.
"Hmm sudah sore" gumam remaja yang mengenakan baju putih dengan rambut coklat tua yang berantakan khas bangun tidur,seperti biasa dia melihat ke jendela kamarnya. Tidak seperti remaja lain yang seumuran dengannya,dia sangat pendiam dan tinggal sendiri di rumah yang terbilang sederhana.
"Heyy Rio kau sudah bangun? Aku sempat memanggilmu beberapa kali tadi,tapi kau tidak menyahut" teriak teman yang sering bermain dengannya. Laki-laki yang merasa dirinya terpanggil hanya mengernyitkan dahinya. "Sudahlah cepat kumpulkan nyawamu,terlihat kau sangat banyak kehilangan nyawa" Ejek temannya sambil tertawa. "Aku kemari berniat mengajakmu untuk pergi nanti malam,aku dengar akan ada acara di kota sebelah,jika kau berniat ikut kita bertemu ditempat biasa jam 7 malam. Baiklah aku akan segera pulang masih harus mengantar barang yang diminta oleh ibu"
"Acara? Kenapa mendadak,ada apa?" Gumam Rio setelah temannya pergi.
.
.
"Tuan muda,saya mohon sedikitlah patuh,saya hanya menjalankan perintah nyonya saja" Ucap seorang maid yang sedikit kesal dengan kelakuan tuan mudanya.
"Hey Hera,sudah berapa kali aku bilang aku tidak ingin pergi kesana! Meskipun kau menggunakan pedang untuk memaksaku aku tidak akan mau." Maid yang berhadapan dengan seorang tuan yang menyebalkan itu pun akhirnya memutuskan untuk pergi,karena dia tidak bisa merayu tuannya untuk bersiap-siap.
"Alrian,apakah kamu akan tetap bersikap begitu manja? Kamu terlihat keras kepala huh (Sambil berjalan mendekat ke arah orang yang dimaksud)" "Hmm kak Dio kapan kamu kembali? (Melihat kebelakang kakaknya) Astaga apa ini? Kau merasa kau itu orang penting,sampai membawa banyak bodyguard hah" Dengan eskpresi mengejek dia berhasil membuat kakaknya itu sedikit kesal "Apakah sudah puas mengejekku?" Karena jaraknya sudah dekat Alrian berlari kecil berusaha menghindari kejaran kakaknya.
"Baiklah kak sudah,aku menyerah" Alrian berhenti berlari juga kakaknya yang berada di sampingnya "Wah apa ini? Kau baru berlari sedikit lalu merasa kalau kau Kecapekan? Hahaha!" Tawa Dio terdengar sangat nyaring hingga membuat Alrian kesal dan pergi ke kamar meninggalkan kakaknya. "Heyy,aku bercanda dan kau marah? Sudahlah kau memang sangat curang"
*Didalam kamar
"Hey adik,bagaimana kabarmu huh? Seharusnya kau baik-baik saja bukan? Aku benar-benar merindukanmu. Kau tahu? Aku merasa mereka melupakanmu tapi ayolah aku adalah kakakmu aku tidak seperti mereka,aku benar-benar membutuhkanmu" Ucap Alrian sendu lalu menangis dengan memeluk sebuah foto.
..
Tok tok "Tuan Rian? Apakah Anda didalam? Ini sudah hampir malam Anda harus bersiap-siap dan makan malam nanti malam akan ada acara" Entah berapa kali Hera mengingatkan tuannya tentang acara nanti malam,tapi sama sekali tuannya tidak merespon dengan baik.
(Membuka mata)" Ohh iya iya aku mendengarmu berhentilah mengetuk pintu Heraa,telingaku sakit selalu mendengar suaramu itu dan sekarang kau mengetuk terlalu keras dan berulang-ulang. Apakah kau akan membunuhku!" Ucap Alrian sambil membuka pintu kamarnya "Eh.. Anu tuan,saya tidak berani" ucap Hera gugup. "Oke kamu turunlah,aku akan segera ke meja makan" Ucap Rian dengan nada kesal lalu ditutupnya pintu dengan keras "Eh kenapa tuan ini? Dia sangat marah,perasaan tuan muda tidak pernah se marah ini, apakah aku yang keterlaluan?" Gumam Hera sambil menuruni tangga.
Semua anggota keluarga sudah berada diruang makan kecuali Rian.
