“Saya terima nikah dan kawinnya Monika Arum Sari binti Novanto Hadi dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan saham Kusuma Jaya Group sebesar 13% dibayar tunai,” kata Jovan begitu mantap dan lantang di hadapan penghulu dan saksi.
Prasetya Jovando Kusuma adalah laki-laki yang Monik temui di taman kanak-kanak 20 tahun yang lalu. Memang benar mereka berdua menikah dengan modal witing tresno jalaran soko kulino. Baik Monika maupun Jovan sudah terlalu nyaman dengan satu sama lain dan terlalu malas untuk mencari-cari yang lainnya.
Awalnya sih Monika dan Jovan tidak ada perasaan apapun. Bahkan sebenarnya kalau boleh bicara, Monika lebih berpotensi untuk jadian dengan teman berantemnya Jevando Kusuma yang tak lain dan tak bukan adalah saudara kembar Jovan sendiri. Tapi nyatanya ya tidak juga. Bahkan ketika Monika dengar untuk pertama kalinya Jevan curhat perihal gadis yang disukainya Monika tidak memiliki perasaan sedih atau cemburu sama sekali walaupun ketika itu dia belum memiliki perasaan apapun juga pada si kembar itu.
Kalau ditanya dia hanya akan menjawab “Kita sahabatan kok, nggak ada suka-sukaan.” Monika itu orangnya realistis dan tidak percaya cinta makanya dia sampai tidak menyadari sejak kapan dia akhirnya jatuh cinta pada si sulung keluarga Kusuma itu.
Dulu Monika pertama kali bertemu dengan si kembar ketika Monika tanpa pikir panjang nyemprot Jevan perkara ice cream. Dia melihat Jevan makan ice cream sendirian padahal saudaranya hanya duduk di sebelahnya menatap ice creamnya yang jatuh ke tanah. Monika kecil tidak bertanya-tanya bahkan tidak peduli dia kenal atau tidak dengan kedua anak yang duduk tenang di ayunan TK itu. Dia langsung marah-marah pada Jevan karena mengira jika Jevan tidak adil pada saudaranya karena tidak mau berbagi ice cream.
Monika juga tidak meminta maaf setelahnya. Bahkan sampai detik ini dia juga masih belum meminta maaf atas kesalahpahaman 20 tahun lalu itu. Tapi sebagai permintaan maafnya Monika setelah itu selalu menempel pada si kembar. Akhirnya si kembar itu jadi punya kembaran lagi. Sejak kecil Monika selalu suka kalau Mama sudah mengajak dia main ke rumah si kembar. Bahkan pernah ada satu kejadian ketika Monika main ke rumah si kembar untuk merayakan ulang tahun mereka Monika dan Jovan Jevan berakhir perang krim kue sampai semuanya kotor.
Ketika SD, si kembar yang ganti ingin sekolah bersama Monika di SD dekat rumah Monika. Mereka jauh-jauh sekolah kesana karena tidak mau berpisah dengan saudara kembar baru mereka itu. Baik Jovan maupun Jevan keduanya tumbuh dengan mengandalkan Monika. Mereka bertiga masih selalu bersama bahkan sampai lulus dari jenjang pendidikan menengah pertama. Hanya saja, ketika SMA mereka harus rela berpisah karena Papa meminta Monika untuk masuk ke boarding school. Walaupun begitu, yang namanya Monika tidak akan pernah menyerah untuk tetap selalu bertemu dan bersama dengan Jovan dan Jevan.
Awal-awal SMA dia selalu mengandalkan keduanya, tapi ketika tahun kedua dan ketiganya dia mulai lebih dekat dengan Jovan dibandingkan dengan Jevan. Bukan karena Jevan sudah bersama Rere, tapi karena Monika lambat laun merasa lebih nyaman bersama dengan Jovan. Jovan selalu bisa mengerti apa yang dia butuhkan dan dia inginkan bahkan tanpa Monika harus bicara panjang lebar. Berbanding terbalik dengan Jevando yang terkesan cuek dan bodo amat. Dia hanya memberikan proteksi pada Monika tapi selain itu dia tidak memberikan yang lain. Hanya Jovando yang selalu ada untuknya dan selalu mengantarnya kesana kemari. Menemaninya kursus dan les. Juga selalu bersedia kapanpun Monika mengajaknya pergi.
