"HAZEEEELLL!!! TIDAAKK!"
Aku bisa mendengar ibu berteriak. Tapi aku tidak tahu kenapa. Dalam keheningan malam itu, suara langkah kaki terdengar jelas pula. Entah siapa yang berlari malam begini.
Eh, tunggu..! Apa aku tidak sadarkan diri? Apa aku sedang terlelap sekarang? Ibu, apa aku sudah mati?
Tidak, tidak, tidak, tidak, tidak, tidak, tidak, TIDAAAKK!!! Aku bisa gila jika begini. Aku harus tersadar dan melihat diriku sendiri. Memastikan semuanya baik - baik saja.
"Halo, Haz", lagi - lagi ada sebuah suara muncul. Tapi kali ini bukan suara anak perempuan yang saat itu datang padaku. Suara ini adalah milik seorang anak laki - laki yang sedang berjongkok di depanku.
Ternyata aku sedang terbaring. Dengan cepat, aku bangun dan menutup pahaku karena gaun tidurku terangkat.
"Siapa lagi kau?", aku menanyainya dengan ketus. Anak laki - laki itu menatapku lembut, lebih lembut daripada yang kubayangkan.
Pandanganku kemudian terarah pada sekumpulan orang yang sedang mengangkat tubuhku yang berdarah - darah. Ada pecahan bohlam lampu di sekitar lantai yang terkena darahku. Jika seseorang berada di posisiku menatap tubuhnya yang lunglai seperti boneka dengan banjir darah yang hebat, aku yakin orang itu tidak akan bisa menenangkan dirinya dan akan selalu mengingat kejadian itu selamanya.
"Aku....apa......aku...ti- tidak...", ujarku tergagap bagai hilang nafsu hidup. Satu hal yang bisa kumengerti adalah tubuh itu sudah tidak berjiwa lagi. Jiwaku sudah terpisah dari tubuhku. Dan aku sadar, AKU TELAH MATI.
"Jangan menatap ke sana. Kau hanya akan menambah rasa takutmu jika terus melihat tubuhmu yang berdarah - darah itu", anak laki - laki itu mengalihkan perhatianku dan membantuku berdiri. Tapi aku merasa sangat ringan. Seakan tidak ada bobot tubuh yang kuangkat.
Anak laki - laki itu menatapku lalu tersenyum. Gayanya aneh. Saat itu barulah aku sadar pada suatu hal darinya. Ia memakai seragam yang sama dengan seragam yang dipakai anak perempuan yang kutemui sebelumnya. Menarik!
"Namaku Rein. Reiner Cobalt"
"Oh..", aku hanya menggumam tanda mengerti.
Setidaknya ada jiwa yang kukenal setelah mati. Dengan begitu aku tidak akan sendiri, pikirku.
"Seragammu mirip dengannya..", ujarku dengan suara parau. Anak itu menatap bajunya lalu tertawa.
"Dia temanku. Anak perempuan yang saat itu kau temui, dia maksudku. Namanya Marrianneth Rodriguez. Usianya baru 12 tahun. Sama denganku"
"Apa kau tahu di mana dia?", aku bertanya tanpa menatapnya. Terus terpikir dalam kepalaku, bagaimana bisa aku mati seperti itu. Aku harus bertanya pada Marrianneth. Aku tahu ini ada hubungannya dengan hal yang ia coba beritahukan padaku saat itu. Sudah kuduga ada yang tidak beres sejak kasus kematian keluarga Fortessa itu. Sama seperti kematianku, itu tidak disebabkan oleh pembunuh berantai. Itu ulah sebuah jiwa yang jahat. Tapi aku masih ragu dengan pendapat ini.
"Kau mencarinya? Sejujurnya aku juga tidak tahu di mana dia. Sudah berhari - hari dia menghilang"
"Apa? Tapi tadi dia menemuiku, dan kau tahu itu. Lalu ke mana dia?", rasanya hatiku berubah suram.
Kesabaranku mulai terkikis dan sekarang aku takut sekali menghadapi apapun yang menungguku nantinya.
