Dalam keremangan malam seorang gadis duduk di sebuah halte Bis. Sendirian dengan membawa tas besar yang sepertinya berisi baju. Dan sebuah tas ransel yang tak kalah besarnya bergantung di punggungnya.
Gadis cantik berhidung mancung berkulit putih dengan bibir berwarna pink alami itu duduk sambil memeluk tas ransel yang tadi berada di punggungnya. Terlihat bingung, resah dan khawatir dari wajahnya.
Malam kian larut jam yang berada di tangannya menunjukan jam 22.05 hawa dingin menyeruak ke badan yang dilapisi kardigan tipis berwarna hitam.
Gadis itu pun bermonolog 'Harus kemana aku sekarang sedangkan malam sudah semakin larut. Bis mana yang harus aku naiki'
Gadis cantik itu membuka resleting ransel paling depan kemudian mengeluarkan sebuah foto usang yang bergambar seorang laki-laki berkumis tipis berkisar umur 26 tahun masih terlihat muda dan gagah.
'Ayah dari mana aku mulai mencari mu, kemana harus ku langkahkan kaki ini agar bisa bertemu denganmu. Tapi apakah ayah akan mengenalku? apakah ayah akan menerimaku? sedangkan keberadaanku pun ayah tak pernah tau'
Gadis cantik itu meneteskan air matanya.
'Kalau bukan pesan terakhir bunda yang meminta Haifa untuk mencarimu ayah. Haifa rela seumur hidup tidak tau dan tidak kenal dengan Ayah. Tapi Haifa sudah janji akan berusaha untuk menemukan Ayah di kota besar ini'
Sebuah Bis datang dari sebelah timur Haifa pun berdiri dan melambaikan tangan memberhentikan Bis tersebut.
"Rambutan rambutan rambutan... "
"Neng mau ke terminal rambutan?"
"Haifa hanya mengangguk!"
Sang kondektur turun dan membantu memasukan tas Haifa kedalam bagasi dan Haifa pun naik kedalam Bis tersebut. Dalam Bis tersebut tidak terlalu banyak penumpang. Haifa duduk di bangku kedua belakang supir.
Sebenarnya tuhuan awal Haifa memang ke terminal Rambutan cuma travel yang membawa Haifa menurunkannya di halte tersebut dengan alasan Haifa penumpang terakhir dan kebetulan saudara supirnya masuk rumah sakit sehingga dengan terpaksa menurunkan Haifa di halte itu. Beruntung Haifa tidak terlalu lama menunggu tumpangan lain.
Satu jam setengah Haifa akhirnya sampai di Terminal Rambutan begitu turun Haifa langsung mencari masjid. Berpikir orang orang yang berada disekitar masjid adalah orang baik berharap ada yang mau membantunya.
Jakarta memang banyak penduduknya bahkan hari sudah hampri tengah malam tapi basih banyak orang yang mengadukan nasibnya menjajakan dagangannya mencari sesuap bahkan tak sedikit anak kecil yang mencari botol plastik dan dikumpulkan dalam karung yang dibawanya. Lalu Bagaimana dengan dirinya yang baru pertama mennginjakkan kaki di ibukota dan akan memulai menggantukan nasibnya di kota ini.
Perlahan namun pasti Haifa mendekati sebuah mesjid ada beberapa yang cuma duduk sekeedar mengistirahakan kakinya ada pula yang benar benar i'tikaf di dalam mesjid dan melalukan shalat ada juga yang mengaji ada pula yang terduduk sambil memejamkan mata tapi mulutnya dan tangannya terus bergerak.
Tak ada yang bisa dia ajak bicara apalagi untuk. meminta bantuannya, benar dikota besar seperti ini orang orang cenderung tidak peduli satu sama lain. Akhirna haifa mencari tempat untuk mengistirahatkan tubuhnya. Berniat akan menghabiskan malam ini di mesjid tersebut. Haifa memilih pojokan tempat perempuan melakukan shalat. Haifa menumpuk tas baaju juga tas ranselnya kemudian haifa menyender pada tas tersebut. Haifa masih terjaga wwalaupun maatanya terpejan dia tetap waspada takut ada yang membawa barangnya. Waktu terasa lambat sungguh oenantian yang cukup panjang. Sambil terus berdzikir dalam hati dan sesekali berdoa memasrahkan apa yang akan terjadi padanya.
Pagi pun menjelang Haifa membawa barangnya dan pergi mencari sarapan setelah melakukan kewajibannya sebagai seorang muslim.
