"Haruskah kita berolahraga hari ini? Sekarang sudah awal bulan. Kita pasti diminta untuk berlari memutari sekolah yang luas ini." Yang bisa kulakukan hanya mengeluh pada Ushi, teman dekatku. "Hah aku lebih suka duduk di kelas dan tidak melakukan apapun jika harus memilih."
Ushi menatapku tajam lewat pantulan cermin di hadapannya. "Lesya, semua orang pasti akan memilih opsi kedua jika yang diberi pilihan berlari atau hanya berdiam diri di kelas. Tapi jangan khawatir. Kita sudah bersiap setiap bulan untuk penilaian ini. Jadi kita mungkin tidak terlalu lelah nanti."
"Tapi tetap saja. Aku selalu sesak jika setelah berlari. Apalagi sekolah ini tidaklah kecil."
Ushi selesai membenarkan rambutnya kemudian membawaku keluar dari toilet. "Tidak apa-apa. Kita tidak selemah sebelumnya. Kita bisa melewatkannya. Toh teman-teman juga tidak secepat kita di pertemuan sebelumnya."
Dia benar. Tapi tetap saja berlari itu melelahkan.
"Kita sudah kelas 12, membutuhkan banyak olahraga agar tidak cepat sakit. Kenapa bukan olahraga ringan saja? Berlari itu bukan hal mudah." Masih saja aku mengeluh. Dan Ushi tetap mendengarkan tanpa merasa risih. Mendengarkan saja.
"Ya mau bagaimana lagi? Tapi lari membuat kaki terasa lebih ringan, Lesya. Tidak apa-apa."
Kami sampai di lapangan sebelum teman-teman sekelas. Mereka masih berjalan santai seolah lupa jika sekarang sudah waktunya untuk berlari berkeliling sekolah. Selanjutnya kami diminta untuk melakukan pemanasan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Cidera contohnya.
"Hari ini kita remidi bola basket. Kita tunda lari untuk hari ini." Wow aku tidak percaya dengan apa yang dikatakan guru kami setelah pemanasan selesai. Aku saja sudah ingin menyiapkan diri untuk berlari. Namun rupanya penilaian basket Minggu kemarin masih membutuhkan skor lain.
Ushi otomatis menatapku dengan sorot mata bahagia. Kami tidak perlu berlari Minggu ini. Pasti Minggu depan jika tidak ada halangan lagi.
Yang tidak remidi dipersilahkan untuk duduk di tepi lapangan sambil menghitung berapa bola yang berhasil dimasukkan oleh yang sedang remidi ke dalam ring basket. Menonton lebih menyenangkan. Tapi jika tahu begini, kami tidak akan berganti pakaian dan tetap dengan seragam hari ini.
Remidi dimulai. Bersamaan dengan kelas lain yang juga memiliki jam olahraga yang sama. Juga sedang melakukan remidi bola basket juga.
Lalu dari arah Utara, ada sekelompok anak kelas 10 yang datang. Kelihatannya juga akan memakai lapangan setelah kelas 12 selesai. Ada dua bagian lapangan yang digunakan kelas 12. Salah satunya bisa mereka gunakan setelah ini.
Kelihatannya mereka sudah selesai melakukan pemanasan. Karena mereka tidak melakukan pemanasan lagi setelah sampai di lapangan. Kelas lain selesai lebih dahulu. Sementara kelasku masih menggunakan sebagian lapangan untuk remidi.
"Oh Ushi, lihat itu," aku menunjuk ke arah kelas 10 yang sedari tadi menjadi pusat perhatianku. Tidak tahu kenapa, tapi aku melihat seseorang yang mirip dengan- patung.
Ushi menoleh, melihat arah tunjukku kepada seorang laki-laki dengan rambut keriting disana. Bentuk hidungnya sempurna, mancung. Cocok dengan struktur wajah yang dibuat Tuhan dengan hati-hati itu. Sudut wajahnya membuatku ingat dengan patung-patung yang biasanya yang menurutku identik dengan patung Yunani kuno.
Entahlah, hanya saja aku melihatnya seperti itu.
"Anak itu mirip dengan patung," bisikku pada Ushi. Tidak sadar jika tanganku sejak tadi masih menunjuk anak yang kini menjadi pusat perhatian kami berdua. Ushi juga setuju. Dia mengerti maksud ucapanku.
Mungkin anak itu merasa jika sedang diperhatikan. Meksipun tanganku tidak lagi menunjuknya diam-diam, dia mungkin merasa jika aku masih mengawasi. Aku tertarik dengan bagaimana cara Tuhan membuat sudut wajahnya dengan begitu mirip dengan patung Yunani yang biasa kulihat.
