Di sebuah kisah hiduplah seorang anak yang memiliki hati yang amatlah baik. Diantara seluruh kehidupan nya yang terlihat adalah sebuah kebahagiaan, namun dibalik kebahagiaan tersebut tersembunyi lah seorang anak yang rapuh.
"Bagaimana kamu ini sih mas? Kerja saja tidak becus, bahkan sampai dipecat? Bagaimana caranya kamu bekerja... "
"Apa yang kau bicarakan? Aku sudah bekerja setiap hari lalu apa yang kamu lakukan? Kau hanya bisa menghabiskan nya saja"
" menghabiskan kamu bilang? jika aku tidak menggunakan uang itu kamu mau makan apa? bahkan uang yang kamu berikan ke aku tidak cukup sama sekali" ucapnya, seketika sebuah tamparan keras mendarat di pipi wanita itu.
"kamu itu tidak tahu diuntung, masih untung aku kasih kamu uang untuk belanja sekarang ketika aku dipecat kamu malah kayak gini? mau pisah kamu ha?"
Kedua insan yang telah disatukan dalam sebuah ikatan cinta itu terus bertengkar, tanpa disadari oleh mereka seorang anak tengah duduk tepat dibelakang pintu kamarnya mendengarkan pertengkaran antara keduanya. Air matanya menes dari sudut matanya, membasahi seluruh pipinya.
Keesokan harinya...
Jam menunjukkan pukul 05:30 zahrah mulai turun setelah melaksanakan sholat subuh, lalu siap siap untuk sekolah.
"Emmm bi mama sama papa udah pergi? "
"Udah non dari pagi"
"Papa juga? "
"Iya tuan mau nyari kerjaan baru katanya non"
"Oke aku, berangkat dulu ya bi" Ucapnya sambil meneguk susu yang ada diatas meja dan tidak lupa pula ia mencium punggung tangan bi zainab.
" Iya non, hati hati ya non" Ucapnya sambil mengayunkan telapak tangannya
Saat disekolah...
Seluruh ruangan masih tertutup rapat, belum ada seorangpun yang datang. Ia berjalan dengan pelan. Tiba- tiba bahu zahrah disentuh dari belakang...
" Hey... Pagi bener neng" Ucap salah seorang wanita seumuran dengan zahrah, ia adalah teman sekelas zahrah.
"Astaufirullah Rizka buat kaget aja sih"
"Bilang aja takut... Hihihi"
"Dibelangmu Rizka"
"Apa?"
"Bayangan"
" Ih... Buat takut aja, kan serem ra kalau beneran ada yang nongol gimana? Mana gak diundang lagi? "
"Hahah gak apa palingan kamu kabur duluan, lagian ni ya ka hantu itu tidak ada yang ada jin yang menyerupai hantu, dan lagi itu karena ni otak yang membayangkan hal aneh melulu makanya setan menyerupai wujudnya"
"Iya bu ustazah, ayo ke kelas, oya kira kira kantin udah buka belum ya? Laper nih"
"Udah tu mbak kunti yang jualan hahahaa" Ucap zahrah sambil tertawa.
Tiba tiba tepat di lorong itu berdiri seorang wanita, ia berdiri tepat didepan pagar dan menaikinya.
"Ra siapa itu?"
"Tidak tau, kunti mungkin"
"Masih juga kamu bahas itu? Udah ah ayo liat"
" Hey... Kamu kenapa disana?" Ucap zahrah dengan bingung.
"Kau siapa?"
"Aku zahrah murid disini"
"Oo... Kau, habis nangis?" Ucapnya membuat zahrah membulatkan matanya
"Kamu habis nangis ra? Iya mata kamu merah ra"
" Eng... Enggak kok aku tadi naik motor eh kelilipan makanya mataku merah"
"Oo aku kira kamu habis nangis"
"Ehhh mau ngapain? "
"Bunuh diri"
"Ehh ini lantai 2 ketinggiannya hampir 3 meter"
"Terus? Apa pedulimu?"
"Eh tunggu aku tadi tidak melihat kamu menggunakan kendaraan"
"Kau tidak perlu tau"
"Eh ra jangan jangan beneran lagi yang kamu bilang kalau dia itu kunti, liat kakinya jejak apa engga ra"
"Aku bisa dengar semuanya" Ucapnya yang membuat Rizka terdiam
"Lebih baik kau pergi aku mau sendiri"
"Nanti kalau kamu nekat terjun gimana?"
"Apa peduli kau?"
"Ya pedulilah niya kalau kamu terjun disini bakalan rame ni sekolah dan lagi bakal ada polisi dan nanti yang dikira kami yang dorong kamu kebawah, gimana sih? "
"Elah kalian ini, bunuh diri aja susah" Ucapnya lalu pergi.
"Kenapa dia mau bunuh diri ya ra? "
"Aku tidak tau ayo masuk"
Saat bel berbunyi dengan nyaring, guru datang dengan seorang siswi dibelakangnya.