“Jov ayo ke toko buku,” ajak Monika yang tiba-tiba sudah ada di rumah si kembar.
“Yaelah kamu lagi kamu lagi Mon,” kata Jevan.
“Ya bodo. Aku kesini bukan nyariin kamu kok yee,” jawabnya.
“Aku belum mandi Mon,” jawab Jovan dengan wajah beler khas bangun tidur.
“Jov ini udah jam 9 kok kamu belum mandi sih. Jorok ih,” kata Monika.
“Nah justru itu. Ini masih jam 9 Monika Arum Sari. Hari Minggu ngapain mandi pagi-pagi.”
“Ih Jovando jorok ih.”
“Jeje juga belum mandi. Nggak mau kamu katain? Kalian kan doyan berantem,” kata Jovan.
“Ih Mama…, kembar nggak mau mandi…!!!” kata Monika berteriak berharap Mamanya si kembar ada di rumah.
“Mama nggak di rumah. Nggak usah teriak-teriak suaramu cempreng,” kata Jevan.
Kalimat itu pada akhirnya memulai pertengkaran. Jovan yang kelewat malas mendengarkan hanya berjalan menjauh kemudian masuk ke kamar mandi yang ada di lantai 2 meninggalkan Monika dan Jevan sedang adu mulut.
“Heh nenek lampir. Kamu tuh pagi-pagi udah dateng ke rumah orang nyuruh-nyuruh pula,” kata Jevan.
“Aku kan ngingetin mandi, Grandong. Demi kamu juga. Biar badanmu nggak gatel, biar badanmu nggak bau. Lagian yang kuingetin bukan kamu tapi kembaranmu.”
“Ya tapi kalo kamu ngingetin Jojo aku auto kecipratan. Jojo tuh nggak terima cuma disalahin sendirian. Aku keseret juga,” kata Jevan.
“Salah siapa kalian kembar. Lagian kok kamu jadi nyalahin Jovan sih, dia nggak salah ya,” jawab Monik.
“Kok kamu jadi belain Jojo sih?!”
“Ya terserah aku dong. Suka-suka lah mau belain siapa. Kamu tuh minta dibelain Rere aja sana,” kata Monika menyindir.
“Nggak usah bawa-bawa Rere ya. Dia nggak ada hubungannya sama Jovan belum mandi.”
“Yang bilang ada hubungannya tuh siapa?!”
“Mbak Monika sama Mas Jevan kalo mau berantem bisa nggak jangan pake teriak?! Iyus mau tidur nih…!!!”
Tiba-tiba Junius keluar dari kamarnya dan langsung marah pada kedua kakaknya itu. Baru deh Monika sama Jevan berhenti berdebat. Tapi ya tidak ngobrol setelahnya. Mereka hanya diem-dieman sampai Jovan selesai mandi dan menyeret Monik keluar dari rumah.
“Kamu tuh hobi banget berantem sama Jeje kenapa sih Mon? Dari awal ketemu sampe sekarang kok berantemnya nggak selesai-selesai, kalian nggak bosen debat mulu?” tanya Jovan sambil melihat-lihat di rak komik.
“Ya gimana sih kembaranmu nyebelin. Kalo aku ngapa-ngapain disalahin terus. Pokoknya aku kemusuhan,” kata Monik pada Jovan.
“Tapi sama aku nggak?”
“Nggak kamu beda.”
“Kan kita kembar Mon,” kata Jovan lagi.
“Ya tapi beda. Kamu sama Jevan tuh beda jauh. Aku nggak terima ya kamu nyamain diri sama Jevan. Soalnya menurutku kamu itu lebih baik dari Jevan,” jawab Monika.
Begitu menyelesaikan kalimatnya itu Monika sadar, dia baru saja kelepasan memuji Jovan bahkan tepat di hadapannya langsung. Duh, gimana nih. Monika tidak mau Jovan salah paham. Monika tidak mau Jovan berpikiran macam-macam. Padahal kalau dipikir-pikir tidak masalah memuji teman apalagi Jovan itu bukan teman sembarangan. Mereka kan sudah bersama sejak kecil tapi ini, Monika tiba-tiba merasa memuji Jovando menjadi sebuah perkara besar.
