"Bumi Perkemahan CIBODAS” tertulis di sebuah spanduk besar yang kini menyambutku ketika aku menginjakkan kakiku di lokasi tersebut, hari ini siswa-siswi SMA NEGERI 3 BONTANG khususnya kelas XI & XII melaksanakan kemah sebagai kegiatan Orientasi tegak tamu ekstrakulikuler pramuka. Kemah segera dimulai.
Acara akan berlangsung selama tiga hari, Jum'at-minggu.Hari pertama di buper, kami menghabiskan waktu untuk mendirikan tenda, menyusun barang bawaan, pengenalan lingkungan dan juga latihan untuk merangkai upacara pembukaan.
Malam ini ada kegiatan komlap atau jelajah malam, kegiatan yang ditunggu-tunggu karena penuh tantangan. Tantangan pertama, mengisi beberapa sku untuk menentukan regu mana yang boleh jalan duluan. Awalan yang bagus, Reguku dapat giliran pertama untuk memulai penjelajahan malam ini. Dipenjelajahan malam ini terdapat beberapa pos yang harus kita lewati dan tentunya ada banyak keseruan disini, mulai dari membaca tulisan menggunakan sandi rumput, cerdas cermat, yel-yel dan masih banyak keseruan lainnya.
Jelajah malam telah selesai, itu artinya hari pertama telah terlewati. Pagi ini, Aku berdiri di depan tenda untuk bersiap mengikuti kegiatan selanjutnya sambil menghirup udara segar dan menikmati pemandangan indah yang kini tersuguh di depan mata. Kicauan burung dan pepohonan yang berdiri kokoh tak jauh dari area bumi perkemahan ini. Aku tersentak ketika tiba-tiba saja ada yang menghampiriku. Dia adalah Kezio anak kelas XI IPS 2 yang ternyata salah satu teman organisasiku disekolah.
"Haii..." Tegurnya
"Eh, haii... Siapa ya?, Ada keperluan apanih?"
"Kenalin aku kezio anak kelas XI IPS 2 , kezio yang OSIS itu lohh"
"Oh iyaa kez, ngomong- ngomong ada apanih? Kok bisa sampai sini? Inikan area khusus cewe"
"Tenang, aku udah dapat izin kok dari pembina, aku kesini mau ngajakin kamu buat jadi petugas pembawa lilin di malam api unggun nanti, mau gak? Kalau mau, malam ini jam 19.30 wib, kumpul di lapangan Buper kita siap-siap untuk latihan"
"Wahhh mau dong..., kesempatan yang bagus nihh buat pengalaman pertamaku"
"Oke dehh..., Ntar malam jangan lupa ngumpul di lapangan ya"
"Siapp kakak heheh..." Jawabku.
Aku pun menerima ajakan dari kezio untuk menempatkan diriku sebagai petugas pembawa lilin di malam api unggun nanti, dan kezio pun segera kembali ke area buper cowok.
Waktu berjalan dengan cepat, sore ini kegiatannya sungguh amat melelahkan, bagaimana tidak, kami menjalankan materi pionering di bawah terik sinar matahari dan kegiatan yang cukup menguras tenaga. Tapi tidak pudar semangat dari kami para peserta untuk menjalankan materi pionering hari ini dengan tertib dan teratur. Setelah kegiatan sore ini berakhir, kami pun bergegas untuk beristirahat dan mempersiapkan makan malam di tenda masing-masing.
Setelah makan malam berlangsung, Pluit pun berbunyi, yang menandakan bahwa pemanggilan tersebut tertuju pada ketua regu untuk berkumpul di lapangan, Aku sebagai ketua regu pun bergegas untuk lari kelapangan Buper. Ternyata pengumuman yang disampaikan oleh kakak pembina berisi tentang informasi latihan upacara api unggun yang akan dilaksanakan malam ini. Akhirnya kami para petugas upacara api unggun dikumpulkan dalam satu baris dan berlatih untuk mengelilingi api unggun dengan membawa lilin sembari melafalkan dasa dharma pramuka.