"Astaga,anak ini kenapa lama sekali. Apakah dia benar-benar tidak berniat ikut acara itu" Ucap seorang wanita paruh baya "Ma tenanglah,mungkin dia sedang bersiap-siap,Hera tadi bilang Rian baru bangun tidur,jadi mungkin Rian masih malas-malasan dikamarnya" "Hmm baiklah pa,mungkin yang papa bilang benar" Ucapnya dengan seulas senyuman.
Brakkk.. (Semua orang menoleh ke asal suara) "Rian! Apa yang kamu lakukan? Kamu mau membuat orang-orang disini jantungan hah!" Bukannya merasa bersalah Rian justru terlihat puas dengan apa yang telah dilihatnya,sembari berjalan turun melewati tangga tak lupa dia menggunakan jurus senyuman pamungkasnya. "Hehe papa maafkan Rian tadi tidak sengaja menjatuhkan barang yang ada dimeja didekat pintu kamar Rian" Ucap Rian dengan menunjukkan raut muka bersalahnya. "Baiklah,kalau begitu duduk dan makanlah,akan aku minta Hera untuk membereskannya" "Eh apa? Tidak papa,aku tidak setuju. Aku tidak mau melihat Hera lagi,kenapa papa selalu membuat Hera mengikutiku? Hera itu sangat jahat padaku papa" Hera melihat tajam ke arah tuan mudanya itu,tidak percaya dengan apa yang di dengarnya barusan. "Hahahaha" Seluruh orang yang ada di ruangan itu tertawa karena mendengar rengekan Rian dan tatapan dingin maid muda yang bernama Hera itu.
Tidak bisa dipungkiri meskipun Rian sudah remaja,tapi sikapnya masih terlalu kekanak-kanakan,berbeda dengan saudara kembarnya yang sudah lama tidak kembali ke kediaman itu yang memiliki pemikiran sangat dewasa dan pendiam.
"Apa salahnya Rian? Hera adalah maid yang tumbuh besar bersama mu,bahkan kamu sendiri yang minta Hera tetap menjadi maidmu? Dan sekarang kau berubah pikiran?" Tanya papanya dengan sedikit menggoda anaknya. "Tidak" "Baiklah nanti akan dibereskan oleh bibi Xia saja ya,sekarang makanlah" Ucap mamanya sembari mengelus rambut anaknya dengan lembut"
Ketika makan semuanya diam hanya ada suara sendok dan garpu.
Setelah selesai makan malam mereka meninggalkan mansion untuk menghadiri acara yang diadakan di dalam kota mereka.
.
.
Acara sudah dimulai dan banyak sekali yang menghadiri acara tersebut,itu bukan acara yang resmi dan penting hanya acara makan-makan dan beberapa pertunjukan lainnya yang diadakan oleh 5 keluarga terpandang di kota itu. Antusiasme masyarakat terhadap acara tersebut sangat tinggi,tidak hanya orang tua tetapi anak-anak dan juga lansia ikut meramaikan acara tersebut.
"Wahh benar-benar hebat,aku tidak menyangka kita bisa datang kesini,acaranya sangat meriah bahkan banyak sekali atraksi dan juga makanannya." Ucap Ilham "Hmm sudah jelas Ham,acara ini diadakan oleh keluarga-keluarga kaya,kau tau sendiri kekuasaan mereka seperti apa bukan?" "Kau benar Sandi, mereka bukanlah type orang yang bisa kau sentuh,jangan berharap kau bisa dekat dengan mereka" "Hahahaha" Tawa mereka semua, mengingat mereka keluarga terpandang dan tidak mudah diprovokasi.
"Keluarga terpandang ya?" gumam Alrio "Aku ada urusan,kalian bersenang-senanglah" Ucap Rio sambil berjalan pergi meninggalkan teman-temannya. "Hey Rio,kemana kamu?" Teriak salah satu temannya,tetapi sudah tidak didengar Rio karena bisingnya tempat itu. "Sudahlah,ayo kita pergi sendiri, tampaknya dia memiliki hal sangat penting." Ajak Ilham dan disetujui oleh teman-teman yang lainnya.
"Huhh" Alrian menghembuskan nafas lega setelah keluar dari dalam ruangan yang "menyiksa" dirinya beberapa jam itu,bukan sebuah penyiksaan hanya saja sebuah pidato dan beberapa perbincangan mengenai urusan kerja sama beberapa perusahaan keluarga terpandang itu membuat dia pusing dan merasa dirinya tersiksa ditambah lagi perempuan yang dia sebut sebagai 'ibu' itu tidak membiarkannya keluar.