Jadinya setiap Minggu, ketika kesempatan kami berolahraga, antensiku selalu jatuh pada anak dengan wajah unik itu. Aku tidak tahu dia kelas apa dsn bahkan namanya saja aku sudah pernah tahu.
Hanya menyenangkan saja melihatnya. Bercengkrama dengan teman-teman, bermain bola, dan melakukan pemanasan. Tapi bukan berarti aku jatuh cinta dengannya. Aku hanya senang melihatnya. Tidak ada perasaan jatuh hati atau apapun. Aku sungguh hanya terkesan. Dari sikapnya pun dia kelihatan baik.
Minggu-minggu berlalu. Yang kulakukan hanya menatapnya dari kejauhan. Beberapa kali aku tertangkap basah tengah menatapnya. Tapi itu tidak membuatku berpaling. Bahkan hingga Ushi merasa aneh dengan sikapku yang seperti ini.
"Tidak apa-apa. Siapa tahu dia bisa jatuh cinta padaku, benar?" Haha tapi aku hanya bercanda.
Sudah 3 bukan berlalu. Yang kulakukan hanya menatap anak itu tanpa berniat berkenalan. Mencari dia di media sosial saja tidak. Biarkan saja dia melakukan apapun. Aku hanya ingin melihatnya.
Hah sejujurnya aku agak menyesal masih memerhatikan anak laki-laki itu setiap kali olahraga bersama. Tidak sengaja kulihat dia yang sedang menjahili perempuan dari kelasnya saat membawa bola basket. Pikiranku mulai bicara jika perempuan itu bisa saja kekasihnya.
"Lesya, kau tidak ingin melihat anak patung lagi?" Ushi sedang menjahiliku sekarang. Mentang-mentang aku tidak tertarik melihat laki-laki itu lagi. "Jika dia kekasihnya, mereka seharusnya lebih sering terlihat bersama, benar? Tapi baru kali ini kita melihatnya."
"Hah entahlah. Aku malas."
Omong-omong hari itu menjadi lebih buruk karena sore harinya hujan. Padahal aku sudah membayangkan pulang tepat waktu dan segera mandi dsn keramas. Sayangnya alam tidak ingin membuat rencana ku berhasil.
Aku dan Ushi duduk di depan kelas. Dengan membawa tas yang lumayan ringan aku mengulurkan tangan untuk mengambil tetesan hujan yang turun dari atap kelas. Rasanya segar, tapi tetap saja aku ingin segera pulang dan beristirahat.
Orang-orang sudah pulang, menerobos hujan. Aku tidak bisa melakukan hal yang sama. Hujannya menjadi lebih deras setelah kepergian mereka.
"Lesya," panggil Ushi dengan suara berbisik dari arah belakangku. Tapi tidak ingin kudengarkan. Moodku sedang buruk karena melihat anak patungku bersama dengan gadis itu. Padahal aku tidak memiliki perasaan apapun. Tapi rasanya tidak menyenangkan saja. Seharusnya tidak ada yang seperti itu.
"Lesya," panggil Ushi lagi. Kali ini dia menarik lengan seragamku agar memperhatikan. "Lihatlah siapa yang sedang berjalan ke arah kita sekarang." Ushi menatapku aneh. Membuatku melihat ke arah yang dia maksudkan padaku.
Oh mataku tidak mungkin berbohong.
Disana- anak patung itu.
Dia berjalan ke arahku. Dengan tatapan percaya diri juga senyuman canggung. Tapi kenapa dia ada disini? Setahuku dia tidak punya apapun di sekitar kelas 12. Berulang kali kucek apakah bukan aku yang dia tuju. Namun rupanya dia benar berhenti di depanku.
Ushi pergi ke suatu tempat, memberikan ruang.
Laki-laki itu terlihat canggung. Padahal aku sedang biasa saja. Ini pertama kalinya aku melihatnya dari jarak dekat. Sedekat ini.
"Kak," dia memanggilku, "aku ingin berkenalan."
Wow mimpi apa aku semalam?
"Kau mengenalku?" Bingungku.
"Aku sering melihat kakak tengah menatapku. Aku- sepertinya tertarik dengan kakak. Mau berkenalan denganku?" Dia mengulurkan tangan, "Salam kenal, namaku Zinon."
Wah bahkan namanya mirip dengan keturunan Zeus.
Kujabat tangannya, "Aku Lesya. Senang bisa mengenalmu, Zinon."
Di samping tirai hujan yang deras itu kami saling bertatapan, masih dengan tangan yang bertaut, entah kapan akan dilepaskan. Lalu apa yang akan terjadi selanjutnya?
Aku sangat menantikannya.
Zinon, anak patung.