"Mau main ToD?"
Pertanyaan random itu sukses membuat lelaki yang menggendongnya menghembuskan nafas jengah, ia tidak mengerti dengan jalan pikir perempuan, terutama perempuan pemilik nama Alinda Sarah yang sedang dia gendong.
"Linda please stop. Kita tidak punya waktu buat main ToD"
Alinda tertawa pelan. Dia juga tahu, mereka tidak punya waktu untuk memainkan permainan itu, terutama dirinya.
"Yah bosen kan aku. Di sini juga gelap, aku takut kalau kita bakal mati di sini"
"Kita gak bakal mati!"
Pikiran negatif Alinda membuatnya kesal. Dia yakin mereka tidak akan mati, tim SAR pasti menemukan mereka cepat atau lambat dan mereka berdua akan tertawa bersama lagi setelah keluar dari gunung itu.
Nafasnya tersengal. Dia sudah lelah tapi tidak bisa berhenti, jika ia berhenti kesadarannya pasti hilang. Belum lagi sosok penunggu gunung yang terus-menerus terbang diantara mereka berdua, seolah menertawakan nasib kedua manusia itu yang ingin bertahan hidup di teritori mereka.
"Daaris mah gak asik, aku main ToD sama hantu-hantu itu aja lah!"
Lelaki itu, Daaris Hermawan tersenyum kecut mendengar ucapan Alinda yang lagi-lagi bercanda tidak tahu situasi. Merasa lelah berjalan terus-menerus, Daaris menurunkan Alinda yang ia gendong di bawah pohon besar kemudian duduk disebelahnya.
"Ayo main. Jangan ajak mereka bicara, nanti kita dibawa sama mereka"
Mata sayu Alinda menatap Daaris senang. Senyuman tipis muncul di wajahnya yang pucat.
"Aku yang tanya duluan ya,"
Daaris mengangguk. Matanya terus menatap sinis ke arah perempuan berambut panjang dengan baju putih yang terus berterbangan di atas mereka, ia muak nelihat mahkluk-mahkluk itu.
"Turut of dare"
"Truth"
"Kamu suka aku ya?"
Daaris tersentak. Ia berbalik, menatap Alinda yang kini menatapnya. Mata Alinda menyipit, menyelidik Daaris agar tidak berbohong saat menjawab itu.
"Iya, aku suka kamu"
Alinda tertawa. Tangannya bergerak mengusap keringat yang sejak tadi mengucur, padahal dia tidak berjalan seperti Daaris tapi keringatnya sangat bercucuran.
"Sekarang kamu,"
"Truth or Dare"
"Dare"
"Teriak ke Kunti itu kalau kamu suka sama dia"
"Alinda!"
Gelak tawa kembali terdengar dari sang perempuan. Daaris tidak habis pikir, padahal situasi Alinda saat ini sedang diambang Kematian karena luka yang dia miliki di perut, tapi bisa-bisanya dia masih bercanda.
"Hayo buruan, entar mbak kunti nya keburu kabur dibawa sama pocong"
Alinda mungkin tidak memiliki indera keenam seperti Daaris, tapi dia bisa tahu saat ini banyak mahluk tak kasat mata yang sedang mengawasi mereka berdua. Terutama sosok perempuan berambut panjang dengan baju putih itu, mereka tertawa terus-menerus dengan gaya yang menyeramkan alhasil Alinda jadi punya indera keenam dadakan.
Daaris mendongak, netra coklat miliknya menatap sosok kunti yang saat itu sedang bertengger di atas pohon. Wajahnya hancur setengah, entah apa yang ia alami dulu tapi Daaris bersumpah dia bisa saja mengompol karena ketakutan saat ini.
Alinda terus menatap Daaris, mendesak pada lelaki yang sudah bersahabat dengannya selama lima tahun itu untuk segera melakukan tantangannya.
Daaris menghela nafas, kemudian ia pun berteriak.
"HEI KUNTI AKU SUKA KAMU!"
"Awokwok!! Hahaha!! Kocak anjir!! Andai aja batre hp ku gak mati, aku bisa videoin kamu teriak gitu terus upload di Instagram biar viral"Alinda menjeda ucapannya sejenak, ia bersandar di pohon besar kemudian menghela nafasnya.