Haifa memilih warung nasi yang terlihat bersih dan cukup ramai. Haifa memilih duduk di paling belakang sambil terus memperhatikan semua tamu yang datang dan pergi ke warung nasi tersebut. Sehingga pemilik warung merasa curiga dan mendekatinya.
"Mba selesai makannya? kalo sudah selesai silahkan bergantian dengan yang lain" Dengan nada yang sedikit ketus.
"Ba baik maaf kalo saya mengganggu pelanggan ibu. Tapi boleh kah saya tanya sesuatu bu?"
"Iya cepat katakan saya gak punya waktu banyak"
Haifa pun merogoh tas ranselnya dan memperlihatkan foto usang seorang gadis cantik dan seorang laki-laki tampan dengan badan tegap.
"Apa ibu pernah melihat laki laki ini?"
"Apa kamu sedang mencari laki-laki yang menipumu? Sekarang banyak laki-laki hanya bermodal tampang membodohi gadis polos seperti kamu. Apa laki-laki itu menghamilimu?Sudah gugurkan saja sudah jelas laki-laki itu tidak baik ngapain kamu masih mencari-carinya. Sekarang sudah lumrah anak gadis tapi tidak perawan heh" Si ibu pemilik warung nasi itu berapi-api dan tersenyum mengejek meremehkan Haifa. Dia berpikir kalo Haifa bukan gadis baik-baik.
"Bukan Bu ini foto ayah saya, dan yang disebelahnya ibu saya kami sudah lama saya sedang mencari ayah saya sudah lama tak bertemu"
"Oh saya tak pernah melihatnya silahkan keluar biar yang lain bisa menempati tempat yang kamu pakai ini" Ibu pemilik warung nasi itu melenggang meninggalkan Haifa dengan ngedumel entah untuk menutupi rasa malunya atau sekedar misuh misuh.
Setelah membayar Haifa mulai menusuri trotoar sepanjang jalan sambil bertanya apa ada kontrakan atau kamar kost yang disewakan bahkan tak lupa Haifa pun memperlihatkan foto sang ayah siapa tahu ada yang mengenalnya.
Tanpa lelah Haifa terus berjalan melewati beberapa bangunan melintasi beberapa jembatan penyebrangan sampai tak terasa sudah waktunya dhuhur. Sambil mencari cari mesjid untuk beristirahat dan melakukan kewajibannya tanpa melihat ke sebelah kanan Haifa mulai menembus jalan untuk menyebrang namun naas dari sebelah kanan mobil sport merah melaju dengan kecepatan tinggi sehingga menyerempet badan Haifa sehingga terjatuh kakinya sepertinya keseleo karena menahan keseimbangan badan dan Haifa terjatuh menimpa tangan kirinya. Banyak yang menolong dan membawanya ke pinggir.
Seseorang turun dari mobil sport merah itu dengan berani walau sudah banyak yang memarahi mencaci dan mengatakan sumpah serapah terhadap oranng tersebut.
Orang itu menghampiri Haifa sambil membuka kaca mata hitamnya juga topi yang menutup sebagian wajah dan rambutnya.
Saat di buka tergerailah rambut yang hitam lebat berkilau.
"Mbak tidak apa apa?"
Haifa menggeleng dan bagai terhipnotis melihat sosok yang bertanya tadi dari atas sampai bawah. gadis cantik yang tersenyum mata belo hidung mancung dan bibir merah merona. badan tinggi semampai memakai kaos putih bergambar abstrak dimasukan kedalam celana jeans dengan lutut sobek sobek juga sepatu cats yang membuat penampilannya begitu sempurna.
"Cuma sepertinya kaki saya keseleo dan tangan ini sakit sekali" Haifa baru menyadari rasa sakit yang dia rasakan paska terjatuh tadi.
"Kalau begitu aku anterin kamu ke Rumah sakit biar diperiksa. Maaf ada yang bisa bantu saya membawa mbak ini ke mobil"
Haifa masuk di kurai bagian depan berdampingan dengan pengemudi sementara barang barang Haifa disimpan di jok belakang.
'Nih orang lagi minggat dari oranng tuanya kali ya?' pikir gadis tersebut
"Eh btw gue Marsya, nama lo siapa?sory kalo gue gak sopan tapi liat dari tampang lo umur kita gak jauh beda"
" Aku Haifa umurku 22tahun"
"Owh beda 2tahun gue 20 tahun. apa lo mau gue oanggil mba aja?"
