mengobrol berdua saja, jika ada keperluan baru ada percakapan dari keduanya.
"Mahen kamu masih mau disini nih?" Tanya ira setelah keduanya larut dalam obrolan
"Engga bentaran lagi mau pulang, kenapa emang?"
"Ouh yaudah sekalian aja, aku juga mau pulang sekarang badan aku dah basah kuyup begini" ucap ira dengan sedikit tawa diakhir kata
"Pulang sama siapa?"
"Sendiri, nanti mau pesen ojol"
"Ikut aku aja gimana? Aku bawa motor kok, daripada naik ojol kan lumayan duitnya buat jajan"
"Eh iya juga sih, tapi gapapa emang? Liat nih baju aku basah semua ntar motor kamu kesian" ucap ira sambil memperlihatkan seluruh tubuhnya yang basah
"Kena air hujan aja udah basah ra, yaudah ayo"
"Oke deh"
Keduanya pergi meninggalkan kelas menuju tempat parkir untuk pergi pulang, selama diperjalanan tidak banyak percakapan yang dilakukan karena rasa canggung yang ada membuat mereka enggan untuk saling mengucap kata. Ketika ira sudah didepan rumahnya, mahen langsung pamit pulang.
****
Sesampainya dirumah mahen langsung masuk kedalam kamar kebetulan sekali semua anggota keluarganya tidak ada diruang tamu jadi tidak perlu ada drama siang ini pikirnya. Setelah mandi dan berganti pakaian mahen kembali duduk ditepi kasur, mengingat kembali kejadian disekolah tadi. Melihat ira yang bahagia dibawah air hujan membuatnya tersenyum kecut, ada perasaan iri dari dalam dirinya.
Kenapa gue gak bisa sebahagia ira?
Kenapa dia terlihat begitu bahagia banget? Kayak gak punya masalah dikehidupannya?
Apakah keluarganya selalu mendukung dia?
Kenapa dia bisa seberani itu untuk melakukan suatu hal sedangkan gue selalu terikat dengan aturan mereka?!
Kenapa?
Dalam diamnya mahen bergelut dengan pikiran terus menerus membandingkan dirinya dengan irania.
Keesokan harinya seluruh siswa dan siswi SMA Gerhana berada dilapangan karena ada kegiatan osis berupa acara pensi untuk kelas 12, ditengah kegiatan tiba-tiba ada satu masalah yaitu salah satu anggota band yang diundang hadir diacara tidak bisa hadir karena ada urusan mendadak yang tidak bisa diwakilkan. Semua anggota osis berkumpul untuk menentukan keputusan harus bagaimana melanjutkan acara lalu dikarenakan ketua osis yang sudah tidak dilibatkan lagi maka irania sebagai wakil ketua osis yang harus mengambil keputusan.
Selama perkumpulan itu tanpa mereka sadari ada seorang cowo yang diam memperhatikan, dia mahendra. Setiap gerak gerik yang dilakukan ira mahen terus memperhatikan tanpa mengalihkan pandangannya, ia terkagum kagum dengan sosok irania yang mengambil keputusan dengan begitu cepat dan berani. Hasil dari keputusan yang diambil ira membuat acara pensi kelas 12 sukses besar.
"Gue sekarang ngerti, kenapa lo sehebat ini ra" ucap mahen dalam hati
****
Di satu sudut ruangan yang gelap terdapat seorang lelaki tengah meringkukkan badannya sendirian, menahan tangis yang ingin keluar dari pelupuk matanya. Bukan karena dirinya lemah atau bagaimana namun ia hanya ingin mengistirahatkan pikirannya sejenak dari semua hal yang terjadi.
"LO CUMA JADI PENGGANGGU DI HIDUP GUE"
"GA USAH MANJA, LIAT KAKAK LO YANG BISA SENDIRI"
"JADI ANAK ITU HARUS NURUT"
"LO GAK BOLEH KALAH DAN HARUS MENANG DARI SEMUA ORANG"
Layaknya film yang memiliki reka adegan, semua ucapan itu terus terngiang berulang kali dalam ingatannya. Semua keluarganya selalu menuntut banyak hal padanya, baik itu ibu ayah maupun kakaknya tanpa terkecuali.
Perasaan kecewa, marah, bingung bersatu dalam pikiran. Stress tidak memandang gender mau dia itu cewe atau cowo. Mahen benar-benar muak dengan semua hal yang ia terima dari keluarganya. Tuntutan yang tidak berhenti selalu membuatnya ingin menyerah, semua keputusan yang ia punya diambil alih oleh orangtuanya membuat ia tidak bisa mengambil keputusan sendiri. Banyak keraguan yang selalu menghantui karena tuntutan dan aturan yang ada dalam keluarganya.
Sesaat dia teringat dengan sosok Irania wulandari, seorang perempuan yang akhir-akhir ini menjadi pusat perhatiannya. Perempuan itu membuatnya tersadar untuk bisa bangkit dan mulai untuk menjadi diri sendiri, sosok yang selama ini aku inginkan untuk hidup. Ia perempuan yang berani mengambil keputusan dan siap menanggung resiko dari apa yang diperbuatnya, membuat aku yakin untuk bisa menjadi sosok seperti itu juga.
Kutegakkan wajahku kedepan, senyuman itu kucoba lebarkan. I wanna be me, aku akan berusaha untuk menjadi diriku sendiri. Tanpa kebingungan memikirkan tuntutan yang mereka berikan padaku karena aku hidup dengan sebuah pilihan, mendengarkan ucapan mereka dan menuruti kemauan mereka tergantung pada pilihanku.
****
1 tahun kemudian.....
"Happy graduation mahen"
"Happy graduation juga ira"
Saat ini keduanya tengah berkumpul bersama teman seangkatannya merayakan hari kelulusan mereka, wajah penuh keceriaan terlihat jelas pada semua orang yang ada disana. Perjalanan kehidupan yang baru saja akan mereka mulai, ada yang memilih untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, ada yang memilih untuk berhenti sejenak mencari pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan ada juga yang memilih untuk langsung menjalani kehidupan pernikahan.
Keputusan yang diambil mahen kala itu benar-benar mengubah dirinya, walaupun diawal sempat ada perdebatan dengan keluarganya karena selisih paham namun perlahan dengan usaha dan keberaniannya akhirnya mereka semua mengerti tentang bagaimana seharusnya mereka berlaku pada dirinya.
"Ketakutan akan semakin besar jika kamu simpan dan kau tumpuk setiap harinya, cobalah untuk melangkah. Ketakutan itu perlahan akan memudar dan berubah menjadi sebuah kepercayaan"