"Pengen makan siang nggak?" Tanya Jovan.
"Mau."
"Dimana?"
"Terserah."
Jovan seketika langsung menghentikan laju motornya. Dia melipir ke arah kiri kemudian berhenti di pinggir jalan, mematikan mesin motornya lalu menoleh pada Monika yang duduk dengan bingung di jok belakang.
"Kalo kamu bilang terserah kita makan di rumah ajalah nggak usah di luar," kata Jovan.
"Ya maaf sih Jov, lagi bingung beneran nih mau makan di mana. Kamu tuh yang biasanya pengen apa gitu," kata Monika.
"Lagi nggak pengen apa-apa."
"Yaudah mumpung udah sore ke alkid aja yuk. Beli telur gulung kek atau apa," ajak Monika.
"Nah gitu dong, kan enak."
Jovan kembali melajukan motornya menuju ke alun alun kidul jogja. Di sana Jovan memarkir motornya di depan Sasono Hinggil, ketika Jovan sedang membayar parkir, Monika entah sudah sampai mana. Butuh beberapa waktu untuk Jovan menemukan Monika yang ternyata tengah berdiri di dekat penjual permen kapas di seberang.
"Monika…, kalau lihat permen kapas cepet banget nyamperinnya," kata Jovan sambil geleng-geleng.
Monika hanya berdiri di dekat penjualnya kemudian memutar badannya ke arah Jovan yang tengah berjalan menghampirinya. Dengan mata berbinar dan wajah memohon membuat Jovan gemas bukan main. Anak ini kalau sudah lihat permen kapas pasti langsung keluar mode bocahnya. Untung Jovan kuat pada godaan rengekan Monika. Dia ingat Mamanya Monika bilang dia tidak boleh makan dan jajan sembarangan dulu karena baru sembuh dari batuknya.
"Ahhh Jov…, mau permen kapas…," rengek Monika.
"Nggak boleh. Kalau kamu mau permen kapas yaudah sana beli tapi kamu tak tinggal sini. Aku pulang."
"Yaudah sana pulang aja, aku bisa pulang sendiri," Monika berkata sambil kembali ke arah penjual permen kapas tadi.
"Eits…," Jovan berhasil menahan baju bagian belakang Monika membuat langkahnya terhenti begitu saja.
"Nggak, ibu negara. Sekali nggak ya nggak. Jangan nekat, bisa dipenggal Papamu aku nanti," kata Jovan lagi.
"Aku bukan ibu negara. Bodo aku mau beli Jov lepasin," protes Monika berusaha memutar tubuhnya untuk melepas genggaman Jovan.
"Duh bocah banget sih. Ayo aku beliin bakso tusuk aja. Permen kapasnya besok lagi."
"Nggak. Nggak mau bakso tusuk, maunya gurita bakar."
"Ngelunjak ya, aku udah nggak ada duit Mon. Ini tinggal 20 ribu buat beli bensin. Sisanya mau aku pake buat beli kuota."
"Ah ngapain beli kuota sih di sekolahmu full wifi, di rumah juga ada wifi. Udah sini buat traktirin aku aja," kata Monika.
"Nggak."
"Ahh Jovando…,"
"Aku traktirin teh anget segelas habis itu udah nggak boleh ngerengek lagi," kata Jovan sambil menarik baju Monika ke arah jajaran angkringan di sisi barat alun-alun.
Mereka berdua sedang menikmati seporsi mie nyemek ketika seorang sales mendekati keduanya dan mengira mereka adalah sepasang kekasih. 5 menit kemudian, datang lagi sales yang lainnya dan juga sama mengira mereka sedang pacaran. Monika sih senang-senang saja, apalagi Jovan malah mengiyakan katanya asik saja akhirnya dia tidak terlihat jomblo.
“Kok diladeni sih Jov?” tanya Monika.
“Ya nggak papa sih sekali-kali aku nggak kelihatan jones Mon, sama kamu ini.”