"Panggil aja Haifa tidak apa apa"
"Sory ya gue nabrak lo, tadi gue buru-buru tapi ya karena gue nabrak lo harus gue selesaikan dulu. Gue gak mau dibilang gak bertanggung jawab"
"Bawaan lo banyak banget lo minggat dari rumah ya? Tapi liat modelan lo kayak gini gue gak yakin"
"Aku baru nyampe di kota ini semalam dan belum menemukan kost atau rumah kontrakan"
berbarengan dengan jawaban Haifa mobil pun sudah nyampe di depan Rumah Sakit. Beberapa petugas dan perawat menyediakan bangkar dan membawa Haifa masuk ruang UGD.
Haifa pun di periksa dan dilakukan perawatan dan tindakan sesuai prosedur dan dengan setia Marsya terus mendampingi Haifa. Dokterpun menjelaskan bahwa tidak ada hal yang serius pada luka Haifa cuma kaki yang keseleo dan tangan kiri Haifa yang terkilir. Saat itu juga diperbolehkan pulang dan diminta 5hari lagi untuk kontrol.
Setelah selesai membayar administrasi Marsya membawa Haifa dengan menggunakan kursi roda yang sengaja langsung dibelinya.
Haifa ingin mengganti uang perawatan dan juga kursi rodanya tapi tidak diterima oleh Marsya bahkan sekarang Marsya akan mengajaknya ke rumahnya.
"Karena lo belum punya kosan ato rumah kontrakan dan lo juga gak punya sodara disini untuk sementara sampai kaki dan tangan lo sembuh. Lo tinggal di rumah gue eh maksud gue rumah orang tua gue tak ada bantahan"
"Apa kamu yakin bawa saya kerumahmu? Bagaimana kalo saya penjahat atau saya ini pembunuh"
"Hahahahahaa Haifa gue pikir lo orangnya serius ternyata bisa ngelawak juga ya?"
"Gue serius Marsya"
"Emang dengan keadaan lo kayak gini bisa ngapain? Tenang aja rumah gue banyak pengawalnya"
Setelah melewati waktu yang cukup lama karena macet akhirnya sampailah mereka di sebuah rumah yang sangat megah. Haaifa sampai melongo sambil bergumam ini rumah apa istana.
Mereka disambut beberapa orang maid.
"Selamat malam non"
Haifa menganggukan kepalanya sedangkan Marsya berjalan begitu saja.
"Malam mommy Daddy" Marsya menyampa kedua orang tuanya yang sedang duduk di ruang tengah sambil nonton TV
"Hei anak nakal kamu nabrak siapa? gak kenapa kenapa. kan korbannya?" sang Mommy mengomel dan memarahi Marsya
"Tuh korbannya" Ucap Marsya tanpa merasa bersalah sambil menunjuk ke arah Haifa yang sedang memajukan kurai rodanya bermaksud menghampiri orang tuanya Marsya.
"Halo siapa namamu nak?"
"Haifa Tante"
"Maafkan kenakalan anak Tante ya sayang kamu gak apa apa?"
"Tidak Tante cuma luka kecil saja"
Mommy nya Marsya sangat ramah tapi tidak dengan Daddy nya saat melihatku dia seperti kaget dan wajahnya yang datar tanpa ekspresi membuatku segan aku cuma menganggukan kepala. Dan laki-laki itu meninggalkan kami begitu saja.
"Marsya sudah menceritakan kisahmu yang baru datang ke Jakarta dan belum memiliki tempat tinggal sampai kamu sembuh kamu tinggal disini saja. Marsya anterin Haifa ke kamar tamu nak"
"Siap Mom..."
Sementara di dalam kamar Daddy Damar Daddynya Marsya sendang melamun. Mommy Bela masuk dan melihat nya dengan khawatir
"Daddy kenapa? Mom, gadis itu persis dengan gadis yang ada dalam mimpiku. Gadis yang sama yang menangisi kepergianku"
"Benar kah dad? Tapi gadis itu sepertinya masih muda kalo dia masa lalu yang kau lupakan itu mungkin dia sudah berumur Dad"
"Entahlah aku pusing mengingatnya"
"Jangan dipaksakan Dad. Mommy akan menyuruh galang untuk menyelidiki siapa Haifa itu"
Beberapa hari berlalu Haifa makin dekat dengan Marsya mereka sepeerti sudah kenal lama bercanda dan tertawa bersama. Haifa sedikit melupakan tujuannya datang ke Jakarta. Keluarga Marsya sangat hangat menyambutnya dengan baik kakanya Marsya yang bernama Galang itu juga memperlakukannya dengan baik bahkan penuh perhatian. Hanya Daddy nya yang terkesan memperhatikannya dari jauh kalau dekat seperti menghindar dan memberi jarak entah kenapa. Dalam diri Haifa pun berasa ingin selalu mencari perhatian Daddy nya Marsya dan selalu ingin mendekatinya.