" Nah nak dewi perkenalkan diri kamu keseluruh teman teman disini"
"Baik bu, emm nama saya dewi ayunda, saya pindahan dari sekolah gajahmada diyogyakarta salam kenal"
" Salam kenal juga dewi" Ucap mereka serentak.
Saat pulang sekolah...
"Emm ra aku pulang duluan ya kamu hati hati ya disini nanti diculik wewe gombel lagi" Ucapnya menakuti zahrah tetapi sang empu tidak merespon apa apa.
"Ila palingan lebih seram kau dari pada wewe gombel"
"Kau... "
"Eh.. Dewi pulang sama siapa?"
"Jalan kaki"
"Emang rumah kamu dimana?"
"Rumah aku didekat sini juga aku duluan ya"
" Ahh iya silahkan"
Keesokan harinya bu guru tiara ingin memberikan tugas kelompok dimana 1 kelompok dibagi menjadi 4 orang, yang beranggotakan zahrah, Rizka, dela dan juga dewi. Mereka menyusun rencana untuk menyelesaikan tugasnya dimana.
"Emm gimana kalau kita kerjakan di rumahnya zahrah saja?"
"Gak ah jangan rumahku jauh dekat sekolah saja" Ucap zahrah.
"Rumah siapa yang dekat sekolah? "
"Dewi? Rumah kamu dekat sekolahkan? "
"Emm iya tapi... "
"Oke dirumah dewi kita jadinya"
"Ehh"
"Setelah pulang sekolah jangan ada yang pulang Oke?"
"Oke"
"Tapi... "
Setelah pulang sekolah mereka sepakat untuk mengerjakan tugas mereka dirumah dewi. Ketika sampai didepan rumahnya terdengar suara tamparan yang teramat kuat, bahkan teriakan dan juga tangisan terdengar hingga depan pintu rumah itu.
Suasana menjadi hening seketika saat mereka mendengar pertengkaran antara kedua insan itu. Zahrah melihat kearah dewi, lalu ia menutup telinga dewi dengan kedua tangannya.
"Kau? "
"Jangan didengar wi ya?"
" Ra..." Tangisnya kini pecah, begitu juga dengan rasa malu didalam dirinya.
Mereka semua terdiam saat terdengar suara dari dalam rumah itu, suara seorang wanita yang meminta pisah dan keluar menggandeng sebuah koper yang ada ditangannya.
"Ibu? Mau kemana?" Tanya dwi.
"Ibu mau Pergi, kamu yang baik ya nak ikut ayah, kamu yang patuh dengar semua ucapan ayah ya sayang" Ucapnya lalu mencium kening anak semata wayangnya itu.
"Dwi mau sama ibu saja tidak mau dengan ayah" Ucapnya.
"Tidak bisa, kamu harus hidup dengan nyaman ibu menyayangimu sayang" Ucapnya lalu pergi.
Seketika hatinya hancur, ia merasa telah dibuang oleh ibunya.
"Emm mungkin kami akan kembali lagi lain kali ya ra, wi" Ucap dela dan berlalu pergi.
"Ra... Kamu bisa tidak bawa aku ketempat yang jauh, aku tidak mau kembali"
"Kerumah kamu aja ra, kan katanya papa dan mama kamu keluar kota"
"Iya sih tapi, kamu juga ya ka aku takut tidak bisa nenangin dewi"
"Iyaudah aku juga ikut nginap dirumah kamu ra"
Malam itu tidak ada hal yang begitu spesial, dewi sudah mulai melupakan semuanya berkat bujukan dari zahrah, serta tingkah laku yang mereka lakukan yang membuat dewi melupakan rasa sakit akibat pertengkaran itu.
Setelah mereka berbincang panjang lebar, Rizka langsung pulang saat bundanya menelphone menyuruhnya pulang.
"Ra, Rizka kenapa kok di suruh pulang duluan?"
"Emm katanya orang tuanya akan pergi keluar negri jadi ayahnya menyuruhnya mengantarkan mereka kebandara"
"Enak ya punya keluarga yang benar benar sayang sama kita"
"Hey... Jangan sedih dewi ada Allah ingat kita tidak sendiri, ia tidak akan memberikan cobaan melewati batasan manusia tersebut, dan lagi mungkin Allah ingin kamu menjadi sosok yang kuat, karena ia sangatlah menyayangimu"
"Zahrah... "
"Iya"
"Boleh tidak aku belajar shalat, aku sebenarnya tidak pandai melaksanakan sholat, bahkan mengaji karena orang tuaku berbeda agama"
"Orang tua kamu beda agama?"
"Iya ibuku seorang muslim tapi ayahku seperti orang Kristen"
"Benarkah?"