Alrian berjalan-jalan mengelilingi tempat yang sangat berisik itu,melihat ke kanan dan ke kiri juga terkadang menari ketika mendengar lagu dari salah satu toko.
Alrian sengaja berjalan terus untuk mencari tempat yang agak sepi,dia ingin sedikit bersantai,setelah berjalan kurang lebih 19 menit dia menemukan tempat yang sepi, meskipun suara-suara gaduh dari acara itu masih sedikit terdengar. Dia duduk dibawah pohon yang agak rindang sambil melihat langit.
Tanpa disadari ada orang yang mengikutinya dari awal. "Siapa kau!" Alrian yang sadar akan kehadirannya berteriak untuk mengintrogasi orang tersebut. Namun dia tidak menjawab,tapi karena dirasa tidak ada pergerakan dari orang tersebut Alrian maju untuk memastikan siapa dia. Alrian membuka penutup kepalanya yang digunakan untuk menutupi wajahnya. "Apa! Kau!" Deg.. deg.. Tubuh Alrian terasa lemas dan merasa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Alrian segera memeluk erat orang itu dengan air mata yang mengalir,seakan tidak ingin melepaskan pelukannya dan ingin menumpahkan semua yang dia rasakan selama ini,tidak bisa berkata-kata hanya air mata yang bisa mengungkapkan perasaan yang dirasakan Rian.
Setelah merasa sedikit tenang dia melepaskan pelukannya dan mengusap air matanya yang mengalir. "Kenapa? Apakah kau tidak merindukan aku adikku? Kau tidak membalas pelukanku?" Ucap Rian dengan nada yang sedih. "Kau.. Masih ingat aku?" Jawabnya dengan seringainya. "Apa? Tentu saja kita adalah saudara kita keluarga. Bagaimana mungkin aku lupa? Ayo kita pulang" Ucap Rian sambil menggandeng tangan orang yang dipanggil adik tersebut. "Ck keluarga? Kau masih ingat keluarga? Bahkan kalian tidak pernah perduli denganku. Inikah yang disebut keluarga!" Jawabnya dengan suara yang tegas. Alrian tau benar bahwa kepribadian adiknya berbeda dengan dirinya,tapi dia tau didalam hati adiknya ada rasa rindu dan kecewa jadi satu. "Sejak saat aku difitnah,kalian menjadi tidak percaya padaku. Itu sudah cukup menjelaskan kepadaku arti hubungan sebuah kerluarga." Rio berjalan pergi membelakangi Rian saudara kembarnya sendiri. "Alrio Akhal Bigantara berhenti!" Rio menghentikan langkahnya tidak terasa air matanya menetes. Tapi dia sadar dan melanjutkan kembali langkahnya menjauhi Alrian. "Baiklah Rio,aku akan mencari cara untuk bisa membuatmu kembali kerumah,kamu tunggu saja" Alrian tersenyum getir,dia masih tidak percaya akan hal yang dia alami hari ini.
*Fashback on
"Alrio! apa yang kau lakukan? Kau masih sekolah dan berani menghamili anakku hah!" Ucap seorang wanita paruh baya "Kenapa diam saja! Jawab! Kemari lihat aku!" "Hey Reny lihat anakmu ini,dia menghamili anakku dan dia tidak mau mengakuinya! Jelas sekali anakku sangat dekat dengan dia,aku tau kalau dia pelakunya." ucap perempuan bernama Ratna itu dengan galak. "Rio apakah benar yang dikatakan oleh dia? Kalau mama tanya dijawab!" "Aku sudah bilang,aku tidak melakukannya" Jawab Rio tenang "Bohong! Kau pelakunya,anak ini adalah anakmu Rio" Ucap Rika sambil menangis.
Plakk....
Reny,ibu dari Rio menampar keras Rio "Kau benar-benar tidak tau malu Rio,kau bukan anakku,aku kecewa kepadamu. Terserah padamu mau kau apakan anakku ini,dia membuat aku kecewa" "Rian apa yang kau lakukan,dia membuat malu keluarga kita,tinggalkan dia ayo kita pergi" "Mamaa tapi dia adalah adik Rian,aku tidak bisa meninggalkannya" ucap Rian mengiba kepada ibunya "Diam kamu Rian tidak usah perdulikan dia,kita pergi" "Tidak mama,tolong bawa Rio pulang bersama kita" Rio tidak bisa berontak dari tangan bodyguard yang disuruh ibunya untuk memaksa Rian pergi itu. "Ternyata ini perasaan kalian kepadaku"(mengepalkan tangan erat) Tidak terasa air mata Rio menetes,dia merasa kecewa dan sedih secara bersamaan.