Lima hari sudah berlalu saatnya Haifa kontrol untuk melihat perkembangan kesembuhan kaki dann tangannya. Marsya tidak dapat menemani karena saat itu harus kuliah.
Haifa di antar galang dan galang pun ikut masuk saat Haifa diperiksa dan alhamdulillah kini Haifa sudah boleh menginjakan kakinya tapi jangan terlalu dipaksa dan di porsir pelan pelan saja.
Saat pulang Haifa memberanikan diri untuk berbicara.
"Maaf Mas Galang bisa gak bantu Haifa tapi ini mungkin akan merepotkan mas Galang?"
" Emang mau minta bantuan apa?"
"Mas galang tau gak tempat kos kosan untuk putri atau kontrakan yang gak terlalu besar yang kira kira aman buat perempuan yang tinggal sendiri?"
"Buat apa?"
"Ya buat saya mas, gak mungki kan saya terus menumpang dirumah kalian apalagi sekarang saya sudah sembuh lagian Haifa juga harus segera melaksanakan amanat Bunda"
"Kamu bisa terus tinggal di rumah tanpa merasa gak enak koq"
"Maksud mas?"
"Dengan jadi istriku kamu bisa tinggal terus disana. mau?"
"Akh bercanda mulu si mas nya mah"
"Aku gak bercanda, sejak pertama kali ketemu dengan kamuaku sudah jatuh cinta sama kamu aku juga dah yakin untuk melabuhkan cinta terakhirku untukmu Haifa"
Deh deg deh hati Haifa semakin berdetak kencang.
"Tapi maaf Mas bukannya Haifa menolak tapi untuk saat ini Haifa belum bisa menerimanya!"
"Kenapa? Apa kamu merasa kita belum saling kenal atau kamu merasa terburu bur karena kita baru saja ketemu?"
"Iya mas itu juga tapi ada yang lebih penting dari itu Haifa harus mencari Ayah kandung Haifa."
"Ayah kandung? Emang selama ini kemana?"
Flashback on
Seorang pemuda bernama Prayoga hidup sebatang kara tanpa sanak saudara karena saat kecil rumahnya terbakar habis juga membakar kakek nenek juga ibu bapaknya cuma prayoga yang selamat. Dari saat itu Prayoga tinggal di rumah warga siapa aja yang mengajaknya. Dan dapat makan dari belas kasihan warga. Tapi itu tidak memyurutkan hatinya. Yoga tetap bersekolah dengan beasiswa yang di dapat dari pemerintah daerah. Sejak lulus SD walaupun biaya sekolah dibebaskan tetap saja yoga butuh sarana pendukung sepeerti baju seragam tas sepatu buku-buku. Yoga dengan berani datang ke pemilik pertenakan terbesar di daerahnya itu. Yoga meminta pekerjaan dan bejanji akan bekerja keras apapun jenis pekerjaanya. Karena Yoga jujur dan selalu tepat waktu juga pekerjaannya bagus pemilik pertenakan itu memberi tempat tinggal yang layak karena sebelumnya kadang Yoga tertidur di masjid atau di pos ronda. Sebuah rumah semi permanen yang cukup nyaman.
Waktu berlalu sampai lulus SMA Yoga semakin rajin bahkan menjadi orang kepercayaan pemilik ternak itu. Selain perternakan perkebunan juga hasil sawah semua yang mengurus Yoga. Dan Yoga pun Kuliah dibiayai Bos nya itu. Selesai Kuliah Yoga bahkan dinikahkan dengan putri semata wayang pemilik perkebunan itu.
Saat pernikahan mereka memasuki bulan ketiga. Yoga pergi ke kota untuk membeli alat alat dan juga pupuk yang bagus. Dari saat itulah Yoga gak pernah pulang lagi ke kampung itu. dan yoga pun tak pernah tau kalo istrinya saat itu telah mengandung janinnya.
Alat alat juga pupuk semuanya sampai ke kampung tapi yoga nya tak datang kembali. menurut orang yang mengantar Alat dan Pupuk pesanan Yoga bilang kalau Yoga akan pergi ke sebuah toko perhiasan untuk oleh oleh istri yang dicintainya.