Dalam barisan tersebut hatiku tak tenang, ingin rasanya mencuri-curi pandanganku pada barisan belakang. Tak sengaja pandanganku teralih pada wajah kezio yang kini juga sedang tersenyum padaku. Malu, aku segera memalingkan wajahku, kemudian pura-pura menunduk agar dia tak melihat bibirku yang masih senyum-senyum gak jelas. Pertemuan keduakali dengan kezio yang tanpa sengaja menjatuhkan hatiku pada tatapannya. Pada saat itu tanpa sengaja tanganku terkena oleh tetesan lilin yang mencair dan membuat luka lebam di bagian jariku. "Aww..." teriakku. Lalu seorang laki-laki datang menghampiri & menolongku yang telah membuat kacau dengan kecerobohanku sendiri yang tidak berhati-hati. Saat kualihkan pandanganku kedepan ternyata kezio lah yang menolongku.
"Kamu gapapa?, Aduh lain kali hati-hati yaa" Ucapnya.
"Ehh kez, iyanih gasengaja tadi aku kesandung batu, mkanya bisa kena tetesan lilin, tapi aku gapapa kok, aku masih bisa nahan perihnya".
"Serius nihh gapapa? Gimana kalau aku ambil kotak p3k dulu, buat nutupin lebam yang ada di tanganmu, meminimalisir rasa perihnya" kata kezio.
"Gausah kez, hehe aku beneran gapapa ko" .
"yaudah dehh kalau gamau, tapi kali ini hati-hati yaa" ujar kezio.
"Hehe iya kez makasih yaa udah peduli".
"ihh jangan bilang gitu, santai aja hahaha" ucap kezio sambil tertawa malu. Setelah kezio kembali kebarisannya, hatiku rasanya seperti berbunga-bunga malam itu, sikap pedulinya terhadapku meyakini aku kalau kezio juga mempunyai perasaan suka kepadaku. Latihan berakhir, upacara api unggun berjalan dengan lancar, Itu artinya kemah segera berakhir, dan ini adalah malam terakhirku dan peserta lainnya berada di bumi perkemahan ini.
Keesokannya saat aku dan teman temanku sedang membongkar tenda dan bersih-bersih, terpikir kembali moment semalam yang membuat hatiku berbunga-bunga, namun perihal perasaan tidak ada yang bisa kulakukan selain menyimpan perasaanku pada kezio. Kabar yang selama ini tak terbayangkan di benakku pun terjadi hari itu, sahabatku Viona, datang menemuiku dan menceritakan kalau dia senang atas adanya kegiatan perkemahan ini. Karena kegiatan ini, dia mempunyai banyak kenalan dan viona bercerita kepadaku bahwa baru-baru saja dia jadian dengan kezio, sontak akupun kaget seakan menyesali rasa terpendamku yang saat ini aku simpan, seperti ada goresan kecil dihatiku, sakit hati yang kurasakan pada saat itu, karena sebelumnya viona tahu kalau aku punya rasa dengan kezio, namun ternyata ia tak menjaga perasaanku hari itu. Tapi tidak ada kata kata yang perlu aku ucapkan selain memaafkannya dan memaafkan diriku sendiri yang ternyata selama ini berharap lebih terhadap kezio.
Kejadian tersebut membuatku canggung akan berbicara dengan kezio dan viona. Namun aku mencoba untuk damai dengan keadaan, karena tanpa aku sadari ternyata pertemuan singkat itu mengajarkanku arti bersyukur, ya bersyukur terhadap waktu dan pertemuan, bahkan dipertemukan oleh orang orang yang baik saat aku berada di bumi perkemahan ini pun menjadikan aku agar tak henti untuk selalu bersyukur, tak lupa juga dari kejadian hari ini mengingatkanku bahwa setiap orang pasti ada masanya dan setiap masa pasti ada orangnya, tinggal bagaimana caraku untuk menerima kehidupanku dan mencoba untuk tidak bernegosiasi apa-apa yang telah di gariskan untukku dari Tuhan, karena aku percaya suatu saat kebahagiaan akan berpihak kepadaku walau harus melewati rasa sakit, amarah, dan kecewa yang mendalam.