Seorang gadis berusia 19 Tahun Bekerja di salah satu cafe di kota Jakarta. Namanya Naura, seorang gadis yang hidup dikeluarga yang bergelimang harta namun tidak dipedulikan oleh ayahnya, Reza. Karena bagi ayahnya, Naura lah penyebab kematian istrinya. Ia begitu menginginkan kasih sayang dari orang tuanya namun itu hanya angan-angan baginya.
Semenjak SMP, Naura membiayai sekolahnya menggunakan uang hasil keringatnya sendiri Dan sedikit dibantu dengan beasiswa Karena Naura termasuk anak yang pintar. Dia kerja paruh waktu di salah satu cafe di kota Jakarta. keseharian Naura hanya sekolah dari pagi hingga siang, dan dilanjut bekerja dari siang hingga sore. Meski begitu Naura selalu menyempatkan belajar di waktu malam.
Di suatu sore, Naura baru pulang dari tempat kerjanya. Ia melihat ayahnya sedang duduk dan bersantai sambil meminum kopi dan tidak mempedulikan Naura.
Sejak kecil, Naura selalu iri ketika melihat kedekatan Ayahnya dengan kakaknya. Ia benar-benar tidak dianggap ada oleh ayahnya. ketika ayahnya sedang kesal, Naura selalu jadi pelampiasan amarahnya. Naura pun hanya bisa meratapi nasibnya.
Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 4 pagi Naura sudah bangun dari tidurnya dan segera melaksanakan kegiatan paginya. Setelah mandi, Naura segera bersiap ke kampusnya. tapi ia tak lupa sholat subuh. Naura memang selalu berangkat pagi karena jarak dari rumah ke kampusnya lumayan jauh dan Naura tidak mau naik angkutan umum untuk menghemat pengeluaran karena penghasilannya tak seberapa dan dia juga harus menabung untuk biaya kuliah.
Sesampainya di kampus, Naura langsung menyapa sahabatnya yang bernama Tasya.
Naura:"Selamat pagi Tasya.."
Tasya:"Selamat pagi Naura.."
Naura:"tumben pagi-pagi sudah datang, biasanya
selalu ke siangan"
Tasya:"hehehe, lagi pengen aja.., sekali-kali bangun
pagi"
Naura:"bagus deh.., kalau bisa sih setiap hari"
Tasya:"iya deh, nanti aku usahain"
Naura:"Nah gitu dong"
Dosen pun masuk ke dalam kelas dan pelajaran dimulai. Menit berganti menit, jam berganti jam. kini jam yang berada di dinding sudah menunjukkan pukul 12 yang berarti pelajaran telah usai. semua mahasiswa pulang kerumah masing-masing. tapi tidak dengan Naura. Naura langsung bergegas menuju cafe tempat Ia bekerja. sesampainya di sana Naura langsung berganti baju. dan mulai bekerja.
mentari sudah mulai tenggelam. kini Naura sudah menuju rumahnya. sesampainya dirumah, ia di suguhkan dengan kedekatan Ayahnya dengan kakaknya, Reva. Naura begitu iri melihat kedekatan mereka.tiba tiba kakaknya menegurnya.
Reva:"ngapain berdiri disitu. iri ya.., kasihan deh gak
bisa ngerasain kasih sayang dari ayah"
Reza:"udah gak usah pedulikan dia, Gak penting
anggap aja gak ada"
hati Naura bagaikan teriris pisau yang berkarat. begitu perih dan membekas ketika mendengar kata 'udah gak usah pedulikan dia gak penting Anggap aja gak ada' dari mulut sang ayah. Meskipun ini bukan pertama kalinya ia mendengar kata-kata tersebut. namun entah kenapa setiap mendengar ucapan sang ayah hatinya selalu sakit. Naura pun langsung lari ke kamarnya dan menangis dalam diam. hujan pun turun dengan derasnya seakan langit ikut bersedih.
Naura sangat berharap suatu saat akan berubah dan menyayanginya. Di setiap malam ia selalu berdoa agar selalu berubah. Namun sampai saat ini, tak ada perubahan sama sekali. para pekerja yang bekerja dirumah itu pun merasa sangat iba dengan Naura. namun mereka tak bisa berbuat apa-apa.
pagi harinya Naura terbangun seperti biasa. mata Naura masih sembab karena menangis semalaman. Naura bersiap bekerja karena hari ini dia shift pagi. hari ini hari Sabtu, jadi kampusnya diliburkan.