Bahkan sampai sang pemilik perkebunan menghembuskan nafas terakhirnya yoga tak pernah kembali.
Juga saat istri tercintanya menyebutkan namanya untuk terakhir kali sebelum menutup mata selamanya pun gak penah datang.
Flashback off
Medengar cerita Haifa yang menceritkannya dengan derai air mata galang tak tega. Ingin rasanya dia membawa dan mendekap Haifa kepelukannya untuk menghiburnya tapi Galang takut Haifa akan marah karena selama ini galang tau betapa Haifa menjaga dirinya agar tidak bersentuhan dengan bukan mahramnya.
"Boleh saya tau siapa nama ayah kamu?"
"Prayoga?"
"Aku akan membantu kamu menemukan ayah kandungmu!"
"Terima kasih mas galang"
"Sebelum itu tolong carikan saya kosan atau kontrakan"
"Bagaimana kalau sementara kamu tinggal di apartemen ku"
"Ya gak boleh donk mas kita belum nikah"
"Ya sudah kita nikah dulu kalo begitu"
"Ih mas galang ini"
"Hahahah kamu itu lucu sekali Haifa. Maksud aku kamu tinggal di apartemen aku ya sendirian lagian itu tipe satu kamar. kamar mandi di dalam kamar trus ruang tamu dapur menyatu gak terlalu besar cukup buat kamu tinggal sendiri semua sudah ada jadi tinggal menempati saja"
"Boleh tapi dengan syarat aku akan bayar sewanya"
"Ya terserah kamu saja aku larangpun kamu akan tetap maksa"
"Berapa aku harus bayar?"
"12jt per tahun"
"Koq murah amat mas?"
"Aku bayar 20jt aja per tahun ya!"
"Terserah kamu lah"
" Hehhe... walaupun 20jt itu juga masih murah hitung hitung bantuin jaga apartemennya aja biar gak bau apek ya mas"
"Haahah kamu tuh gemesin banget sih"
Akhirnya merekapun sampe di rumah. Haifa berjalan dengan pelan pelan seperti saran dokternya.
"Lo haifa dah boleh jalan memangnya?"
"Sudah tante alhamdulillah"
"Tante, om maaf Haifa tinggal dulu ya mau beberesih dulu gak enak lengket kena keringet"
"Iya silahkan"
"Dad, Lihat anakmu itu cengangas cengenges kayaknya minta di kawini tuh"
"Mommy emang super bisa baca pikiran anaknya. Direstui kan mom? Dad?"
"Sepertinya emang anak baik tapi dianya mau enggak sama kamu?
" Itulah masalahnya Mom Dia masih harus mencari Ayah kandungnya katanya dia gak mau mikirin kebahagiaan dirinya sebelum melaksanakan amanat bundanya"
"Anak yang berbakti beruntung mommy kalau punya mantu seperti itu"
"Galang mau bantuin dia cari ayah kandungnya yang bernama Prayoga"
"Siapa nama ayahnya lang?"kali ini daddy yang bertanya.
" Prayoga Dad?"
"Prayoga...? Tiba tiba ingatan ingatannya mulaai terbuka seorang perempuan memanggilnya mas yoga mas yoga
" Aaarrggg sakit!" Daddy berteriak sambil memegang kepalanya lalu pingsan.
Galang dibantu supir pribadi keluarganya mengangkat Daddy ke dalam kamarnya dan membaringkannya.
Haifa pun mendengar teriakan dan hiruk pikuk penasaran sehingga cepat keluar.
"Apa sebaiknya dibawa ke rumah sakit tante?"
"Om sering pingsan gini kalau kepalanya dipake mikir yang berat berat gak papa koq naanti juga baikan"
semua orang meninggalkan kamar Daddy yang tertinggal hanya mommy.
Tak berapa lama Daddy membuka matanya segera Mommy pun menghampirinya dan menyerahkan segelas air putih.
"Mom, Daddy sudah ingat semuanya. Ternyata Daddy memang punya istri dan pernikahan kami baru 3 bulan saat kecelakaan itu"
"Ya ampun Rima maafkan Mas yoga. Mas sangat berdosa padamu Rima" Daddy pun menangis tersedu sedu dalam pelukan Mommy.
"Maafkan Mommy Dad demi menjaga nama baik dan menghindari rasa malu kami memaksa Daddy menerima pernikahan ini, betapa egois kami tak pernah berpikir keluarga Daddy disana sangat menunggu kepulanganmu"
Mereka menangis dengan penyesalan masing masing.