“Kalo aku baper gimana?”
“Ya tinggal pacaran beneran. Kok repot. Lagian aku tuh tahu kamu udah nyimpan rasa sama seseorang kan. Kelihatan dari gelagatmu,” kata Jovan membuat Monika terdiam.
“Kamu tahu siapa orangnya Jov?”
“Jevan, kan?”
“Huh?!”
Monika dibuat speechless, tapi dia juga tidak berani berkomentar lebih jauh. Dia hanya berusaha mengelak dan menolak semua argumen yang dilayangkan oleh Jovan. Jika hanya karena dia dan Jevan doyan berantem, menurut Monika itu bukanlah sesuatu yang bisa dijadikan alasan untuk jatuh cinta pada seseorang. Karena Monika sendiri kalau sedang greget dengan Jevan ya gregetnya beneran. Bukan hanya sekedar adu mulut biasa, mereka ini suka tarik urat setiap bicara. Kalau sampai keduanya pacaran akan jadi apa masa depan persahabatan mereka.
“Mon, ini serius aku mau tanya sama kamu. Kali ini di dengerin dulu sampe bener sampe tuntas baru kamu boleh ngelak. Kamu beneran nggak suka sama Jevan?”
“Nggak badak. Aku nggak suka sama itu sapu lidi. Dih jangankan suka ya Jov aku ngebayangin muka dia aja udah greget setengah mampus,” kata Monika.
"Ngatainnya los banget Mon, aku kembarannya lho," kata Jovan dengan wajah datarnya.
"Ya maaf, salah siapa ngeselin jadi orang."
Monika dan Jovan sempat terdiam beberapa saat sampai akhirnya Jovan kembali berucap, "Kalo kamu beneran suka sama Jevan jangan cuma dipendam sendiri ya Mon. Aku nggak mau kamu sakit hati. Apalagi kita tahu Jevan lagi ngejar cewek," kata Jovan.
"Ya Allah aku beneran nggak ada rasa sama Jevan, Jov. Percaya kan sama aku? Apa aku kelihatan kaya suka sama dia?"
"Ya nggak sih, tapi kali aja Mon kan kamu deketnya kalau nggak sama aku ya sama Jevan."
Monika lagi-lagi terdiam. Dia tidak lagi berani berkomentar apa-apa karena takut jika pembicaraan ini diteruskan Jovan beneran tahu kalau dia suka sama Jovan.
***
Resepsi pernikahan Jovando dan Monika sudah selesai digelar. Seluruh keluarga Kusuma dan keluarga Monika sudah meninggalkan gedung pernikahan dan saat ini menuju ke kediaman keluarga Jovan. Monika baru selesai mandi ketika melihat Jovan tengah tersenyum sambil mengutak atik kamera yang seharian tadi dibawa oleh Jevan.
Monika ikut melihat di dalam sana begitu banyak foto-foto mereka di pesta pernikahan tadi. Salah satunya adalah ketika Jovan menggenggam sebuah mic dan menyanyikan sesuatu untuk Monika.
“Suaramu cempreng Jov,” kata Monika menatap foto itu.
“Kalo cempreng aja udah bisa bikin kamu nangis gimana kalo yang suara bagus?”
“Kata siapa aku nangis? Nggak ya.”
“Iya. Jelas tuh mata kamu bengkak. Kompres sendok dingin sana. Aku udah dinginin sendok di freezer tadi.”
“Mager turun ah,” kata Monik yang lebih memilih merebahkan diri di samping Jovan.
Jovan tidak bicara banyak, dia meletakkan kamera itu di atas meja kemudian melangkah keluar mengambil dua buah sendok yang sengaja dia masukkan ke dalam freezer agar dingin. Memang benar, kebersamaan selama belasan tahun itu tidaklah main-main efeknya. Selain Jovan dan Monika sudah mengenal satu sama lain, mereka juga sudah hafal dengan kebiasaan masing-masing. Seperti Jovan yang tahu apa yang selalu Monika lakukan ketika gadis itu matanya mulai bengkak karena menangis. Dia akan merendam dua buah sendok ke dalam gelas berisi air kemudian memasukkannya ke dalam freezer agar dingin lalu dia gunakan untuk kompres.