"Hilangkan rasa takutmu, Hazel! Dia bisa mengendus ketakutanmu, bahkan dari jarak jauh...", Rein menancapkan tatapan tajam penuh arti. Oke, aku mulai bingung mencerna ucapannya, tapi yang sedikit kumengerti dari kalimatnya adalah aku tidak boleh takut. Kuusahakan untuk seberani mungkin. Tapi gagal lagi.
Setelah mati, rasanya semua yang begitu mudah kau bayangkan saat masih hidup kini susah dibayangkan. Bahkan untuk membayangkan aroma sebuah roti panggang pun butuh usaha keras bagiku.
"Siapa 'Dia' yang kau maksud? Marrianneth juga menyebutnya saat kami berbincang. Siapa sebenarnya 'Dia'?!", aku sedikit berteriak. Kedengarannya seperti anak manja yang merengek.
"Sabar, sabar dulu. Kami tidak bisa menyebutnya secara persis. Entah bagaimana menjelaskannya padamu. Ia adalah.....", sebelum ia sempat melanjutkan, ada suara gaung teriakan yang mengagetkan seluruh orang di rumah itu. Aku dan Rein melirik cepat pada sumber suara itu. Vas raksasa milik ibu pecah berantakan dan membuat orang - orang di sekitarnya tiarap ketakutan. Tapi yang menjadi perhatian seluruh mata yang memandang adalah bayangan hitam besar menempel di atap. Seluruh lampu mendadak padam dan membuat seruan histeris orang - orang mengisi seluruh bagian rumah. Rein dan aku membeku, hingga detik kemudian aku berbalik pada Rein.
"Apa itu, Rein? Jangan katakan bahwa itu adalah 'Dia' yang kau dan Marrianneth maksudkan. Rein, aku merinding...", aku berbisik pada Rein yang masih membeku diam di sampingku.
"Ayo kabur! Kita harus keluar dari rumah ini!", Rein menarikku dengan cepat tanpa ia pedulikan sekaget apa diriku. Kami tiba di halaman rumahku. Aku melirik ke kanan dan kiri. Mencari tanda - tanda kehadiran Marrianneth. Tapi tak kunjung kutemukan.
"Arrggh, Marrianeth. Aku butuh jawabannya", aku tampak sangat resah.
Biasanya tubuhku akan mengeluarkan keringat dingin di saat - saat seperti ini. Tapi setelah mati, hanya hampa yang terasa. Atau dengan kata lain, tidak ada.
Sekarang sudah pukul 21.45 Orang - orang masih mengerumuni rumahku. Sebagian kecil dari kelompok kerumunan itu telah kembali ke rumah masing - masing. Mungkin saja mereka lelah menyaksikan pembunuhan yang terulang di 2 rumah yang bertetangga ini.
"Rein, menurutmu di mana mereka mengubur tubuhku?", aku berbasa - basi tanpa menatap Rein. Tapi aku sadar, tidak ada jawaban darinya.
"Rein? Rein?", ia sudah tidak ada dari sampingku.
Oh tidak, tidak!! Jangan tinggalkan aku dulu! Aku tidak tahu harus ke mana! Jauh di ujung jalan itu tiba - tiba saja ada sebuah suara lagi.
"Hazel!!! Awaaasss!!", aku tertegun mendengar teriakan itu. Aku berbalik dan mendapati bayangan hitam kelam melayang di belakangku. Ini adalah sosok yang persis ada di atap rumah sejak tadi. Tapi siapa diaa??!!
SYUUHH..
Sosok itu berjalan ke arahku. Dalam sekejap, yang terlintas dalam pikiranku kini adalah usaha untuk berani. Sepertinya itu membuahkan hasil. Sebab, bayangan itu hanya melewatiku, lalu menghilang. Kuarahkan mataku ke ujung jalan. Seorang anak perempuan berdiri di sana. Aku merasa ada pencerahan dalam hatiku. Dengan lirih kusebutkan, "Marrianneth"