Jam Makan malam sudah kumpul di meja makan Daddy, Mommy, Marsya, Galang dan juga Haifa.
Semua makan dengan tenang tak ada seoranngpun yang berani berbicara hanya terdengar sendok dan garpu yang beradu denngan piring.
Selesai makan Daddy memanggil semuanya untuk berkumpul di ruangan Tengah. Kali ini tatapan Daddy pada Haifa begitu sendu dan penuh penyesalan.
Semua sudah berkumpul tak ada yang berbicara sampai Haifa memberanikan diri untuk mengeluarkan suaranya.
"Om Tante sekarang Haifa sudah sembuh besok Haifa akan keluar dari rumah ini., Haifa gak enak terus menumpang"
"Tau tenang aja Mommy dan Daddy jangan khawatir Haifa gak pergi jaauh cuma pindah ke apartemen Galang aja kan selama ini gak ada yang menempati skrng biar haifa tinggal disanah lumayan ada yang bersihin apartemen galang hehheh"
"Enggak nak Daddy gak akan mengijinkan Kamu keluar dari rumah ini. Ini juga rumah kamu Ifa kamu juga berhak tinggal disini"
"Maksud om?"
"Ifa aku adalah ayah kandungmu, Maaf Daddy baru mengetahuinya" setets air mata bergulir membasahi pipinya. Marsya Galang dan tentunya Haifa sangat terkejut mendengar ucapan Daddy.
"Nama Daddy adalah Prayoga kenapa sekarang Daddy jadi bernama Damar biar Daddy jelaskan sekarang"
"Daddy belanja alat alat yang modern untuk mendukung perternakan abah dan juga membeli pupuk berkualitas tinggi di jakarta untuk kebun abah agar hasilnya lebih bagus dan pendapatan akan makin meningkat. Daddy memesan semuanya dan menyuruh mereka untuk mengantarkan langsung dari toko. Daddy pergi ke toko perhiasan untuk memberi kejutan buat Bunda Kamu Haifa. Tapi di tengah jalan terjadi kecelakaan semua meninggal termasuk pak damar calon suami Mommy yang akan menikah dalam satu minggu. Daddy hilang ingatan saat itu dan tidak mengingan Bunda Rima kamu Haifa" Daddy menangis tak sanggup untuk meneruskan ceritanya
"Iya Haifa tapi dissini Mommy lah yang paling jahat sama kamu dan Bunda kamu karena Mommy egois demi tetap menikah dan biar tidak mendapatkan malu Ayah mommy bilang ke Daddy kalo dia adalah Damar, Maafkan Mommy Haifa"
"Baru satu tahun ini Daddy sering bermimpi ketemu seorang gadis yang menangis kepergian Daddy. karena kasian mommy pun bercerita semuanya kalo sebenarnya Daddy bukan Damar tapi Mommy juga tidak tau siapa Daddy karena tidak ada satupun identitas yang melekat di Badan Daddy saat kecelakaan itu. Sampai Haifa datang kemari. Dengan wajah yang persis sama dengan gadis yang selalu datang di mimipi Daddy. Maaf Daddy bukan menghindarimu Nak tapi Daddy bingung harus memperlakukan kamu seperti apa Ifa" Kembali Daddy menangis
"Lalu tadi galang menyebutkan sebuah nama prayoga itu yang membauat Daddy ingat masa lalu daddy ingan Rima istri Daddy"
"Maafkan Daddy bahkan Daddy gak tau kalo kamu sudah ada dalam kandungan Rima saat Daddy pergi"
"Jadi om ayah haifa? Ayah yang sedang haifa cari?"
"Iya sayang aku ayah kadungmu ayah prayoga mu?"
"Ayaaaahhhh" Haifa langsung memeluk ayahnya dengan oerasana mengharu biru dengan air mata yang terus menerus menetea dipipinya. begitupun dengan Mommy Marsya dan juga Galang.
Malam itu Haifa menghabiskan waktu dengan ayahnya bercerita segala macam masa kecilny perternakan nya dan soal Bundanya.
Daddy juga berjanji akan segera ke kampung untuk berjiarah kemakam abah dan Bunda bersama Mommy juga mas galang dan Marsya.
kini haifa tidak sendiri lagi ada Ayah bahkan mommy juga adik yang haifa sayangi juga menyayanginya.
Ada juga Mas galang yang meminangnya dan akan menjadikannya istri. karena belakang Haifa tau kalo Mas galang Anak angkat Mommy dan Ayah...
selesai