Naura bekerja dari pagi hingga siang. saat tengah bekerja, Naura melihat seorang pria bersama anaknya begitu bahagia. Naura yang melihat itu sangat iri. jika bisa, ingin rasanya bertukar tempat dengan anak itu agar bisa mendapatkan kasih sayang dari orang tua. Tak ingin terlalu larut dalam kesedihan, Naura pun melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.
Hari semakin sore, kini Naura tengah merenungi nasibnya di tepi danau didekat cafe tempatnya bekerja. sudah menjadi kebiasaan bagi Naura jika ia sedang sedih atau mau menenangkan pikiran. ia selalu duduk di tepi danau.
Naura tengah memikirkan tentang kehidupannya, entah kapan kehidupannya bisa berubah. miris memang, Naura kehilangan ibunya semenjak kecil. ayahnya yang seharusnya menggantikan peran sang ibu tapi malah sebaliknya. Hidup Naura sangat memperihatinkan. Ia begitu ingin bermanja-manja dengan ayahnya seperti orang lain. ia selalu iri melihat anak-anak yang sedang bermain dengan orang tuanya. setiap melihat hal itu, Naura pasti bersedih.
Matahari sudah terbenam, Naura pun beranjak pergi meninggalkan danau dan pulang ke rumahnya. Saat sampai dirumah, lagi-lagi dia melihat sang ayah sedang bersama kakaknya. tak ingin kejadian kemarin terulang kembali, Naura langsung bergegas ke kamarnya dan memakan makanan yang tadi sempat ia beli di jalan.
Hari telah berganti, Naura kembali bersiap bekerja. Sebenernya hari ini Naura libur, namun ia menggantikan teman kerjanya yang sedang sakit. jadi mau tak mau ia menggantikannya.
hari sudah semakin sore. Kini jam kerja Naura sudah berakhir. namun Naura tak kunjung pulang. Naura kembali ke tepi danau untuk menenangkan pikirannya yang sedang kacau. saat sedang merenung, tiba-tiba Mas Azis (pemilik cafe) menghampirinya. Naura memang lumayan dekat dengan pemilik cafe semenjak Naura SMP kelas IX. kala itu Naura sedang merenung dan mas Azis yang melihat Naura langsung menghampiri Naura dan mengajak berkenalan. Naura menceritakan tentang kisah hidupnya dan mas Azis menawarkan pekerjaan untuk Naura, Naura pun langsung menyetujuinya. semenjak itu Naura bekerja di cafe mas Azis.
Mas Azis:"ada apa lagi naura."
Naura:"eh...mas Azis, gak papa mas"
mas Azis:gak usah bohong, saya tau kamu pasti lagi
mikirin tentang ayah kamu kan, udah gak
usah dipikirkan. semuanya terjadi di dalam
kehidupan kita. hidup itu seperti misteri.kita
tau apa yang akan terjadi kelak. tugas kita
hanya tabah dan menjalani kehidupan
dengan ikhlas. percayalah bahwa Tuhan
gak akan memberikan ujian yang melebihi
batas mampu kita. bisa tidaknya kita
menjalaninya tergantung kita sabar dan
ikhlas atau tidak. Intinya jangan mudah
menyerah dan tetap semangat Saya cuma
mau bilang itu sama kamu."
Naura. :"Makasih mas."
Mas Azis:"yaudah mending sekarang kamu pulang,
sudah mending tuh."
Naura. :"Iya mas, kalau gitu Naura pulang dulu ya.."
Mas Azis:"iya hati-hati"
Saat di perjalanan pulang, Naura melihat ayahnya sedang menelpon seseorang dipinggir jalan. Naura awalnya ingin langsung pulang. Namun ia melihat ada mobil yang sedang melaju kencang menuju ayahnya. Tanpa pikir panjang, Naura langsung mendorong ayahnya, alhasil Kini Naura yang tertabrak mobil tersebut. Orang-orang pun berdatangan.
Reza:"Naura!!!!" teriaknya
Naura:"ay..yah..g..ak...pa..pa..kan"
Reza:"Naura maafin ayah nak... ayah selalu jahat sama
kamu, ayah menyesal nak, tolong maafin ayah
nak"
Naura:"I..ya...yah...na..u..ra..ud..ah..maafin..ay..ah..kok,
Yah....Na..ura..per...gi...du...lu..ya.."
Reza:"Nauraa!!!!"
Naura pun menghembuskan nafas terakhirnya dengan senyuman karena ia bahagia ayahnya sudah menganggap nya.