“Nih,” kata Jovan menyerahkan dua sendok dingin pada Monika.
“Makasih…,” kata Monika.
“Masih nggak nyangka Mon aku beneran nikahin kamu,” kata Jovan.
“Sama.”
“Terus sekarang kita mau ngapain?”
“Nggak tahu.”
“Ah Jovando nggak asik.”
“Ngantuk Mon, capek tahu dipajang seharian gitu. Lagian buat nyiapin mental nyebut akad tanpa salah aja udah setengah mati menguras tenaga.”
“Lebay.”
“Ya kan aku masih pengen hidup Mon, marahmu lebih mengerikan dari pada marahnya mama soalnya.”
“Jov, bikin mie yuk,” ajak Monika yang langsung diiyakan oleh Jovan.
Tidak peduli sebanyak apapun makanan di atas meja, bahkan di dalam panci masih ada kuah sop yang hangat setelah tadi dipanasi oleh Mama Tiwi. Jovan dan Monik memindahkan panci itu ke samping lalu mengambil satu panci kecil yang biasa dipakai untuk membuat mie instan. Jovan tadinya hanya mengambil 2 bungkus, tetap Monika yang tidak terima mengambil satu bungkus lagi dan total mereka memasak 3 bungkus untuk dimakan bersama. Monika menambahkan potongan wortel, daun bawang dan telur. Selesai memasaknya, Monika dan Jovan duduk di meja makan dan makan dari satu mangkuk yang sama.
“Waw enak tuh…,” kata Jevan yang baru saja melangkah masuk ke dalam dapur menemukan saudara kembarnya tengah asik makan mie instan bersama istri.
“Jov, Mama biasanya naruh obat nyamuk di mana? Banyak nyamuk nih,” nyinyir Monika.
“Tuh di rak deket tv, ambil aja.”
“Jo kok kamu sekarang ikut-ikutan nyebelin kaya Momon sih? Ah nggak baik nih pengaruhnya,” kata Jevan.
“Je mending kamu pergi. Malam pertamaku lho ini, jangan ngerusak moodnya ibu negara dong,” kata Jovan.
“Hilih, malam pertama kok malah bikin mie. Bikin anak dong.”
“Bacot amat sih jadi orang. Enyah sana Jev.”
Jevan tidak mau mengganggu momen saudara kembarnya bersama sang istri terlalu lama. Dia masih ingat karma, apalagi Monik orangnya pendendam. Ya takut saja dia akan diganggu balik di momen malam pertamanya dengan Rere besok. Setelah Jevan pergi sekarang tinggal Jovan dan Monik berdua di meja makan. Monik sudah meletakkan sendoknya lebih dulu dan membiarkan Jovan menghabiskan mie yang masih tersisa di mangkuk.
“Eh Jov masih inget nggak dulu kamu pernah ngira aku suka sama kembaranmu,” kata Monika kembali membuka obrolan.
“Inget. Wah kalo inget itu aku malu banget sumpah. Udah lah jangan di bahas,” kata Jovan.
“Salah siapa kamu nggak peka.”
“Ya maaf sayangku, yang penting sekarang kan udah peka,” kata Jovan pada Monika. Jovan sempat mencium ujung kepala Monika sebelum dia melangkah ke wastafel membawa mangkuk bekas makan mereka.
“Peka gundulmu, aku habis keramas perawatan rambut malah kamu cium pake mulut bekas makan indomie. Kampret Jov, bau lagi rambutku,” kata Monika membuat Jovando tertawa.
“Mon…,” panggil Jovan setelah Monik menyusulnya berdiri di depan wastafel untuk membantunya mencuci piring.
“Hmm...?”
“Makasih ya kamu udah memberanikan diri buat confess. Makasih juga atas penantianmu selama ini, makasih udah percaya sama aku,” kata Jovan.
“Sama-sama, makasih juga sudah menerima aku dengan baik.”
“Kita jalani pernikahan ini sama-sama ya, sampai akhir nanti,” kata Jovan lagi membuat Monika mengangguk.
~*END*~