"Kau lihat? Di ruangan ini kau akan dihukum karena perbuatanmu kepada anakku." "Kalian semua siksa diaa!" Buk.. Buk.. Buk.. Suara pukulan yang terdengar dari ruangan itu masih teringat dengan jelas dipikiran Rian hanya saja dia tidak bisa menolongnya.
*Flashback off
Satu bulan telah berlalu,Rian mencoba menceritakan semuanya dan keluarga itu sepakat membawa Rio pulang kerumah.
"Rio,ayo kita pulaang aku menjemputmu" Teriak Rian disertai air mata yang mengalir bahagia. Rio yang mendengar panggilan itu segera keluar dia dikejutkan oleh kedatangan Rian yang membawa anggota keluarga lainnya. "Aku menolak" Ucap Rian dingin,dan bergegas menutup pintu rumahnya,namun ayahnya dia bergegas mencegah pintu tertutup "Rio kami tau salah,ayo kita pulang nak,apakah kamu tidak rindu dengan kami" Rio tidak tega melihat ayahnya menangis,dia tau sejak dulu ayahnya lah yang sangat menyayangi dirinya. "Baiklah,aku setuju" Tanpa merubah ekspresi dinginnya dia melanjutkan "Tunggu,aku berkemas" Lalu dia masuk ke dalam rumah untuk mengemas semua pakaiannya dan segera keluar membawa sedikit barang. "Nak kenapa kamu hanya mambawa sedikit barang?" Kali ini ibunya bertanya sedikit canggung "Aku akan kembali kesini lagi kelak,jadi jangan usik aku" Setelah itu dia menyempatkan berpamitan kepada teman-teman yang sudah berbaik hati kepada dia saat orang tuanya tidak mengharapkan dia selama ini.
Diperjalanan mereka membicarakan banyak hal,namun tidak termasuk Rio dia bersikap acuh tak acuh terhadap keluarganya.
Sesampainya dirumah mereka disambut oleh para maid yang mengurus mansion. Mereka membungkukkan badan sebagai rasa hormat "Selamat Datang Tuan dan Nyonya"
Sesampainya di dalam Rio melihat maid yang dipilih khusus untuknya "Rio,dia itu maid yang aku pilih untukmu namanya Disya" Rio melihat Rian sebal "Hm aku tidak suka maid ini,untukmu saja" Sambil berjalan ke arah tangga menuju kamarnya.
Posisi kamar Rio tetaplah sama seperti terakhir dia tempati waktu itu,bahkan debu pun tidak ada. Hehh memangnya siapa yang terus memberi kamar ini? Benar-benar hebat.
Rio mematung ketika melihat dibelakang rumah terdapat seorang gadis cantik yang mengenakan seragam maid dirumahnya,hanya saja warna bajunya berbeda. Siapa? Dia berbeda ya.
"Eheemm sedang melihat apa" Rian yang tiba-tiba muncul dibelakang Rio itu membuat Rio sedikit terkejut. Rian mengikuti arah mata Rio.
"Oh itu? Dia Vira,dia bukan maid dalam. Dia mengurus tanaman-tanaman untuk bahan memasak,atau juga mengurus buah. Disini sayuran dan buah diurus oleh maid bukan tukang kebun,tukang kebun hanya merawat bunga dan tanaman selain sayur dan buah" Penjelasan panjang lebar itu hanya diangguki oleh Rio tetapi sebenarnya dia mendengarkan setiap katanya dengan cermat.
"Ck sudahlah aku akan pergi dari sini" Rian merasa dia datang diwaktu yang salah "Aku mau itu" Kata-kata dingin dari Rio itu berhasil membuat Rian tersenyum puas, mengingat Rio adalah orang yang sama sekali tidak menyukai seorang wanita.
Rian tau semuanya,sebelum menjemput Rio dia sudah memastikan keadaan apa yang terjadi padanya.
"Hahahah baiklah kalau itu yang kau mau,ada yang lain?" Hanya dijawab dengan gelengan oleh Rio. Dan membuat Rian menyerah lalu meninggalkan kamar adiknya.
Sepeninggal Rian,Rio merasa ada sebuah kejanggalan disana,tapi apa? Rio tidak tau pasti.
"Lihatlah,aku bisa membuatmu kembali normal adik" gumam Rian setelah keluar dari kamar Rio