"Apakah kau tau ra? Jika ayahku itu pindah ke agama Islam namun, perlakuan, sikap, bahkan hal hal yang berkaitan islam tidak pernah ia lakukan bahkan ia tidak mengizinkanku dan ibuku menjalankan syariat"
"Kau harus bersabar ya dewi aku tau kok kalau hidup ini sulit kamu masih punya Allah dan juga aku, aku siap kok ngajarin kamu sholat sama ngaji wi"
"Jadi sebenarnya siapa yang mengajari kamu menggunakan pakaian? "
"Ibu, tapi biasanya ayah tidak mau aku menggunakan pakaian ini aku terkadang sangatlah ingin menggunakan jilbab panjang tetapi ia tidak mengizinkanku. Aku pernah mengenakan pakaian muslim dengan jilbab dan gamis tetapi ia sering kali memukul ku dengan kasar"
"Saat ia mengetahui bahwa aku ingin belajar shalat, ia akan datang dan menjambak rambutku dengan kasar, aku lelah ra, aku lelah... Aku capek... "
"Menangislah wi jika kamu ingin menangis, sesudah ini kita belajar ya"
"Hemm"
Zahrah mengajarkan dewi shalat dan membaca Al-Quran, setelah itu mereka turun untuk makan siang.
Saat itu orang tua zahrah datang,
"Zahrah... Kamu dimana sayang? "
"Kenapa ma? "
"Ini siapa? "
"Dia dewi temannya zahrah ma"
"Teman kamu?"
"Iya"
"Oo".
" Selamat siang tante"
"Siang, oh ya papa kamu yang tidak berguna itu dimana? "
"Ma... Tidak boleh berkata seperti itu"
"Zahrah kamu kok malah belain papa kamu yang tidak berguna itu sih? Kamu kan anak mama"
"Zahrah anak mama sama papa"
"Ahhh gini nih akibat didik sama neneknya dikampung, jadi begini nih anak, seharusnya aku melarang kamu tinggal di kampung sama nenek kamu itu"
"Ma nenek udah gak ada jangan dibawa bawa ia sudah tenang disana"
"Udah ah kamu memang sama aja sama papa kamu sama sama tidak berguna" Ucapnya lalu pergi.
"Astaufirullah mama"
"Keluarga kamu kayaknya tidak baik baik saja ya ra? "
"Iya tapi aku bersyukur kok punya orang tua yang mau nafkahin aku walaupun aku sering dikata katain, aku tahu suatu hari nanti mereka akan baik dan bersatu semula"
"Kamu memang kuat ya ra, yah aku berharap agar aku bisa sesabar dirimu ra, aku salut, ternyata aku tidak sendiri, banyak orang orang yang ada diluar sana yang hampir sama dengan aku."
"Hemm semangat"
"Semangat"
Saat bersamaan sebuah telephone berdering diatas meja, dewi mengangkat ponselnya itu. Seketika wajahnya berubah menjadi pucat.
"Siapa wi? "
"Ayahku ra"
"Kamu mau mengangkatnya?"
"Emmm aku takut ra"
"Angkat aja wi tidak apa apa ada aku disampingmu"
"Hemm" Ia mulai mengangkat ponselnya.
"Halo"
"Anak sialan dimana kamu apakah kamu mau pergi seperti ibu kamu ha? Anak tidak tau diuntung pulang sekarang kalau tidak aku akan menyeretmu untuk pulang"
"Iya sekarang aku akan pulang" Ucapnya sedikit dingin dan menutup panggilan itu.
"Wi kamu yakin mau pulang?"
"Yakin ra aku mau menentang orang tuaku demi agama ini ra aku mau memilih agama Islam sebagai agama ku dan aku masih mempercayai Allah dari pada patung salip dirumahku"
"Oke aku dukung, aku ikut denganmu pulang kerumahmu ya"
"Enggak ra, biar aku saja kamu tenang saja ya ra aku akan kembali lagi kok dan akan selalu jadi sahabat, kamu mau kan ra jadi sahabat aku? "
"ya aku mau jadi sahabat kamu janji sahabat?"
"Janji" Mereka menautkan kedua jari kelingkingnya untuk berjanji akan selalu menjadi sahabat.
Flashback masa sekarang.
"Lalu ibu apakah persahabatan kalian berjalan sampai sekarang?"
"Iya tetapi kami tidak pernah bertemu lagi sejak waktu itu ia... " Dewi melihat kearah langit.
"Ia telah menjadi seorang bidadari yang begitu baik hati setiap sahabatnya"
Zahrah seorang anak yang manis meninggal dunia saat ia ingin melindungi dewi dari pukulan sang ayah. Ia terbentur dengan sebuah meja kaca dan meninggal dunia.
Sedangkan kedua orang tua zahrah menuntut orang tua dewi atas kasus pembunuhan, mereka paham bahwa seorang anak seharusnya disayangi bukan disakiti.
uang bisa kita cari, akan tetapi apakah kebahagiaan bisa dibeli dengan uang?
jawaban ini hanya dirimulah yang tahu