"Tapi itu gak mungkin, aku bentar lagi kan mati"
Daaris mengigit bibir bawahnya, ia menatap Alinda dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Kamu gak bakal mati Lin"
"Aku bakal mati Ris"
"Enggak"
"AKU BAKAL MATI RIS! DARAH KU GAK BERHENTI KELUAR! AKU KEHABISAN BANYAK DARAH! SEKARANG AJA AKU PUSING RIS! AKU CAPEK!"
Alinda berteriak keras menggunakan seluruh sisa tenanga yang masih ia miliki. Daaris membisu, dia tidak bisa melakukan apa-apa dengan kondiai Alinda saat ini.
Perut Alinda sobek karena terjatuh ke jurang saat mendaki setelah mereka terpisah dari rombongan. Lukanya terlalu besar, bahkan meskipun Daaris sudah melakukan pertolongan pertama dengan mengorbankan baju miliknya, darah Alinda masih terus keluar.
Kini tatapan Alinda mulai kosong. Ia yang tadi bersemangat meminta permainan Truth or Dare perlahan-lahan kehilangan semangatnya.
"Aku, aku gak mau mati Ris. Aku mau hidup. Aku mau ketemu mama sama papa lagi, aku mau main sama Mochi, aku mau nongkrong di cafe bareng kalian sampe malem terus dimarahin mama karena pulang kemaleman"
Daaris masih diam. Tidak tahu apa yang harus ia katakan kepada perempuan yang dia sukai. Dalam keheningan itu, Alinda terus mengucapkan keinginannya seolah mengucapkan ucapan terakhir.
"Aku pengen lulus kuliah, melakukan semua hal yang belum pernah aku lakukan terus nikah" Alinda menjeda ucapannya sejenak, penglihatannya mulai kabur, ia yakin sebentar lagi kematian akan mendekatinya.
"Aku pengen nikah sama kamu"
Daaris tersentak. Dia berbalik, menatap Alinda yang terus berbicara tanpa menatapnya.
"Aku suka sama kamu, meskipun orang lain bilang kamu itu culun tapi aku enggak peduli. Kamu gak peka, padahal aku kasih banyak kode ke kamu tapi kamu malah anggap itu candaan doang. Hatiku sakit tau Ris, kamu jahat"
Mata Alinda mulai berkaca-kaca, ia menangis sejadi-jadinya yang membuat Daaris langsung memeluknya erat.
"Maaf, aku emang gak peka. Aku juga suka kamu, nanti pas kita keluar dari sini kita nikah ya? Aku punya uangnya kok, kita nikah terus kamu bisa melakukan semuanya yang kamu mau"
Dengan susah payah Alinda membalas pelukan Daaris. Ia berusaha menahan rasa sakit yang sejak tadi dia rasakan, setidaknya pelukan dari Daaris bisa menenangkan dirinya yang saat ini ketakutan setengah mati.
Siapa sih yang enggak takut mati? Semuanya akan ketakutan begitu menghadapi kematian secara nyata, Alinda juga merasakannya saat ini.
"Janji kita bakal nikah?"
"Janji"
"Mi apa?"
"Mi goyeng, mi kuah. Semua mi yang kamu mau bakal aku kasih Lin"
Alinda tertawa pelan. Alangkah indahnya jika apa yang Daaris ucapkan bisa benar-benar terjadi. Tapi Alinda tahu, semuanya hanya mimpi belaka.
"Jangan jadi fakboy ya, kamu ganteng kok. I love you Daaris Hermawan"
Daaris mengangguk singkat, Isak tangis keluar dari mulutnya. Tangannya masih memeluk tubuh sang pujaan hati yang kini mulai dingin. Cinta pertama Daaris sudah kembali ke sang pencipta. Daaris yang pada dasarnya benci gunung jadi semakin membencinya karena gunung telah merenggut perempuannya yang ia cintai.
Tim SAR datang setelah itu, mereka membawa Daaris keluar hidup-hidup namun tidak dengan Alinda.
Menatap tangan yang memucat, Daaris bergumam. Menjawab pernyataan cinta sang nona yang kini sudah berbeda alam dengannya.
"I love you too Alinda Sarah, since then and now I love you"
End